Musuh Laten Pemilu Kita

Ilustrasi pemilu 2024 (pixabay.com)

MEDANHEADLINES.COM – Pernahkah kita membayangkan bahwa sesuatu kegiatan yang sudah kita rancang, rencanakan dengan matang agar kita bisa merasa senang dan bahagia tetapi pada kenyataannya menjadi hal yang tidak menyenangkan bahkan menakutkan. Itulah kurang lebih gambaran proses pemilu kita dalam beberapa tahun penyelenggaraan, baik Pemilu nasional maupun Pemilukada.

Sejatinya Pemilu yang sering dikatakan sebagai pesta demokrasi rakyat sudah barang tentu harus membawa euphoria dan suasana yang menyenangkan dan membahagiakan layaknya sebuah Pesta. Tapi kita harus akui dalam 10 tahun terakhir bahkan jauh lagi sebelumnya, penyelenggaraan Pemilu maupun Pemilukada kita rasakan berlangsung dalam suasana tegang dan cendrung mencekam.

Keterbelahan masyarakat atas perbedaan pilihan yang sebelumnya menjadi hal yang biasa dalam setiap pemilu kali ini dirasakan terasa sangat dalam. Perbedaan pilihan Ketika pemilu terkadang di samakan dengan memilih surga atau neraka. Karena berbeda pilihan kadang tetangga yang dulu guyub rukun sekarang menegur dan meyapa pun tidak. Bahkan dibeberapa tempat konflik pemilu mengarah kepada kekerasan fisik yang btak jarang menimbulkan korban jiwa dan harta.

Sumber konflik pemilu sebenarnya muncul dari kondisi sosial masyarakat kita yang semakin hari, semakin meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa ini. Seperti kebhinekaan, toleransi, musyawarah, gotong royong dan banyak lagi lainnya. Belum lagi faktor external dari luar yang bisa saja memang memiliki niat buruk untuk memecah belah bangsa Indonesia. Kita sebagai bagian dari anak bangsa sudah selayaknya peduli dan waspada terhadap isu-isu sosial yang dapat menjadi musuh kita bersama yang harus kita selesaikan dan lawan agar kehidupan sosial kita Kembali normal.

Adapun beberapa hal yang harus kita waspadai agar tidak menimbulkan konflik dan suasana yang tidak kondusif jelang pemilu 2024 yang sebentar lagi akan kita lakukan. Isu tersebut diantaranya adalah

  1. Politisasi SARA

Suku Agama dan Ras sebenarnya menjadi “kekayaan” budaya kita yang tak ternilai harganya. Bangsa Indonesia terdiri dari ribuan suku dan budaya serta agama yang beragam yang sudah hidup rukun dan saling menghormati antara satu dengan lainnya semenjak Republik ini berdiri. Tetapi dibeberapa Pemilu terakhir Politisasi terhadap identitas ke sukuan, agama dan ras dirasakan teramat kencang sehingga tidak tertutup kemungkinan akan menimbulkan Gesekan ditengah-tengah masyarakat kita yang majemuk.

Adanya anggapan identitas kesukuan, keagaaman dan ras tertentu lebih baik diantara yang lainnya dan sebaliknya ada anggapan bahwa beberapa identitas kesukuan, agama dan Ras lebih buruk dari yang lainnya. Hal ini dirasa tumbuh subur di Pemilu kita, beberapa pihak sengaja menghidupkan Isu Politisasi SARA agar bisa meraup dari dukungan mayoritas masyarakat disuatu daerah dengan cara yang instan. Menurut Direktur lembaga Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti Isu SARA akan lebih banyak digunakan dalam pemilihan-pemilihan mendatang dibanding sebelumnya. Karena memang ada keyakinan bahwa isu SARA memiliki efek yang memadai untuk elektabilitas seseorang atau untuk menahan elektabilitas seseorang

  1. Informasi atau Berita Hoax (Palsu)

Informasi atau berita Hoax tentu bukanlah hal yang baru di negri ini. Kita tentu masih ingat beberapa Hoax  diwaktu yang lampau, seperti isu dukun santet di banyuwangi, isu harta karun bung Karno atau banyak lagi yang lainnya. Dulu isu Hoax di produksi dari satu pihak yang memiliki kuasa atau untuk mendapatkan “keuntungan”, baik itu untuk langgengnya kuasa atau untuk mencari keuntungan financial semata. Saat ini Hoax dalam masa Pemilu bisa diproduksi oleh pihak siapapun. Tujuannya yang sama yaitu untuk mendapatkan keuntungan, dalam hal ini keuntungan electoral. Bisa juga digunakan untuk menjatuhkan lawan politik

Black Campaign atau kampanye gelap dengan maksud untuk menjatuhkan lawan politik dengan cara membuat suatu isu atau gossip tanpa didukung fakta atau bukti yang jelas (Fitnah). Hoax dan kampanye gelap adalah satu kesatuan. Memproduksi fitnah dengan ditambahkan kebohongan disana sini lalu di informasikan secara cepat melalui internet ini merupakan “Resep” paling Instan untuk menjatuhkan lawan politik tanpa harus bertarung ide dan gagasan.

Banyak sekali dampak buruk yang di hasilkan dari berita dan informasi Hoax ini. Keterbelahan dalam masyarakat, masyarakat yang semakin curiga antara satu dengan yang lainnya, keadaan yang tak tenang menyebabkan Pemilu kita terkesan dalam kondisi yang sangat tegang dan gampang meledaknya suatu konflik di tengah-tengah masyarakat. Sebagai sebuah peringatan betapa cepatnya oknum memproduksi dan menyebarkan Hoax dapat dilihat dari data kementrian informasi atau Kominfo yang mencatat ada 3.356 hoax terbanyak saat pemilu 2019

  1. Politik Uang (Money Politic)

Isu Politik Uang dari zaman ke zaman dalam agenda kepemiluan republik ini menjadi isu yang terus menerus berulang, sebagai perumpaan, seperti penyakit yang tiada obatnya. Sebabnya karena Politik Uang ini Terkesan “menguntungkan” semua pihak. Pihak yang dimaksud disini adalah yang berposisi sebagai peserta pemilu ataupun pemilik suara atau konstituen. Yang dimaksud dengan politik uang adalah sebuah upaya mempengaruhi pilihan pemilih atau penyelenggara pemilu dengan imbalan materi atau lainnya. Jika dari pemahaman tersebut politik uang adalah salah satu bentuk suap.

Karena berbicara suap maka Politik uang ini dikategorikan sebagai pelanggaran pidana dalam pemilu. Hukumannya juga pidana kurungan. Tetapi payung hukum yang lemah tentang politik uang dalam pemilu yaitu UU No 7 tahun 2017 menyebabkan pelaku pemberi poltik uang sering lolos dari jeratan hukuman. Penerima politik uang juga enggan untuk melaporkan karena di satu sisi ada keuntungan materil yang dia dapatkan.

Masyarakat bahkan mengistilahkan perilaku politik uang ini dengan narasi seperti NPWP atau Nomor Piro Wani Piro.ada kesan masyarakat kita sangat permisif dengan Politik Uang. Hal ini dirasa sangat miris di tengah bangsa kita yang terus menerus belajar tentang demokrasi yang lebih baik.  Masyarakat kita dengan tingkat pendidikan yang rendah dan ekonomi yang sulit terkadang menjadikan moment pemilu kita sebagai saat untuk mencari cuan. Mereka tidak sadar dengan politik uang berarti mereka telah menggadaikan suaranya dan memberikan kekuasaan tumbuh suburnya korupsi yang prosesnya dimulai dari keterpilihan oknum karena memainkan politik uang. Komisi Pemeberantasan Korupsi pernah mengatakan bahwa politik uang adalah Jalan masuk awal korupsi yang terstruktur

Sudah saatnya kita Kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa ini. Bangsa yang dari dulu selalu Tangguh menghadapi segala rintangan tantangan berbangsa dan bernegara baik di kancah local ataupun internasional.  Modal kita untuk menghadapi itu semua adalah persatuan dan kesatuan, Kebhinekaan. Kita seharusnya paham isu-isu diatas harus menjadi musuh kita bersama yang harusnya bisa kita kalahkan. Kemenangan kita tentunya bisa berimplikasi makin baiknya demokrasi kita, pemilu kita, dan hasil turunan yang mengikuti produk pemilu itu sendiri.  Kita semuanya yakin bahwa konflik yang tidak sehat dalam pemilu hanya menimbulkan kekacauan sosial dan berimbas tumbuh, berkembang dan majunya bangs aini.

Kuncinya utama sebenarnya adalah masyarakat itu sendirilah yang bisa melwan Isu SARA, berita Hoax dan politik uang. Tentunya juga harus melibatkan stakeholder kepemiluan lainnya. Seperti peserta pemilu dan penyelenggara pemilu. Banyak cara yang bisa dilakukan, seperti memperkaya literasi keilmuan dalam pemilu, saring informasi sebelum sharing dan terlibat aktif dalam pengawasan kepemiluan. Saling menguatkan  dan mendukung diantara masyarakat dapat menjegah membesarnya konflik di masyarakat itu sendiri

Jika pemilu sejatinya adalah perayaan demokrasi dari rakyat untuk rakyat dengan riang gembira. Maka sudah selayaknya juga kita mengikut sertakan dan melibatkan nilai-nilai luhur bangsa ini seperti Toleransi, Musyawarah dan gotong royong sebagai semangat kita di masyarakat untuk menegakkan demokrasi se subtansialnya demokrasi itu sendiri dan demokrasi yang menciptakan keamanan, kenyamanan dan ketentraman sehingga Pemilu bisa mengantarkan masyarakat Indonesia menuju Kesejahteraan.

 

Penulis : E Choky Nasution

(Alumni Ilmu Politik FISIP USU 2003)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.