MADILOG, Buku Tan Malaka Yang ‘Hilang’ Di Masa Orba

Madilog Tan Malaka

MEDANHEADLINES.COM – Jika hari ini kita masih dalam rezim otoriter Orde Baru (Orba), tentunya tulisan sederhana ini akan berakibat buruk pada diri saya sendiri, kemungkinan dapat juga berakibat buruk pada media yang mempublikasikannya.

Sebagaimana kita ketahui, di rezim otoriter Orba yang menguasai Indonesia selama tiga puluh dua tahun kurang lebih, banyak sekali pelarangan-pelarangan yang dianggap dan dicurigai menggangu kekuasaan otoriter Orba yang pimpin Soeharto. Termasuk pelarangan buku-buku yang diberi lebel “Buku Terlarang”.

Kisah pelarangan buku-buku sebenarnya bukan hal yang baru di Indonesia. Sejak zaman penjajahan di Indonesia pun sudah ada pelarangan buku-buku yang dianggap mengganggu kekuasaan kolonial (Status Quo). Jika kita mundur lebih jauh lagi, di berbagai tempat dan di abad-abad terdahulu, pelarangan buku terus terjadi. Bahkan pembakaran secara besar-besaran. Silahkan Anda baca sejarah peradaban dunia, di sanaakan Anda dapatkan kisah-kisah tragis itu. Bagi saya, pelarangan atau pembakaran buku-buku itu sama dengan pembunuhan manusia.



Sangat patut kita syukuri, buah perjuangan anak-anak bangsa Indonesia, jika memakai istilah Budiman Sudjatmiko yaitu Anak-Anak Revolusi, akhirnya dapat menumbangkan rezim otoriter Orba tahun 1998 dan cita-cita mewujudkan negara demokrasi berhasil, walaupun belum sejatinya negara demokrasi. Sisa-sisa budaya atau kultur Orde masih sering kita temukan di negara kita saat ini. Misalnya seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), bahkan ada juga sisa-sisa tuduhan Orba jika kita membaca buku-buku yang pernah dilarang di Indonesia, seperti buku yang hendak saya bicarakan dalam kesempatan ini.

Di tahun 2017 kemarin, sempat ada pelarangan atau razia-razia buku di beberapa toko buku yang ada di Indonesia. Termasuk buku MADILOG (Materialisme, Dialektika dan Logika), karya Tan Malaka masuk dalam daftar. Menurutku itu percuma saja, itu suatu pekerjaan yang sia-sia saja. Sekarang buku-buku atau karya-karya tulis tidak hanya berbentuk fisik (Hard Copy), tapi sudah ada dalam bentuk Soft Copy. Yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja dengan menggunakan Smart Phone lewat jaringan internet. Jika masih tindakan-tindakan seperti itu, saya pikir mereka belum bisa move on dari Orba.

Di rezim otoriter Orba, MADILOG ini digolongkan sebagai salah satu bukukiri, nama lain dari buku terlarang. Diberi lebel sebagai buku kiri karena dianggap isinya menganggu kekuasaan, dan siapa yang membaca atau memilikinya bisa ditangkap dan dijeploskan ke dalam penjara tanpa persidangan, bahkan lebih kejamnya hilang dari muka bumi.

Membaca MADILOG Pada Saat Ini

Membaca buku MADILOG pada saat ini merupakan suatu kewajiban bagi seorang mahasiswa atau sekelompok aktivis mahasiswa. Di zaman Orba juga memang demikian. Akan tetapi perbedaannya adalah, pada saat ini mahasiswa sudah tidak takut lagi membawa buku MADILOG ke mana-mana, membacanya di mana saja dan bahkan sudah menjadi style beberapa mahasiswa ketika membawa buku MADILOG dan sejenisnya.


Akan tetapi, pada saat ini juga pandangan-pandangan di zaman Orba kepada orang yang membaca buku MADILOG masih ada juga. Masih ada pelarangan-pelarangan dari beberapa orang atau golongan. Ada yang mengatakan bahwa buku MADILOG ini adalah buku sesat, buku Komunis dan kemudian menyeru; “jangandibaca!”. Saya juga tidak tahu, apakah saya dituduh sesat, komunis atau nantinya di tahan negara setelah menganjurkan membaca buku MADILOG bagi mahasiswa dalam tulisan ini. Jika masih ada yang seperti itu, berarti dia belum bisa move on dari rezim Orba dan masih menginginkan kembali ke rezim tersebut.

Bukankah di kampus kita diajarkan bahwa untuk mengetahui sesuatu salah atau benar kita harus mempelajarinya terlebih dahulu. Bukankah dalam ilmu pengetahuan sebelum menguji atau mematahkan suatu teori kita harus membaca teori tersebut? Masihkah system doktrinisasi itu kita pertahankan? Bagaimana mengkritisi sesuatu jika kita tidak mempelajarinya terlebih dahulu? Tidakkah kita rasakan betapa tertinggalnya negara kita ini karena selalu meng-ghaib-ghaib-kan sesuatu yang sebenarnya tidak ghaib? Terlalu percaya kata-kata bijak yang menjadi janji-janji manis seseorang tanpa mengetahui latar belakangnya dan tanpa ada analisisnya. Sehingga yang kita lihat adalah seseorang atau sekelompok memanfaatkan kata-kata bijak itu untuk kepentingannya.

Saya menganjurkan membaca buku MADILOG karya Tan Malaka tersebut bukan bermaksud hendak mengatakan kepada Anda bahwa buku inilah satu-satunya buku terbaik di Indonesia atau bahkan terbaik di dunia, tidaklah demikian. Bukan juga bermaksud memaksakan Anda supaya mengikuti apa yang dituliskan oleh penulisnya. Bukan pula saya sebagai Tan Malaka-isme yang sudah sangat memahami pemikiran-pemikiran Tan Malaka pada buku MADILOG-nya.

Saya tahu betul, sangat banyak aktivis mahasiswa yang sudah membacanya dan bahkan sangat paham pasal-pasal penting di dalam buku tersebut. Saya juga tidak membedah buku tersebut secara rinci dan lengkap. Tulisan sederhana ini sebenarnya saya tujukan kepada seluruh mahasiswa-mahasiswa yang belum pernah membacanya, juga kepada mahasiswa dibuat ragu atau ditakut-takuti untuk membacanya. Anda tidak perlu takut dikatakan sesat atau disebut komunis. Sebelum kita mempraktekkan pikiran-pikiran yang salah, sebenarnya kita belum bisa dikatakan jahat. Jika pun Anda menemukan titik lemah dari isi buku tersebut atau ada yang salah, silahkan dikritik. Karena demikian telah diajarkan kepada kita dalam ranah ilmu pengetahuan.

Sedikit Tentang MADILOG

Jika Anda telah membaca bukunya, Anda pasti mengetahui maksud tujuan dan isi yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, saya perlu menjelaskan sedikit kepada Anda tentang buku MADILOG tersebut. Mohon maaf hanya sedikit saja, karena apa yang saya dapatkan dari MADILOG ketika membacanya pastinya akan berbeda dengan Anda apabila membacanya. Jangan khawatir juga tersesat atau jadi komunis seperti tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar itu. Mohon maaf juga, saya tidak akan menceritakan tentang penulisnya dalam tulisan sederhana ini. Silahkan Anda baca dari berbagai sumber yang telah ada atau membaca buku biografi Tan Malaka.

MADILOG ditulis oleh Tan Malaka di Rajawati di dekat Pabrik Kalibata, Cililitan, Jakarta. Buku tersebut ditulis memakan waktu lebih kurang selama delapan bulan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Buku tersebut setelah melewati proses yang sangat mengerikan, karena penulis dan bukunya di kejar-kejar oleh pihak kolonial selama tiga tahun, tepatnya 15 Maret 1946, buku tersebut diterima dan dibaca oleh orang-orang yang sudi menerimanya.

MADILOG adalah buku yang disusun sebagai hukum kaum proletar berpikir, demikian kata penulisnya, Tan Malaka. Buku tersebut ditulis dan dipelajari untuk hokum cara berpikir dan buku tersebut bukan sebagai Weltanschaung (Pandangan Dunia) seperti tuduhan-tuduhan yang salah dan tanpa memahaminya secara mendalam. Kalau pun memahaminya kemudian menuduhnya sesat karena pemikirannya yang subjektif. Perlu diketahui juga, buku tersebut bukan sebagai doktrin ajaran partai atau semacam doktrin ideology.

Penulis MADILOG melihat, selama bangsa Indonesia terpenjara dalam Logika Mistik, maka Indonesia tidak akan merdeka dan maju. Nah, karena itu ia pun menyusun buku tersebut sebagai jalan keluar dari cara berpikir yang mistik (Logika Mistik). Jika Anda bertanya kepada saya, seperti apa yang dimaksud dengan Logika Mistik itu dalam pandangan MADILOG, silahkan membaca bukunya lebih lanjut.

Selanjutnya, jika Anda bertanya kepada saya, apa lagi yang akan di dapatkan ketika membaca buku tersebut? Selain yang telah dijelaskan sedikit di atas, dengan membaca dan mempelajari MADILOG, maka kita akan kita akan berpikir ilmiah dan revolusioner. Sebagaimana yang dituliskan oleh Budiman Sudjatmiko dalam buku ke-2 yang berjudul Anak-Anak Revolusi. Pastinya bukan hanya lewat buku MADILOG saja, tapi juga buku-buku sejenisnya. Buku tersebut saya sebutkan hanya sebagai perwakilan dari buku-buku sejenis lainnya.

Berpikir ilmiah dan revolusioner sangat kita butuhkan dalam dunia ilmu pengetahuan. Jadi, sebagaimana kita yang berada dalam ranah ilmu pengetahuan, maka aku menyeru; “Hai Mahasiswa, Mari Membaca Buku MADILOG!”.[]

Penulis: Ibnu Arsib (Mahasiswa UISU Medan)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.