Pemuda, Jangan Cepat Latah !

MEDANHEADLINES – Dalam Beberapa dekade belakangan ini Remaja atau pemuda kita mudah sekeli mengenakan atau meniru-niru ciri kepribadian dari bangsa lain. Yang mana kepribadian itu menjadi petaka berbahaya baginya. Membuatnya akan lupa terhadap kepribadian dirinya sendiri. Lupa akan karakternya dan lupa pula akan ajaran agamanya.

Pemuda-pemuda kita saat ini lemah akan filterisasi (menyaring) terhadap budaya-budaya yang datang. Pemuda kita tanpa filterisasi meniru suara, gerakan tubuh, cara berpakaian, ucapan, kemampuannya dan pola pikirnya meniru-niru dari bangsa lain. Apa yang sedang menjadi trend, pemuda kita gampang tergiur. Pemuda-pemuda kita sibuk memenuhi keinginan (want) lupa apa yang menjadi kebutuhannya (need). Tidak lagi memperhatikan fungsi, tapi karena gengsi.

Sering terlihat perilaku mengada-ngada dari pemuda kita. Berpura-pura, bahkan membunuh paksa bentuk dan wujud dirinya sendiri. Saya melihat ada musim-musimannya, seperti musim buah-buahan saja. Pernah suatu ketika saya bertemu dengan seorang mahasiswa (pemuda) yang sedang memakai baju kaos bersablon gambar salah tokoh pergerakan revolusioner di suatu negara dan juga memakai baju koas yang bersablon salah satu tokoh pemikir. Kemudian saya bertanya kepadanya, apakah dia mengetahui siapa sebenarnya gambar tokoh yang ada dibajunya itu. Ternyata, dia hanya mengetahui namanya saja dan tidak tahu sepak terjang tokoh tersebut. Karena terlihat keren, banyak dipakai senior-seniornya, ia pun ikut-ikutan.

Bukan pada kejadian itu saja. Saya juga pernah bertemu dengan seorang perempuan berbusana Muslimah (pakaian syar’i). Subhanallah, cantik sekali. Memang betul-betul bidadarinya Allah di bumi persada ini. Bukan dia saja yang menjadi bidadari-bidadari di bumi. Anda juga yang perempuan ketika membaca tulisan ini termasuk bidadari Tuhan di bumi. Singkat cerita, seorang perempuan tadi memakai busana syar’i hanya untuk gaya-gayaan saja. Karena lagi trend di kampusnya, ia pun ikut-ikutan. Kenapa saya katakan hanya ikut-ikutan bukan karena kesadaran. Di luar kampus, tidak sengaja saya melihatnya berpakaian baju biasa (tidak syar’i). Bahkan ia berani memakai celana jeans. Dan sikapnya belum menunjukkan sikap yang syar’i. Mudah-mudahan Anda tidak begitu.

Bukan hanya dalam hal berpakaian saja. Dalam hal sikap dan pemikiran seorang mahasiswa/ pemuda kita juga begitu. Baru dua atau tiga kali mengikuti pengkajian, sudah merasa seolah-olah pemikir hebat. Mengatakan ini salah dan yang itu salah. Baru satu atau dua kali bertemu dengan politisi, dia sudah berlagak politisi. Baru bersalaman dengan seorang pejabat negara, dia sudah berlagak pejabat. Masih seumur jagung di kota, pulang ke kampung berlagak seperti pemuda kota.

Sikap-sikap pemuda yang saya sebutkan di atas adalah sikap latah. Dr. ‘Aidh al-Qarni dalam bukanya yang terkenal dengna judul La Tahzan, menasehati bahwa hiduplah sebagaimana yang telah diciptakan. Jangan mengubah suara, mengganti intonasinya, jangan pula mengganti cara berjalan. Tuntunlah diri dengan wahyu Ilahi, tetapi juga jangan melupakan kondisi dan jangan membunuh kemerdekaan sendiri.

Lebih lanjut ia mengatakan, setiap manusia memiliki corak dan warna tersendiri. Dan jagalah itu tetap seperti itu. Sebab, manusia diciptakan demikian adanya. Janganlah pernah latah dengan meniru-niru orang lain yang menghancurkan. Umat manusia berbagai macam tabiat dan wataknya. Jika Anda seperti pisang, Anda tidak perlu mengubah diri menjadi jambu, sebab, harga dan keindahan. Anda akan tampak jika Anda menjadi pisang.

Mari kita renungkan dan jawab pertanyaan ini. Sejak zaman manusia pertama, Nabi Adam hingga makhluk terakhir (manusia) ciptaan Allah, tidak pernah ada dua orang yang sama persis. Maka, mengapa kita masih memaksakan diri untuk menyamakan perilaku yang tidak baik dan kepribadian dengan bangsa lain?

 

Penulis : Ibnu Arsib

Mahasiswa Fakultas Hukum UISU dan Kader HMI Cabang Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.