Singkap Aurat Ala Allan Nairn

MEDANHEADLINES – Allan Nairn, Jurnalis dan investigator warga Amerika, Lahir 1956, di Morristown, New Jersey, Amerika. Dalam selusur laman berbagai media online ia dijelaskan ivestigator yang selalu beroperasi pada hal-hal yang mengungkap berbagai skandal militer dan kekuasaan di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Pro kontra laporannya, merupakan hasil investigasinya, kerap menuai pro dan kontra bagi pihak-pihak bertikai. Siapa yang “diuntungkan” dan siapa yang “dibuntungkan” dapatlah terbaca dari komentar berbagai pihak terhadapnya.

Apa Isi Laporan Nairn Tentang Indonesia?

Ia melaporkan kepada dunia internasional, bahwa tahun 1991, bersama dengan Amy Goodman saat meliput pembunuhan massal di Timor Leste (pembantaian Santa Cruz) ia dipukul popor senapan M16 yang menyebabkan tengkoraknya retak.

Ia juga melaporkan kepada Kongres AS, bahwa tahun 1993 ketika secara sembunyi kembali masuk ke Timor Leste, ia sukses membawa sejumlah data dan fakta temuan pelanggaran TNI, dan meminta Kongres AS memutus bantuan militernya pada Indonesia.

Ia juga melaporkan kepada dunia tahun 1998, keterlibatan pemerintah AS sendiri dalam mendukung pelatihan TNI yang beroperasi di Timor Leste yang terlibat dalam pembunuhan dan penyiksaan warga sipil (id.m.wikipedia.org).

Ia juga melaporkan tahun 2010, tentang keterlibatan TNI dalam pembunuhan aktivis HAM Munir, yang membuat TNI meradang dan berupaya menuntut serta menahannya.

Ia lagi-lagi tahun 2014 bahkan melaporkan, keterlibatan Prabowo dalam pelanggaran HAM.

Yang paling menohok dan terkini, tahun 2017 bulan April saat ini, ia melaporkan hasil investigasinya tentang kaitan antara Prabowo, Hari Tanoe, & Donal Trump dibalik Aksi Bela Islam (ABI).

Lebih jauh, ia mengungkapkan telanjang, aktivitas Jenderal pensiunan maupun aktif, baik yang ada di kubu Jokowi maupun yang berseberangan dengan Pemerintah, dalam kepentingan kekuasaan mereka. Menjelaskan dengan gamblang, permufakatan jahat para Jenderal mendongkel Jokowi lewat kasus al-Maidah.

Beda Pendapat Tentang Laporan Allan Nairn

Di Indonesia, semua laporan yang pernah dipublikasi Nairn hingga yang terakhir, justru telah memberi cap, label, dan ganjaran kepada Allan Nairn berupa tuduhan “ngomong ngawur”, “tak mengerti Indonesia”, “tak  bisa dipercaya”, “investigasinya masalah kecil”, “mengancam kedaultan Indonesia”, “berita palsu”, “hoax”,  dan lainnya, sebagaimana yang dituduhkan oleh Salim Said, Panglima TNI, Fadli Zon, HT, dan sejumlah pengamat lainnya, bahkan Presiden Jokowidodo menghindar berkomentar.

Masalahnya, laporan investigasi yang penuh dengan data-data yang tak terdeteksi orang awam, luput dari bacaan, undercover, dirahasiakan, disembunyikan, ditutup rapat, ketika terungkap menjadi sesuatu yang “mengejutkan” bahkan serasa “menusuk” ubun-ubun, hingga tak sedikit pihak “mati kutu”.

Masalah berikutnya, justru berbagai pihak yang merasa “diserang” selalu dengan mudah membantahnya hanya dengan guyonan, ucapan-ucapan bantahan yang gak jelas, menista si investigator, balik mengancam melaporkan investigator, tanpa disertai data bantahan serta argumen yang seimbang dan memadai.

Padahal, mungkin penting dicatat, investigasi AN tidak hanya tentang Indonesia, melainkan meliputi kejadian dunia. Sehingga tuduhan-tuduhan dan ungkapan memojokkannya “semodel” di Indonesia seperti ini, sudah “puas” juga ia telah peroleh dari negara-negara lainnya.

Sebagai bandingan, di dalam negerinya sendiri AS, AN justru kerap mengungkap “boroknya” pemerintah AS. Tahun 1994 Nairn justru mengungkap peran pemerintah AS dalam membangun dan mendanai paramiliter Haiti/FRAPH yang terlibat dalam pelanggaran HAM.

Tahun 2013 bersama dengan banyak selebriti Amerika, ia justru mendukung Bradley Manning, seorang parjurit AD Amerika yang membocorkan 750,000 dokumen rahasia negara kepada wikileaks. Manning sendiri akhirnya divonis 35 tahun dan diberhentiukan tidak hormat.

Anehnya, bagi dunia Internasional, bagi mereka yang punya sudut pandang lain, bagi yang berfikir, bahkan bagi orang AS sendiri-pun, laporannya justru diganjar dengan Penghargaan Memorial Prize Pertama Robert F. Kennedy, untuk Radio Internasional untuk liputan Timor Leste 1993.

Kerja kerasnya justru dihargai Penghargaan George Polk untuk Jurnalisme tentang Majalah Pelaporan 1994. Tidak cukup disitu bahkan ia juga diganjar Penghargaan James Aronson untuk Keadilan Sosial Jurnalisme tentang Haiti di majalah The Nation 1994.

Maknanya, pengalaman suatu bangsa jelas telah membentuk cara berfikir yang bertolak belakang. Selama puluhan tahun, kita belum mampu melahirkan Jurnalisme investigatif yang handal yang mampu menghantarkan informasi yang berimbang ketengah pembaca terhadap berbagai peristiwa penting yang terjadi.

Akibatnya, tingkat penafsiran pembaca kita secara sengaja dibentuk hanya pada kelas permukaan doang, yang sudah jelas banyak dikibuli oleh para “sipembuat” berita. Konstruksi sosial “yang membodohi” sipembaca inilah yang selalu dibentuk oleh media massa, untuk mempertahankan kekuasaan “sipembuat” yang selalu berada dibelakang layar media.

Inilah dunia post-modern yang selalu menampilkan realitas sosial secara hiper, menyajikan dunia simulasi yang manipulatif, dan membimbing sipembacanya justru berjalan ke “jurang” sesuai keinginan “sipembentuknya”. Lambat-laun, masyarakat justru terbiasa mengkonsumsi apa yang hiperrealitas itu, hingga tak lagi sadar dan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Realitas Proxy War  

Panglima TNI sudah bertahun menyampaikan ancaman “perang boneka” (proxywar) baik yang akan dilakukan oleh Barat/Liberalis maupun Timur/Komunis dengan memanfaatkan elemen-elemen bangsa Indonesia sendiri. Perang dengan memainkan para “kaki tangan”, komparador di dalam negeri seperti ini, ditengarai sudah menjadi model perang kekinian yang tengah dilancarkan berbagai negara.

Dengan kemenangan Donal Trump/DT di Amerika, dan didahului kemenangan kubu Brexit di Inggris, seluruh dunia sudah membaca suatu “tanda” adanya perubahan dunia ke arah politik Rasialis/SARA yang akan dilancarkan oleh Inggris dan Amerika yang tidak hanya mensasar ekonomi, politik tetapi juga sosial-budaya bahkan keamanan nasional dan kawasan serta dunia. Dunia akan masuk pada perang dunia yang sesungguhnya, teriak banyak pihak.

Jika Panglima TNI sudah menyampaikan “teori” tentang ancaman “perang boneka” tersebut, justru Allan Nairn memperjelasnya dengan mengungkapkan “prakteknya” atau “kenyataannya” tentang “perang boneka” tersebut di Indonesia. AN setidaknya mengungkap bahwa perang Timur melawan Barat yang terjadi di Indonesia dengan masing-masing kepentingannya, jelas bukan teori dan sekedar isapan jempol, melainkan nyata terjadi.

Investigasi AN, dalam sudut pandang “yang lain”, hanyalah memperjelas, memastikan, bahwa sejak merdeka Indonesia tidak lepas dari cengkeraman asing. Artinya AN hanyalah seorang investigator dari begitu banyak investigator sebelumnya yang sudah membuktikan tentang “perang boneka” antar dua kekuatan adidaya di Indonesia adalah fakta.

Hanya saja apakah mungkin kita keluar dari “perang boneka” dan membebaskan diri kita dari “perang boneka”, tersebut jika ternyata seluruh aktor yang “digunakan” sebagai kaki tangan kekuatan Timur dan Barat ternyata telah melibatkan kita semua?

Apakah mungkin kita menjadi orang bebas, memiliki mental pejuang, jika ternyata kita-lah yang dengan sengaja “meminta” diri kita dijadikan kaki tangan Timur ataupun Barat?

Apakah mungkin kita keluar dari “perang boneka” jika kitalah sesungguhnya “boneka-boneka” itu sendiri?

Apakah mungkin kita membangun mentalitas kesatria kesuma bangsa, melalui “celoteh” di fesbuk saban pagi siang dan petang?

 

Penulis: Dadang Darmawan, M.Si

Dosen FISIP USU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.