MEDANHEADLINES – Hari ini isu tentang kebangkitan paham Komunisme di Indonesia mencuat kembali. Hal ini memastikan bahwa setiap era Presiden RI selalu diwarnai isu tentang bahaya laten komunis. Sudah menjadi sejarah jika peristiwa 1965 telah menjadi mimpi buruk bagi bangsa Indonesia. Karena itu setiap munculnya sosialisasi tentang bahaya kebangkitan komunis, seolah memori buruk limapuluh tahun silam itu ingin diputar kembali.
Wajarlah jika banyak orang bertanya-tanya saat ini, siapa yang ingin memutar memori itu, ataupun apa keuntungan memutarnya kembali? Apakah isu itu realitas sosial-politik atau sekedar isu belaka? Benarkah ada ancaman kebangkitan komunis itu di Indonesia? apa sesungguhnya Komunis itu? Apakah mungkin PKI akan kembali bangkit di Indonesia? Bagaimana sesungguhnya realitas gerakan komunis internasional saat ini? Adakah motif-motif politik di balik isu kebangkitan PKI saat ini?
Tampaknya, amatlah penting untuk mendiskusikan isu tersebut dengan kepala dingin dengan mencermati berbagai sudut yang dapat meneranginya, sehingga kita tidak terjebak oleh “isu” belaka. Terlebih perkembangan manusia di era teknologi informasi dan komunikasi (IT) saat ini dengan segala macam permasalahannya, telah membuat begitu banyak kepentingan yang berkecimpung. Manusia kini saling bersaing dan berperang satu dengan yang lain dengan berbagai motif kelompok yang menyertainya tanpa kita ketahui mana yang salah dan mana yang benar.
Latar Masalah
Setidaknya isu kebangkitan paham komunis mulai muncul dan digeber sejak 2015 silam. Sebagaimana yang disebut Azyumardi Azra isu kebangkitan PKI pada era Presiden Jokowidodo tampaknya menguat kembali, melalui perbincangan media sosial, rumor, gosip, ataupun gambar terkait kegiatan yang bisa dihubungkan dengan isu tersebut. Kecurigaannya bermula dari seminar yang dihelat medio april 2015 di Den Haag yang berthema “1965 Massacre: Unveiling the Truth, Demanding Justice/Pembantian 1965: Mengungkap Kebenaran, Menurut Keadilan. Kemudian muncul lagi Simposium Nasional 1965 di Jakarta 18 April 2016 dengan kesimpulan bahwa negara terlibat pembantaian mereka yang dicurigai terlibat PKI sehingga negara perlu meminta maaf dan melakukan rekonsilisasi.
Masih di tahun 2015, majalah Panjimas memuat tulisan Habib Rizieq Syihab (HRS) tentang adanya 21 indikasi kebangkitan paham komunis di Indonesia yang terjadi sejak era reformasi 1998 hingga saat ini. Ke-21 indikasi tersebut yaitu adanya tuntutan pencabutan Tap MPRS XXV/1966 tahun 1998, penghapusan sejarah pengkhianatan PKI dalam kurikulum, penghentian pemutaran film G30SPKI, penghapusan ‘litsus’ bagi pejabut, putra-putri eks-PKI masuk partai politik dan pemerintahan, pembuatan buku dan pembelaan pada PKI, adanya RUU komisi kebenaran dan rekonsiliasi, pembelaan Komnas HAL dan LSM Liberal, bantuan China dan kompensasinya, kerjasama partai politik Indonesia dengan Partai Komunis China, seminar tentang PKI, adanya ormas yang berafiliasi dengan PKI, pemutar balikan fakta sejarah, munculnya lambang PKI di kalangan selebritis, usulan penghapusan kolom agama di KTP, rencana Gusdur/SBY minta maaf kepada PKI, janji kampanye Jokowi memberi maaf kepada PKI, jargon revolusi mental, dan adanya keresahan tokoh NU. HRS beranggapan indikasi itu sebagai suatu ingatan dan kewaspdaan akan peristiwa 1965 tidak berulang kembali.
Kesimpulan simposium inilah yang kemudian memantik reaksi keras dari berbagai kalangan baik Tni maupun kalangan agama. Mantan TNI kemudian meresponnya dengan berencana membuat simpoium tandingan di awal Juni 2016 yang langsung di dukung oleh Menhan Ryamizard Ryacudu. Beda pendapat pejabat tinggi negara tak pelak membuat suasana semakin ksiruh ketika Presiden Jokowi setuju untuk dilakukan pembongkaran ‘kuburan massal’ anggota dan simpatisan PKI sementara Menhan menolak usulan tersebut. Namun belakangan Jokowi mengatakan belum punya rencana terkait permintaan maaf pada PKI dan PKI serta ajaran Komunisme masih terlarang.
Bahkan mantan TNI Kivlan Zen, disela acara Simposium Nasioan bertema “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain” di Balai Kartini 1 Juni 2016, mengatakan PKI justru sudah bangkit dan sudah membentuk struktur partai mulai tingkat pusat hingga daerah dengan telah mempersiapkan 15 juta pendukung dimana partai dipimpin oleh Wahyu Setiaji. Buktinya adanya brosur-brosur yang disebar dan penerbitan majalah Historika. Bahkan anggotanya sudah masuk ke Parlemen dan Partai Politik lainnya.
Namun secara terpisah Menkumham Yasona Laoly menganggap Kivlan Zen hanya mengarang cerita. Kalau benar ada pendukung sebanyak 15 juta, Laoly berharap Kivlan dapat menyerahkan datanya kepada pemerintah. Hal yang sama juga disebut Menkopulhukam Luhut Panjaitan bahwa sejauh ini tidak ada data dan informasi intelijen tentang kebangkitan PKI sebagaimana yang disebut oleh Kivlan Zen (kompas.com/tribunnews.com). Megawati bahkan menyatakan dengan tegas bahwa PDIP tidak terkait dengan PKI dan ajaran Komunisme.
Bahkan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki yang dituding Alfian Tanjung sebagai kader PKI dan kerap melakukan rapat di Istana Negara, telah melaporkan Alfian Tanjung ke Bareskrim Polri tanggal 30 Januari 2017 kemarin melalui kuasa hukumnya Ifdhal Kasim dengan tuduhan pencemaran nama baik. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nezar Patria yang juga turut dituduh kader PKI dan selalu mengadakan rapat PKI di Istana Negara.
Polisi kemudian aktif melakukan penyitaan buku dan atribut PKI, meski belakangan Presiden meminta meminta agar aparat memberikan kebebasan berpendapat. Lebih jauh Polisi kemudian menangkap pedagang kaos berlambang palu arit, malarang perayaan Hari Kebebasan Pers Internasional di kantor AJI Yogyakarta 3 Mei 2016 terkait dengan pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta”.
Berdasarkan kisruh itulah (2015-2016) kini ditengah-tengah masyarakat muncul sak-wasangka dan duga-dugaan kalau PKI akan bangkit kembali. Terlebih situasi dunia hari ini yang terus-menerus barada dalam ketidak pastian dimana paham Liberalisme yang menaunginya kian terpuruk dan selalu gagal dalam mengatasi masalah ekonomi politik dunia, jelas telah menimbulkan berbagai spekulasi akan munculnya sistem alternatif lain yang dapat menggantikannya. Alasan lain, sebagaimana disebut Kivlan, bisa saja Komunis muncul seiring dengan melemahnya peran negara dan menguatnya sentimen komunis dari eks-PKI.
Namun bagi para pengamat, meski Liberalisme kian terpuruk namun hal itu tidak lantas bisa dipersepsi bahwa Komunisme akan bangkit menggantikannya sebagai ideologi alternatif ataupun munculnya alternatif lain dari ideologi berbasis agama seperti ISIS ataupun lainnya. Hal yang sama juga dikatakan Wapres Jusup Kalla, ia menepis dan tak yakin kalau PKI atau Komunisme akan bangkit kembali di Indonesia. Alasannya, didunia secara idiologis Komunis dunia sudah ternbukti gagal di banyak negara. Bahkan negara Rusia, Eropa Timur, serta China sudah menerapkan menerapkan ekonomi pasar bebas dan demokrasi politik, yang jelas-jelas bertentangan dengan paham Komunis.
Terlebih dalam kasus Indonesia, pengalaman sejarah pemberontakan dan pengkhianatan PKI 1965 (G30S) dan sejumlah konflik horizontal antara PKI dengan kaum agama di berbagai daerah di Indonesia adalah pengalaman pedih dan merupakan hantu paling buruk yang pernah ada dalam sejarah bangsa yang mestinya dikubur dalam sehingga tidak terulang kembali. Atas dasar itulah sejumlah pihak kemudian membuat gerakan anti kebangkitan komunis di Indonesia dan aktif melakukan kampanye dan sosialisasi melalui berbagai media ketengah-tengah masyarakat saat ini.
Pemikiran Marx, Marxisme & Komunisme [i]
Komunisme atau Marxisme-Leninisme (ML) adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”. Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family ), namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal pada individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata.
Meski diseluruh dunia banyak salah tafsir yang kadang mencampur adukkan antara pemikiran Marx, Marxisme dan Komunisme, namun para akademisi menyatakan bahwa ketiganya pada dasarnya berbeda meski punya kesamaan. Pemikiran Marx dapat dilihat dalam berbagai tulisannya yang terkenal yaitu mulai dari yang The German Ideology (hanya memuat pemikiran yang oleh Marx dianggap betul dan defenitif) dan pada edisi raksasa Grundrise tahun 1859 yang diterbitkan 80 tahun kemudian. Oleh Engels (1820-1895) dan juga Karl Kautsky (1854-1938) atas persetujuan Marx, pemikiran Marx kemudian dibakukan menjadi “Marxisme” sebagai ajaran resmi Karl Marx.
Menurut George Lukacs apa yang ada dalam pemikiran Marx tidak persis sama dengan apa yang dibakukan oleh Engels dan Kautsky dalam “Marxisme”. Sebab apa yang termaktub dalam pemikiran jauh lebih banyak lagi. Bahkan dalam Grundrisse 1859 yang diterbitkan 80 tahun kemudian di Moskow, tulisan Marx cukup berbeda dengan apa yang dianggap resmi dalam “Marxisme”.
Marxisme sebagaimana yang ditulis oleh Engels & Kautsky dengan demikian dipandang sebagai ajaran resmi Marx. Marxisme itulah yang kemudian menjadi salah satu komponen dalam sistem ideologi resmi komunisme yang diperkenalkan oleh Lenin. Intinya Marxisme tidak sama dengan Komunisme. Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik partai-partai Komunis dimana sejak Revolusi Oktober 1917 dibawah Lenin menjadi kekuatan politik dan ideologi internasional. Lebih jelas Komunisme adalah ideologi resmi kaum komunis atau partai komunis yang juga disebut sebagai Marxisme-Leninisme. Komunisme sebelum dimonopoli oleh Lenin bermakna sebagai cita-cita utopis masyarakat, dimana segala hak milik pribadi dihapus dan semuanya dimiliki bersama.
Para akademisi menyarankan bahwa untuk memahami pemikiran Marx kita tidak bisa hanya bergantung pada ajaran “Marxisme” sebagaimana yang ditulis Engels melainkan mesti melihat perkembangan pemikiran Marx yang menyertainya. Semua ahli sepakat bahwa pemikiran Marx telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu sebagaima yang sering disebut sebagai Marx Muda (The German Ideologi terutama naskah-naskah Paris yang ditulis tahun 1843-1846 baik sendiri maupun bersama Engels) dan Marx Tua. Menurut Althusser corak pemikiran Marx Muda (pra 1846) adalah humanis, sementara corak pemikiran pasca 1846 Marx Tua adalah ilmiah. Meski menurut ahli lainnya antara pemikiran Marx Muda dan Tua sebetulnya adalah suatu kontinuitas.
Karl Marx bisa dikatakan pemikir yang kompleks sebab ia tidak hanya seorang filosof, sosiolog namun sekaligus ekonom dan juga tak ketinggalan sebagai ideolog-politik. Pada abad 19 pemikirannya tidak hanya telah merubah cara berfikir manusia mdoern melainkan juga cara bertindak. Pemikrian Marx tidak hanya tertinggal dalam wilayah teori melainkan juga menjemla menjadi ideologi yang mendasari perjuangan kekuatan sosial dan politik. Awalnya pemikiran Marx banyak menyumbang pada pemikiran yang filsofis namun belakangan pemikirannya turun ke ranah sosiologis dan menjadi teori perjuangan politik. Sedari awal Marx memang mengkritik para filosof yang hanya berfikir di atas tanpa mencecah wilayah realitas. Menurut Marx para philosof hanya pintar membuat berbagai macam intrepretasi tentang dunia padahal yang terpenting adalah mengubah dunia.
Pemikiran Marx yang sekaligus merupakan ajarannya yang belakangan disebut ‘Marxisme’ telah menyemangati sebagaian besar gerakan kaum buruh (kaum proletariat/kaum miskin) di seluruh dunia sejak akhir abad 19 maupun abad 20. Buah pemikirannyalah yang kemudian melahirkan api revolusi yang berujung pemberontakan dan pengambil alihan kekuasaan oleh kaum buruh maupun kaum tani dunia.
Pemikiran Karl MARX
Karl Heinrich Marx, Lahir setelah Perang Napoleon di Trier-Prusia 5 Mei 1818, wafat di London-Inggris 14 Mater 1883, usia 64 tahun. Menyelesaikan Doktor Filsafat 1841 di Bonn, Berlin dan Jena.
Karyanya meliputi bidang Filsafat, Ekonomi dan Sejarah/Politik dalam bentuk manuskrip, kumpulan surat, pamflet, dan sejumlah esai yang diterbitkan setelah dia wafat. Karyanya di bidang Filsafat: Perbedaan diantara Filsafat Alam Epicurus (disertasi doktor) 1844, Kritik Terhadap Hukum dan Filsafat Hegel 1843, Ekonomi dan Politik Manuskrip 1844, Pertanyaan Yahudi 1844, Kontribusi Pada Kritik Hak dan Filsafat Hegel 1844, Keluarga Suci: Kritik atas Kritik Kritis 1845 (bersama Engels), Tesis Fuerbach 1845, The German Ideology 1846 (bersama Engels), Kritik atas Proudhon La Misere de la Philosophie 1847. Karya bidang Sejarah & Politik: Manifesto Partai Komunis 1848 (sejarah, moral, ramalan, revolusioner), Perjuangan Kelas di Perancis 1848, Luis Bonaparte 1852, Sejarah Kerahasiaan Diplomatik 1856, Perang Indian Pertama atas Kemerdekaan 1857-1859, Polemik dengan Karl Vogt 1860, Perang Sipil di AS 1861-1866, Anggaran Dasar Gerakan Internasional I 1864, Perang Sipil di Perancis 1871, Kritik atas Program Gotha 1875. Karya di bidang Ekonomi: Upah, Buruh dan Modal 1849, Ekonomi Politik Pra Kapitalis 1857-1865, Kritik Ekonomi-Politik 1859, Teori Nilai Tambah 1861-1863 (Karl Kautsky edit), Upah, Harga dan Laba 1865, Das Kapital/Modal 1850-1866, Proses Produksi Kapitalis Vol.1,2,3, 1867.
Marx adalah pengagum filsafat Hegel meskipun dia sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan gagasan Hegel. Menurut Marx filsafat Hegel menarik manusia ke awang-awang, tidak menyentuh kenyataan kehidupan manusia sehari-hari. Marx meski awalnya berfikir filsafaati (Marx Muda) namun kemudian ia meninggalkan pemikiran spekulatif-kontemplatif tersebut kemudian mulai berfikir ilmiah, sosial dan manusiawi. Karyanya antara lain, di Bidang Filsafat: Manifesto Partai Komunis 184
Marx mengatakan yang ideal tidak lain adalah dunia material yang direfleksikan oleh jiwa manusia dan diterjemahkan dalam bentuk pemikiran. Bagi Marx, Hegel menarik filsafat kepada dunia langit-langit (angan-angan), sementara dia membumikan filsafat dalam kehidupan manusia yang nyata. Seribu pemikiran dari para filsafat tidak membawa perubahan apapun bagi manusia kecuali dipraktekkan dalam kehidupan nyata.
Marx adalah seorang rasionalis seperti Socrates dan Kant yang mempercayai akal manusia sebagai basis persatuan umat manusia. Namun Marx juga menyimpulkan bahwa opini kita selalu di determinasi oleh kepentingan kelas atau kepentingan ekonomi. Sementara Hegel mengatakan bahwa ide-ide manusia selalu di determinasi oleh kepentingan nasional dan tradisi.
Marx adalah pemikir yang melihat dengan jelas bahwa sejak era renaisans (kelahiran kembali) tahun 1500 yang sukses menyingkirkan dunia dogma dan agama menjadi dunia rasional, yang kemudian disambung era pencerahan/modern tahun 1700 dan kemudian memasuki era pasca pencerahan abad 19, dunia ternyata telah tumbuh secara menyimpang dari maksud awalnya yaitu membawa umat manusia ke arah kedamaian dan kemakmuran. Dunia abad 19 menurut Marx adalah dunia yang telah dirampas oleh kekuataan pemilik modal (orang kaya) yang mendapat kekuatan sejak munculnya teori kepemilikan (hk milik) sehingga semua orang berlomba-lomba secara tidak terkendali meraih semuanya untuk dimiliki. Inilah dunia yang dengan jualan demokratis/humanis namun kenyataannya bertindak anarkis
Persaingan antar kapitalis adalah suatu hal yang mutlak. Sebab hanya dengan persaingan harga akan bisa ditekan dan pembeli akan memperoleh harga yang murah. Hanya dengan besaing para pemodal bisa mendapatkan keuntungan secara lebih adil. Namun agar komoditi semurah mungkin maka tidak ada yang pantas untuk ditekan kecuali buruh/pekerja. Dalam perang kompetisi ini yang penting adalah akumulasi. Semua produk akan dijual massal/banyak sehingga harga murah dan akumulasi keuntungan di dapat. Pada akhirnya situasi ini akan melahirkan modal yang tersentralisasi pada satu tangan atau sedikit orang saja. Namun saat ini persaingan kapitalis tidak lagi pada produk atau harga yang murah tapi juga pada sumber bahan bakunya. Saat ini siapa yang menguasai sumber-sumber bahan baku ia akan memenangkan produksi dan keuntungan yang berlipat ganda.
Arah pemikiran Karl Marx berkembang setelah ia lulus dari sekolah gymnasium dimana situasi politik di Prussia saat itu sangat represif dimana penguasa Prusia telah menghapus kebebasan rakyat. Saat di universitas Berlin Marx segera terpesona oleh filsafat Hegel, dimana melalui Hegel ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan: bagaimana membebaskan manusia dari penindasan sistem politik reaksioner? Pemikirannya semakin berkembang setelah ia juga mengenal filsafat Feuerbach.
Marx memahami bahwa ciri reaksioner negara Prusia sebagai ungkapan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Saat di Paris Marx semakin yakin bahwa keterasingan paling dasar berlangsung dalam proses pekerjaan manusia. Sistem hak milik pribadi kapitalislah yang telah menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi. Dengan bekerjalah manusia mengasingkan dirinya, sebab sistem hak milik pribadi (kapitalis) telah memisahkan masyarakat dalam dua sisi yang berhadapan (kontradiksi) yaitu para pemilik yang berkuasa, dan para pekerja yang tereksploitasi. Manusia hanya dapat dibebaskan jika hak milik pribadi atas alat-alat produksi dihapuskan melaluio revolusi kaum buruh.
Marx mengklaim bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah yang tidak hanya di dorong oleh cita-cita moral, melainkan juga berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang hukum-huku perkembangan masyarakat. Pemikirannya yang sebelumnya filosofis kemudian berubah semakin sosiologis. Sosialisme ilmiah maksudnya bahwa sejarah manusia itu adalah berdasarkan hal yang materialistik (bukan seperti yang disebut Hegel berdasar hal yang immateri/absolut), yaitu suatu hukum dialektika yang berdasarkan ekonomi dimana kehidupan manusia adalah hasil dari kontradiksi/pertentangan antara kelas pemilik modal (alat produksi) dengan rakyat pekerja/proletariat. Dari kontradiksi inilah akan menghasilkan suatu bentuk masyarakat yang lebih tinggi yang tanpa kelas dimana kelas pemodal dengan kelas pekerja telah melebur menjadi masyarakat komunis.
Marx bernubuat/meramalkan bahwa sistem kapitalisme itu pasti akan hancur dengan sendirinya. Mengapa? Karena, capaian kapitalisme itu hanyalah mencapai keuntungan pribadi sebesar-besarnya yang hanya menghasilkan penghisapan/perbudakan manusia atas manusia lainnya, yang akan berdampak pada pertentangan antar kelas yang tajam. Produksi akan tinggi namun tidak dapat dibeli, padahal dibutuhkan oleh rakyat.
Pemikiran Marx dapat dibagi dalam 5 tahapan yaitu mulai dari : upaya pembebasan manusia (kaum miskin) dari sistem kapitalistik yang menindas, yaitu membebaskan manusia dari keterasingannya pada dirinya sendiri, dengan cara menghapuskan hak milik pribadi atas alat produksi melalui revolusi kaum buruh. Revolusi sosial (kaum buruh) akan melahirkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi, dimana pada masyarakat yang baru tersebut hak milik pribadi atas alat produksi akan dihapus yang sekaligus akan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas (Franz Magnis, 2003).
Filsafat Marx seperti filsafat eksistensialis lainnya adalah mewakili suatu protes menentang alineasi manusia, hilangnya jati diri manusia, dan perubahan manusia menjadi benda/komoditi, menentang dehumanisasi dan otomatisasi manusia akibat pengembangan industrilaisasi Barat.
Pemikiran Marx bersumber dari pemikiran besar manusia abad 19 yaitu bersumber dari filsafat klasik Jerman (Hegel/Fuerbach), ekonomi-politik Inggris (Smith/Ricardo), dan Sosialisme Perancis. Meski bersumber dari tiga pemikiran besar tersebut Marx bukan hendak melanjutkan atau mempertajam pemikiran mereka namun justru mengkoreksi, atau bahkan menentang pemikiran mereka.
Jika Hegel berpendapat bahwa jiwa lebih dahulu muncul baru kemudian materi, Marx justru sebaliknya, materialah yang membentuk jiwa. Atom materi yang sendiri maupun yang bergerak adalah unsur yang membentuk alam. Akal serta kesadaran manusia termasuk segala proses psikis merupakan mode materi dan dapat disederhanakan menjadi unsur fisik. Karena itu doktrin alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya melalui sains fisik. Dengan demikian, materi lebih dahulu ada sebelum jiwa, dan dunia material adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah yang kedua.
Sederhananya setiap kejadian/peristiwa dan kondisi merupakan akibat dari kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi sebelumnya. Semua realitas dengan demikian dapat dijelaskan melalui hukum-hukum fisik/sains, karena realitas itu adalah materi dan harus di jelaskan dengan frame materi juga. Materialisme meyakini bahwa kenyataan benar-benar ada secara objektif, tidak hanya ada dalam ide-ide kesadaran manusia. Materialisme dialektika menurut Marx adalah kesleuruhan proses perubahan yang terjadi secara terus menerus, yang memunculkan sesuatu keadaan akibat adanya pertentangan-pertentangan.
Kenyataanlah yang memunculkan kesadaran manusia, yang memunculkan pengetahuan sebagai salah satu bentuk kesadaran. Materi memunculkan ide, dan dunia objektif adalah bahan dasar bagi munculnya pengetahuan manusia. Tanpa materi, maka kesadaran manusia tidak akan terbentuk, dan tanpa bahan dasar, maka indera manusia tidak memperoleh apa-apa.
Prinsip-prinsip Komunis Modern menurut Marx adalah : penghapusan kepemilikan tanah dan penerapan sewa tanah bagi tujuan sosial, pengenaan pajak pendapatan yang bertingkat, penghapusan hak warisan, penarikan kekayaan seluruh imigran-penjahat-pemberontak, sentralisasi kredit oleh negara melalui bank nasional dengan modal dan monopoli eksklusif, sentralisasi alat komunikasi dan transportasi oleh negara, perluasan pabrik dan alat produksi yang dimiliki negara, menggarap dan meningkatkan hak guna tanah sesuai perencanaan umum.
Prinsip Sejarah Manusia menurut Marx : awalnya umat manusia hidup pada sistem Feudalisme dimana faktor produksi berupa tanah pertanian dikuasai tunan tanah dan mengalami kehancuran, umat manusia kemudian masuk pada sistem kapitalisme namun hak kepemilikan dan kerakusan akan membuat kekayaan terkonsentrasi pada pemilik modal dan akan menemui kehancuran secara otomatis, umat manusia kemudian masuk ke dalam sistem sosialis namun sisa-sisa kapitalisme masih terasa dan akan menemui kehancuran, hingga kemudian manusia masuk kepada sistem komunisme yang abadi, dimana manusia bekerja bukan karena dorongan uang dan materi.
Kritik Marx atas Kapitalisme: Sistem Kapitalisme akan melahirkan dua kelas masyarakat yaitu para pemilik alat produksi dan kaum buruh yang tidak memiliki alat produksi. Sistem Kapitalisme akan melahirkan Surplus Pengangguran karena munculnya teknologi/mesin menggantikan kerja manusia, munculnya tenaga kerja baru masuk ke pasar kerja, Terjadi Penurunan Laba karena modal digunakan untuk menambah mesin menggantikan manusia dan naiknya upah manusia, Krisis Kapitlisme akan terjadi sebab Kapitalisme merubah hukum barter yang berbasis nilai guna/tidak terjadi over produksi– menjadi sistem Kapitalis berbasis nilai tukar yang berakibat pada fluktuasi ekonomi, Konsentrasi Modal akan berada pada pemodal besar dan pemodal kecil akan mati kerna mekanisme persaingan sempurna, Kaum Miskin akan semakin sengsara secara absolut sebab pendapatan secara global akan turun (Adhens, 2010, Karl Marx dengan Segala Pemikriannya, Kompasiana)
Partai Komunis (Marxisme-Leninisme)
Pada pertengahan abad 19 Frederich Engels dan Marx membuat manifesto Komunis yang menjadi dokumen termasyur akhir tahun 1847. Dalam pembukaanya, dokumen tersebut memuat narasi tentang adanya hantu yang bergentayangan di Eropa yaitu hantu Komunisme. Tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Sebab abad 20 Komunisme benar-benar menjadi hantu yang menakutkan di berbagai negara. Komunisme secar cepat telah menjadi kekuatan politik yang dahsyat di dunia. Semua partai Komunis di dunia tidak yang absen dalam perebutan kekuasaan yang berdarah-darah tidak terkecuali di Indonesia (Franz Magnis, 2003).
Komunisme adalah paham/ajaran tentang kebersamaan atau kesatu-paduan sosial masyarakat tanpa ada perbedaan kelas berdasarakan kepemilikan. Paham Komunis berasal dari pemikiran Marx sebagai anti tesis dari Paham Kapitalis yang tumbuh dari pemikiran Adam Smith, David Ricardo, dll.
Marxisme kemudian diintrepretasikan lebih jauh oleh Lenin dalam bentuk yang lebih operasional dalam “Marxisme-Leninisme” sebagai ideologi resmi kaum komunis dunia. Adalah Vladimir Ilich Ulyanov (Lenin) penganut muda sosialisme mengadopsi Marxisme sebagai bagian integral dalam ideologi revolusioner menyeluruh sebuah gerakan yang akan menjadi sistem kekuasaan totaliter paling dahsyat yang dikenal umat manusia sampai sekarang. Lenin yang kemudian merubah pemikiran Marxisme menjadi ideologi perjuangan partai yang kemudian disebut sebagai ‘komunisme’, dan membawanya sebagai kekuasaan mondial melalui paham yang kemudian disebut ‘Marxisme Leninisme’.
Oleh Lenin partai-partai komunis dimanapun di dunia di dorong untuk merebut kekuasaan dari tangan penguasa borjuasi yang ditopang oleh sistem kapitalisme-liberal yang menghisap darah rakyat, dengan tujuan untuk mendirikan sistem kekuasaan komunis dibawah kontrol partai komunis secara tunggal. Di bawah kontrol partai komunis, kekuatan-kekuatan politik lain tentulah harus di hancurkan, begitu juga sub-sub sistem lainnya seperti sub-sistem politik mauoun ekonomi liberal, yang digantikan dengan sistem kekuasaan yang sentralistik.
Namun pada akhir abad 20 hantu Komunisme kelihatan mulai meredup. Setelah terjadinya kudeta gagal di Indonesia 1965, dan disusul kemenangan Komunis di Vietnam 1975, di Eropa Barat tepatnya di Italia, Partai Komunis Italia kemudian menyingkirkan idelogi Leninisme dan menggantinya dengan Euro-komunisme. Memasuki tahun 1980-an komunisme mulai ketinggalan zaman. Buku-buku Marx, Lenin dan Mao yang mendapat sambutan di tahun 60 dan 70-an kini mulai ditinggalkan dan digudangkan. Di Asia dan Afrika, kelompok suku, kedaerahan maupun keagamaan tampil menyingkirkan Komunisme sebagai ideologi perjuangan revolusioner. Mulai tahun 1989 satu demi satu rezim komunis di Eropa Timur runtuh, mulai dari Polandia, Bulgaria, Jerman Timur, Cekoslowakia, dan Rumania. Pakta Warsawa juga bubar dengan sendirinya. Bahkan tahun 1991 Uni Soviet bubar dan terpecah menjadi 14 Republik Independen. Praktis yang masih bertahan adalah di China, Kuba, Vietnam, Laos dan Korea Utara. Namun secara ekonomi, semuanya rezim komunis yang masih bertahan tersebut justru tak punya pilihan lain, selain tunduk dan masuk pada rezim perdagangan bebas.(BERSAMBUNG)
Penulis : Dadang Darmawan
Dosen FISIP USU
[i] Dikutip dari Franz Magnis Suseno, 2003, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialis Utopis ke Perselisihan Revisonisme











