MEDANHEADLINES.COM – Tepat tanggal 6/12 (rabu siang waktu AS), Presiden AS di dampingi wakilnya menyatakan bahwa sudah saatnya Amerika untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Trump bahkan mengejek para Presiden Amerika sebelumnya yang selama 20 tahun hanya menjadikan isu Yerusalem sebagai ibu kota Israel hanya sebagai janji kampanye belaka. Bagi Trump, hanya Dia yang bisa mengakhiri janji bodong para pemimpin AS. Karena itu, lunas sudah janjinya saat kampanye yang lalu untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Bagi Trump dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang resmi dan syah, justru akan memudahkan perjanjian damai antara Israel dengan Palestina. Suatu logika yang mungkin jungkir balik dan juga kurang sehat bagi masyarakat dunia. Namun bagi Trump…apa pedulinya, dunialah yang mestinya memahami realitas global yang sedang dia “ciptakan” saat ini.
Sementara bagi Israel, pengakuan Trump adalah saat yang bersejarah. Sudah 70 tahun lamanya sejak Presiden Truman mengakui Israel sebagai negara berdaulat (1948), Israel menunggu Amerika mengakui juga Yerusalem sebagai ibukota mereka. Sebab sejak 1948 Israel sudah menuntut Amerika untuk mengakui Israel sebagai negara berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Dan kini, penantian itu sudah berakhir. Trump yang mereka tunggu “sudah datang” dan telah membebaskan belenggu 70 tahun “keterpasungan” Yerusalem.Tidak sekedar suka cita politik, tetapi yang paling mendasar secara religi umat Yahudi serasa “sudah kembali” lagi pada rumah mereka kembali yang selama ribuan tahun merek tinggalkan.
Sebaliknya, bagi rakyat Palestina dan masyarakat muslim dunia atau juga pemimpin berbagai belahan dunia, pengumuman Trump adalah kabar duka dan mungkin juga pertanda buruk. Pegumuman Trump tak lebih sebagai Gelaran “karpet merah” dari Trump untuk mengundang perang kawasan, dimana Hamas dengan “senang hati” akan “membuka gerbang neraka” menyambut Trump. Sementara kelompok Jihad Islam juga “menyambut” gelaran karpet Trump tersebut dengan “deklarasi perang” (beritagar.id).
Namun bagi Trump semua itu, sudah bisa dia “jengkali” kalau tak mau disebut hanya menganggapnya sebagai “gertak sambal” belaka. AS sudah paham betul kekuataan dunia dan bagaimana menaklukkannya. Berbagai “kartu trup” masih begitu banyak yang bisa digunakan untuk mengalahkan “raja-raja Arab” yang memang sudah dia kontrol sebelumnya. Dengan demikian gagasan win-win solution untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibukota bersama, hari ini sudah “di tutup-buku” oleh Trump. Sebab hari ini Trump tampil dengan sisi “asalinya” sebagai seorang yang digjaya, adikuasa, “orang kuat” dan penguasa dunia, ketimbang sebagai pemimpin dunia.
Ada Apa Dengan Trump?
Mengapa Trump berani mengusik Yerusalem, kota tua yang merupakan kota suci tiga agama Abrahamik utama (Yahudi, Kristen dan Islam) yang terletak di pegunungan Yudea antara laut tengah dan laut mati? Apakah Trump sedang berperan sebagai Mesiah bagi umat Yahudi? Atau Trump sedang memerankan AS sebagai negara adidaya yang sedang mengontrol dan menata dunia kembali?
Para analisis tentu punya banyak sudut pandang. Satu diantaranya, adalah sudut pandang kaum post-modernisme cukup menarik dikemukakan. Bagi kaum post-modernis, tatanan global yang ditata oleh kelompok modernis dalam membawa kebahagiaan bagi manusia jelas telah gagal. Tata dunia global yang modern, ternyata hanya menempatkan segelintir manusia (negara adidaya) sebagai penguasa dunia (penata global) sementara manusia lainnya (the others) sebagai budak dan pelengkap penderita belaka. Tidak cukup sekedar berkuasa dengan kemampuan iptek dan militer yang canggih, negara adidaya juga mengubah cara pandang (mindset) global menjadi cara pandang “barat”. Nilai-nilai “barat” yang memiliki prinsip individual, kebebasan, kesetaraan dan persaingan menjadi nilai-nilai utama masyarakat global dan memberangus nilai-nilai luhur yang lainnya seperti ketuhanan, kegotongroyongan, persaudaraan, kasih-sayang, dan kelestarian.
Belakangan modernisasi dengan segala nilainya itu, ternyata justru membawa dampak kerusakan yang luar biasa parah bagi dunia. Para aktivis lingkungan hidup dari berbagai belahan dunia sudah menyampaikan alarm bahaya, akan ancaman kepunahan umat manusia di muka bumi akibat sumber daya alam yang telah dirusak. Sementara di tengah umat manusia, justru terjadi peperangan yang dahsyat dalam memperebutkan sumber daya alam yang sudah semakin terbatas. Belum lagi tingkat konsumsi manusia global yang semakin tinggi sementara ketersediaan makanan semakin menipis. Belum lagi sisi moral manusia global yang semakin meningkatkan kecemasan akibat meningkatnya kerakusan menguasai sumber daya alam, peredaran narkoba, seks bebas, minuman keras, dan kriminalitas yang tidak memikirkan generasi yang akan datang.
Orang-orang Eropa seperti Jerman dan Perancis (para pemikir dunia) mengatakan bahwa tata dunia global yang dihelat oleh Eropa dahulunya sejak tahun 1500 silam (era renaisans), tampaknya sudah kebablasan. Para pemikir Jerman seperti Habermas mengatakan bahwa modernisasi saat ini belum selesai, dan telah menyimpang, sehingga butuh revisi disana sini. Sementara Jean Francois Lyotard dari Perancis lebih tajam mengatakan bahwa modernisasi yang rasional yang dibayangkan sebelumnya kini sudah mati, dan hari ini dunia memasuki era “post-modernisme (pasca-modern). Mereka yang setuju dengan postmodernisme kemudian ramai mengkritisi “kelalaian” modernisme yang hanya melahirkan krisis global yang parah, yang sejauh itu belum memiliki obat penangkalnya.
Para ilmuwan pasca-modern kemudian melakukan perombakan terhadap tatanan dunia baru yang meliputi pemahaman akan dunia yang multikultural (the others) dimana dunia tidak lagi bisa bertumpu pada kultur Barat saja yang jelas-jelas sudah gagal menuntun dunia pada kebahagiaan. Berbagai negara mesti membuka pintu bagi negara lain sebagi wujud penghargaan atas perbedaan dan kesetaraan.
Menurut Sugiharto, revisi postmo atas modernisme menackup tiga hal, yaitu kembali pada pemikiran era pra-modern yaitu kembali kepada pemikiran metafisika yang berdekatan dengan mistisisme. Kedua, meninggalkan metode analisis kritis marxian yang berbasis ekonomi-produksi-material, menuju metode analisis berbasis bahasa/linguistik-sastra-psikologis. Intinya bagaimana mendekonstruksi pemikiran “pandangan dunia” selama ini, menjadi pemikiran “anti-pandangan dunia”.
Makna akan Tuhan-Alam-Manusia kembali dibongkar dengan motivasi agar tidak terjadi totalitarisme dalam segala sistem kehidupan, meskipun postmo sendiri akhirnya cenderung jatuh pada relativismedan nihilisme. Adapun yang ketiga, tidak seekstrim yang kedua, yaitu dengan merevisi premis-premis modern disana-sini, bisa dikatakan sebagai kritik imanen terhadap modernitas dengan berbagai kenegatifannya.
Namun dalam perkembangannya, pandangan post-modernisme yang dihelat Eropa, jelas-jelas telah mengusik Inggris yang menjadi motor penggerak modernisme dunia. Bagi Inggris, mengatakan kegagalan modernisme sama saja dengan menghilangkan Inggris dari peta jalan dunia. Karena itu kebijakan-kebijakan negara Eropa yang mulai lentur ke “Eropaannya” menjadi masalah tersendiri. Ramainya negara Eropa dalam membuka “pintu gerbang” bagi berbagai kultur dan agama jelas tidak menguntungkan bagi Inggris di masa depan. Inggris jelas tak mau larut dengan sekutu Eropanya, dan lebih memilih “meninggalkan Eropa” dengan kebijakan “Brexit” yang menghentak dunia.
Setubuh dengan Inggris, sebagian warga AS juga berbuat yang sama. Utamanya para punggawa kulit putih sebagai bangsawan Amerika yang selama ini selalu dipuncak kekuasaan. Deklarasi Brexit, jelas adalah dasar ideologis dan praksis dari Inggris untuk kembali kepada jalur “superioritas” kulit putih kembali. Bagi bangsawan kulit putih, terpilihnya Obama yang Kulit Hitam, jelas adalah kesalahan “cara pandang” orang Amerika yang jelas-jelas sudah terseret arus “post-mo” dari Eropa daratan. Karena itu, tidak ada cara lain untuk kembali menguatkan kekuasaan “orang setempat” adalah dengan meninggalkan cara pandang “post-mo” dan kembali kepada jati diri superioritas “kulit putih” kembali. Dunia mesti diatur dari Amerika, bukan malah Amerika yang kompromi dengan kultur-kultur lain yang ada di dunia.
Pada konteks mempertahankan superioritas inilah, kaum Yahudi merasa kembali mendapatkan “kekuatannya”. Sebab bagi kaum Yahudi, mengikuti cara pandang Eropa yang “post-mo” yang menghargai dan menyetarakan agama, suku bangsa, dan perbedaan-perbedaan kultural lainnya di dunia sama saja dengan menghancurkan superioritas Yahudi dunia yang selama ini sudah mengontrol dunia bersama Inggris dan Amerika. Karena itu bagi kaum Yahudi Amerika dan dunia, memenangkan Trump sebagai Presiden AS adalah juga “gerbang utama” dan target utama dalam mempertegas superioritas dan dominasi mereka. Pada sosok Trumplah tiga kekuatan yang menghela kapitalisme global saat ini bertemu yaitu “kekuatan kulit putih”, “kekuatan Inggris/AS”, dan kekuatan “Yahudi Dunia”.
Karena itu Bagi Trump, mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel bukan hal yang sulit dan rumit sebagaimana jalan pikiran mereka yang menentang keputusan itu. Bagi Trump, dunia mesti tahu benar, bahwa hari ini yang berkuasa itu adalah “mereka”, dan “mereka” lah yang berhak menata dunia saat ini sebanding dengan kontribusi mereka saat ini pada dunia. Trump jelas memberi pesan kuat, bahwa “merekalah” yang mengontrol dunia, bukan sebaliknya dunia “mengontrol” mereka. Karena itu, keputusan Trump menetapkan Yerusalem adalah suatu “pertanda” bagi zaman akan kehidupan dan kematian suatu peradaban. Siapa yang sesungguhnya berkuasa dan siapa yang menjadi budak, siapa yang “hidup” dan siapa yang “mati”. Sebagaimana yang ditegaskan Fukuyama, dalam bukunya “the end of history and the last man”.
Penulis : Dadang Darmawan, M.Si
Dosen FISIP USU












