Boneka Beruang Kesayangan

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Aku hidup sebagai seorang gadis yang tinggal di rumah pinggiran kota. Dengan suara klakson kendaraan bersahutan dalam kemacetan, dengan suara pesawat yang baru saja lepas landas dari bandara tengah kota, dan dengan bunyi kereta api yang bersamaan dengan gesekan besi-besi relnya. Semua itu aku jalani berdua dengan adik kecilku yang juga seorang perempuan tangguh yang biasa kupanggil dengan nama singkat, Ral.

Mengapa aku menyebutnya tangguh? Ia sungguh belum pernah berjumpa dengan kedua orangtua kami. Ibu meninggal dunia saat melahirkannya, dan ayah kami melarikan diri tidak tahu ke mana beberapa bulan sebelum dia lahir ke bumi. Nenek yang waktu itu masih hidup mampu menanggung beratnya hidup kami sebelum ia pun dipanggil Tuhan saat Ral berumur tiga tahun.

Umurku dengan Ral cukup jauh, saat inipun aku sedang melanjutkan kuliah sembari menjaga adik kecilku yang kini berumur lima tahun. Di hari-hari pertama kepergian nenek, aku cukup sedih dan tidak mengerti harus berbuat apa. Kegiatan dan pembelajaranku di sekolah saat itu berantakan namun atas petunjuk dan dukungan teman-temanku, aku mendapatkan beasiswa hingga kini melanjutkan kuliah. Sudah banyak sekali hal yang dipermudah Tuhan saat hari-hariku yang sesungguhnya berat ini. Namun, sebagai seorang kakak, aku terpaksa harus menjaga adikku karena aku sungguh sangat sayang padanya walaupun aku belum bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya, bisa kukatakan aku pernah sangat membenci Ral. Karena akibat dirinya, Ibu meninggal dunia. Namun yang perlu kalian tahu, aku di dalam relung hati terdalam sangat mencintainya. Karena dia adalah adikku. Anak dari kedua orangtuaku yang dia hanya pernah lihat dari foto saja.

Hingga pada suatu hari, “Kak, Ral penasaran.” katanya sambil memegang boneka beruang kesayangannya, bekas bonekaku saat kecil. Aku waktu itu sedang memasak bertanya kepadanya yang sedang duduk di karpet rumah kecil kami, bekas peninggalan nenek.

“Penasaran apa, dek?”dengan caraku bicara datar “Ral salah nggak sih?” tanya dia balik.

Saat itu aku kebingungan karena tidak mengerti apa maksud anak kecil satu ini.

“Salah apa?” tanyaku lagi.

“Nggak apa-apa, kak. Ayah pergitinggalin kita karena Ral ya?”

Aku terperangah dan menghela nafas panjang.

“Kenapa kamu penasaran gitu? Nggak ada pembahasan lain apa?!” kataku membentak kepadanya, karena aku mulai merasa sedih mendengarkan kalimat dari adikku itu.

Kulihat Ral mulai ketakutan dan meringis, kusadari dia sedang menyembunyikan air matanya. Perlahan mulutnya mulai terbuka lagi dan berbicara sambil terisak tangis,

“Bukan gitu, kak. Ral cuma penasaran, apa seharusnya Ral nggak usah lahir ya biar Ibu nggak meninggal.”Aku terkejut.

“Hei Ral! Jangan pernah bahas ayah dan ibu lagi ya. Kakak udah capek!” aku mulai menggertaknya lagi, sampai tak sadar telur yang sedang kumasak gosong. Aku mulai frustasi dan kebingungan harus berbuat apa. Dalam hatiku ini, aku sudah sadar yang kulakukan tadi kepada Ral adalah hal yang salah. Namun dendamku pada anak kecil itu tidak bisa dibohongi, aku sangat-sangat sedih kalau membahas tentang ayah dan ibu. Apalagi, dahulu aku pernah mendengar kedua orangtuaku itu bertengkar akibat ayahku berbuat kesalahan dan aku tidak pernah tahu apa kesalahan itu.

Bertahun-tahun, aku tidak mengerti dengan jelas apa yang membuat keluarga kami seperti ini. Ketikawaktu ayah pergi, dia tidak pernah meninggalkan pesan apa-apa padaku. Saat itu aku masih terlihat sedang tertidur, namun aku sebenarnya mendengar percakapan ayah dan ibu.

“Mas, anak kamu sudah mau lahir. Jangan pergi, mana tanggung jawab kamu!” suara ibu dengan sedihnya terdengar lewat telingaku. Ayah kudengar menghela nafas panjang dan mulai membentak ibu yang sedang hamil dan berkata,

“Aku tidak pernah mau punya anak lagi. Ini semua salah kamu! Punya anak satu saja sudah repot dan hidup kita susah begini!”

Kudengar Ibu menangis dan berteriak seakan tidak tahan dengan apa yang sudah terjadi padanya.Setelahnya, aku tidak tahu menahu apa yang selanjutnya terjadi. Ketika kudengar suara sepeda motor ayah, saat itu dalam kepura-puraanku yang sedang tidur, aku berpikir ayah hanya akanpergi kerja. Namun senyatanya pergi dari kami untuk selama-lamanya. Sejujurnya, akupun tidak tahu ayahku bekerja apa.

Ibu saat itu sangat sedih dan murung, mendengarnya nangis dengan isakan tanpa batas membuatku kasihan padanya. Tak lama kemudian, Ibu mengajakku untuk pergi di rumah nenek yang mana setelahnya malah tinggal dengannya. Selama ini dalam keseharian kami, Ibu berjualan kue untuk memenuhi kehidupan kami … termasuk kehidupan ayah.

“Nak, kamu di sini jaga nenek ya. Ibu mau berjualan kue dulu di stasiun kereta api.”

Dengan rasa sedih, Ibu nampaknya tidak ingin bercerita panjang tentang masalah yang menimpanya kepadaku dan hanya nenek yang dia percayai untuk diceritakan tentang masalah yang dihadapinya itu. Aku pernah mencoba untuk menguping, namun pada saat itu akupun tidak mengerti apa-apa sehingga aku tidak mengetahui masalah apa yang sebenarnya terjadi.

Pada suatu waktu, aku sedang membantu nenek menjahit dan saat itu pula aku duduk di sebelahnya bermain dengan boneka beruangku.Tiba-tiba, ada seseorang pria yang menghampiri rumah dengan tergesa-tergesa dan langsung berteriak ke dalam rumah,

“Nenek! Ibu pingsan di stasiun, ada orang yang membawanya dengan ambulans!” teriak pria itu dengan wajah yang mengkhawatirkan.



Nenek terlihat terkejut dan langsung dengan tergesa mengambil tasnya. Meninggalkan aku sendiri di rumah. Karena tergesa-gesa pula, akupun tertabrak olehnya dan boneka beruangku koyak. Akupun menangis karena aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi.

“Kak! Nenek pergi dulu ya. Kamu sendiri di sini dulu. Nenek janji bentar saja!” dia berteriak dengan wajah yang kebingungan. Akupun mengangguk mengerti.

Aku duduk sendiri di rumah. Sambil merasakan khawatir yang sangat amat dalam. Berjam-jam sudah aku menunggu kepulangan nenek. Tentunya juga Ibu, yang biasanya sudah pulang dari berjualan kue saat petang tiba. Perlahan pula, mataku merasa kantuk dan tertidur hingga subuh tiba. Saat bangun dari tidur, aku terkejut dalam hati. Karena yang membangunkanku bukanlah suara kukuruyuk dari ayam, bukan pula dari ributnya jalanan kota. Namun yang ada adalah suara tangisan anak bayi. Aku langsung bangkit dan segera menuju kamar nenek.

“Nenek! adik aku udah lahir ya!” aku kegirangan dan merasa sangat senang.

Nenek tersenyum kecil sambil membelai adikku, juga membelai rambutku. Namun, dari wajahnya ia tampak sangat sedih. Tampak sangat murung, tidak seperti biasanya. Sampai beberapa detik kemudian aku sadari …

“Ibu mana, nek?” aku bertanya tentang itu padanya.

Nenek mulai mengedipkan matanya dan air matanya tumpah. Aku mengulangi pertanyaanku sekali lagi.

“Ibu mana, nek? Lagi di puskesmas ya?”

Tampaknya nenek pun tidak dapat menahan rasa sedihnya. Ia menangis terseduh-seduh dan mulai memelukku.

“Ibu sudah pergi nak. Ibu sudah meninggal.”

Tatapanku mulai kosong. Aku melihat adikku dan menyimpan dendam padanya.

“Ini semua karena adik ya!”

Aku sangat sedih saat itu! Kehilangan ibu yang sangat mencintaiku, tanpa berjumpa dengannya untuk terakhir kalinya. Aku sangat sedih! sungguh tanpa karuan. Nenek pun tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menenangkanku saat itu.

“Kakak harus sabar ya. Kita harus sayangi adik, kita harus sayangi dia. Kita harus sayang sama Ral.” ucap nenek saat itu.

Aku mulai menyadari sesuatu. Aku harus menyayangi dia sepenuh hati. Alasan terbesarnya adalah karena Ibu sudah mengandungnya cukup lama dan penuh kasih sayang. Aku tidak mungkin mengecewakannya. Ini adalah bentuk penghormatanku padanya.

Sejak saat itu, aku akan selalu menjaga adikku bagaimanapun kondisi terjadi. Hingga nenek meninggalpun, kini aku harus peduli pada kehidupan Ral. Karena dia masih anak kecil.

Balik lagi pada situasi sekarang ini, aku langsung melihatnya sedang ketakutan karena aku bentak tadi. Dia mulai menumpahkan tangisannya, mungkin karena ia tidak sanggup melihatku keras seperti tadi. Ral mulai keluar dari rumah dan pergi meninggalkanku. Aku langsung bingung dan dengan cepat mematikan kompor. Dia kabur, aku tidak tahu ia akan pergi ke mana. Larinya sangat kencang sampai-sampai aku tidak tahu ia pergi ke mana. Yang terlihat olehku tadi, ia membawa boneka beruang yang sobek kesayangan kami berdua.

“Bu, tadi nampak adik saya tidak?” aku tanyakan pada tetangga.

“Tidak, nak. Ibu baru saja keluar dari rumah.

Dari satu pintu ke pintu yang lain, dari bapak-bapak yang sedang mengopi depan rumah pun sudah aku tanyakan satu persatu. Mereka tidak melihat Ral pergi ke mana. Aku langsung menumpahkan air mata, aku tidak akan mungkin bisa kehilangan adikku! Tidak boleh!

Aku mulai mencarinya terus menerus, mulai berkelana dari gang ke gang. Dari jalan menuju jalan penuh kemacetan. Dengan suara pesawat yang sedang lepas landas, dengan suara air mancur yang ada di tengah kota. Sungguh sangat ribut kota ini. Aku langsung ketakutan dan nalarku berspekulasi berbagai hal yang mengerikan. Tangisanku juga tidak bisa berhenti, tidak bisa berhenti.

Sudah menuju waktu magrib, aku tidak bisa menemukan Ral di mana. Akupun memutuskan untuk pulang dan beristirahat terlebih dahulu. Sembari mengabari para tetangga untuk mencari tahu apakah mereka melihat Ral dan meminta pada bapak-bapak yang bersedia untuk membantu mencarinya. Aku sungguh menyesal membentaknya tadi, sangat menyesal karena ia masihlah anak kecil. Ia mungkin hanya penasaran dengan ayah dan ibunya. Aku seharusnya menanggapinya secara baik dan ramah seperti biasanya. Lelah sudah kedua mataku, dan akupun tertidur dengan mata yang penuh dengan tangisan memikirkan Ral.

Aku bangun kesiangan pada esok harinya. Mungkin karena terlalu lelah telah mencarinya ke mana-mana. Tiba-tiba, suara sirene ribut mulai berbunyi tak jauh dari depan rumah. Mereka adalah polisi. Aku langsung terkejut dan mengharapkan kabar baik akan datang padaku. Para personil kepolisian pun mengetuk pintu rumah dan memintaku untuk segera keluar. Akupun langsung membuka pintu, dan salah satu polisi mengatakan :

“Adik saudari yang bersangkutan terlibat dalam kasus narkoba.Ia ditangkap saat sedang berada di stasiun kereta api menuju luar kota.”

Aku langsung terkejut! Berita apa ini. Tidak mungkin Ral, anak sekecil itu membuat hal yang terlarang seperti itu.

“Apa pak? Tidak mungkin! Ral masih kecil.” aku berteriak keras sambil diperhatikan oleh para tetangga.

“Kami harap saudari ikut kami ke kantor polisi.”

Tidak tahu harus berbuat apalagi, akupun mengikuti instruksi yang sudah disampaikan oleh para personil kepolisian tersebut. Di dalam mobil polisi, aku menangis terseduh-seduh. Karena ini tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi.

Sesampainya di kantor polisi, para polisi menjelaskan kejadian yang telah terjadi. Dalam penjelasannya, Ral dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai pengantar obat-obatan terlarang. Aku menghela nafas dan memaksa untuk dipertemukan dulu dengan Ral. Pasti dia merasa sangat sedih. Ral ditempatkan di ruang khusus dan sedang dipanggilkan. Sembari menunggu, para polisi pun menjelaskan bahwa narkoba tersebut berada di dalam boneka beruangnya. Aku tersentak, “Tidak mungkin, pak! Bagaimana itu bisa terjadi?”

Para personil sedang menginvestigasi apa yang terjadi dan masih mencari tahu. Akupun menjelaskan lebih lanjut kepada pihak kepolisian bahwa memang benar boneka beruang tersebut sudah koyak sebelumnya. Dengan itu, akupun mulai berpikir bahwa dengan cara itu para pihak penjahat itu menyelundupkan narkoba itu serta menjahitnya dengan cepat agar tidak terlihat.


Namun, dalam hatiku terganjal sesuatu. Aku merasa ada yang aneh. Ral tidak biasanya mau mematuhi perintah orang yang tidak dikenalinya. Dia pasti teriak dan sangat takut apabila ada orang yang menganggunya. Aku menghela nafas sambil mataku tetap berair.

Ral pun berlari dan berteriak padaku, “Kakak!” diapun tampak sedih dan merasa menyesal.

Maafin Ral, ya, kak. Ral udah repotin kakak. Kakak pasti khawatir sama Ral.”

“Nggak perlu nyesal, dek. Maafkan kakak ya. Kakak yang salah udah bentak kamu kemarin.” Akupun menangis sambil memeluknya.

Hatiku masih saja terganjal dan mulai menanyakan siapa yang membawa dia pada masalah ini. Serta mengapa ia mau ikuti apa kata orang itu untuk membawa obat-obatan terlarang itu, yang tentu Ral sendiri tidak mengerti itu obat apa. Dan dia akhirnya menyampaikan,

“Itu kemarin aku jumpa dengan Ayah. Dia yang menyuruhku, kak.”

 

Penulis : Muhammad Rafie Akbar


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.