Dibalik Penyakit Masyarakat Modern

MEDANHEADLINES – Jikalau diperhatikan Masyarakat Modern sekarang, sering kita katakan mengalami suatu kemajuan. Bahkan banyak di antara kita yang membangga-banggakannya hingga berlebihan. Seperti, “menghamba” pada produk Modernisasi. Kita mungkin jarang bertanya, apakah lebih banyak nilai positifnya atau lebih banyak menyalahgunakannya sehingga bernilai negatif? Apakah yang kita katakan masa kemajuan ini di segala lini membuat manusia semakin mengenal hakikat kemanusiaannya atau sebaliknya? Apakah hari ini banyak masyarakat kita yang menebar nilai-nilai kebaikan atau sebaliknya?

Jika kita jujur melihat masyarakat modern sekarang, banyak penyakit yang diidap oleh manusia-manusia sekarang. Hal itu dapat berupa pembangkangan terhadap kebenaran, kecongkakan atau arogansi intelektual dan ilmu pengetahuan, kesombongan karena kemewahan berupa penyimpangan seksual dengan segala macam bentuk dan manifestasinya dan korupsi merajalela. Penyakit-penyakit tersebut, menurut Amien Rais (Eks. Ketua Umum PP Muhammadiyah) bukanlah baru hari ini terjadi. (Amien Rais, 1997:148)

Kalau kita baca kisah para nabi Nuh, Hud, Sholeh, Luth dan Syu’aib. Mereka mempunyai kaum yang terjangkit penyakit akut seperti masyarakat modern sekarang. Ternyata penyakit-penyakit masyarakat ini telah terjadi lebih dahulu sebelum sekarang. Fenomena ini bukan memajukan atau membahagiakan menusia, akan tetapi malah membinasakan manusia itu sendiri.

Melihat kehidupan kaum-kaum pada masa itu, nabi Nuh mempunyai kaum (masyarakat) yang congkak, yang terlalu memiliki percaya diri sedemikian besar sehingga membelakangi wahyu dari Tuhan. Kalau kita lihat saat ini, kaum ini adalah kaum-kaum atheis, kaum-kaum sekularis, kaum-kaum agnostis dan sebangsanya. Mereka betul-betul menolak dan mengingkari kebenaran-kebenaran wahyu dari Tuhan.

Kemudian kalau kita lihat kaumnya nabi Hud, kaumnya disebut kaum ‘Ad. Kaum ini para pencipta tekhnologi. Pada zaman itu, kaum ‘Ad merupakan masyarakat yang amat mengagungkan tekhnologi hingga mendirikan bangunan-bangunan yang kokoh dan kuat. Mereka berpikir bahwa dengan bangunan tersebut mereka akan aman di dalamnya dari azab Tuhan dan mereka bisa berbuat seenaknya sesuai dengan hawa nafsu. Pada saat ini, kaum seperti itu juga ada dengan mengidap penyakit sombong, congkak dan arogansi ilmu pengetahuan tekhnologi yang mereka miliki. Mereka tidak sadar bahwa ilmu yang mereka miliki masih sedikit.

Nabi Sholeh mempunyai kaum dengan sebutan kaum Tsamud. Masyarakat ini lebih cenderung kepada kemewahan (hedonisme-kapitalistik). Kaum Tsamud itu terkenal dengan sangat mengagungkan kemewahan, keindahan, membuat dam-dam yang canggih dan taman-taman yang indah. Sehingga dengan asyik masuknya dengan seni arsitektur, kesenian, bangunan, dan lain-lain. Kaum Tsamud ini pun terkenal dengan kecongkakannya dan kesombongannya. Kemewahan materi itu pun telah menggelapkan pandangan hati mereka terhadap kebenaran wahyu Ilahi. Kaum Tsamud itu pun masih kita temukan di era sekarang ini. Sesuai apa yang digambarkan tadi.

Kemudian nabi Luth, kaumnya terkenal dengan sebutan kaum Sodom dan Gomorah. Masyarakat yang melakukan penyelewengan atau penyimpangan seksual secara massal. Penyelewengan ini merata dalam masyarakat nabi Luth pada masa itu. Zaman sekarang, kaum ini sudah gampang kita temukan. Bahkan mereka bersuara supaya diberi jaminan hukum atas perilaku mereka. Kaum ini tidak terkenal lagi dengan kelompok Sodom atau Gomorah, tapi dikenal dengan kelompok Lesbian, Guy, Be-sex dan Transgender (LGBT). Mereka sangat terorganisir untuk mempengaruhi masyarakat lainnya. Di negara kita Indonesia tercinta ini, baru terbongkar kasus penyaimpangan seks (guy) di salah satu tempat olah raga (Gym) di Jakarta.

Sedangkan nabi Syu’aib memiliki suatu kaum yang dinamakan kaum Askhabul Aikah dengan cirinya mereka sangat korup. Mereka tidak pernah jujur. Mereka mencuri, merampok harta orang lain, dan merampok hak-hak orang lain sehingga korupsi merajalela pada masa masyarakat Syu’aib. Nah, saat ini pun kita masih menemukan masyarakat Askhabul Aikah dengan mudah. Lihat saja kaum-kaum elit negara saat ini, banyak terjangkit virus korupsi, suap dan pencurian. Masyarakat kecil juga tidak menutup kemungkinan melakukan perilaku yang menyimpang tersebut.

Sebenarnya para Anbiyaullah telah memperingatkan manusia lintas generasi atas perintah Allah supaya tidak melakukan perbuatan-perbuatan menyimpang tersebut. Akan tetapi, dalam masyarakat kita, baik dahulu hingga sekarang masih ada yang melakukannya. Apabila ini terus menerus dilakukan, yang notabenenya menentang Tuhan, maka Dia akan memberi azab dan mematikan dalam kesesatan dan juga penuh dosa.

Nah, supaya kita tidak terjangkit penyakit-penyakit yang kita sebutkan di atas dan mungkin masih ada penyakit-penyakit lainnya, maka marilah kita pahami dan aplikasikan semampu kita ajaran-ajaran Tuhan. Dalam Al-Qur’an surat Asy-Syur’ara ayat 107-109, Allah Swt. memberikan himbauan kepada semua kaum lewat rasul-rasul-Nya. Allah berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya saya ini adalah rasul yang mempunyai tugas untuk menyampaikan kebenaran kepadamu wahai kaumku. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ikutilah jalan kehidupanku. Saya ini bukan orang yang mengharapkan ganjaran atau imbalan di dalam memikul kebenaran. Oleh karena ganjaran dan imbalan sejati itu datang dari Allah, Tuhan seluruh sekalian alam.”

Firman Allah Swt. di atas telah jelas. Supaya selamat dari pengaruh-pengaruh penyakit yang kita maksud, kita harus bertakwa kepada Allah mengkuti jalan rasul-Nya. Karena sudah jelas mana yang haq dan mana yang bathil. Dan ke-bathilan tidak akan pernah kekal. Anda mau ikut yang haq atau yang bathil itu tergantung pilihan Anda. Tapi, konsekuensi atas pilihan akan berlaku.

 

Penulis: Ibnu Arsib Ritonga

Kader HMI Cabang Medan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.