META ANALISIS UANG

MEDANHEADLINES – Pemerintah melalui Bank Indonesia baru saja meluncurkan 11 uang pecahan baru tanggal 19 Desember 2016 dengan desain dan gaya baru serta pengamanan yang lebih tinggi. Namun entah kenapa banyak respon yang negatif dan kontroversial terkait peluncuran itu. Ada yang kritik terhadap desain, pilihan pahlawan yang muncul, lambang palu arit, hingga pahlawan yang tak berjilbab. Mungkin ini sudah masuk waktunya, dimana semua hal tak luput dari sorotan, bisa saja positif meski bisa juga negatif. Namun uang adalah uang, ia begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Ada baiknya kita melihat sisi dalam dari uang ketimbang melulu berdebat pada sisi fisik dan luarnya saja.

Awalnya

Awalnya semua manusia bekerja untuk memperoleh makan. Karena itu manusia bekerja memburu, nangkap ikan, mencari dedaunan dan lain sebagainya. Namun lambat laun manusia berkembang biak yang diikuti dengan perkembangan rasionya. Pendeknya manusia tak lagi bisa mencukupi kebutuhan akan makannya di alam. Sebab alam pun ternyata sudah dikapling dan ada pemiliknya. Kini manusia mesti bekerja pada manusia lainnya dan kini manusia tidak lagi diberi makanan sebagai upah hasil kerjanya melainkan melalui uang. Sehingga manusia kini hanya mencari uang untuk memenuhi segala kebutuhannya yang tidak lagi terbatas pada kebutuhan makan saja.

Pada situasi (era modern) inilah para pemodal kemudian dengan sengaja menciptakan berbagai komoditi yang sifatnya sekunder maupun tersier (lux) yang sebetulnya sama sekali tidak dibutuhkan manusia. Komoditi-komoditi tersier inilah yang kemudian diperkenalkan atau diiklankan seolah-olah dia menjadi kebutuhan utama. Disinilah keberhasilan para pemodal merubah cara pandang manusia modern dengan cara memberhalakan komoditi sebagai wujud tercapainya kebahagiaan yang hakiki (John Raines, 2003: 191-197).

Untuk menyempurnakannya para pemodal kemudian memperkenalkan konsep kepemilikan. Dimana manusia untuk memperoleh kebahagiaannya memliki hak untuk memiliki secara individu semua jenis komoditi yang dia inginkan. Asalkan, dalam rangka memiliki semua komoditi itu manusia memiliki uang sebagai alat tukarnya. Artinya mereka yang memproduksi seluruh komoditi di muka bumi ini hanya menginginkan memperoleh uang sebagai imbalan dari komoditi yang mereka jual.

Kondisi inilah yang menjadi penanda bahwa manusia sudah mengalami kerusakan mental yang parah sejak diperkenalkan dan digunakannya konsep kepemilikan dalam kehidupan manusia juga diperkenalkannya konsep uang kertas sebagai alat tukar. Keduanya akhirnya menjadi mucikari yang kemudian menuntun manusia memperoleh kebahagiaannya untuk meraih segala hal yang dia butuh dan inginkan.

Fetisisme Uang

Sudah lama para orang bijak mengingatkan tentang bahaya uang, baik uang kertas maupun logam. Meski banyak orang yang mengusulkan kembali pada uang logam (emas-perak) yang lebih stabil dan tak terpengaruh inflasi namun secara prinsip para filosof mengatakan itupun masih mengundang masalah jika tak berhati-hati menggunakannya. Yang pasti uang kertas sebagai alat tukar saat ini telah membuat masalah yang luar biasa besar.

Dimana masalah uang kertas? Masalah uang kertas kata Marx ada pada nilainya. Kita bisa membayangkan kesamaan dari seekor kambing dengan satu unit televisi, dengan 50 buku, dengan seperangkat mas kawin. Ternyata, dihadapan uang ketiganya meski berbeda bentuk dan fungsinya namun harganya sama (sebesar 2 juta rupiah!).

Harga/nilai itulah yang kemudian telah melampuai atau mengatasi semua perbedaan-perbedaan yang tampak jelas dari berbagai komoditas tersebut. Harga/nilai dengan demikian adalah sesuatu yang gaib sebab ia mampu mengatasi semua perbedaan benda/barang/komoditi. Nilai atau harga komoditas itulah sebagai kenyataan supra-empiris yang disebut oleh Marx sebagai fetis atau sifat berhala.

Ke Maha Kuasaan Uang

Uang secara perlahan akhirnya memiliki sifat yang khas yaitu sifat universalitasnya yang menjadi basis kemahakuasaan uang sehingga uang dianggap mahluk yang paling berkuasa. Uang jelas telah menjadi penunjuk jalan kebutuhan manusia dengan objek/sasaran yang dia inginkan, antara kehidupan dengan sarana hidupnya.

Kekuasaan manusia tentu saja ditentukan sejauh kepemilikan uang yang dia miliki. Sifat-sifat uang menjadi sifat-sifat manusia. Karena itu kualitas dan kemampuan manusia tidak ditentukan oleh kualitas dan kemampuan dirinya yang sejati. Meski rupaku jelak, tubuhku pendek, rambutku lepek tapi aku bisa membeli untuk diriku wanita cantik. Karena itu aku tidak jelek, sebab efek jelek telah dibatalkan oleh uang sebagai kekuasaan penangkalnya.

Begitu juga, aku jahat, tidak jujur, tidak bermoral, goblok tetapi dengan uang yang kumiliki mereka menghormati uang ku dan sekaligus menghormati diriku. Jadi uang itu adalah kebaikan tertinggi, sehingga pemiliknya adalah orang baik. Uang juga telah menyelematkan diriku dari ketidak jujuran, karenanya aku dianggap jujur. Begitu juga orang yang dungu, tapi karena memiliki banya uang, maka masihkah ada orang berani menganggap sipemiliknya dungu?

Dan dengan uang semua orang dungu mampu membeli orang-orang berbakat, orang pintar, untuk dirinya. Sehingga orang yang berkuasa atas orang berbakat, tidaklah lebih berbakat daripada orang yang berbakat itu. Dengan demikian atas segala rahmat dan berkat dari uang yang maha kuasa maka manusia mampu memiliki segala yang dihasratkannya, memiliki semua kapasitas manusia unggulan dan mengubah segala ketidak mampuan manusia menjadi kebalikannya.

Karena uang itu kini menjadi tali pengikat diriku dengan kehidupan manusia, mengikat masyarakat padaku, mengikat aku dengan alam dan manusia, maka uang adalah menjadi tali pengikat segala ikatan. Uang dengan demikian bisa memutus dan mengikat semua ikatan. Tidaklah berlebihan jika uang menjadi agen perceraian universal. Uang adalah agen perceraian sekaligus agen pengikat yang sejatinya sebagai kekuataan (unsur) kimiawi masyarakat.

Uang Sebagai Tuhan & Pelacur

Shakespeare secara khusus mengatakan bahwa uang adalah Tuhan yang dapat dilihat. Uang bisa mentransformasi (memindahkan/menggeser) semua sifat manusia dan alam menjadi kebalikannya, mencampur-adukkan dan menjungkirbalikkan seluruh benda-benda secara universal. Intinya uang menyatukan berbagai kemustahilan.

Uang juga adalah pelacur universal, mucikari seluruh orang dan bangsa, menjungkirbalikkan dan mengutuk semua kualitas manusia dan alam, menyatukan berbagai kemustahilan. Ketuhanan uang terletak pada wataknya sebagai sifat spesies manusia yang terasing dalam menjalani alienasi dan mengatur diri. Uang adalah kemampuan umat manusia yang teralienasi.

Segala hal yang tidak mampu dilakukan manusia karena ketidak mampuan daya individual manusia yang esensial dapat diubah dan dilakukan dengan uang. Artinya uang (Tuhan) mampu memberikan daya kekuatan yang dahsyat kepada manusia yang lemah dan tak berdaya dan mengubahnya menjadi kebalikannya. Seorang manusia tua bangka yang menginginkan masakan lezat yang berada ditempat yang jauh yang tak mungkin dijangkaunya, maka dengan uang ia bisa menciptakan kenderaan/pesawat untuk mengantarkannya ke negeri yang jauh itu dan membeli sekaligus menikmati makanan tersebut.

Artinya uang mampu merubah keinginan manusia dari dunia imajinasi, menerjemahkannya dari eksistensi yang semula direnungkan, dibayangkan, atau diinginkan menjadi eksistensi aktual/indrawi. Dalam melaksanakan mediasi ini uang adalah daya kreatif yang sesungguhnya. Tanpa uang untuk melakukan perjalanan maka aku tidak memiliki kebutuhan (tidak punya kebutuhan nyata atau menyatakan diri) untuk melakukan perjalanan.

Jika kita butuh sekolah tapi tak ada uang artinya ya tidak ada kesempatan. Sebaliknya, jika aku tak ada kesempatan sekolah, tapi uang ada dan kemauan ada, maka aku punya kesempatan. Jadi uang adalah sarana kekuatan eksternal diluar manusia untuk mengubah suatu bayangan menjadi kenyataan dan mengubah kenyataan menjadi sekedar bayangan. Uang bisa mengubah manusia nyata dan kenyataan alam menjadi ketidak sempurnaan dan bayangan yang menyiksa. Sebaliknya uang mengubah kekuatan yang impoten yang eksis di imajinasi menjadi kemampuan nyata.

Jelaslah bahwa uang merupakan pembalikan umum individualitas2 yang mengubah mereka menjadi kebalikan dan atribut-atribut mereka menjadi atribut berlawanan. Uang menjadi pembalik dalam hubungannya dengan individu lain maupun dalam hubungan dengan ikatan sosial. Uang mengubah kesetiaan menjadi penghianatan, cinta menjadi benci, kebajikan menjadi kejahatan, pelayan menjadi tuan, tua menjadi pelayana, ketololan menjadi kepandaian dan kepandaian menjadi ketololan.

Semuanya, karena sifat uang yang memiliki nilai sebagai senyawa yang mampu mencampur dan menukar segala kualitas alamiah dan manusiawi. Jadi uang hanya bisa menghadirkan kenyataan dunia objektif manusia dan alam dari titik pandang pemiliknya semata, namun bukan menukar yang hakiki (orang yang dapat membeli keberanian adalah berani, meskipun ia sejatinya pengecut, pengecutnya tidak hilang, tapi orang menjadi takut padanya).

Uang dalam dunia kapitalisme menjadi penguasa, menjadi sutradara, memediasi kehidupan manusia dengan manusia dan alam sehingga uang menjadi sesembahan (fetis) dimana setiap manusia menyembahnya sebagai kekuataan paling berkuasa dalam hidup kita.

Penutup

Orang bijak mengatakan, dihadapan uang semua agama manusia sama. Dihadapan uang, semua orang takluk, lunglai tak berdaya. Dihadapan uang, semua orang bekerja siang malam dan berdoa serta menangis serius untuk mendapatkannya. Kalau uang sudah membuat manusia takluk, tak berkutuk dan tak berdaya, masihkah kita mempersoalkan bentuk, gambar, dan ukuran serta pernak-pernik fisiknya? Mulailah kita berfikir dan menganalisis yang lebih ‘meta’ tidak sekedar berfikir yang tampak, fisik dan permukaan belaka.

Penulis : Dadang Darmawan, M.Si

Dosen FISIP USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.