MEDANHEADLINES.COM – Pemikiran Timur seringkali dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak empiris, tidak sistematis, dan tidak kritis. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan anggapan bahwa “pemikiran Timur bukan dianggap sebagai filsafat”. Sifat-sifat pengetahuan secara konvensional dipandang harus ada dan berasal dari filsafat. Sedangkan pemikiran Timur dianggap tidak berasal dari filsafat, akan tetapi bersumber dari “kepercayaan atau agama”.
Oleh karenanya pemikiran-pemikiran Timur lebih ditempatkan sebagai kepercayaan atau agama, ketimbang sebagai filsafat. Dalam studi post kolonial bahkan ditemukan bahwa filsafat Timur dianggap lebih rendah ketimbang sistem pemikiran Barat karena tidak memenuhi kriteria filsafat menurut filsafat Barat, misalnya karena dianggap memiliki unsur keagamaan atau mistik Richard King (1999). Kemudian Lasiyo (Maret 1997) dalam artikelnya Pemikiran Filsafat Timur dan Barat: Studi Komparatif, mengemukakan bahwasanya Barat menganggap Timur itu identik degan miskin, bodoh, statis, fatalis, dan kontemplatif. Sementara dalam perspekttif Timur, Barat sering digambarkan sebagai materialisme, kapitalisme, rasionaIisme, dinamisme, saintisme, positivisme dan sekularisme.
Dinamakan Filsafat Timur, sebenarnya untuk menyebut pemikiran-pemikiran filosofi yang berasal dari Timur atau kawasan Asia. Filsafat Timur berkembang mengikuti basis geografis dan sistem kepercayaan tertentu, sehingga kita mengenal adanya Filsafat Islam, Filsafat India, Filsafat China, Filsafat Nusantara, dan sebagainya. Yang mana masing-masing dari jenis filsafat tersebut adalah merupakan sebuah sistem pemikiran yang luas, dalam, dan plural.
Filsafat Hindu dan Filsafat Budha menjadi basis utama dalam sistem pemikiran Filsafat India (Surendranath Dasgupta, 2004). Filsafat China mendapatkan pengaruh dari Filsafat Konfusius dan Tao (Fung Yu Lan, 1966). Di wilayah kita sendiri, Nusantara,banyak dikenal pemikiran filosofis berbasis etnis dan kedaerahan, seperti Filsafat Jawa, Filsafat Bugis, Filsafat Batak, Filsafat Minang, dan sebagainya.
Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Shopia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalan, dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadapat kearifan atau kebijakan(Endang Saifuddin Ansori, 1981).Filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat).
Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan/ pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendakilah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.
Harold Titus (1984) mengemukakan pengertian filsafat sebagai sikap hidup dan alam semesta; suatu metode berpikir rekflektif dan penelitian penalaran; uatu perangkat masalah-masalah; dan seperangkat teori dan sistem berpikir. Gazalba mengartikan flsafat sebagai berfikir secara radikal, hingga sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai pada konsekuensi yang terakhir. Berpikir itu tidak separuh-paruh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai ke ujungnya. Berpikir sistemati adalah berpikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan saling hubungan yang teratur. Berpikir universal tidak berpikir khusus, yang hanya terbatas kepada bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup keseluruhan (Sidi Gazalba, 1973).
Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan atau pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendaki lah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur.
Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya maupun luar dirinya. Dengan demikian berfilsafat itu merupakan salah satu kegiatan pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menmukan eksistensinya. Dalam kegiatan ini manusia akan berusaha untuk mencapai kearifan dan kebajikan. Kearifan merupakan buah yang dihasilkan filsfar dari usaha mencapai hubungan-hubungan antara berbagai pengetahuan, dan menentukan implikasinya baik secara yang tersurat maupun yang tersirat dalam kehidupan.
Objek Filsafat
Objek formal yang menjadi pokok persoalan dan menjadi pembahasan dalam filsafat terdiri dari tiga macam, yaitu hakekat hakikattuhan,hakikatAlam,danhakikatmanusia. Sedangkan objek material dari filsafat adalah usahamencari keterangan secara radikal, berkenaan dengan objek materi filsafat (Endang Saifuddin Ansori, 1981). Dalam filsafat ilmu, terdapat tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi (Jujun Suriasumantri, 1993).
Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani“on berarti being”, dan“logos berarti ilmu”. Dengan demikian ontololgi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang keberadaan sebagaimana adanya (the theory of being qua being) atau ilmu tentang yang ada. Menurut istilah,ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan “ultimate reality”, baik yang berbentuk jasamani/konkret maupun rohani/abstrak. Termiontologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf’ Goclenius pada tahun1636 M (Amsal Bahtiar, 2004). Sedangkan Yuyun Suriasumantri (1993) mengartikan ontologi sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari objek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan.
Epistemoiogi sebagai cabang filsafat secara khusus membahas tentang teori ilmu pengetahuan.Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: (1) Apakah sumber sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahui ? ini adalah persoalan tentang “asal” pengetahuan;(2) apakah watak pengetahuan itu?Apakah ada dunia yang benar-benar diluar pikiran kita, dan kalau ada apakah kita dapat mengetahuinya? Ipi adalah persoalan tentang apa yang kelihatan versus hakikatnya (reality); dan(3) Apakah pengetahuan kita itu benar(valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benardari yang salah ? Ini adalah tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi pokok (Ahmad Tafsir, 2004). Sedangkan menurut Jujun Suria sumantri (1993),epistemologi diartikan sebagai cabang filsafat yang membahas tentang cara tata cara bagaimana ‘untuk mendapatkan pengetahuan; yang dalam kegiatan keilmuan yang disebut dengan metode ilmiah. Jadi epistemologi membahas tentang bagaimana syarat-syarat yang memungkinkan seseorang itu dapat tahu.
Aksiologi berasal dari perkataan Yunani “axiosyang berarti nilai” dan “logosyang berartyang berarti ilmu. Dengan demikian,aksiologi adalah merupakan ilmu tentang nilai (Amsal Bahtiar, 2004).Sedangkan pengertian aksiologi menurut Jujun Suriasumantri (1993) adalah teori, nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya, ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang.Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi dan menguasai sesama manusia.
Menghadapi kenyataan seperti ini,ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apasebenamya ilmu itu harus dipergunakan?,dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan ? kearah mana perkembangan keilmuan harus dia.rahkan?. Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang dalam perkembangan selanjutnya memunculkan gagasan bahwasanya “ilmu itu tidak bersifat netral”. Hal inilah muncul pemikiran tentang adanya Islamisasi Ilmu Pengetahuan, dengan tokoh utamanya Ismail Razi Al-Faruqi (1974). (bersambung ke Bag 2)












