Menggogo Nilai Luhur Hingga Zaman Pra-Hindu

MEDANHEADLINES – Dalam buku Filsafat Pancasila menurut Bung Karno (Soekarno, 2006) yang berisi materi penjelasan Bung Karno tentang Pancasila, dapatlah kita memahami jalan pikiran Bung Karno terkait berbagai hal yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Sebagai Presiden, Bung Karno tentu saja bukan Presiden yang “biasa”. Sebabnya, Bung Karno juga seorang ideolog. Ia-lah yang telah enggali nilai-nilai dasar Pancasila yang menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia dan sekaligus menjadi dasar negara. Bung Karno juga adalah seorang filosof sebagaimana ditulis dalam buku  kecil ini. Ia menjelaskan hakekat dasar nilai-nilai Pancasila yang merupakan refleksinya atas seluruh bacaannya terhadap situasi dan kondisi pekembangan umat manusia di muka bumi.

Terkait buku tersebut, dalam kesempatan ini salah satu topik yang menarik yang dikupas Bung Karno dalam buku tersebut yang akan diketengahkan, yaitu bagaimana upaya Bung Karno mendalami dan menggali nilai-nilai luhur yang hidup di tengah bangsa Nusantara hingga pada zaman Pra-Hindu. Bangsa Indonesia tentu saja tidak sebagaimana yang kita pahami saat ini, berjalan dengan nilai-nilai yang “cenderung asing”. Karena itu mungkin, atau ada pentingnya, kita memahami nilai-nilai luhur yang sejati milik kita sendiri, yang semestinya justru menjadi penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Berbagai Pertanyaan Seputar Pancasila

Beda pemikiran dalam penentuan nilai-nilai dasar Pancasila jelas tidak terelakkan. Bahkan, perbedaan masih muncul meski Pancasila telah disepakati sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Sebagian pandangan diantaranya ditujukan kepada Bung Karno maupun panitia penyusun Pancasila. Banyak pertanyaan muncul dari berbagai kalangan. Diantaranya ada yang bertanya:

Mengapa dasar negara kita Pancasila (lima dasar)?

Mengapa dasar negara kita tidak Islam? Bukankah Islam agama terbesar yang dianut masyarakat Indonesia? Kalau Bung Karno menggali nilai-nilai luhur itu dari peradaban Nusantara, bukankah semestinya Bung Karno akan menemukan Islam di kedalaman tersebut? Apakah saat menggalinya Bung Karno kurang begitu dalam sehingga hanya menemukan Pancasila bukan menemukan Islam?

Buat apa Pancasila padahal masih banyak kemiskinan dikalangan rakyat? Buat apa PancaSila padahal perikemanusiaan masih sering di langgar? Bukankah Sila Ketuhanan YME berwarna Budhisme (bukan Islam, bukan Kristen) Simpulannya, jelas dan nyata bahwa dasar negara kita Pancasila sudah diperdebatkan sejak orok.

Indonesia Pra-Hindu: Menggogo Nilai Luhur

Sejak awal Pancasila sudah menjadi ladang wacana dan perdebatan yang luas di berbagai kalangan menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Indonesia yang majemuk jelas menghasilkan beraneka pemikiran yang tak sama bahkan bertolak belakang. Latar belakang pengalamana pemimpin yang bertolak belakang jelas menjadi ‘keseruan’ tersendiri dalam diskusi dan pembahasan mengenai nilai dasar atau pandangan hidup suatu bangsa yang segera hendak dilahirkan. Para pendiri bangsa yang berasal dari latar liberalis, nasionalis, agamis, dan sosialis serta lokalis/komunalis memberi sumbangan pemikiran sesuai dengan pandangan dasar mereka masing-masing.

Meski perbedaan adalah realitas alamiah yang disadari oleh para pemimpin sata itu, namun perbedaan juga adalah jalan menuju tahap kedewasaan, upaya hidup bersama dan kesatuan pandangan. Pada hal yang mendasar (nilai dasar), sebetulnya manusia adalah sama. Para bijak bestari selalu mengingatkan bahwa perbedaan fisik tak perlulah ditonjolkan sebab perbedaan fisik adalah perbedaan yang sebetulnya artifisal/semu.

Bung Karno menyadari bahwa perbedaan pemikiran adalah realitas sosial ditengah bangsa kita. Pertanyaan seputar Pancasila wajar jika kerap muncul. Dalam buku ini Bung Karno menjelaskan berbagai pertanyaan yang muncul seputar Pancasila. Memang saatnya Pancasila dijelaskan kepada seluruh bangsa Indonesia yang berbeda-beda dalam suku, agama, dan daerah. Dalam berbagai kesempatan Bung Karno-pun menjelaskan panjang lebar jawaban atas pertanyaan tersebut.

Tentang penggalian nilai-nilai luhur yang mengesankan tidak terlalu dalam, Bung Karno menolak anggapan tersebut. Ia menolak jika tidak menggali nilai-nilai luhur secara mendalam dan sungguh-sungguh. Ia bahkan menjelaskan sudah menggogonya dengan sangat dalam sekali. Bung Karno menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia terbentuk dari peradaban yang berlapis-lapis. Indonesia adalah hasil dari peradaban yang menurutnya ber saf-saf, ada saf diatas saf lainnya. Setidaknya ada empat Saf yang pernah masuk dan datang mempengaruhi corak budaya masyarakat Nusantara.

Sebagai contoh, Saf pra-Hindu. Pada saat pra-Hindu bangsa Indonesia yang sekarang ini sudah berbangsa dan juga sudah berbudaya juga bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya saja agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira sebelum Hindu ada kita bangsa biadab. Bacalah penelitian Prof. Brandes yang mengatakan bahwa sebelum kedatangan orang Hindu ke Nusantara, bangsa Nusantara sudah mahir dalam sepulu hal, yaitu diantaranya : Tanam Padi, Sudah ada alfabet ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-lai, dan Wayang kulit (lakon semar, gareng, petrok, bagong, dawala, cepot).

Pada saat Saf Hindu masuk, pengaruhnya terasa dalam bidang politik dimana kita mengenal negara Taruna, negara Kalingga, negara Mataram kesatu, negara Sanjaya, negara Empu Sendok, negara Kutai, negara Sriwijaya, dll.

Kemudian datang Saf  lainnya yaitu Islam yang juga mempengaruhi politik kita dengan munculnya negara Demak Bintoro, negara Pajang, negara Mataram kedua, dst.

Kemudian datang lagi Saf Eropa atau Saf Imperialisme yang menghancur leburkan perekonomian kita. Bahkan kita menjadi masyarakat yang pinggiran.

Berdasarkan bacaan itulah Bung Karno kemudian menggogo sedalam-dalamnya sehingga menembus sampai ke Saf pra-Hindu. Di kedalaman Saf pra-Hindu itulah Bung Karno menemukan mutiara-mutiara kemuliaan yaitu Ketuhanan, Kebangsaan, Peri-kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat dan Keadilan Sosial. Inilah yang kemudian dipakai Bung Karno sebagai dasar statis dan leitstar dinamis. Diatas meja statis dan leitstar dinamis itulah seluruh rakyat Indonesia bisa bersatu padu.

Kita butuh pondasi nilai yang kokoh dalam mendirikan seluruh pilar kebangsaan kita diatasnya. Semua pembangunan yang kita lakukan apakah itu pembangunan fisik maupun mental, pembangunan jiwa maupun raga, hendaklan semua itu kita letakkan diatas pondasi ideologi yang kokoh yang tidak rubuh akan serangan ideologi-ideologi asing. Dengan maksud demikianlah Pancasila menurut Bung Karno kita letakkan. Pancasila sebagai pondasi yang statis, kokoh tak bergeser, meja statis!

Namun, memiliki pondasi yang kokoh saja tidak cukup. Karena kita membutuhkan arah, cita-cita, dan penuntun. Kearah mana kita akan bergerak, dan hasil akhir seperti apa yang sebetulnya ingin kita wujudkan terhadap bangsa Indonesia ini di masa yang akan datang? Untuk itulah kita membutuhkan penuntun, kita membutuhkan pedoman, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang visioner, kita membutuhkan cahaya sebagai penunjuk jalan. Kita tentu saja membutuhkan pemimpin yang Pancasilais yang dinamis, yang mampu membawa dan menuntun bangsa ini menuju suatu bangsa yang penuh dengan kedamaian dan kemakmuran.

Suatu bangsa yang makmur tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk seluruh bangsa-bangsa lain di muka bumi. Kita membutuhkan pemimpin bangsa yang bukan hanya memimpin bangsa Indonesia akan tetapi menjadi pemimpin dunia. Kita membutuhkan pemimpin yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi mercusuar dunia, menjadi penerang dan penunjuk jalan bagi bangsa-bangsa dunia. Kita membutuhkan pemimpin leitstar dinamis!

Dalam konteks inilah visi mondialnya Bung Karno terasa begitu jauh ke depan, melompat seolah ke dunia maya. Suatu visi yang jauh yang bahkan kadang tidak mampu tercerna oleh bangsanya sendiri. Tidak ada yang salah, tidak ada yang keliru tentu saja dengan visi Bung Karno. Yang salah adalah waktunya saja. Bung Karno yang visioner, memimpin dunia menuju perdamaian abadi dan kemakmuran, berada pada situasi dimana masyarakat kita belum memiliki cara pandang yang sama, belum memikirkan apa yang dipikirkan Bung Karno.

Namun, meski visi mondial tersebut belum pernah terealisir hingga saat ini, kita semua justru dapat menjadikannya sebagai motivasi dan tenaga gerak untuk mendorong semangat kita benar-benar memiliki visi mondial dalam rangka mewujudkan tatanan dunia yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Pancasila jelas kata Bung Karno bukan hanya kita persembahkan bagi bangsa Indonesia melainkan Pancasila kita persembahkan untuk dunia.

Semua orang bijak percaya bahwa pada nilai-nilai luhur semua pandangan manusia pada dasarnya sama. Pada kedalaman nilai yang bersifat bathiniah, semua perbedaan fisik, materiil, simbolik tidak lagi dipersoalkan. Meski berbeda-beda suku, bangsa, agama, warna kulit, budaya namun manusia pada dasarnya adalah mahluk Tuhan yang sama, mahluk yang satu, tanpa dibeda-bedakan. Dihadapan Tuhan semua manusia adalah bersaudara, hidup dalam kasih-sayang-Nya, hidup dalam gotong royong, saling membantu, sebagai wujud kepribadiaannya yang sejati dan budayanya yang sejati. Dan…semua nilai-nilai luhur itu, semua nilai-nilai ilahiah itu, kita syukuri, telah hidup dan berkembang sejak ribuan tahun silam, pada suatu zaman dimana ajaran Hindhu pun belum masuk ke Nusantara ini. apakah kita menyadarinya? Akankah kita mempraktekkannya?

Penulis : Dadang Darmawan, M.Si

Dosen FISIP USU

 

 

 

———

Sumber Pustaka:

Soekarno, 2006, Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno, Yogyakarta: Media Pressindo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.