Kapal Orang Bodoh

MEDANHEADLINES – Anggaplah bumi yang kita diami ini adalah kapal yang sedang berlayar “melayang” di samudera semesta raya. Kita adalah satu diantara trilyunan kapal lainnya yang sebetulnya tak terhingga jumlahnya, yang melayang pada samudera semesta yang juga tak kita ketahui tapal batas dan luasnya. Kapal yang besarnya hampir-hampir hanyalah seukuran “debu” dibandingkan dengan kapal lainnya “dimata” alam semesta.

Inilah kondisi kosmik yang selalu luput dari kesadaran manusia, untuk menempatkan dirinya sebagai suatu unsur kosmik yang “halus” seperti debu di jagad semesta ini. Manusia selalu percaya bahwa dialah pusat satu-satunya mahluk di alam semesta ini yang rasional, yang mampu berjalan menyetir kehidupannya sendiri. Manusia yang otonom/merdeka/berdaulat, lepas dari pengaruh objek realitas apapun, terlebih intuisi/dogma.

Siapakah nakhkoda yang berani menyetir bumi ini ditengah samudera semesta ini? Benar, sudah lebih dari 500 tahun kapal bumi ini dinakhkodai oleh rasio manusia. Semenjak Descartes, mengatakan bahwa rasio manusia adalah sesuatu otonom yang menentukan dirinya dan masa depannya sendiri kemana hendak berlabuh. Saatnya kata Descartes manusia mengenyahkan segala dogma, adat dan agama yang berasal dari luar dirinya dalam mengatur kehidupannya. Ini adalah fajar rasio, manusia menjadi Tuan dan Nakhkoda bagi kapal bumi yang sedang berlayar disamudera semesta.

Descarteslah yang berupaya sekuat pikirannya meyakinkan penghuni kapal, bahwa dasar manusia berfikir adalah pikiran/akal-nya sendiri. Descartes percaya bahwa idea bawaan yang dimiliki manusia adalah suatu bawaan, sudah ada sebelum manusia lahir, bukan hasil pencerapan dari yang konkrit, sebagai pemberian Tuhan yang sejati. Karena itu idea/akal-budi inilah sebagai alat penerang manusia yang terang benderang, menjadi pimpinan dalam setiap pengertian yang kemudian disebut rasionalisme. Rasio yang sudah ada inilah yang berdaulat sepenuhnya, bukan inderawi manusia yang selalu menyesatkan.

Mengapa inderawi menyesatkan? Descartes membuktikan mata dan indera manusia selalu terkecoh (letakkan spotong kayu ke dalam air maka kayu akan kelihatan bengkok), ia pun selalu salah menghitung sehingga ilmu matematika dan ilmu pasti tak bisa juga dipercaya. Karena itu ia meragukan ilmu pasti itu, dari situ ia mengambil kesimpulan bahwa ia ragu karena ia berfikir, dan karena aku berfikir maka aku ada/cogiro ergosum. Untuk eksis dan berada manusia tak membutuhkan tempat dan lainnya, cukup dengan berfikir.

Dalam diri manusia sudah ada tiga idea bawaan pemberian Tuhan yaitu pikiran/jiwa, Tuhan, dan keluasan/materi, dan manusia sendiri terdiri dari dua substansi/dualitas yaitu jiwa dan materi. Pertarungan yang essensial, sesungguhnya terjadi antara jiwa dan tubuh/materi dalam diri manusia. Kalau jiwa menentang tubuh maka akan berlangsung di kelenjar peneal dan tak ada pihak yang diuntungkan.

Bagi Descartes, meragukan apa saja adalah dasar berfikir yang utama. Suatu keadaan mental (halusinasi, mimpi, ilusi, roh halus) dan suatu realitas (gerak, jumlah, volume), keduanya tidak ada perbedaan yang jelas dan keduanya dapat salah. Filsafat/pemikiran adalah kumpulan pengetahuan manusia yang menyelediki manusia, alam dan Tuhan. Satu yang nyata hanyalah pikiran yang selalu meragu dan bertanya, yang menyebabkan manusia itu ada (fariskayosi.blogspot.com).

Descartes menolak keras metode filsafat skolastik (filsafat di sekolah-sekolah) abad tengah yang dipengaruhi agama, yang mengabdi pada teologi dalam memecahkan masalah berfikir, jasmani, rohani, baik dan buruk. Sebabnya, hingga abad 12 Eropa belum bersentuhan dengan alam pemikiran Yunani. Puncak filsafat Skolastik adalah filsafat Thomas Aquinas yang dikembangkan dalam sekolah-sekolah biara/keuskupan, dimana filsafat integral dalam ajaran teologi.

Atas bantuan para pemikir Arab/Islam, pemikiran Arsitoteles kemudian banyak dicerap pemikir Eropa abad-12 yang kemudian menggoyahkan filsafat skolastik. Sejak abad-12 itu banyak didirikan universitas almamater di Paris, Oxford, Mont Pellier, Cambridge dan lainnya yang mengembangkan pemikiran manusia tanpa batas, dan mengkoreksi universitas sebelumnya yang hanya mengajarkan ilmu kedokteran, hukum, sastra, dan teologi. Dengan munculnya era-renaisans (kelahiran kembali rasio manusia), maka filsafat skolastik yang berbasis teologis disingkirkan, digantikan filsafat rasionalis yang dipertegas oleh Renee Descartes (amiee23new.blogspot.com).

Descarteslah yang dengan kuat meyakinkan bahwa kebenaran mestilah ditetapkan melalui suatu pembuktian, logis, dan analitis berdasar fakta bukan berdasar iman, dogma, atau ajaran agama. Suatu visi yang sejalan dengan humanis dan atheis dalam menyingkirkan takhyul dan keagamaan yang telah membutakan Eropa. Rasionalis juga sukses menyingkirkan masalah manusia yaitu perasaan/emosi, adat-istiadat, dan kepercayaan (www.nuraminsaleh.com).

Bagi Descartes eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tak dapat diragukan. Pikiran sendiri adalah suatu benda berfikir yang bersifat mental (res cogitans) bukan bersifat fisik atau material. Baginya Tuhan itu ada dengan alasan bahwa “sebab” dari seluruh “akibatnya” yang ada di semesta ini, mestilah harus “lebih besar”, sempurna, “lebih baik” dari akibat. Penyebab pasti lebih “sempurna” dari akibat.

Dengan demikian, pengalaman dan pikiran manusia tidak memenuhi prinsip sebab yang lebih sempurna dari akibat. Pemahaman Tuhan dalam pikiran kita, hanya bisa disebabkan oleh suatu mahluk sempurna yang menaruhnya dalam pikiran saya, yakni Tuhan. Baginya realitas itu ada tiga yaitu benda material yang terbatas/objek fisik, benda mental yang terbatas/pikiran-jiwa, dan benda mental yang tak terbatas/Tuhan (id.m.wikipedia.org).

kita dalam suatu kapal, dihuni para penumpang bodoh. Sebagian orang bodoh dengan sadar berlomba-lomba membocori kapal, sementara penumpang bodoh lainnya, dengan sadar tak perduli apa yang terjadi dan asyik menanti kapal sampai tujuan. Air dengan cepat masuk dan membanjiri mesin. Mesin kapal kemudian mati, dan kapal mulai perlahan berhenti, dan tenggelam.

Sejak era-renaisans yang dipertegas dengan pemikiran Descartes yang menempatkan rasio/akal manusia pada tahta puncak menakhkodai kapal bumi ini, lucunya, semua bayangan para philosof rasional bahwa kapal ini akan membawa kebahagiaan bagi umat manusia, ternyata tidak terbukti. Para pemikir rasionalis yang berkampanye terhadap kemajuan jaman yang dihelat oleh rasio manusia sendiri tak lebih adalah kampanye bohong dan penuh dengan kepalsuan. Kapal yang seyogyanya digadang-gadang sebagai kumpulan orang-orang super dengan berbagai pemikiran super dan visioner ternyata tak lebih berisi orang-orang bodoh yang tanpa arah selain hanya mampu membuat kerusakan.

Para orang bodoh penghuni kapal itulah yang selalu membocori kapal sebagai hasil dan buah dari pemikirannya sendiri. Bukankah  hanya orang dungu dan sakit jiwa yang membocori kapalnya sendiri? Anehnya, mengapa orang bodoh saling berteriak satu dengan yang lain, mengingatkan bahwa kapal telah bocor, namun tak bisa mengendalikan perbuatan mereka yang terus membocori kapal?

Betapa luar baisanya orang bodoh yang hipokrit, yang tega membocori kapal namun mereka pula yang teriak-teriak meminta semua orang untuk menyelamatkan kapal yang pasti tenggelam. Betapa butanya manusia, yang selalu hidup dengan dirinya sendiri dan abai terhadap berbagai soal yang melanda ligkungannya. Berapa milyar penumpang kapal bumi ini, yang sangat bodoh dan asing pada dirinya sendiri, selalu bertindak destruksi namun menyalahkan orang lain dan tak perduli pada sesama.

Diatas kapal yang tak lagi jalan, kapal orang bodoh tinggal menunggu waktu tenggelam sempurna. Ditengah kepanikan yang memuncak, dan ditengah orang-orang yang tak perduli, jelas saja tak ada solusi berarti, selain menunggu tenggelam sebagai satu-satunya yang pasti. Demikianlah nasib orang-orang bodoh, tenggelam ditengah samudera semesta, sebab hidup hanya bergantung pada persangkaan pemikiran semata.

Penulis : Dadang Darmawan, M.Si

Dosen FISIP USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.