Realitas Umat di Bulan Ramadhan

MEDANHEADLINES – Bulan Ramadhan sudah mulai “terbit” di Indonesia. Sebagai manusia, khususnya ummatnya Nabi Muhammad SAW, menyambut bulan ini dengan “terpaksa” dan bahagia. Suatu keuntungan juga bagi para kapitalis dan atau pemilik modal, karena buruh-buruhnya yang Muslim akan lebih “giat” lagi untuk bekerja demi mempersiapkan uang di bulan puasa dan di hari lebaran, belum lagi biaya untuk mudik dan biaya untuk keluarga di kampung halaman. Tentunya juga mereka sangat mengharapkan ada bonus: Tunjangan Hari Raya (THR). Syukur-syukur saat bulan puasa tidak “ditunjang” dari tempat pekerjaan.

Bulan Ramadhan, menjadi suatu bulan keuntungan bagi pemilik modal atau pemilik perusahaan, seperti perusahaan penyedia Sembilan Bahan Pokok (Sembako).  Biasanya, permintaan pasar untuk barang-barang sembako sangat meningkat drastis, hargapun akan meninggi. Permintaan pasar untuk “Satu Barang Pokok (Sabarko)” juga meningkat, harga “daging” satu ons maksud saya.

Untuk kenaikan bahan-bahan pokok, negara-pemerintah terlihat “menutup mata”. Mereka berdalih “karena ini” dan “karena itu”. Tapi pengawasan untuk peningkatan permintaan sabarko, petugas negara bertindak cepat melakukan penggrebekan dan razia di mana-mana. Produksi kondom, obat perangsang seks dan barang-barang yang mempengaruhi perilaku kemaksiatan menyebar hingga sampai ke pelosok negeri. Razia dilakukan dengan dalih karana: “Ini bulan puasa-agama Islam dan karena aturan negara”. Kok hari-hari biasa razia itu tidak serajin bulan ramadhan?

Produksi TV yang ditayangkan pun sok Islam. Presenter, Host atau pembawa acara dan atau artis-artis yang tak berjilbab (hijab) pun tampil dengan busana Muslim (bagi laki-laki) dan busana Muslimah (bagi perempuan). Penceramah-penceramah musiman mucul dengan membawa firman-firman Tuhan. Para “tikus’tikus” berdasi di mana-mana membagikan sembako dan menikmati sabarko. Kenapa hanya di bulan puasa-Ramadhan dan di masa kampanye saja? Rakyat miskinkan butuhnya setiap hari.

Belum lagi kalau kita perhatikan budaya pemuda-pemuda kita (Muslim dan Muslimah) di bulan Ramadhan. Ada suatu tradisi di salah satu kota misalanya: “melakukan joging bersama pasangan (pacar)”. Mode-mode pakaian yang dipake pun bernuansa Ramadhan, tapi budayanya tetap seperti biasa. Terkadang ini terlihat berlebihan dan mubazir. Kita lihat misalnya, ada budaya buka puasa bersama pasanga atau pacar. Pamit pada orangtua untuk shalat taraweh di Masjid kemudian “taraweh” juga dijalanan. Diakhir Ramadhan pun (menjelang malam takbiran), pemuda kita sudah mulai menyusun rencana akan ke mana bersama pasangan. Baju apa, makanan apa dan ke restoran mana yang harus ditongkrongi. Pemuda-pemuda di desa tidak kalah juga dengan pemuda-pemuda di kota.

Bulan Ramadhan terlihat (secara praktik) seolah-olah bulan pembersihan nama. Pembersihan atau penghapusan dosa. Masjid tidak dirazia dari orang-orang munafik dan dari koruptor. Hotel-hotel dan tempat-tempat mesum di grebek, dirazia dan ditutup (sayangnya hanya untuk sementara waktu), sehabis bulan puasa tempat-tempat itu dibuka lagi.

Sedangkan gedung-gedung pemerintahan jarang dan bahkan tak pernah terdengar digrebek petugas, padahal di sana banyak sekali perbuatan “mesum”. Mereka telah “memperkosa” hak rakyat-rakyat miskin dan lemah. Terbukti bahwa aktivitas korupsi yang intens tetap berjalan juga. Lobi-lobi proyek di gedung mewah itu begitu ramai tapi terdengar sepi. Kode demi kode berbunyi, sang pengawas masih asyik mengurusi perbuatan mesum.

Sehabis Ramadhan, aurat yang tertutup kembali dibuka dan “dihidangkan” lagi di pasaran. Bekas-bekas kondom pun terlihat menggunung di tong-tong sampah sehabis Ramadhan, kalau bulan Ramadhan disimpan dikarung dan diletakkan di gudang penyimpanan. Masjid kembali sepi (tinggal yang ada hanya Pak Wardiman, Pak Seto, Kekek Ismail, si Ikhsan (anak-anak) dan si Bu Minah). Pak Gubernur-Bu Gubernur, Pak Bupati-Bu Bupati, Pak Camat-Bu Camat, Pak Lurah-Bu Lurah, Pak Kades-Bu Kades, Pak Mulya-Bu Mulya (Wakil Rakyat), dan Pak Sohar-Bu Sohar (pengusaha) kembali asyik ke luar kota). Orang-orang miskin kembali terpinggirkan.

Begitukah realitas di negeri ini, Negara dan rakyatnya sok Islam dan sok menjalankan aturan? Terserah kepada anda untuk menanggapinya!

 

Penulis: Ibnu Arsib Ritonga

Kader HMI Cabang Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.