MEDANHEADLINES.COM – Tulisan Kiki Syahnakri (Purn. TNI/Letjen) di Kompas (Selasa, 5 Des 2017) yang berjudul, “Berubah atau Punah” menarik untuk dicermati. Tulisan itu isinya tentang keprihatinan yang mendalam melihat situasi dan kondisi bangsa Indonesia saat ini yang tak berdaya dihantam gelombang globalisasi dunia.
Intinya, jika bangsa Indonesia tidak segera membenahi dirinya dengan cara kembali “meyakini” ideologi Pancasila dan mempraktekkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara maka, Indonesia terancam punah. Pasalnya, globalisasi yang berciri individualis, kebebasan, kesetaraan, dan persaingan yang menempatkan “akal/rasio” manusia pada tempat tertinggi menggeser kedudukan “Tuhan”, telah membuat dunia juga Indonesia masuk dalam gelanggang “baku-pukul global” yang telah merusak sendi-sendi keluhuran dan kemuliaan manusia, juga telah merusak tatanan alam semesta yang sebelumnya dalam keadaan setimbang.
Sebagai apresiasi dan tanggapan atas tulisan itu, maka tulisan ini dibuat dengan judul yang sama karena memiliki semangat yang sama.
Masalahnya
Masalahnya, apakah ia, kita sebagai bangsa Indonesia bisa membaca situasi dan kondisi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita dengan kaca mata yang sama saat ini?
Kalaupun kita punya bacaan yang sama terkait ancaman yang mengerikan pada bangsa Indonesia saat ini, apakah ia, kita punya keinginan untuk melakukan perubahan dengan meninggalkan praktek kejahatan yang kita lakukan saat ini dan berubah mempraktekkan sikap hidup yang mulia?
Kalaupun kita punya kesamaan untuk mau merubah diri kita, apakah ia, kita punya kesamaan pandangan bahwa pondasi yang hendak kita jadikan dasar nilai perubahan itu adalah nilai-nilai Pancasila?
Ajakan sekaligus ancaman Kiki Syahnakri kepada kita semua (“Berubah atau Punah”), jelas tidak ada yang salah bahkan luhur. Namun, penting juga memahami ditengah-tengah kultur global yang semakin mencengkeram kuat dunia saat ini, ada banyak tantangan yang menjadi penghalang bangsa kita untuk berubah.
Menyamakan Bacaan
Tidak semua orang mampu membaca keadaan yang ada saat ini secara jernih. Sehingga tak semua orang membaca dengan kesimpulan yang sama dengan kita. Ada orang yang justru mengangap apa yang tengah terjadi saat ini, adalah “jalan yang benar”. Karena itu, mereka mencurahkan segala perhatian hidupnya untuk mencapai impiannya dan menganggap tidak ada yang salah. Bahkan, jika ada orang yang hendak merubah situasi ini, merekalah yang akan menentangnya dengan sangat keras. Berbagai penelitian perubahan sosial menunjukkan, bahwa mereka yang nyaman (setuju) dengan kondisi saat ini akan menjadi penghalang utama perubahan.
Sebaliknya ada pihak yang saat ini membaca bahwa perjalanan bangsa Indonesia sedang berada pada “jalan yang salah”. Peta jalan bangsa Indonesia yang sudah dibuat melalui consensus bersama justru tidak digunakan. Bangsa Indonesia sudah keluar jalur, keluar dari peta jalan yang disepakati. Karena itu, bangsa Indonesia mesti kembali kepada “peta jalan” sebelumnya yaitu Pancasila.
Menyatukan dua “bacaan” yang berbeda tentu tidak mudah. Sebab sipembaca sangat dipengaruhi oleh pengalaman, doktrin, dan pemahaman yang ada dalam dirinya. Beda pengalaman, keyakinan dan pemahaman akan membuat beda “bacaan” apalagi kesimpulan dan solusinya.
Bagi Arab Saudi, saat ini justru saat yang tepat menatap “Barat” ketimbang mempertahankan “Nilai Luhur” mereka sebelumnya. Sebaliknya bagi sebagian bangsa Indonesia saat ini, justru saat yang tepat meninggalkan “Barat” dan kembali kepada “Pancasila”.
Pada lapangan akademik, semua perguruan tinggi di Indonesia ramai-ramai menatap kesuperioritasan ilmu pengetahuan dan manajemen “Barat” dan pingin menjadi “Barat” dan meninggalkan atau tak melirik sedikitpun cara-cara “Suku Badui” mengelola alam mereka. Anehnya, sebagian orang yang sadar di Amerika, justru membuka kedok betapa buruknya kualitas Perguruan Tinggi di Amerika saat ini.
Banyak residu-residu (kotoran dan sampah) peradaban di Barat, justru ditelan tanpa bersalah di Timur. Ketika orang-orang Barat merubah sikapnya kembali kepada makanan alami (tanpa pupuk kimia), jutaan petani Indonesia sudah tak bisa lagi meninggalkan pupuk kimia. Akibatnya, makanan organic di ekspor ke Eropa, makanan beracun di telan bangsa sendiri. Orang pantai/pesisir selalu berkelakar, “ikan bagus di jual ke pasar, ikan busuk dimakan nelayan”.
Lagi-lagi kita kesulitan “membaca” situasi saat ini dengan benar. Anehnya, gerakan literasi yang belakangan marak di Indonesia, hanya mengajari anak-anak membaca dan menulis. Padahal yang sangat dipentingkan saat ini adalah kemampuan dalam membaca situasi dan kondisi alam dan zaman yang sedang berubah saat ini. Banyak ilmuwan yang kritis “membaca” situasi saat ini begitu mengerikannya. Namun, banyak orang tua senang anaknya juara “membaca” di sekolah. Banyak orang pesta justru ditengah kesengsaraan.
Karena itu penting, untuk terlebih dahulu menyamakan pandangan di tengah-tengah bangsa Indonesia saat ini yang sama sekali punya pengalaman (SARA) yang berbeda.
Menjadi Indonesia dengan Pancasila
Faktanya, banyak orang Indonesia pingin merubah Indonesia kepada keadaan yang lebih baik saat ini. Banyak orang melihat ada banyak masalah ditengah bangsa Indonesia saat ini. Namun jangan tanya apa yang akan mereka lakukan. Sebab mereka memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam solusinya.
Kelompok agama akan bertahan dengan pondasi agama sebagai jalan melakukan perubahan. Kelompok adat akan bertahan dengan pondasi adatnya. Kelompok Perguruan Tinggi memiliki solusi rasional sendiri dalam melakukan perubahan. Kelompok yang setuju Pancasila akan menjadikan Pancasila sebagai solusi bagi perubahan bangsa Indonesia ke depan. Kita ada di kelompok yang mana?
Ternyata, dari berbagai sumber dapat disimpulkan kenapa kita tidak pernah menatap masalah dan solusi secara bersamaan? Jawaban banyak pihak adalah, karena kita belum sekalipun pernah “menjadi bangsa Indonesia”. Aneh tapi nyata. Para pendiri bangsa memproklamirkan Indonesia merdeka, namun bangsa Indonesia tidak pernah benar-benar terbentuk secara substantive.
Belum ada proyek “menjadi bangsa Indonesia” yang sukses selama ini di praktekkan. Sebab sejak merdeka yang terjadi justru, baku hantam antar kelompok (partai politik), antar ideologi dalam merebut kursi kekuasaan sampai saat ini. Sebabnya, tak dapat dipungkiri, jika sejak merdekapun banyak campur tangan asing yang suka mengadu domba, dan disi lain kita masih rapuh untuk menjadi suatu bangsa yang bersama.
Ki Hajar Dewantara mengatakan, bahwa untuk “menjadi bangsa Indonesia” bukanlah pekerjaan setahun, dua tahun, sepuluh tahun. Melainkan adalah pekerjaan yang konsisten sepanjang masa. Artinya, tak masuk akal jika kita mengadopsi sistem kehidupan berbangsa dan bernegara dari Barat dan menjauh dari Pancasila, tapi kita hendak “menjadi bangsa Indonesia”. Yang terjadi justru kita adalah bangsa semu, yang terpecah kepribadiannya yaitu suka mengadopsi ciri kehidupan Barat (Individu, Bebas, Setara, Bersiang), tapi selalu mengajarkan Pancasila di sekolah dasar hingga Perguruan Tinggi. Intinya, gegar, latah dan imitasi budaya masih melekat dalam kehidupan kebangsaan kita.
Penutup
Melakukan perubahan budaya menjadi budaya yang bersendikan nilai Pancasila (Ber-ketuhanan, Beradab, Bersatu, Musyawarah dan Berkeadilan) tidak sulit. Yang penting adalah, kita memliki pembacaan yang sama terlebih dahulu. Saussure (semiology) mengatakan, yang paling terpenting itu adalah si pembacanya (“readers”). Sebab sipembaca yang mampu membaca tanda-tanda yang ada saat ini apakah tanda-tanda alam maupun tanda-tanda zaman. Pembaca yang bijak akan mampu menangkap makna (signifier) di balik materi bahasa (signified).
Orang bijak bestari mengatakan, bukankah alam semesta beserta kehidupan manusia adalah suatu Kitab yang Terbuka Lebar dan Luas? Kaum bijak selalu mengajak, agar kita sama-sama membaca Kitab itu, agar kita tau apa sesungguhnya yang betul-betul terjadi saat ini. Sebab jika bacaannya sudah sama, pasti solusinya juga akan sama.
Penulis : Dadang Darmawan, M.Si
Dosen FISIP USU












