MEDANHEADLINES – Sudah hukum, bila lampu merah menyala, kita berhenti, mempersilahkan kendaraan lain berlalu. Lampu merah wujud rasionalitas teknologis sebagaimana yang disebut oleh Herbert Marcuse, hadir menjadi bahagian kehidupan, sebagai tanda dan penanda menertibkan dan mengatur manusia.
Apakah lampu merah, ataupun juga “penanda” lainnya memenuhi harapan manusia? ternyata tidak. Meski lampu merah dan ribuan “penanda” lainnya eksis mengatur dan menjadi sistem kehidupan, namun masalah manusia tetap membesar. Para pelanggar dan pengabai, senantiasa muncul tanpa bersalah. Semua latar belakang sosial ternyata punya “minat” yang sama untuk mengabaikan norma demi mengejar impian pribadi. Rasionalitas teknologis jelas tak bisa berdiri sendiri sebab kini tak lagi jadi solusi, bahkan menjadi masalah.
Manusia ternyata membutuhkan prasyarat lain sebelum mengaktifasi teknologi. Ya…manusia butuh mentalitas. Masyarakat butuh eksistensi sesuatu yang “esensial” disamping bergelimangnya teknologi yang eksis ditengah-tengah kehidupannya. Masyarakat mesti memiliki “kesadaran” bahwa ada tanda/simbol yang mengatur mereka, dan itu penting untuk memberi rasa nyaman bagi semua.
Kita tak bisa membiarkan begitu saja masyarakat perkotaan di tengah kehidupan kita berjalan tanpa nilai-nilai yang esensial yang sebetulnya mendasar. Kita tak lagi bisa membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan kepentingan individual dan subjektifitas manusia. Kini buah pemikiran Descartes menuai keburukan yang amat sangat dalam kehidupan manusia.
Tak ada yang sederhana pada realitas sosial dalam merespon “lampu merah”. Semua perilaku sosial terhadap “lampu merah” adalah tampilan maupun ekspresi mentalitas masyarakat. Masalahnya sangat serius, sebab semua pelanggar dan pengabai di dorong “kesadaran” bukan “ketidak sadaran”.
Sejurus dengan itu, jika masalah semakin besar, jalanan bertambah macet tak ada obat, pemerintah pun akan merespon dengan sederhana. Semua diselesaikan dengan tindak “represi”. Kerahkan beberapa satuan Polisi lalulintas disetiap perempatan, lakukan aksi “memplototi” dan “mengancam” para pelanggar/pengabai. Jalanan pun kembali tertib.
Hubungan ketaatan dengan “ancaman” kerap menjadi solusi mudah. Diberbagai kota maju pun tersiar berita jika ketaatan di jalan raya pun ternyata buah dari “ancaman” yang diberlakukan otoritas setempat. Kita takjub dengan ketertiban sosial di jalanan, sebab para pelanggar menghindari ancaman denda yang berat. Ketertiban sosial belum sepenuhnya buah dari kesadaran sosial, masih merupakan buah dari hukuman yang penuh dengan ancaman.
Untuk sementara, mentalitas yang penuh dengan “ancaman” kelihatan indah dinikmati saat ini. Sebab semuanya terasa begitu mudah untuk diatur. Meski, dalam jangka panjang, pengeroposan pada tempat yang lain akan memunculkan masalah yang lebih besar lagi. Sepintas jalanan secara fisik tampak tertib lancar dan indah, namun “jalanan sosial kebangsaan” sesungguhnya macet total tanpa solusi.
“Lampu Merah” Kebangsaan
Apakah kita menyadari bahwa kehidupan kebangsaan kita berada dipersimpangan “maut”? adakah “lalulintas sosial” yang dipenuhi berbagai “kendaraan” (suku, agama, golongan) mau dengan sadar “berhenti” sejenak mempersilahkan yang lain untuk lewat? Atau mungkinkah kesemrautan sosial yang kita hadapi, cerminan bahwa “lampu sosial” telah padam?
Otoritas yang berkuasa kelihatan menyenangi solusi “represi” ketimbang penguatan “kesadaran” dalam merespon kemacetan sosial. Akibatnya, kita selalu menggerus nilai-nilai kebangsaan milik kita sendiri. Semua dialog sosial cenderung macet sebab masing-masing mengedepankan kepentingan kelompoknya. Kelompok menjadi hal utama meninggalkan kepentingan kebangsaan. Semua kelompok merasa paling benar dengan “kendaraannya” masing-masing, dan tak mau mengalah.
Namun “lampu merah” kebangsaan kita tidak sekedar bermasalah pada “kesadaran” untuk melanggar sistem yang ada. Lebih dari itu, kita mencurigai bahwa sebab macetnya komunikasi antar kelompok sosial yang ada hari ini disebabkan oleh “matinya lampu merah” kebangsaan. Mungkin ini yang dikatakan oleh Sigmund Freud bahwa kita sesungguhnya masih berjalan pada situasi “ketidaksadaran” kita, ketimbang “kesadaran”.
Otonomi dan identitas kelompok-kelompok yang dipandu oleh oleh rasionalitas modernis justru hanya berbuah gesekan dan konflik. Bukan sebagai solusi sebagaimana dugaan Descartes. Manusia justru menemui jalan buntu, ditengah persimpangan yang rumit.
Tanpa lampu/penanda jelas semua kelompok tak lagi punya pegangan akan arah dan perintah yang jelas mesti diikuti. “Jalan kabangsaan” kita benar-benar macet total. Semua aktor-aktor bermental negarawan kini sudah “lenyap” tak lagi memberi “petunjuk”. Semua kelompok hanya berbekal “otot” dan “ketidaksadaran” mengendalikan “kendaraannya” masing-masing. Tanpa “lampu penanda”, suasana kebangsaan kita macet total.
Penulis: Dadang Darmawan, M.Si
Dosen FISIP USU
Berita Terkait
Post Views:
0












