Hadiah Kemerdekaan, 16 bayi orangutan dapat rumah baru

MEDANHEADLINES – Kemeriahan dan semaraknya HUT Kemerdekaan Indonesia yang ke 72 ini  ternyata tak hanya dinikmati oleh masyarakat Indonesia saja, di Moment kemerdekaan ini Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) memberikan hadiah Spesial kemerdekaan bagi 16 bayi orangutan yaitu dengan memindahkannya dari baby house lama ke baby house baru.

Dilansir dari laman resmi Ditjen KSDAE, Sabtu (19/8/2017), pemindahan hewan dilindungi tersebut dikarenakan baby house lama yang telah dipergunakan sejak tahun 2000 sudah kurang layak untuk menampung bayi orangutan, yang jumlahnya sempat melonjak di atas angka 20 pasca kebakaran hutan besar melanda Kalimantan Tengah di tahun 2015.

“Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, kami berinisiatif memberikan hadiah kepada para bayi orangutan kami, sebuah rumah baru, yang semoga bisa membantu mereka mengasah kemampuan, dan terutama, menghapus trauma di masa lalu,” kata CEO Yayasan BOS, Dr. Ir. Jamartin Sihite.

Disebutkan, dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, sejak periode Agustus-September 2015 ketika banyak terjadi kebakaran lahan dan hutan, sampai April tahun 2017 ada 30 orangutan muda, usia berkisar antara 0 sampai 4 tahun yang diselamatkan dan masuk ke dalam pusat rehabilitasi di Nyaru Menteng.

“Mereka semua kami selamatkan dari wilayah yang tidak jauh dari bekas hutan yang terbakar,” sebutnya.

Yayasan BOS memulai kampanye penggalangan dana untuk pembangunan baby house baru di bulan Desember 2015, dan memulai proses pembangunannya di pertengahan tahun 2016. Yayasan BOS membangun baby house di kedua pusat rehabilitasi orangutan yang dimiliki, Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur.

Baby house baru dilengkapi dengan fasilitas bermain dan pengayaan serta Sekolah Hutan khusus bagi grup Nursery, berlokasi kurang dari 100 meter jauhnya dari baby house lama. Setelah penantian selama 20 bulan, bayi orangutan di Nyaru Menteng merasakan nyamannya tinggal di rumah baru, khusus dirancang bagi mereka.

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir. Wiratno, MSc., mengatakan proses pelepasliaran orangutan membutuhkan banyak persiapan. Mereka harus menjalani rehabilitasi selama beberapa tahun terlebih dulu sebelum bisa kita lepasliarkan ke hutan.

“Pendirian baby house ini adalah salah satu bagian penting dalam proses rehabilitasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus mendukung mitra yang kegiatannya merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan kembali ke hutan.

Sampai saat ini, lanjutnya, masih banyak orangutan yang harus diselamatkan dan masuk ke pusat rehabilitasi. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap kelestarian orangutan masih ada. Kebakaran hutan, deforestasi, konflik antara manusia dengan orangutan yang sebagian besar menyebabkan kematian orangutan, penyelundupan orangutan ke luar negeri merupakan ancaman yang harus diselesaikan secara bersama sama.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, yang kita perlukan adalah kerja bersama secara terintegrasi. Kami perlu bergandengan tangan dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga lain, masyarakat setempat, pelaku bisnis, dan lembaga-lembaga masyarakat dalam mencegah upaya pelanggaran hukum sehingga kelestarian alam dan seisinya tetap terjaga,” Jelasnya. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.