Staatsspoorwegen

MEDANHEADLINES.COM – “Li, yakin mau gap year?” tanya Dira sahabatku, “Iya, yakin” jawabku singkat. “Ga mau coba univ swasta gitu?”, ” Ga lah Ra, mahal. Yaudah, aku duluan yaa”.

Itu terakhir kali aku bertemu dengan Dira. Setelahnya semua teman-temanku sibuk mengurus perkuliahan mereka. Mulai dari pendaftaran ulang sampai ospek. Aku tidak ingin mengganggu mereka. Terutama Dira. Dira berkuliah jauh di Kota Yogyakarta. Banyak yang harus diurusnya. Aku pun mencoba beradaptasi dengan keadaan ini dulu. Ada banyak hal yang harus kupikirkan. Terutama planning selama aku gap year.

***

Pagi ini mendung berjelaga, berpayungkan awan hitam disana. Mentari tampak malu-malu. Sedangkan hujan tak sungkan untuk bertemu. ‘Seharusnya sekarang sudah mulai cerah’ lirih batinku. Aku mengambil mantel hujan dari rak dan memberikannya pada ayahku. Padahal tadi malam aku sudah mengecek prakiraan cuaca. Ternyata cuaca itu cepat berubah ya. Kuambil sweater navy bergaris kotak dengan hiasan putih gading di pergelangan tangannya. Tak lupa kubawa payung dari belakang. ‘Hari ini mau belanja apa ya?’, tanyaku pada diri sendiri.

Setibanya di market, aku segera mengambil troli dan berkeliling. Aku membeli beberapa daging dan sayur. Susu dan buah juga kuambil. Aku melirik kue yang membuat jiwa maniak keju ku bergetar hebat. Ya kaasstengels nama kue itu. Kaasstengels merupakan kue yang terkenal pada zaman Belanda. Kue ini biasa disajikan dalam rijsttafel.

Rijsttafel sendiri merupakan jamuan makan ala Hindia-Belanda pada zaman kolonial yang berfungsi untuk mengenalkan kekayaan budaya negeri Belanda pada jajahan atau sebaliknya. Kue warisan kolonial ini terbuat dari adonan tepung terigu, margarin dan telur serta parutan keju yang meleleh. Dipanggang dalam oven hingga warnanya kuning keemasan. Kue berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3-4 cm ini mampu membuat lidahku bergoyang. Eksistensi nya sejak masa kolonial hingga sekarang tak pernah pudar. Aku ingin membelinya, namun apa daya uangku tidak cukup.

Di perjalanan pulang, aku melihat pedagang yang menjual oliebollen. Oliebollen lebih merakyat haha. Kue ini adalah kue goreng yang berisi kismis atau potongan apel. Bentuknya bulat dan rasanya mirip donat. Aku membeli lima untuk dibungkus pulang.

***

Di perjalanan aku bertemu teman lama ku. Namanya Dania. Aku tidak terlalu akrab dengannya. Namun apa salahnya sekedar menyapa. “Hei Dania! Lama tak jumpa”, seruku. ” Oh kamu, Liara. Kamu kuliah dimana?” tanyanya. Deg… Ini adalah pertanyaan ke sekian kalinya yang kudengar hari ini. Mulai dari chat adik kelas hingga teman sebaya. Semuanya mempertanyakan kuliah. Aku mencoba bersikap biasa saja walau rasanya sedikit sakit. Itu masih bisa ditahan.

Dengan segaris senyum kujawab pertanyaan Dania, “aku gap year Dan”. Dan reaksinya diluar dugaanku. ” Hah?! Gap year?”, ” Iya Dan” singkat ku. “Kalo aku jadi kamu, aku ga bakal mau gap year. Mending aku masuk univ swasta aja. Sayang waktunya terbuang percuma. Tahun depan berarti sama adek-adek dong haha”, katanya. Dan aku.. Aku cuma bisa senyum. ” Iya, nanti sama adek-adek. Ga ada yang percuma kok Dan. Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan. Misalnya nambah hafalan, belajar di kursus, atau ikut kegiatan positif yang menambah soft skill”, terangku padanya. “Hah terserah kamu Li. Intinya aku ga mau kayak kamu. Gap year itu ga jelas. Swasta sama negeri itu sama aja. Buktinya aku swasta enak-enak aja. Yang kasihan itu orang tua kamu tahu. Apalagi zaman sekarang. Maluu Li, maluu kalo ada yang nanyain” timpal Dania padaku. ‘Justru kalo aku ambil swasta kasihan orang tuaku, uang dari mana?’ batinku. “Yaudahlah Li, aku buru-buru. Ada kelas hari ini” kata Dania.

***

Aku menghempaskan badan di atas kasur. Kulirik hp yang sedari tadi menyala. Memang benar yaa, kukira aku akan baik-baik saja. Ternyata sakit juga dikatain begitu. Memang sedih itu cuma kita yang tahu. Orang lain mah cuma besar penasaran aja. Mereka sering mengucapkan kata-kata tanpa dipikir panjang. Mereka tidak memikirkan kita yang mendengarnya. Apakah kita baik-baik aja atau engga. Mereka tidak peduli. Ya Tuhan, mengapa aku jadi kesal begini ya? Seharusnya kan aku bersyukur. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Begitu juga dengan keadaanku saat ini.

Kata-kata Dania masih terngiang-ngiang di otakku. Setiap kali melihat socials media, melihat mereka yang memposting masuk univ mana. Ternyata mampu membuatku menangis. Entah itu karena Dania atau bukan, hanya saja rasanya sakit. ‘Bukannya aku tidak bersyukur Tuhan, aku hanya ingin mengekspresikan sedikit rasa ini. Sebentar sajaa, tidak lama. Aku ingin istirahat sejenak, aku ingin…’ kataku dalam hati.

Ya, malam itu bulir-bulir air jatuh dari jendela hati manusia. Terkadang menangis lebih melegakan rasanya. Dan sendiri, jauh lebih baik dari keramaian. Untuk apa berada di keramaian kalau pada akhirnya tetap merasa sendiri?

***

Aku sudah jarang membuka socials media. Aku memfokuskan diriku. Ya, pikirkanlah dirimu sendiri. Fokus. Aku mau apa? Apa visiku? Bagaimana misiku? Tujuanku apa? Bagaimana cara meraihnya? Aku siapa dan mau menjadi apa?

Pertanyaan itu yang sedang kucari jawabnya. Barang kali selama ini aku masih belum mengenal diriku dengan baik. Aku menghabiskan waktu dengan membaca. Kugali setiap informasi yang ada. Apapun itu. Aku akan belajar. Aku ingin menjadi orang yang berwawasan luas. Spiritual juga ku tingkatkan. Bagaimana mungkin anda berharap memiliki sesuatu namun lupa kepada pemilik sesuatu itu? Tanyaku pada diriku sendiri.

***

Setelah sekian lama tidak keluar, aku memberanikan diri. ‘Ini bukanlah sesuatu yang harus dimalukan’ teriak ku pada diriku sendiri. Mau bagaimana pun tanggapan mereka, ataupun pendapat mereka tidak akan mempengaruhi sedikitpun terhadap diriku. Aku adalah aku. Mereka ya mereka. Penilaian mereka terhadap hidupku tidak akan menentukan hasil dan pencapaianku. Hasil ini hanya akan kuperoleh atas diriku sendiri. Dan berkat Tuhan yang Pemurah. Aku percaya Dia tidak akan pernah meninggalkanku. Dan orang tua ku, mereka tidak pernah menuntutku untuk menjadi orang lain. Sebuah kebahagiaan besar yang seharusnya kusyukuri hingga saat ini.

***

Petang ini permadani langit tampak muram. Goresan jingga tampak memudar disapu malam. Gemerlap bintang juga tak nak beranjak dari ekor sang rembulan. Malam semakin sangar di pelupuk mata penghamba dunia. Staatsspoorwegen yang ku naiki masih melaju dengan gagahnya. Sesekali kulirik arloji coklat tua dengan hiasan emas di pinggir bulatannya yang melingkar manis di pergelangan tanganku, ia terus berteriak menandakan waktu sudah malam, ‘tenang, tinggal satu stasiun lagi’ lirih batinku.

Jujur, aku tidak mengerti. Mengapa setiap orang itu musti ngurusin hidup orang lain. Bukan maksudku mengatakan hidup ini kita jalani masing-masing tanpa mempedulikan orang lain. Tentu saja kita harus mempedulikan orang lain, karena kita hidup di tengah masyarakat. Ada juga saudara seiman yang perlu dibimbing. Namun semuanya harus dilaksanakan secara wajar. Setiap kita itu punya jalan nya masing-masing. Mengapa harus selalu dibanding-bandingkan? Dan dalam hidup ini, tidak semua hal perlu dikomentari. Ada beberapa hal yang tidak perlu dijawab, cukup diam dan jaga lisanmu. Ucapkanlah kalimat yang positif dan mengalirkan jutaan embun motivasi pada setiap jiwa yang kering. Tapi itulah realita saat ini. Dunia memang tak seramah yang kita kira. Kemana pun kamu pergi, setidaknya kamu pasti ketemu satu kan yang kayak begitu? bacotan ku dalam hati sambil menunggu stasiun selanjutnya.

***

Citt… suara kursi di sebelahku. Lalu duduklah seorang wanita tua dengan syal merah di lehernya. Dilihat dari perawakannya, wanita itu seperti tidak asing. Matanya berwarna hitam legam terlihat indah dengan balutan hijab merah marun. Hidungnya mancung. Alisnya juga tebal dan rapi, sedikit menaik di kedua ujungnya mengisyaratkan bahwa ia adalah wanita yang tegas dan memiliki prinsip. Kuperhatikan dengan seksama wajah itu. Sayangnya aku tidak dapat mengingat dia itu siapa.

Wanita itu mengajakku ngobrol. Ya aku layani. Karena aku suka diskusi atau sekedar menghabiskan waktu diperjalanan dengan bercerita, cerita apapun itu aku suka.  Di pertengahan cerita, si wanita tersebut bertanya, “Kamu masih muda, apa impian kamu?”, jarang ada yang nanya impianku, dan berbicara soal impian, impianku itu banyak pake banget. Namun setelah menghadapi kenyataan bahwa aku gap year dan tertinggal dari teman-temanku, aku mulai ragu dengan impianku sendiri. Bahkan untuk bermimpi aku ga yakin lagi. Aku ga tau harus jawab apa pertanyaan wanita itu, jadi kujawab seadanya saja, “Doain yang terbaik aja deh bu” kataku sambil nyengir (padahal dalam hati pengen nangis). Terus wanita itu bilang gini, “Kamu tahu ga, huruf ‘B’? B itu BIRTH atau lahir. Lalu huruf ‘D’ yaitu DEATH atau mati. Diantara B dan D ada ‘C’ yaitu CHOICE atau pilihan.

Dalam hidup kita harus memilih. Begitu juga dengan impian kita. Mau jadi apapun ga masalah asalkan kamunya enjoy dan itu hal positif. Kebanyakan anak muda sekarang ga berani memilih. Padahal mereka ga akan pernah tahu sehebat apa jadinya mereka nanti. Keraguan  membunuh lebih banyak mimpi dibandingkan kegagalan “, kata wanita tersebut. ‘Wah gila wanita ini bisa membaca pikiranku?'(batinku kaget dengan jawaban nya). ” Kok malah diam? Kamu sakit?” pertanyaan wanita itu membuyarkan lamunanku. Ternyata daritadi aku melamun. “Eh iya bu, saya ga sakit kok hehe” timpalku. “By the way, menurut ibu sukses itu seperti apa?”, ” Menurut saya, sukses itu bukan soal ketenaran, uang, atau rumah yang besar. Sukses itu adalah saat dimana kamu menjadi versi terbaik dari dirimu.

Bukan terbaik sisi orang lain loh yaa, karena definisi sukses setiap orang itu berbeda”, tuturnya padaku. Aku mangut setuju. Dan setelah kupikir lagi, di perjalanan menuju sukses kita pasti akan jatuh, bahkan gagal untuk ke sekian kalinya. Namun ini bukan tentang kegagalanmu tapi bagaimana kamu bisa bangkit dari kegagalan itu. Gagal yang sebenarnya adalah disaat kamu berhenti mencoba ya kan?

“Sejatinya hidup itu adalah seni memilih ya bu.. “, kataku. “Iyaa, dan kamu harus ingat aset terbaik yang kamu miliki adalah kamu masih muda. Kesalahan apapun adalah pendapatan yang baik” jelas wanita itu

***

Semilir angin berhembus pelan. Dengan mata setengah terpejam, ‘terimakasih Tuhan’ lirihku. Derap kakiku membelah malam yang indah itu. Aku ingin seperti wanita tadi. Menginspirasi dan membuat orang lain nyaman menjadi diri mereka sendiri. Terkadang memang kita harus lebih peka terhadap hal-hal di sekitar kita. Entah itu sosial atau yang lainnya. Cobalah peduli. Karena itu adalah satu-satunya hal yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lain selain manusia. Dan manusia itu adalah kita. Melalui kejadian tadi, aku belajar banyak hal.

Salah satunya adalah bukan karena Tuhan yang kurang baik, namun kita nya saja yang kurang bersyukur. Segala sesuatu sudah memiliki porsinya masing-masing. Jalannya masing-masing. Ketika kita berusaha, selalu ada tangan-tangan Tuhan yang menolong. Memberikan sedikit kelip dalam gelapnya keraguan yang mengguncang. Meneteskan hujan pada tanah yang hampir tandus. Semuanya itu terjadi. Kita saja yang kurang peduli. Bahkan untuk nafas saat ini. Seandainya kita semua memahami.

***

Iyaa, aku ingin mengejar mimpi. Akan kuwujudkan semua hal yang terlihat masih abu dan samar. Menjadi sebuah realita yang nyata. Realita yang akhirnya dapat kukatakan dengan lantang pada dunia bahwa inilah impian ku dan aku berhasil mewujudkan nya!!!

Semangatku membara. Jiwaku bergejolak hebat. Tak kan kulewatkan sedetik pun dengan sia-sia. Air mata yang kemarin serta keringat hari ini harus terbayar lunas. (Gema ku dalam jiwa)

Agar menjadi prajurit siap tempur, ku persiapkan segalanya. Mulai dari fisik hingga mental. Ragawi dan rohani. Materi dan non materi. Aku harus siap. Karena minggu depan adalah hari pertempuran.

***

Tanganku berkeringat. Mataku tak berkedip menatap layar kaca berukuran 16 inch itu. Tetikus yang ditanganku juga ikut bergetar. Kujawab setiap soal dengan senyuman. Berharap semoga ini benar Tuhan…

Aku  keluar dari ruang ujian dengan perasaan campur aduk. Entah itu senang atau sedih, aku tidak dapat menjelaskan. Sekarang aku tinggal menunggu semesta bekerja. Dan aku berharap hasilnya seperti yang kuinginkan.

Kulangkahkan  kaki ku menyusuri koridor sepi berwarna coklat tua yang  tampak usang itu. Ornamen dan hiasan elegan bekas jajahan Belanda 500 tahun yang lalu masih terawat dengan sempurna. Bangunan ini benar-benar bersejarah. Dan kini ia menjadi saksi bisu perjuanganku.

“Udah selesai Li? “, tanya Dira yang datang untuk menyemangatiku. ” Iya, alhamdulillah udah Ra” jawabku. “Terus gimana, masih tetap di pilihan yang kemarin?”, ” Iyaa, masih Ra. Belum bisa move on aku. Habisnya bagus kali univ tu”, kataku padanya. “Oo yaudah gapapa kali Li, moga aja lulus yaa” kata Dira lembut. “Iya, aku juga berharap gitu” jawabku.  “Eh udah makan? Aku traktir dehh. Biasa, anak kuliah merantau kan sambil cari duit wkwkwk. Kemarin akhir semester aku bantu kakak senior jualan. Uangnya lumayan la buat nambah jajan hehe” tutur Dira. “Aku kalo traktir mana pernah nolak hahaha. Kuy la gass!”, aku menarik tangan Dira dan berlari seperti anak kecil. ” Lii, tunggu dulu.. Emang kamu tahu kita mau kemana?”, “Tahu. Pasti ke tempat abang tukang bakso di depan kan?” tanya ku. “Iyaaa eh pelan-pelan Li. Awas nabrak” seru Dira dari belakang. Aku bukannya mengurangi kecepatan malah semakin kencang berlari. Dira yang di belakang sudah ngos ngosan seperti sakaratul maut. Akhirnya kami sampai di tempat bakso Bang Aris. Bang Aris adalah tukang bakso terenak sedunia akhirat. Kalau kalian belum pernah coba rugi. Sekali lagi aku tegaskan rugi sangatt!!! Karena emang enak top markotop deh.

“Dasar Lia! Aku ngos-ngosan tahu” kata Dira sambil meminum air mineral. “Hehehe ampun.. Lagian siapa lagi maniak bakso Bang Aris selain kamu?” cibirku padanya. “Heh yang maniak bakso itu mah kamu. Aku biasa aja”. ” Hm engga tuh” kataku. “Dasar tidak sadar diri. Ini tuh udah mangkuk kedua yang kamu makan”, ” Eh iya ya? Ga sadar aku. Habisnya soal tadi buat aku lapar” kataku dengan wajah tidak bersalah. “Hm padahal kukira aku maniak keju Ra” lanjutku. “Lah kamu itu bukannya semua yang kamu makan? Masih ga sadar juga nih anak”, ” Batu dan kayu aku ga makan loh” terangku padanya. “Ya Tuhan itu juga ga ada yang makan sayang”, ” Hahaha ampunn deh Ra…”.

Sambil makan bakso, Dira bercerita panjang mengenai perkuliahan nya yang padat. Kakak seniornya yang galak, dan tipe-tipe dosen. Bahkan cerita tentang si dia yang tak sengaja bertemu dengan Dira di daerah Sunday Morning Market. Semuanya sangat menarik dan mengasyikkan. Tak terasa hari mulai gelap. Obrolan bersama Dira selalu membuatku lupa waktu. Setelah mengantar Dira, aku segera pulang ke rumah.

***

Hari yang aku tungu tunggu datang juga. Iya, hari ini. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru universitas X. Jantungku berdegup kencang. Dag dig dug dag dig dug. Sejujurnya, aku takut membuka situs penerimaan itu. Sekelebat bayangan tentang kejadian masa lalu datang menghampiri. Tanpa tedeng aling, semangat ku yang berkobar tadi berubah menjadi padam. Semua yang aku takutkan terputar kembali seperti kaset lama. Aku merinding. Bagaimana jika ini. Bagaimana jika itu. Bagaimana jika yang aku harapkan tidak terjadi? Semuanya membuat macet otakku. Jari-jari waktu menyeretku pada luka lama yang hampir aku lupa. Ya Tuhan…

Aku menarik napas dalam-dalam. Kutenangkan diriku. Apapun yang terjadi, aku harus selalu ingat bahwa itu adalah hal terbaik yang telah digariskan Tuhan untuk ku. Mataku terpejam untuk beberapa saat. Seraya memantapkan hati, aku berkata lirih ‘Semuanya akan baik-baik saja. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Maka kamu akan mendapatkan yang terbaik. Dan yang terbaik menurutmu belum tentu yang terbaik menurut-Nya. Apapun yang terjadi ciptakanlah pola pikir yang membuatmu terus berjuang. Tidak apa-apa diriku. Sekali lagi, semuanya akan baik-baik saja’.

Kubuka mataku. Pantulan cahaya layar laptop menyilaukan mata. Kucari deretan namaku pada abjad L. Dan jeng jeng jeng… Aku tidak menemukannya. Seketika badanku terasa lemah. Telepon dari Dira berdering dari tadi. Aku tidak kuasa untuk mengangkatnya. Aku terdiam untuk beberapa saat. Memang aku sudah menyiapkan hati untuk ini. Tapi aku sadar, aku tidak sepenuhnya menyiapkan hati.

***

Brakkk… Suara pintu dibuka. Bahkan untuk melihat siapa yang datang aku malas. Ternyata Dira yang datang. “Gimana Li? Lulus? ” tanya Dira padaku yang masih membisu. Aku hanya menggeleng dan memalingkan muka. Hah, sudah seperti anak kecil saja aku. Dira yang baru sampai segera meletakkan tasnya di meja. Diraihnya laptop sambil mengetik-ngetik sesuatu. Aku sudah tidak memiliki hasrat untuk melihat laptop. Dan aku memilih pergi ke kamar mandi. Aku meraih gagang pintu dengan lunglai, namun seketika Dira berteriak. “Ya Tuhan… Kamu lulus Li!!!”. Teriakan nya berhasil menarik perhatianku. Namun aku tidak bereaksi apapun. ” Ga lucu Ra”, kataku padanya. “Loh kok gitu sih Li. Ini beneran kamu lulus. Aku ga bohong” jelasnya padaku sambil tergopoh-gopoh menunjukkan sesuatu di layar laptop.

Telunjuknya berputar-putar pada sebuahnama. Aku yang melihat layar itu terdiam lagi. Namun kali ini diam yang berbeda dari yang tadi. Bagaimana mungkin? Aku yang daritadi mencari tidak menemukan namaku. Dan Dira yang baru datang menemukannya. Ini semua seperti mimpi. “Betul ni Ra? Aku ga salah lihat kan?” kataku memastikan. “Iyaa, betul Li. Tadi itu ada next nya yang page terakhir. Tapi aku lihat kamu belum klik yang itu” kata Dira menunjuk halaman di layar. Lalu aku menjerit “Alhamdulillah!!! Kukira itu udah habis Ra, karenaabjadnya udah berubah, jadi tidak kuteruskan melihatnya”, “Itu kan beda fakultas Liara sayang” kata Dira. Aku memeluk Dira sambil melompat-lompat seperti anak kecil bermain tali merdeka. Dira pun malah beronjak-onjak di atas kasurku. ” Yeayy akhirnya… ” seruku dengan senyum mengambang. “Tengok tu kembang hidungnya” kata Dira menunjuk dua lubang di wajahku. Dan aku hanya tertawa.

***

Pagi ini, dengan semangat 45 aku bangun sebelum jam 3. Kupersiapkan semua berkas yang harus dibawa. Setelah berpamitan pada orang tuaku, aku melangkahkan kaki menuju tempat bersarangnya burung-burung besi raksasa yang dikenal dengan nama pesawat. Rajawali yang kunaiki tampak silau disapa cahaya mentari. Kamu harus ingat, kamulah penulis buku kehidupanmu.

Untuk mendapatkan hasil yang belum pernah kamu raih sebelumnya, kamu harus melakukan sesuatu yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya. Selalu berpikiran terbuka, belajar menghargai, peduli sekitar, dan belajar dari pengalaman orang lain, maka percayalah kami akan melakukan sebuah kemajuan dalam hidupmu. Dengan niat tulus yang masih membara ‘Aku akan kembali dan membangun negeriku’.

 

Penulis : dy

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.