Mencari Celana Yang Hilang

MEDANHEADLINES.COM –¬†Jagad media sosial ramai dengan konten-konten dalam sepekan terakhir. Isinya terkait rencana aksi mahasiswa 11 April 2022 di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk ke Istana Negara.

Tiga hari sebelum aksi berlangsung, warganet telah disuguhi video-video demonstrasi mahasiswa di sejumlah titik Kota Jakarta. Aksi itu diklaim sebagai aksi pemanasan sebelum mereka turun dalam jumlah massa yang besar pada 11 April 2022.

Jumat 8 April 2022, Koordinator BEM SI Luthfi Yufrizal menyebut bakal ada seribu mahasiswa dari berbagai universitas yang akan mengikuti demo.

“Seribu massa itu ditargetkan berasal dari 18 kampus, yakni UNJ, PNJ, IT-PLN, STIE SEBI, STIE Dharma Agung, STIS Al Wafa, IAI Tazkia, AKA Bogor, UNRI, Unand, Unram, PPNP, Undip, UNS, UNY, Unsoed, SSG, dan STIEPER,” begitu jata Luthfi.

Tuntutan mereka, mendesak dan menuntut Presiden Joko Widodo untuk bersikap tegas menolak dan memberikan pernyataan sikap terhadap penundaan Pemilu 2024 atau masa jabatan Presiden tiga periode serta mencopot Menteri yang getol menyuarakan Jokowi 3 Periode.

Mereka juga menuntut Presiden Jokowi menstabilkan harga dan menjaga ketersediaan bahan pokok di pasaran.

Atas pernyataan itu, ada yang mendukung. Tapi tak sedikit pula yang menganggap itu sekadar gertak sambal aksi mahasiswa yang belakangan ini dianggap telah mati suri.

Minggu 10 April 2022 malam, media sosial dan televisi nasional memberi kabar-kabar berkembang. Isinya tentang kesiapsiaagaan aparat mengamankan aksi demonstrasi yang direncanakan berjalan damai.

Petugas berpakaian lengkap dan kendaraan taktis bersiaga di sejumlah titik lokasi. Di Sumatera Utara, kepolisian menyurati Pemko Medan meminta tambahan personel Satpol PP untuk membantu mengamankan aksi.

Di lokasi berbeda pada Minggu 10 April 2022 malam, beberapa mahasiswa mematangkan rencana aksi hingga Senin 11 April 2022 dini hari. Di antaranya dari Mahasiswa Univeritas Potensi Utama yang berencana turun di depan Gedung Wakil Rakyat DPRD Sumatera Utara.

Jreng…Tibalah hari H 11 April 2022.

Aksi mahasiswa di Kota Medan Sumatera Utara menjadi salahsatu daerah yang banyak dinanti. Konon katanya, jika dinamika aksi berjalan ricuh, maka bisa mempengaruhi aksi-aksi mahasiswa di provinsi lain se-Indonesia.

Penampakan kendaraan dan aparat telah siaga di kantor-kantor pemerintah. Depan Gedung DPRD Sumut juga begitu. Namun faktanya berbeda. Tak ada pergerakan apapun di sana.

Yang ada hanya iring-iringan kendaraan sepedamotor dari mahasiswa Univeritas Potensi Utama yang bergerak dari kampusnya. Mereka hanya lewat di depan gedung wakil rakyat. Juga berhenti di depan Kampus UISU Jl SM Raja Medan.

“Kami rencana mengajak kawan-kawan UISU ikut turun. Tapi gak ada yang ke luar,” begitu kata salah seorang mahasiswa Universitas Potensi Utama.

Alhasil, aksi gagal hingga Pukul 16.00 Wib. Jalanan Kota Medan tergambar seperti biasanya. Ramai-ramai lancar.

Di aplikasi pesan, beredar video aksi massa depan Hotel Aston City Hall (kini bernama City Hall). Rupanya, video itu merupakan video lama. Bukan terjadi pada 11 April 2022.

Jadi Barang Bukti

Kembali ke jagat media sosial. Tiba-tiba ramai beredar video-video seorang pegiat medsos Ade Armando dipukuli di depan Gedung DPR RI.

Video itu sangat cepat beredar, baik di sejumlah platform medsos hingga berita mainstream.

“Ade Armando dipukuli. Celananya dilucuti,” begitu kata berita.

Beruntung, petugas kepolisian yang bersiaga di lokasi langsung mengamankan Dosen UI tersebut. Dia langsung dilarikan ke RS Siloam Semanggi serta langsung ditangani dokter. Dia mengalami luka serius dan muntah darah.

Banyak yang mengecam aksi kekerasan itu. Ada juga seorang yang dikenal arogan, muncul bak komentator dadakan mengatasnamakan kemanusiaan.

Foto Ade bercelana pendek sedang memegang kantong plastik seperti sedang menampung muntahannya ramai pula beredar.

Meme dan komentar netizen menanyakan di mana celana yang dikenakan Ade saat mengalami pengeroyokan, pun berseliweran. Sebab celana itu tak lagi dikenakan saat Ade diamankan aparat kepolisian.

Pertanyaan ini tentunya harus terjawab. Setidaknya menjadi barang bukti yang wajib dikantongi penyidik bilamana kasus ini ditelusuri kepolisian.

Bisa saja, di celana itu tersimpan barang berharga milik korban seperti identitas, kartu ATM atau surat berharga lainnya.

Semoga saja celana itu segera diketemukan. Darinya mungkin bisa terungkap bagaimana ihwal pemukulan bisa terjadi. Semoga.

Muhammad Asril _Penulis adalah Sekretaris DPD KNPI Provinsi Sumatera Utara_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.