MEDANHEADLINES,Medan – Aplikasi penyandera data atau ransomeware yang bernama WannaCry tiba-tiba menyerang sistem informasi di sejumlah negara di dunia yang menggunakan Windows-8 atau versi yang lebih awal.
Dari berbagai penelusuran di beberapa media, disebutkan bahwa Ransomeware tergolong virus siber yang merupakan salah satu jenis malicious software (malware) yang menyerang komputer dengan cara mengunci data di komputer korban. Virus inu masuk melalui email yang memiliki lampiran sehingga apabila dibuka langsung menginfeksi sistem.
Virus ini diperkirakan muncul sekitar beberapa saat yang lalu, yang telah memgunci ratusan ribu komputer di 150 negara sehingga menghebohkan dunia. Tidak hanya membuat kekacauan di pabrik, pertokoan, sekolah, tapi juga telah membuat kepanikan di rumah sakit.
Presiden Microsoft Brad Smith menyimpulkan bahwa virus ini memanfaatkan alat peretas yang dibangun Badan Keamanan Nasional AS yang bocor secara daring pada April lalu, yang dibocorkan dengan sengaja oleh kelompok Shadow Brokers tahun lalu. Peretasan dilaporkan terjadi pertama kali di Inggris, AS, Rusia, China dan Negara Asia lainnya, dengan kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta dollar. Namun belakangan dikabarkan bahwa virus ini adalah bahagian perang siber dari beberapa negara yang saling tuding.
Tajuk rencana Kompas (Selasa, 160517) menyebut setidaknya ada dua hal yang diingatkan melalui peretasan ransomware ini yaitu, kejahatan siber yang tiada habisnya, dan dunia memasuki era perang siber (cyber warefare), dimana pihak yang berlawanan saat ini sudah menggunakan siber untuk menyerang musuhnya. AS jelas negara yang sudah merumuskan doktrin perang digital seperti dilaporkan Business Week diikuti dengan tajuk Bloomberg Businessweek dalam salah satu edisinya memuat laporan “Cyber War Has Begun” (perang siber telah dimulai).
Serangan Terhadap Rasio Manusia
Namun manusia selalu lupa, bahwa perang yang sesungguhnya telah terjadi ditengah umat manusia adalah perang terhadap akal-sehat yang dimilikinya yang sudah berlangsung lebih dari 500 tahun. Mestinya bukan ransomeware yang ditakuti oleh perusahaan atau negara yang akan menyerang data mereka ataupun mematikan sistem mereka, akan tetapi serangan virus kebenaran ilmiah, positivistik, empirisme, hingga post-modernismelah mestinya ditakuti umat manusia sejagat. Sebab virus-virus itulah yang telah mengunci mati kebenaran kewahyuan maupun kebenaran alamiah yang merupakan fitrahnya manusia, yang sebelumnya tersimpan dalam kepala manusia, kini tidak lagi berfungsi.
Kini para philsuf maupun teoritisi sudah mengingatkan, bahwa manusia global sudah masuk pada era–rasionalitas teknologi yang menempatkan teknologi komputasi sebagai gantungan hidup manusia. Hanya kepada teknologilah manusia bergantung dan memohon pertolongan saat ini tidak pada yang lain. Tanpa teknologi manusia seperti mati.
Banyak orang tak percaya jika suatu saat nanti kita hidup tanpa Handphone (Hp), Laptop ataupun internet. Bukankah Hp, Laptop, Internet sangat penting untuk alat komunikasi, menyimpan data, atau membaca dunia? Apa jadinya jika kita berkomunikasi menggunakan surat kembali, menyimpan data dengan menulis di buku, atau mesti teriak-teriak memanggil kawan kita dari kejauhan? Apa jadinya kita kehilangan informasi tentang perkembangan dunia? Segalanya serba menakutkan bagi banyak pihak.
Sebagian yang lain menganggap bahwa kehidupan suku Badui di Banten maupun suku-suku terasing dan pedalaman di Sumatera, Papua, yang hidup dengan harmoni, bersahabat, bersaudara dengan Alam, menghormati Alam tanpa merusaknya, tanpa alat-alat teknologi seperti Hp dan lainnya, justru sebagai “bukan kehidupan”. Bahkan pemikir budaya sekalipun ada yang menganggapnya sebagai masyarakat belum berbudaya. Kehidupan yang tentu saja tidak ada dalam bayangan manusia modern, yang serba mekanis, teknologis, dan rasionalis.
Bagi manusia modern, Alam mesti ditaklukkan atau diperbudak untuk memenuhi kepentingan manusia. Alam ada adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan manusia. Itu sebabnya manusia kemudian mengeksploitasi Alam selama ratusan tahun, yang menyebabkan Alam mengalami kerusakan yang cukup parah, yang justru mengancam kehidupan manusia itu sendiri.
Mana Lebih Berbahaya?
Saat ini kita dihadapkan dengan satu pertanyaan penting, manakah yang lebih berbahaya, perang siber melalui ransomeware dengan virus WannaCry yang akan mematikan jaringan komputer suatu negara atau dunia, atau perang rasiomaliciousware dengan virus rasionalitas-teknologis yang telah mengunci mati akal-sehat manusia sehingga tidak lagi berfungsi untuk menyebarkan kasih-sayang dan perbuatan mulia kepada manusia dan kepada alam semesta?
Marx, Nietzsche, Foucault, Baudrillard, atau Philsuf Modernis hingga Post-Modernis selama lebih dari dua ratus terakhir telah memastikan akan munculnya bencana yang dahsyat bagi umat manusia akibat dampak serangan rasionalisme selama lebih dari lima ratus tahun silam.
Apa bahayanya? Bahaya yang pasti adalah kehancuran alam, sebagaimana yang telah terjadi saat ini dimana telah terjadi kerusakan hutan tropic yang hebat diseluruh dunia, kerusakan flora dan fauna yang menjadi pusat kesetimbangan alam, kerusakan terumbu karang, keracunan tanah, kerusakan akibat pertambangan yang dahsyat diberbagai belahan dunia.
Namun semua itu masih kecil, yang paling dahsyat adalah kerusakan yang terjadi pada pikiran manusia. Manusia menjadi jahat sejahat-jahatnya. Manusialah yang telah tega melakukan kerusakan alam hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Manusialah yang menciptakan Perang Dunia berskala luas di muka bumi, manusialah yang telah memperbudak manusia lainnya di zaman modern ini, manusialah yang telah tega mengadu-domba antar manusia, antar negara, untuk kesenangan kelompok semata.
Semua orang sepakat, bahwa manusia yang paling jahat adalah manusia yang mengikuti nafsu syahwatnya. Nafsusyahwat adalah keinginan untuk memperoleh kesenangan duniawi semata yang mengabaikan manusia dan alam sekitarnya. Manusia menjadi serakah, memperbudak manusia, menindas manusia lainnya hanya untuk memperoleh kesenangan pribadi dan kelompok semata. Manusia yang selalu menyembah atau memuja (fetis) kekayaan, jabatan maupun seksual sebagai tujuan hidupnya.
Artinya kerusakan dalam sistem berfikir manusia yang terjadi saat ini sudah menghancurkan dua hal utama di alam semesta ini, yaitu menghancurkan mental manusia sekaligus menghancurkan alam semesta itu sendiri. Kalau ransomeware bisa meluluh lantakkan jaringan komputer dunia, maka virus rasionalisme telah menghancurkan jaringan akal-sehat manusia, yang telah mengunci mati persaudaraan, dan kasih-sayang antar manusia maupun antara manusia dengan alam. Kalau ransomeware merusak komputer buatan manusia, virus rasionalisme telah merusakkan kesadaran manusia yang sebelumnya dibentuk baik oleh yang Maha Kuasa.
Manusia sendirilah yang memutuskan, masa depannya sendiri.
Penulis: Dadang Darmawan M.Si
Dosen FISIP USU












