MERENUNGKAN KEBHINNEKAAN & MENJADI INDONESIA (bagian -3)

MEDANHEADLINES –  Bagian -3
 Kembali ke Konsensus Menjadi Indonesia
“Sendainya situasi kita ini bagaikan kapal kertas yang berisi muatan kapas yang sedang berlayar di samudera lautan api, masihkah ada doa atau mantera yang bisa menyelamatkannya?”.
Jelas kini kita berada pada situasi yang tak mudah. Sebagai bangsa, kita sedang mendapati dua serangan “penyakit” sekaligus yaitu serangan dari dalam dan dari luar. Dari luar kita menghadapi kuatnya cengkeraman ideologi, politik dan ekonomi asing sementara saat yang sama kita sama sekali tak punya “ideologi” yang menjadi antibodi. Praktis semua tameng dan pertahanan kita telah bobol diserang penyakit yang mematikan. Budaya adiluhung sebagai tameng kita, kini sudah sirna di telan zaman.
Boro-boro mau bersatu, kita bahkan tak tau bagaimana proses bersatu itu. Sebagai bangsa Indonesia, kita justru tak tau bagaimana merasakan “menjadi Indonesia” itu. Ki Hadjar Dewantara mengatakan, “kehidupan kebangsaan kita pada zaman ini, ialah zaman Indonesia, kita mulai mempersatukan rakyat dari segala kepulauan. Ini berarti ‘kebudayaan Indonesia’ belum ada, belum bisa ada. Kebudayaan itu tidak bisa dibuat, akan tetapi terjadi, terjadinya tidak tergesa-gesa atau sekonyong-konyong, tetapi tumbuh seperti tumbuhnya segala benda yang hidup, yakni berangsur-angsur lambat laun, dengan jalan evolusi, bukan revolusi”.
Menjadi Indonesia itu kata Ki Hadjar Dewantara bukan kerjaan semalam, dua malam, setahun dua tahun, atau bahkan sepuluh tahun. Kita tak bisa protes-protes selama sepuluh tahun, lalu terbentuk ke-Indonesiaan. Menjadi Indonesia mestinya kita mulai dengan mempersatukan rakyat dari segala kepulauan. Artinya, ‘kebudayaan Indonesia’ belum ada, belum bisa ada. Kebudayaan itu tidak bisa dibuat, akan tetapi terjadi, terjadinya tidak tergesa-gesa atau sekonyong-konyong, tetapi tumbuh seperti tumbuhnya segala benda yang hidup, yakni berangsur-angsur lambat laun, dengan jalan evolusi, bukan revolusi.
Kebudayaan (menjadi Indonesia) dengan demikian adalah suatu proses sosial yang mesti disiram, dirawat, dipagari dari intervensi budaya asing, dijaga dari hama-hama global dan terus-menerus dipupuk oleh keluhuran dan kebijaksanaan hingga akhirnya menghasilkan buahnya yang lezat. Hanya dengan melakukan hal yang demikian kita bisa menjadi Indonesia. Apakah kita sudah melakukannya? Jelas belum. Globalisasi jelas menjadi faktor utama yang telah mengubah identitas kita sebagai bangsa.
Pancasila tentu saja bisa tetap dijadikan pegangan teguh di era globalisasi, agar kita tidak kehilangan arah. Namun, pemahaman kita tentang identitas, mestilah terus digali lebih dalam. Kita perlu melihat diri kita tidak hanya sebagai warga negara Indonesia, namun juga sebagai warga dunia, dan bahkan warga semesta. Identitas global dan kosmik inilah yang kiranya tepat untuk direnungkan di era globalisasi sekarang ini.
Apa yang dimaksud dengan identitas global kosmik ini? Ini adalah kesadaran mendasar, bahwa kita bukanlah semata bagian dari identitas sosial, tetapi juga merupakan bahagian dari alam semesta ini. Kesadaran kosmik ini mestinya ada, jauh sebelum semua identitas sosial yang diberikan oleh masyarakat ada. Mestinya kita sadar sebagai “aku”, sebelum “aku” menyebut diriku orang Indonesia, atau orang Jawa, atau Muslim, Kristen dan sebagainya? Siapakah “aku” sebetulnya, sebelum itu semua? Sebelum semua identitas yang dilabeli manusia ada, kita sebetulnya adalah warga alam semesta.
Kebhinnekaan (perbedaan) yang melekat dalam diri kita sesungguhnya telah menjadi sekat dan ancaman bagi kita sendiri. Sejak pra-merdeka, merdeka, hingga pasca-merdeka, perbedaan telah menjadi ancaman yang tidak pernah ada habisnya. Sebabnya, kita memang tidak pernah menanamkan benih bersaudara, bersatu dalam kesadaran kita selaku bangsa Indonesia. Kita tidak pernah memaknai Pancasila yang mestinya menjadi identitas kita bersama.
Anehnya kita bahkan “menghindar” dengan Pancasila yang kita miliki saat ini. Dengan sadar kita ‘menggantung’ Pancasila hanya sebatas hiasan dan simbol belaka didinding rumah. Kita justru lebih senang menanamkan nilai-nilai asing yang jauh dari “keagungan” dan adiluhung yang merupakan milik kita. Begitu gagap dan gugup-nya kita menempatkan Pancasila sebagai suatu geloof (ideologi) bagi kita bersama.
Padahal Pancasila sebagai suatu ideologi/kepercayaan/“geloof” bagi bangsa Indonesia nilainya justru melampaui kepentingan akan militer bahkan melampaui kepentingan akan makanan sekalipun.
Dalam satu kesempatan, seorang murid kon futsu pernah bertanya kepadanya, “Guru..apakah syarat suatu bangsa menjadi kuat?. Kon futsu menjawab, “Syaratnya ada tiga yaitu tentara yang kuat, makanan dan pakaian yang cukup, dan kepercayaan (iman/geloof). Murid bertanya lagi, “Guru, kalau dari ketiganya harus ada satu yang dibuang, manakah yang dibuang terlebih dahulu?”. Kon futsu menjawab, “yang boleh ditinggalkan terlebih dahulu adalah tentara yang kuat”. Murid bertanya lagi, “Guru, kalau dari keduanya harus ada satu yang dibuang, yang manakah akan dibuang?”. Kon futsu menjawab, “makanan dan pakaian yang cukup bisa ditinggalkan”.
Dengan cerita itu Bung Karno mengatakan, kalau makanan kita kurang dan pakaian kita seadanya tak apa-apa, asalkan syarat yang ketiga geloof (ideologi) tak dapat ditanggalkan. Sebab ideologi itulah ruh yang menghidupi kita selaku bangsa. Hanya dengan itu kita menghidupi jiwa kita dan menjadi bangsa yang diberkati dan dirahmati Tuhan. A nation without faith can not stand. Bung Karno melanjutkan bahwa suatu bangsa tanpa keyakinan (belief, geloof, iman) tidak akan bisa berdiri melainkan bangsa itu pasti akan rubuh. Artinya, “makanan bathiniah” kita jauh lebih penting ketimbang “makanan fisik” kita.
Para bijak bestari bersuara sayup membisikkan, bahwa tidak saatnya hari ini kita melihat diri kita sebatas kepentingan pribadi, materi, fisik serta inderawi semata. Bahkan, tidak saatnya kita berfikir tentang kepentingan keluarga atau juga kepentingan suatu bangsa. Sudah saatnya kita kembali berpikir secara ekologis berfikir akan kesatuan diri kita dengan alam semesta. Hendaklah kita menyadari, bahwa kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta, beserta segala isinya. Kita tidak lagi melihat diri kita semata sebagai bagian dari masyarakat ataupun lingkungan sosial kita. Kalau itu bisa atau mau kita lakukan, maka moralitas yang berpijak pada keterbukaan alamiah terhadap segala sesuatu pun akan terbentuk.
Kita akan hidup dengan tolok ukur moral yang mengalir alami secara deras dari kesadaran kita, dan bukan dari perintah-perintah moral semata. Moralitas semacam ini akan bersifat ajeg. Ia tidak akan mudah berubah, karena digerakkan oleh perubahan sosial yang memang terus terjadi. Moralitas alami yang lahir dari kesadaran akan identitas global kosmik inilah yang kiranya pas untuk digunakan di dalam era globalisasi sekarang ini.
Untuk keperluan politis, Pancasila tetap bisa menjadi dasar yang kokoh. Namun, pada dirinya sendiri, ini tidaklah cukup. Identitas Pancasila harus juga berpijak pada sesuatu yang lebih dalam, yakni kesadaran global kosmik yang nantinya melahirkan kesadaran ekologis. Rekonsiliasi di dalam proses globalisasi baru bisa sungguh terjadi, ketika mayoritas orang hidup dengan menggunakan cara pandang ini.
Penulis : Dadang Dermawan
Dosen FISIP USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.