MEDANHEADLINES – Inilah zaman informasi. Setiap sudut kehidupan adalah informasi. Informasi ada dimana saja, ada dimana-mana, ada ditangan, diruang tamu, dikamar tidur, dicafe, dikampus, dikamar mandi, diruang privat sampai ruang piublik, bahkan sebagian kita simpan di dalam kepala kita sendiri.
Semua kota berlomba membebaskan akses informasi buat warganya untuk melihat dunia. Kita ada pada zaman yang dibanjiri air bah informasi yang melimpah, kadang sunami, sesekali banjir bandang, membuat kita terseret jauh kedalam pusaran dan pada akhirnya mati tenggelam. Tak ada pejabat yang benar-benar menyelami dan memahami apa yang sesungguhnya terjadi dengan sunami informasi hari ini. Semuanya cenderung tenggelam dalam kepentingan masing-masing dan berfikir bahwa beradaptasi dengan abad informasi adalah prestasi.
Salah kaprah mensikapi informasi dengan cepat telah menyeret manusia tenggelam dalam limbah pornografi, hoax, hipperrealitas, simulacra, birahi (seduction), kejahatan dan kemunafikan. Kepala manusia nyaris tanpa pelindung, dengan terbuka dijejali “makanan” berwarna-warni, campur-campur, tempat semua yang “hitam”, “buruk”, “bejat” menjadi satu dan selalu terhidang siap saji, siap dikonsumsi siapa, kapan dan dimana saja, mulai dari anak yang belum “sadar” hingga orang tua yang “tak sadarkan diri”. Tak ada ruang pribadi, khusus, privasi lagi. Sebab semua ruang pribadi justru menjadi komoditi yang diumbar ke ruang publik.
Semua kebejatan pribadi justru dengan sadar diungkap kepublik, dikomentari, dianalisis, dan diadopsi sebagai suatu model. Kecabulan tiap-tiap personal dengan enteng diumbar ke wilayah sosial sehingga informasi publik adalah realitas prostitusi social yang sesungguhnya. Semua kecabulan yang dipublikasi kini telah menjadi konsumsi tanpa kritik dan komentar miring yang diputar berulang-ulang. Adegan ranjang, ciuman, pelukan, gerakan/gesture, percakapan cabul, jorok (obscene), telah dipamerkan pada “ruang yang mempesona” dan “arena permainan bebas” yang diputus otoritas “layak konsumsi” (Baudrillard, 1990; Ritzer 2003).
Tidak ada ruang yang benar-benar bebas dari kejahatan, meski ruang anak sekalipun. Jangan harap film kartun, bacaan komik, bebas dari adegan yang tak pantas buat anak. Semua ruang anak pun sudah dibebaskan dari nilai-nilai moral dengan melekatkan nilai-nilai ekonomi belaka, yang penuh dengan birahi orang dewasa, yang merubah cara pandang dan sikapnya. Bourdieu mengemukakan bahwa selera atau kebiasaan seseorang jelas adalah merupakan pembatinan atau bentukan sosialnya (habitus), yang sudah dibentuk sejak dari masa kanak-kanak. Informasilah yang kini tampil di depan memimpin dan menuntun generasi milineria hari ini. Dengan informasi kini banyak anak-anak yang dipaksa cepat beruban, bertindak jauh melampaui usianya (Lubis, 2014).
Adakah orang yang khawatir dengan “limbah beracun” arus informasi ini? Tentu saja banyak. Namun seluruh keprihatinan yang mendalam itu, hanyalah berupa jeritan di tengah orang pekak dan bodoh. Tak ada yang benar-benar mendengar, andai mendengar tetap tak tau mau berbuat apa, andai juga telah berbuat, tak tau juga apa jadinya. Sebabnya semua pikiran kita ada dalam satu dimensi yang sama, yang diciptakan oleh penguasa dominan. Sehingga kita kesulitan mencari alternatif penyelesaian dari masalah yang menimpa kita. Semua solusi berada dalam dimensi yang menyatu dengan masalah itu sendiri. Semua solusi hanyalah mengulang-ngulang dari apa yang salah sebelumnya. Hingga pada satu titik temu, semua solusi pada akhirnya adalah masalah baru.
Penulis : Dadang Darmawan M,Si
Dosen FISIP USU












