MEDANHEADLINES.COM – Jika pohon-pohon di hutan-hutan yang tumbuh alamiah sudah ditebangi, jika bakau-bakau dipesisir di babat habis, apakah yang akan terjadi? Dunia tanpa pohon jelas akan kering dan gersang. Tanpa pohon dan hutan maka tidak ada lagi akar-akar yang berfungsi sebagai pengikat air dalam tanah. Akibatnya tanah menjadi rapuh, dan air akan turun meluncur menjadi banjir dan menerjang kehidupan manusia. Jadilah manusia terseret, tenggelam dan diterjang oleh banjir. Manusiapun menjadi korban atas perbuatannya sendiri.
Jika secara fisik kegersangan dunia pasti akan membawa bencana, bagaimana pula jika terjadi kegersangan secara psikis melanda umat manusia?
Jika ketuhanan, keadaban, persaudaraan, kebijaksanaan, dan keadilan yang merupakan fitrah (alamiah) dalam diri manusia sudah “dilucuti”, apakah yang akan terjadi dalam kehidupan ini? Dapatlah dipastikan tidak ada lagi ikatan kemanusiaan yang hakiki antara manusia dengan Tuhan, Alam maupun antar manusia, yang saling menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Akibatnya, terjadi erosi kemanusiaan. Manusia lepas kendali dari Tuhan, Alam maupun dari kelompoknya sendiri, dan hidup berdasarkan kepentingan pribadinya sendiri. Pada gulirannya, manusia secara individual saling “menerjang” satu dengan yang lain, melakukan perusakan dan eksploitasi terhadap alam serta meniadakan keberadaan Tuhan.
Mengapa hari ini muncul banjir “fitnah” dan berita “hoax/bohong” dalam kehidupan manusia tanpa bisa dicegah? Ralph Keys mengatakan, jelas ada hubungan yang erat antara banjir berita kebohongan saat ini (hoax) dengan hilangnya ikatan sosial (komunitas) di antara manusia. Keys menganggap, diputusnya hubungan suatu komunitas oleh modernisasi saat ini, telah berdampak pada kembang-biaknya ketidakjujuran.
“Ketika sampai pada post-truthfulness, keributan koneksi antar manusia adalah sebab dan akibat. Tidak merasa terhubung dengan orang lain, tidak adanya ikatan, tidak adanya norma bersama, telah membuat manusia lebih mudah berbohong. Pada gilirannya manusia semakin sulit untuk membangun hubungan kembali antar sesamanya. Manusia menjadi tercerai-berai yang berakibat pada tumbuhnya ketidakjujuran. Ketidakjujuran lebih lanjut menyebabkan erosi moral ditengah masyarakat. Tanpa ikatan komunal, kepentingan pribadi yang tak terkendali dilepaskan”.
Tanpa terasa, sadar atau tidak sadar, kita sudah berada dipusaran arus besar gelombang “post-truth” alias kebohongan dunia yang sudah tak terelakkan. Semua orang “punya media” pribadi, yang setiap saat digunakan sebagai alat propaganda mulai dari upaya “mensucikan diri” dengan “mengelabui orang lain”, hingga sebagai alat “pembunuh” bagi pesaing. Setiap orang kini bisa mencitrakan dirinya sesuai dengan keinginannya, membuat cerita-cerita bohong, menghapus “jejak” kejahatannya meski setiap hari ia berbuat jahat, dengan memanfaatkan media yang ada dalam genggamannya.
Siapa Yang Selamat?
Jika terjadi banjir, dipastikan ada banyak orang yang akan tenggelam menjadi korban. Meski demikian, ada juga sebagian kecil orang yang selamat. Dalam narasi sejarah, mereka yang selamat dari banjir setidaknya memiliki bekal sebagai berikut: mereka bijak membaca tanda alam dan zaman sehingga sebelum bencana terjadi, mereka lebih dahulu menuju ke tempat yang tinggi, dan dalam kesehariannya mereka sabar menerima keadaan, ulet, tidak berbuat maksiat dan selalu berserah diri kepada Tuhan.
Mereka yang selamat dari banjir Hoax, pastilah mereka yang bijak. Orang bijak pasti tidak akan menerima dan menelan berita-berita Hoax mentah-mentah. Orang bijak pasti selalu menerima informasi dengan hati-hati, memverifikasinya, menelusuri kebenarannya, dan menempatkannya pada “tempat yang tepat”. Para orang bijak sudah terbiasa menempatkan posisinya pada “tempat yang tinggi”, suatu tempat yang tak lagi dipengaruhi oleh nafsu-nafsu duniawi yang rendahan. Para orang bijak tak akan membelenggukan dirinya pada kecintaan bendawi, sebaliknya mereka justru mencintai hal-hal yang sifatnya ilahiah, keadaban, persaudaraan, kebijaksanaan dan keadilan. Bung Karno mengatakan, jika bangsa Indonesia sudah memiliki nilai-nilai “tinggi” yang luhur dan mulia tersebut, bangsa Indonesia pasti akan menjadi mercusuar dunia, menjadi penerang dunia.
Terakhir, mereka yang selamat tentulah mereka yang sabar. Orang bijak yang sabar pastilah mereka yang ulet, mereka yang selalu tanpa putus asa dalam menghadapi segala macam cobaan hidup. Meski mereka tak punya kekuatan apalagi kekuasaan, dan selalu dalam kondisi “keroncongan”, namun mereka selalu konsisten dengan garis nilai yang sudah terpatri dalam diri. Kembali seorang guru bijak mengatakan, suatu bangsa akan selamat jika bangsa itu selalu hidup dengan keyakinannya (ideologinya). Tak apa kita tak memiliki senjata secanggih negara maju, tak apa kita lapar-lapar sedikit, asalkan ideologi kita nancap dalam kesadaran kita maka kita pasti akan selamat di tengah “banjir kebohongan” saat ini.
Penulis : Dadang Darmawan, M.Si
Dosen FISIP USU












