Hikmah Dari Timur
MEDANHEADLINES.COM – Filsafat Timur memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan filsafat Barat, yang mana ciri-ciri agama dan kepercayaan lebih kental di dalam filsafat Timur. Dalam konteks ini, banyak ahli berdebat mengenai dapat atau tidaknya pemikiran Timur dikatakan sebagai filsafat.
Dalam filsafat Barat, instrumen utama yang dijadikan sebagai alat untuk mencari kenyataan kebenaran adalah menggunakan nalar, yang bersumber dari akal pikiran dan indra. Pencarian yang radikal, luas, dan mendalam dari filsafat Barat menggunakan akal pikiran dan pengamatan empiris. Berbeda dengan filsafat Timur, lebih mengandalkan hati atau qolbu. Dalam filsafat Timur, pandangan hati menempati posisi tertinggi, setelah akal dan indra, sebagai perangkat utama untuk sampai kepada kenyataan akan kebenaran. Sementara filsafat Barat tidak menggunakan instrumen hati sebagai media penting untuk sampai kepada realitas tunggal atau kebenaran akhir.
Dalam kebudayaan Timur, pencapaian seseorang atas kenyataan kebenaran itu memiliki makna praktis dalam bentuk perubahan sikap dan perilaku. Perilu ini disebut sebagai “adab”, yaitu berupa norma dan aturan tertentu yang mengikat diri seseorang itu dalam melakukan perbuatan yang baik dan benar kepada sesama manusia, sesama makluk hidup, dan alam semesta. Juga didalamnya adab dalam menuntut ilmu, melalui adab yang baik dan benar dalam menuntut ilmu, seseorang akan dimudahkandalam memahami dan mempelajari ilmu. Prosesi adab berguru yang baik itu dapat dirujuk dari kisah Bima berguru dengan Guru Durna. Kisah ini muat dalam “Serat Dewaruci”, menceritakan tentang bagaimana Bima mencari “air kehidupan”. Dalam kisah itu diceritakan bagaimana Bima dalam mencari air kehidupan itu, dilakukan dengan tekad yang bulat, patuh perintah guru, dan tidak menyerah, sekalipun Durna memberikan arahan yang salah dan justru ingin membunuh Bima.
Kedudukan adab, posisinya lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan. Ilmu dalam kerangka masyarakat Timur berimplikasi secara praktis pada perbuatan yaitu: perbuatan mulia, yang menyelamatkan sesama manusia, makhluk, dan alam semesta. Perbuatan yang baik dan benar, berupa budi pekerti atau akhlak yang baik (akhlakul karimah) adalah menjadi puncak pencapaian seseorang atas ilmu dan kebenaran. Dan kesempurnaan hidup seseorang itu terletak pada dalam akhlaknya, dan kehadiran para Nabi dan Rasul itu untuk memperbaiki akhlak. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi menerangkan bahwa “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Sedangankan kata “peradaban” berasal dari akar kata “adab” (bahasa Jawa Kawi), merupakan peranakan dari bahasa Sangsekerta yang ucapannya adob yang berarti kesopanan, hormat- menghormati, budi bahasa, etiket, dan lain-lain. Di dalam bahasa Arab ditemukan juga kata Al-adab yang berarti perilaku/ kesopanan, dengan kata peradaban bearti kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir dan bathin (Abdul Karim, 2009). Peradaban secara umum diartikan sebagai karsa manusia dalam menghendaki kesempurnaan hidup, kemuliaan, dan kebahagiaan sehingga menghasilkan berbagai aktivitas hidup manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Koentjaraningrat (1990) memberikan penjelasan istilah peradaban sebagai unsur-unsur dan bagian dari kebudayaan yang halus, indah dan maju.
Dalam tradisi Filsafat Tiongkok terdaapt perbedaan antara “menyelidiki/menyelami ilmu” dan “menyelidiki/menyelami Tao”. Maksud dari penyelidikan/penyelaman Ilmu adalah apa yang saya sebut “menambah pengetahuan yang positif” sedang maksud dari penyelidikan/penyelaman Tao adalah mempertinggi tingkat pikiran. Filsfat dianggap termasuk penyelidikan/penyelaman Tao. Di dalam Lao tzu tertulis “ Menyelidiki/menyelami Ilmu adalah untuk menambah hari dengan hari. Menyelidiki/menyelami Tao (artinya jalan atau kebenaran) adalah untuk mengurangi hari dengan hari.”Yang menjadi fungsi Filsfat Tiongkok bukanlah terletak pada bagaimana menambah pengetahuan yang positif, melainkan mempertinggi tingkat pikiran. Artinya, supaya pikiran manusia itu dapat menjulang tinggi untuk meraih hal-hal yang ada pada “sisi lain” dari dunia yang nampak ini, dan juga untuk meraih nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral (Yu Lan, Fung, 1966).
Dalam tradisi Budha, manusia yang belum hening hati dan pikirannya, mereka akan hidupnya akat terperangkap dalam ilusi. “Dukkha” yang artinya bahwa kehidupan dunia ini tidak lain daripada penderitaan dan kesakitan, adalah menempati posisi utama dalam konsep ajaran Budha.Kata “dukkha” sebagai“Kesunyataan Mulia Pertama”selain berarti “derita” biasa juga mempunyai arti yang lebih dalam lagi, seperti “tidak sempurna”, “tidak kekal”, “kosong”, “tanpa inti”, dan sebagainya.Dalam Kitab Anggutara-Nikaya, salah satu kitab yang berisi koleksi asli dalam bahasa Pali dari khotbah-khotbah Sang Buddha, menyebutkan bahwa kebahagiaan (sukhani) itu terlepas dan terbebasnya seseorang dari ikatan-ikatan kesenangan badaniah dan keadaan mental tertentu. Kebahagiaan yang murni atau keadaan “jhana” yang terbebas dari perasaan “sukha” dan “dukkha” sehingga merupakan keseimbangan dan kesadaran belaka juga termasuk dalam pengertian “dukkha”. Dikatakan berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan keinginan dari nafsu. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibbana) telah ia alami.
Oleh karenanya dalam pemikiran Timur, qolbu atau hati memegang peranan penting. Dalam Islam, qolbu itu merupakan rumah daripada Tuhan. Dalam sebuah hadist Qutsi dikatakan bahwa “Qolbu orang mukmin itu adalah Baitullah”. Dalam hadist lain disebutkan: “Tidak memuat Dzat-Ku, bumi dan langit-Ku, kecuali hati hamba-Ku yang lunak lagi tenang (HR. Abu Dawud). Tidaklah hati seseorang itu dapat terang (tersinar), sementara gambar dunia ini terlukis dalam cermin hatinya. Hati tidak hanya merupakan pusat pancaran nur (cahaya) tempat bertemunya pancaran ruh dan nafsu, naum juga tempat kegelapan, ilusi, dan kelalaian bagi para pendosa. Tarik menarik antara ruh dan nafsu di medan pengasingan diri (kontemplasi) terjadi, ini untuk menetukan mana dari keduanya yang akan memerintah hati.
Perbedaan mendasar antara Filsafat Barat dengan Timur terletak pada metode atau jalan untuk sampai kepada kenyataan kebenaran. Dalam tradisi filsafat Barat, metode yang digunakan adalah penalaran murni. Bermula dari pengamatan terhadap benda-benda fisik, dengan menelaah dan meneliti, kemudian merenung memahami hubungan sebab akibat, untuk selanjutnya menemukan hakekat kenyataan kebenaran. Sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles bahwa alam semesta diciptakan oleh sang pencipta, sebagai penyebab pertama (causa prima) yang dilengkapi oleh seperangkat sistem keteraturan dan ketertiban (order). Alam semesta merupakan adalah suatu dunia ideal, keseluruhan organis yang saling berhubungan, suatu sistem idea-idea (forms) yang abadi dan tetap.
Ketertiban alam telah ditetapkan sebelumnya (pre-established) yang kesemua realitas terpusat dan ditentukan, diprogram, dan ditata oleh serba keserasian (Scott Gordon, 1991). Tradisi rasional dan empiris kemudian menjadi basis filsafat Barat diperiode-periode kemudian.
Dalam tradisi masyarakat Timur, dalam mencari dan menemukan kebenaran lebih banyak mengandalkan “amalan atau laku”. Melalui laku atau amala, akan menuntun menapaki tingkatan-tingkatan kenyatan hidup, baik yang bersifat fisikal maupun spiritual. Beraneka ragamnya amal perbuatan itu adalah karena tingkatan-tingkatan karunia spiritual (waridatul-ahwal) yang diberikan kepada hamba-Nya berbeda. Karunia spiritual (waridat) mempengaruhi hall (state) jiwa dalam keleluasaan, kesempitan dan kedekatannya dengan Tuhan: namun ini semua bersifat batiniah. Karunia spiritual itu sendiri terlihat dan termanifestasikan dalam tindakan lahiriah yang meliputi pernyataan-pernytaan, dan berbagai hall (keadaan) penting lainnya). Amal perbuatan merupakan bentuk kerangka yang tidak hidup (shuwr qa’imah), namun nila keikhlasan di dalamnya (sirr al-ikhlash) memberikan ruh hidup padanya.
Penutup
Secara umum filsafat tdibagi menjadi dua garis besar yaitu filsafat Barat (occidental) dan Timur (oriental). Filsafat barat dan filsafat Timur tentu sangat berbeda karakteristinya karena berkembang di daerah yang berbeda dengan kebudayaan serta peradaban yang berbeda pula. Banyaknya ilmuwan dari Barat yang selalu menciptakan inovasi baru untuk kemajuan dunia membuat filsafat Timur kurang mendapat perhatian. Filsafat Timur memang terkenal dengan sifatnya yang religius, mistis-magis sehingga kurang bis diterima secara rasional. Filsafat Timur berkembang di daerah Persia, China, India, Jepang, dan tentunya Nusantara. Di wilayah Timur juga terkenal sebagai wilayah yang mempunyai peradaban besar didunia dan sumber agama serta pandangan tentang manusia dan dunia. Banyak orang yang mencari ketenangan di daerah Timur karena dianggap memiliki suatu keadaan yang mendamaikan dan mententramkan jiwa. Cara pandang filsafat Timur lebih pada realita yang terjadi di sekitarnya, lebih memikirkan tentang dunia dan sesamanya.
Secara geografis wilayah Barat dan Timur memiliki banyak perbedaan, hal ini juga tetntu mempengaruhi cara berfikir mereka. Perbedaan paham antara Barat dan Timur yaitu jika di dunia belahan Timur mempunyai banyak negara dan banyak penduduk dengan jumlah yang besar serta angka kelahiran yang sangat tinggi. Mereka juga masih tergolong sebagai golongan menengah kebawah, sedangkan di dunia bagian Barat sudah mengembangkan kemajuan teknologi sejak lama. Masyarakat Barat juga tergolong aktif sedangkan di Timur tergolong pasif. Hal ini sesuai dengan keyakinan dan ajaran pokok mereka seperti Konfusianisme, Taoisme, Budhisme, dan lain-lain.
Didunia Timur lebih menekankan pada aspek intuisi dan juga pada batiniah, spiritual, dan mistis. Berdasarkan hal inilah maka orang Timur mempercayai bahwa dengan memiliki jiwa yang baik maka mereka akan mencapai kebijaksanaan dan kebaikan hidup. Jika di bagian Barat, mereka lebih condong pada keadaan masyarakat sekitar serta pada ilmu pengetahuan. Didunia Barat yang mereka lihat adalah objek dan kerja lapangan, jadi manusia harus menguasai alam untuk kepentingannya. Jika didaerah Timur, manusia merupakan bagian dari alam, sedangkan orang Barat berpedoman “to do is more important than to be” (berbuat lebih penting daripada sekedar ada). Jika orang Timur lebih kepada “to be is more important than to do” (kehadiran lebih penting daripada seseorang perbuat), jadi orang timur kurang suka dengan pertentangan dan konflik.
DAFTAR PUSTAKA
Anshari,EndangSaifuddin, 1981, IlmuFilsaftdanAgama, Surabaya: BinaIlmu
Bahtiar, Amsal, 2004, Filsafat llmu, Jakarta: T. Raja Grafindo Persada
Dasgupta, Surendranath, 1922, A History of Indian Philosophy, Vol. 1, First Edition, Cambridge: University Press
Gazalba, Sidi, 1973, Sistematika Filsafat; Pengantar Kepada Dunia Filsafat, Teori Pengetahuan, Metafisika, Teori Nilai, Buku III, Jakarta: Bulan Bintang
Gordon, Scott, 1991, The History and Philosophy of Social Science, New York and London: Routledge
Karim, M. Abdul , 2009, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher
King, Richard. 1999. Orientalism and Religion: Postcolonial theory, India and ‘the mystic East’. London: Routledge.
Lasiyo, Maret 1997, Pemikiran Filsafat Timur dan Barat: Studi Komparatif, Jurnal Filsafat, Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada.
Seri Kitab Tripitaka, 2015, Aṅguttara Nikāya: Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, Jakarta: Dhamma Citta Press.
Suriasumantri, JujunS,1993, Filsafat IlmuSebuahPengantarPopuler, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Yu Lan, Fung, 1966, A Short History of Chinese Philosophy, New York: Macmillan Publishing Co. Inc.
Titus, Harold H., Smith, Marilyn S., Nolan, Richard T, 1984, Persoala-Persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang
Penulis : Iswanto












