Iman, Tidak Cukup Hanya Percaya

MEDANHEADLINES – Sebagai manusia yang beragama, iman menjadi pangkal segalanya dalam menjalankan tugas manusia di dunia sebagai khalifah fild ard. Iman, dalam kesehari-harian kita, lebih dikenal dengan istilah percaya atau kepercayaan akan kepada adanya Tuhan yang menciptakan segalanya. Sangat berbeda dengan suatu kaum yang tidak memiliki agama dan tidak memiliki kepercayaan. Yang pertama disebut kaum yang beriman, dan kaum yang kedua disebut kaum ateis.

Dalam kitab suci Al-Qur’an, kitab Allah yang terakhir dan penyempurna kitab-kitab Allah yang lainnya, seperti kitab Zabur yang diturunkan kepada nabi Daud as. kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa as. dan kitab Injil yang diturunkan kepada nabi Isa as. Dalam kitab Allah yang terakhir itu menyebutkan bahwa iman atau seseorang yang beriman tidak cukup hanya percaya saja akan adanya Tuhan yang menciptakan segalanya, alam semesta dan beserta isinya.

Mengapa demikian? Mari kita simak ayat Allah Swt. berikut ini:”Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (kaum musyrik), siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pasti mereka akan menjawab Allah. Maka bagaimana mereka dapat berpaling (dari kebenaran)? (QS. Al-Zukhruf: 87)

Ayat Allah Swt. dalam Al-Qur’an sangat banyak membicarakan seperti ayat di atas. Akan tetapi, dalam sejarah praktik manusia dahulu, di masa nabi Muhammad Saw. di Makkah dan praktik manusia masa kini, banyak yang percaya kepada Allah. Kepercayaannya hanya keluar dari mulut saja. Namun tidak berani secara praktik kehidupannya menunjukkan keimanannya. Mereka tidak berani atau tidak konsisten atas konsikuensi yang telah diperintahkan Allah dan nabi Muhammad Saw.

Kaum yang demikian tidak disebut sebagai kaum yang beriman. Bahkan, dengan tegas dikatakan bahwa mereka kaum musyrik. Hal ini menunjukkan bahwa adanya sesuatu yang amat penting. Sesuatu yang harus ada di samping hanya sikap percaya adanya Allah Swt. Sebabnya ialah, meskipun penduduk Makkah di zaman Rasulullah Saw. “percaya” akan adanya Allah, namun tidak “mempercayai” adanya Allah Swt. Sebagian dari mereka “mempercayai” berhala-berhala mereka, menyembah patung-patung yang mereka buat sendiri, lebih mengikuti nenek moyang mereka daripada perintah Allah Swt. Mereka lebih meminta perlindungan, pertolongan, keselamatan, meminta rejeki dan sebagainya kepada benda-benda mati itu.

Mempercayai sesuatu yang menjadi Tuhan, yang menciptakan segalanya, selain dari Allah Swt. inilah yang disebut dengan syirik. Lebih lanjut, secara praktik, ia memperlakukan sesuatu itu sama dengan perlakukan kepada Tuhan yang sebenarnya. Ia lebih takut kepada yang dicipta daripada yang mencipta. Tentu dapatlah kita sebut bahwa orang yang syirik dengan sebutan orang musyrik.

Maka dari itu, sebagai seorang yang beragama dan yang beriman, bahwasanya iman itu tidak hanya cukup percaya secara kata-kata saja, tapi tidak ditunjukkan lewat praktik (amal sholeh) dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang yang beriman, tidaklah ia memperlakukan sesuatu sebagai sebagai tuhan yang sama dengan Allah Swt. sebagai sandarannya. Seorang yang beriman harus menjadikan Allah Swt. sebagai sandaran dan kepada-Nya-lah tempat mengadu dan bergantung. Bukan kepada ciptaannya atau buatan manusia itu sendiri. Apabila manusia bergantung kepada selain-Nya, misalnya kepada yang sifatnya materi, maka kerugian besarlah yang akan menimpa manusia tersebut.

Allah Swt. lewat firman-Nya dalam Al-Qur’an mengatakan: “Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (kaum musyrik), siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pastilah mereka akan menjawab, Allah. Katakan (kepada mereka): Apakah kamu memperhatikan sesuatu yang kamu berseru kepadanya selain Allah itu? Jika Allah menghendaki marabahaya kepadaku, apakah mereka (berhala-berhala) itu dapat menghilangkan marabahaya itu? Atau jika Dia (Allah) rahmat bagiku, apakah mereka menahan rahmat itu? Katakanlah lebih lanjut, cukuplah bagiku Allah saja dan kepada-Nya-lah mereka yang mau bersandar.” (QS. Az-Zumar: 38)

Lebih lanjut Allah berkata dalam Al-Qur’an surat Al ikhlas ayat 1-4. “Dialah Allah, Yang Maha Esa, Hanya Allah-lah tempat bergantung; Dia tidak beranak, serta Dia tidak pula diperanakkan, Dan tiada satupun yang setara dengan Dia.”

Cak Nur berpendapat, apabila kita berhasil mewujudkan itu, bersandar dan hanya bergantung kepada Allah Swt. dalam diri kita, maka kita benar-benar disebut bertauhid.

 

Penulis : Ibnu Arsib Ritonga

Mahasiswa Fakultas Hukum UISU dan Kader HMI Cabang Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.