Manusia, Kematian Dan Keabadian

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Manusia adalah dualisme antara materi dan ruh (jiwa), fisiknya akan menua, sel-sel dalam tubuhnya perlahan akan melemah, badannya kemudian mengkerut, sakit-sakitan lalu kemudian mati. Tapi tidak ruh dalam dirinya, ruh bertindak sebagai penggerak bagi tubuh manusia. Jiwa inilah yang abadi, maka kematian dan keabadian adalah suatu hal yang pasti dijalani manusia.

Manusia sering disebut mikrokosmos, karena dalam tubuh manusia ditemukan semua tingkat benda yang ada di dunia ini. Manusia adalah makhluk multidimensional, badannya teridiri dari unsur-unsur kosmik seperti air, udara, tanah. Jiwanya atau rohnya bertendensi terhadap dunia benda atau dunia makhluk hidup.

Plato mengasumsikan bahwa esensi manusia adalah ruh atau jiwanya, jiwa inilah yang akan menentukan pengetahuan dan perjalan manusia dalam hidupnya, jiwa kata Plato bukanlah suatu yang seperti apa apa, bukan benda, dan bukan apapun, tapi dialah yang menyetir gerak laku manusia. Jiwa adalah penggerak utama dari tubuh. Jiwa adalah bagian terpenting dari manusia, jiwa ialah hidupnya manusia itu sendiri, tapi jika keduanya berpisah, maka keduanya akan kehilangan fungsi.

 

Jasad manusia menurut para Filosof Idealis adalah hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani untuk menjalankan aktifitasnya. Para filosof percaya bahwa ruh lah yang esensial bagi manusia, ruh inilah yang paling penting untuk diperhatikan. Jiwa yang mempengaruhi perilaku manusia, entah itu perilaku baik atau buruk, jika jiwanya baik, di berikan asupan nutrisi yang baik, maka perilakunya akan baik pula. Tetapi jika sebaliknya kelakuan-kelakuan jahat menjadi suatu yang niscaya.

 Oleh sebab itu dimensi Fisik dan jiwa manusia harus diperhatikan, Yaitu dengan diberikan asupan-asupan yang baik. Santapan bagi dimensi fisikis adalah makanan seperti umumnya yang kita makan, yaitu makanan-makanan yang tentunya menyehatkan dan oleh raga secara teratur. makanan bagi jiwa adalah pengetahuan, ekspresi kecintaan terhadap suatu hal, mendaki gunung, rekreasi ke pentai dan yang lebih penting dari itu adalah religiutas cinta manusia pada Tuhan.

Menembus Keabadian

Secara Biologis Fisik manusia yang di jaga dengan cara bagaimanapun  pasti akan mati, tapi jiwa akan tetap hidup di  alam ruhani yang sifatnya abadi. Dan anehnya Sebagian manusia saat ini kehilangan keinginan hidup abadi, mengedepankan kebutuhan-kebutuhan fisik, bekerja tanpa henti untuk memperoleh kekayaan.

sebagian dari mereka menginginkan keabadian surgawi, tapi dijalankan dengan cara-cara pragmatis.  mereka tidak menjalankan esensi dari nilai-nilai agama secara luhur. Agama hanya dipeluk, tapi tidak dicintai sebagai suatu adab bagi manusia untuk memanifestasikan kehidupan di dunia maupun akhirat.

Cara pragmatis dalam beragama yang dimaksud ialah seperti beribadah hanya untuk mencari dan meminta tuntutan dari Tuhan agar doa-doa terkabulkan, agar hasrat-hasrat kemanusiaan tercapai. Demi surga mereka rela bertindak Seolah-olah membela agama dengan berjihad dan menjadi teroris, lalu ada agama yang dianut secara fundamentalis yang menentang ini dan itu.

Inilah yang saya sebut pragmatis atau beragama dengan modal praktis mereka beragama tidak untuk menuntun kebutuhan jiwanya, jiwa yang sebenarnya lebih bersifat abadi. Jika kita memahami bahwa kita sebenarnya akan hidup abadi, maka manusia pasti akan mengalihkan tujuan hidupnya pada akhirat semata, dan meninggalkan bid’ah-bid’ah semesta yang semu.

Para sufi contohnya yang rela hidup menderita demi kelangsungan masa depan akhiratnya. Mereka para sufi Berprilaku Zuhud yang artinya tidak lagi tergoda pada kenikmatan-kenikmatan duniawi. Sokrates mengatakan sebelum eksekusi kematiannya bahwa kematian adalah jalan pengetahuan yang sebenarnya, jasad adalah penghalang bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan abadi.

Kalau saja manusia lebih mengedepankan masa depan kehidupan jiwanya, maka eksplorasi, eksploitasi terhadap dunia, peperangan demi keuntungan ekonomi, permusuhan dan konstalasi politik perebutan kekuasaan tidak akan terjadi, dan manusia hanya akan mengambil secukupnya dari alam, kekayaan yang diambil hanyalah untuk semata-mata kebutuhan saja, perebutan kekuasaan hanyalah untuk menjemput misi keabadian. Manusia akan berfikir bahwa dunia adalah semu dan akhirat adalah masa depan kehidupan kita.

 

Penulis : Rahmat Muhamad

Staff Hukum KontraS Sumut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *