Ketika Pejabat Negara “SGM”

MEDANHEADLINES – Nampaknya tokoh-tokoh negara Indonesia ini semakin banyak yang gemar menokoi (menipu) rakyatnya sendiri. “kegilaan” pejabat-pejabat negara kita ini nampaknya semakin menjadi-jadi seperti Ada semacam penyakit psikologis terlihat dari pejabat-pejabat negara kita ini.
Apa pun dilakukan untuk menaikkan eksistensi. Gampang terpengaruh oleh isu-isu hoax. Kekuasaan dimanfaatkan untuk menguasai dan mengeksploitasi. Jabatan dimanfaatkan untuk meninggikan martabat dan wibawa. Apakah ini masih negara Pancasila atau negara Pancagila, karena pejabat-pejabat negaranya mayoritas suka “Sinting, Gila, dan Mereng” (SGM).
Mungkin Anda belum lupa kejadian seorang artis penyayi dangdut yang menghina Pancasila kemudian diangkat salah satu pejabat negara menjada Duta Pancasila. Seharusnya duta Pancagila, bukan Duta Pancasila. Kita tak tahu apa maksud pengangkatan itu. Mungkin ada yang menarik dari artis tersebut. Bisa “goyang-goyang bebek” dikantor pejabat yang mengangkatnya.
Ada juga kejadian seorang pelajar Indonesia yang menghina polisi saat bertugas di jalan lalu lintas, kemudian diangkat menjadi Duta Anti-Narkoba. Heran melihatnya. Darimana penilaiannya sehingga diangkat menjadi duta. Jelas-jelas dia melanggar hukum lalu lintas, pejabat negara kita malah mengangkatnya menjadi seorang duta. Bukankah itu namanya pejabat negara yang “SGM”?
Nah, hal terbaru lagi-dalam minggu-minggu ini. Ada seorang perempuan plagiator yang mencuri tulisan dan pemikiran orang lain dari Facebook kemudian Copy Paste (menyalinnya) di akun Facebook pribadinya. Penghuni dunia daring heboh. Gadis sang plagiator ulung tersebut pun menjadi terkenal. Herannya, pejabat negara kita dan kampus-kampus banyak mengungangnya mengisi acara-acara dialog-dialog kebangsaan dan Talk Show, tidak lepas juga undangan dari stasiun TV. Tertingginya adalah dia, sang plagiator, dipanggil ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi.
Aneh betul pejabat-pejabat negara kita sekarang ini. Bukan diteliti terlebih dahulu, apakah itu karya original miliknya atau tidak. Eh..sudah main panggil-panggil mengisi acara. Apakah ini bagian daripada konspirasi pengalihan isu. Kampus-kampus pun lebih aneh lagi, gampang sekali terpengaruh isu. Filterisasi keilmiahan suatu kampus telah bocor oleh beratnya suatu “kepentingan” kotor. Belakangan hari diketahui, ternyata tamu Presiden itu adalah seorang plagiator. Apakah tidak “SGM” pejabat-pejabat negara yang memanggil dan memberikan penghargaan kepada sang plagiator tersebut?
Di samping itu semua. Ternyata ada anak-anak bangsa yang prestasinya sangat mengharumkan negara. Akan tetapi, dia tidak mendapat apa-apa dari negara juga sang pejabat negara. Jangankan penghargaan, dilirik saja pun tidak. Contoh kecilnya saja adalah ada anak bangsa yang juara hafizd Qur’an tidak ada perhatian dari negara. Seorang anak bangsa yang bisa menemukan listrik dari pohon Kedondong, baru-baru ini, jangankan dipanggil oleh pejabat negara, diliput media tivi pun tidak. Mungkin masih banyak lagi anak-anak bangsa yang berprestasi dengan karyanya sendiri, tidak plagiat, yang belum tersentuh dan tidak diketahui oleh orang banyak. Dan tidak ada perhatian dari negara untuk mengembangkannya. Misalnya, si penemu jaringan 4G yang saat ini berada di Jepang.
Saya melihat pejabat-pejabat negara ini doyan sekali memberikan penghargaan kepada seorang perempuan yang tidak jelas prestasinya. Kalau aktivis-aktivis perempuan yang kritis dan betul-betul membangun sengaja dibungkam dan “dikuburkan”. Apa toh maksud bapak-bapak pejabat negara? Kurang isteri nan cantik di rumah? Kurang “goyangan” sehingga menarik penggoyang dangdut? Sebegitu streskah bapak memimpin negara ini? Sampai-sampai terlihat “Sinting, Gila, dan Mereng” .

Penulis: Ibnu Arsib Ritonga
Mahasiswa UISU-Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.