Merayakan Perbedaan Lewat Parsubang

“Bangsakita—Batak—tidak mengenal pertempuran karena perbedaan apalagi persoalan agama.Nenek moyang sudah ajarkan mencintai perbedaan, salah satunya dengan Parsubang”.

MEDANHEADLINES.COM – Sri Astuti (40) menghadiri pesta adat pernikahan keponakannya di Desa Pardomuan Kecamatan Ajibata, Samosir. Sesaat setelah sampai di Sapo Godang (tempat pertemuan yang biasa digunakan untuk acara adat suku Batak Toba) perempuan berhijab itu menghampiri meja hidangan.Seperti biasa, ia langsung disambut oleh penjamu hidangan.

“Daging babi ini kak?” tanya Sri pada penjamu hidangan.

“Ntar ya kak”.

Dengan tekanan suara agak meninggi, penjamu hidangan berteriak dalam bahasa Batak Toba, “Parsubang, antar dulu dua makan itu kemari”.Sambil memberi sentuhan senyuman, penjamu lantas memberikan dua porsi makanan kepada Sri Astuti. Sembari meyakinkan bahwa makanan yang diantarkan kepada tamunya itu benar-benar halal.

Tradisi menjamu tamu,dengan turut menyediakan makan halal merupakan salah satu bukti kecil bagaimana budaya Batak sudah mengajarkan toleransi sejak dulu.Dalam konteks tadi, Sri Astuti diperlakukan sebagai Parsubang.

Dalam terminologi Batak, Parsubang berasal dari kata “Par” yang berarti golongan dan “Subang” berarti pantangan. Pantangan dalam hal ini misalnya larangan dalam agama, pantangan karena dalam masa pengobatan, maupun pantangan karena penyakit. Dengan kata lain, Parsubang dimaksudkan untuk menyebut golongan yang tidak memakan makanan tertentu yang dipantangkan.

Secara luas, Parsubang juga disebutkan untuk orang lain di luar orang Batak yang mempunyai tradisi berbeda namun tetap dihormati dalam pergaulan sosial.

Manguji Nababan, Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen, menjelaskan Parsubang merupakanbentuk kearifan lokal Batak yang menanamkantoleransidanmenghargai perbedaan.Bahkanpada masa sebelum masuknya agama, tradisi ini sudah diadakan untuk orang-orang yang memiliki pantangan.

“Sejak dulu leluhur orang batak udah terbiasa dengan perbedaan, enggak ada sejarahnya Batak berperang karena perbedaan kepercayaan,”ucapnya.

Orang Batak yang menganut aliran kepercayaan Parmalim misalnya, mereka mengharamkan babi untuk dikonsumsi. Adapula kaum Sipandai, yang mengharamkan babi dan darah untuk dikonsumsi. Selain itu mereka juga berpantang makan daging hewan berkuku genap, serta ikan tidak bersisik.

“Dengan Parsubang, tuanrumah akan memastikan saudaranya yang berbeda keyakinan dapat menikmati jamuan,” kata dosenUniversitas HKBP Nomensen ini.

Lebih jauh, Manguji menyebutkan ada dua jenis Parsubang yaitu Parsubang Total dan Parsubang Gota. Parsubang Total merupakan golongan orang-orang yang tidak memakan makanan yang diharamkan biasanya babi ataupun anjing. Sedangkan, Parsubang Gota disematkan untuk golongan yang memakan babi, tapi yang tidak tercampur dengan darah.

Dalam jamuan makanan pesta adat, bahkan alat-alat masak juga dibedakan bagi yang Parsubang dan tidak Parsubang.Ini dilakukan karena keyakinan Parsubang yang total mengharamkan makanan yang dimasak dengan alat-alat yang sebelumnya digunakan untuk memasak makanan haram. Namun kini, agar lebih praktis, Parsubang biasanya disajikan nasi kotak yang dipesan penyelenggara dari rumah makan yang berlabel halal.

Konsep serupa juga bisa kita temukan dalam tradisi masyarakat Karo.Di setiap pesta adat atau pesta pernikahan,disediakan menu khusus bagi orang-orang yang punya pantangan.Dalam hal ini umumnya daging babi. Mereka menempatkan makan secara khusus di salah satu rumah warga atau di salah satu bagian tersendiri padaJambur (tempat pesta) untuk para undangan dan kerabatnya yang tidak mengonsumsi daging babi. Jika orang Batak Toba menyebutnya Parsubang, orang Karo mengenalnya dengan istilah Simantang.

Ada begitu banyak bentuk kearifan lokal yang menjunjung tinggi toleransi dan perbedaan di Sumatera Utara. Di Sipirok, dikenal tradisi Marjambar.Dalam Batak Angkola Sipirok, “Mar” artinya melakukan, memperbuat. “Jambar”

artinya bertukaran atau bergantian.Secara sederhana Marjambar dimaknai sebagai memberikan sesuatu secara bergantian.
Masyarakat Sipirok kerap bertukar makanan.Jelang Idul Fitri, pemeluk Kristen memberikan kepada pemeluk Islam. Sebaliknya pemeluk agama Kristen menjelang hari Natal danTahun Baru diberikan kue oleh umatIslam.

Taufik Harahap, masih ingat betul tradisi dikampung yaitu. Bagaimana masa kecilnya saat merayakan Idul Fitri di kampung.Ibu memintanya untuk mengantarkan berbagai jenis makanan kerumah tetangga yang beragama Kristen.Ia juga ingat ketika perayaan Natal dan TahunBaru tetangganya akan mengantarkan berbagai jenis masakan kerumahnya.

“Begitulah indahnya toleransi kami dikampungku dulu, takada yang ribut-ribut soal agama,” ucap laki-laki yang sekarang menekuni profesi sebagai advokat ini.

Meskipun Sumatera Utara punya berbagai warisan budaya yang menghargai toleransi dan perbedaan, namun dibeberapa kasus masih saja terjadi praktik-praktik intoleran yang berpotensi menimbulkan konflik anta rumat beragama di Sumatera Utara.

Aliansi Sumut bersatu (ASB), organisasi masyarakat sipil di Sumatera Utara yang concern terkait isu kebebasan beragama mencatat beberapa konflik yang pernah terjadi. Salah satunya yang mendapat sorotan tajama dala kasus Meiliana diTanjungBalai. Wanita etnis Tionghoa ini dikriminalisasi karena mengomentari suara adzan.Bahkan sempat terjadi kericuhan dengan dilakukannya pembakaran di beberapaVihara di TanjungBalai.

Catatanlain, menurut ASB masih terjadi praktik diskriminasi kepada penganut aliran kepercayan baik yang dilakukan oleh individu maupun secara struktural oleh negara lewat berbagai kebijakan yang diskriminatif.

Misal dalam hal pendidikan.Belum semua sekolah memberikan akses mata pelajaran agama sesuai yang mereka anut.Biasanya para penganut kerpecayaan lokal diminta memilih mata pelajaran agama lain, seperti islam atau Kristen.

Tahun 2015, terjadi penyerangan rumah ibadah Parmalim di Jalan Air Bersih, Kota Medan.Terkait hal tersebut, Monang Naipospos, Tokoh Parmalim, melihat diskriminasi merupakan dampak dari hasutan orang tertentu yang menginginkan perpecahan di masyarakat. Ia meyakini perpecahan tidak harus terjadi dari dalam masyarakat yang tinggal di sekitar Air Bersih.

“Orang di sekitar sudah lama bersahabat, bertetangga dengan Parmalim. Masyarakat harusnya tidak dicecoki dengan perbedaan-perbedaan untuk membuat perpisahan. Perbedaan dijadikan suatu rahmat. Kearifan lokal yang menanakan nilai-nilai toleransi jangan malah tersisih juga”, harapnya.

Aliran kepercayaan yang menjalankan dan menurunkan tradisi terkadang kerap menjadi sasaran diskriminasi. Padahal, jauh sebelum masuknya agama Islam dan Kristen, Batak sudah terbiasa dengan perbedaan dalam menganut kepercayaan. Selain Parmalin, Ugamo Bangso Batak, dan Parbarngin, kepercayaan yang diketahui masyarakat umum, Batak memiliki banyak sekte aliran kepercayaan lain. Seperti Parsitengka, Parsiak Bagi, Parhudamdam, Simarimbulu Bosi. Dulunya mereka hidup saling berdampingan.

Selain soal kebijakan Negara yang masih diskriminatif, beberapa konflik yang pernah terjadi di Sumatera Utara ditengarai oleh provokasi segelintir oknum.Tentu hal ini menjadi tantangan bagi masyarakat multietnis, sepertihalnya Sumatera Utara.Jika tidak dirawat, keberagaman yang dimiliki justru menjadi api dalam sekam yang potensial terbakar kapan saja.

Ikatan Persaudaraan sebagai Landasan Toleransi

Kecintaan orang Batak pada ikatan persaudaraan merupakan modal penting dalam merawat toleransi. Orang Batak sangat menjunjung tinggi adanya Tarombo (silsilah garisketurunan).Selain itu, ikatan persaudaraan yang terbangun dari perkawinan yang sering disebut Dalihan Na Tolu semakin mengharmoniskan perbedaan.

Dalam buku Pemikiran Tentang Batak (Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen, 1986), B.A. Simanjuntak menuliskan sebuah pemikirannya dengan judul “Peran Kebudayaan Batak di Tengah Masyarakat Majemuk”.

Dalam tulisannya, Simanjuntak menjelaskan konsepsi yang paling tepat untuk suatu masyarakat majemuk yang memiliki macam ragam kebudayaan ialah harmonisasi. Hal tersebut merupakan kunci terjaminnya ketenteraman, kerjasama, saling pengertian dalam wujud komunikasi yang terbuka. Dengan terus mempertahankan Dalihan Na Tolu dan Tarombo keharmonisan akan terawat.

Fikarwin Zuska, Ketua Departemen Antropologi Universitas Sumatera Utara, mengatakan kesetian suku Batak pada ikatan persaudaraan yang meyakini mereka berasal dari satu nenek moyang ini membentuk sifat saling menghargai.

“Walaupun berbeda agama, tarombo dan Dalihan Na Tolu menyebabkan mereka berkerabat dan tidak boleh bercerai-berai dalam pergaulan,ucapnya.

Sistem ini, menurut Fikarwin dalam praktiknya, bisa juga mempertautkan orang-orang yang berbeda agama dan suku.Solidaritas kekerabatan dan kesamaan-kesamaan budaya lebih dikedepankan.Ambil contoh, demi menghormati saudara-saudaranya yang muslim, orang Batak Kristen menyediakan secarakhusus di rumahnya seperangkat alat makan yang dipastikan tidak pernah terkena bahan makanan yang diharamkan Islam.

Fikarwin menceritakanpengalamanny saat melakukan penelitian di Pakpak Bharat. Ia memakan ayam yang sebelumnya sudah disembelih terlebih dahulu ke orang muslim. Begitulah budaya lokal mengharagai toleransi danperbedaan.

“Itukan semua luar biasa.Ini sebuah toleransi yang tak terhingga nilainya bagi perdamaian dan kerukunan, khususnya di Sumatra Utara”, ujar dosen yang juga aktif dalam isu lingkungan ini.

Eratnya ikatan kekerabatan tidak menjadikan agama sebagai tembok pemisah antara umat beragama.Orang batak lebih mengedepankan kekerabatan dan kesamaan-kesamaan dalam budaya.

Implementasi kearifan lokal inilah yang menjadi salah satu penyumbang skor indeks Kerukukan Beragama di Sumatera Utara menempati skor di atas rata-rata menurut penelitian Kementerian Agama pada 2019. Sumatera Utara menempati peringkat 10 dengan skor indeks 76,3.

Bagi Fikarwin, merawat benih toleransi adalah hal yang sangat penting. Bagaimana toleransi tetap tumbuh dan berkembang biak. Bukan tidak mungkin, keharmonisan yang sudah dijalin sekian lama itu tercederai.
“Di tengah sikap-sikap intoleran sebagian masyarakat harusnya kita belajar dari budaya kita sendiri.Menjaga kerukuan dan keharmonisan dengan menghargai keberagaman karena kita diikat oleh tali persaudaraan yang kuat,” tukasnya.(red)

 

Penulis: Adinda Zahra Noviyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *