Timnas Indonesia, Italia dan Angka 2

MEDANHEADLINES – Tanggal 17 Desember 2016  bisa jadi hari yang bersejarah bagi persepakbolaan Indonesia. Bukan ditingkatan dunia atau asia memang, namun hanya ditingkatan Asia Tenggara. Ya, Indonesia akan menatap final leg ke-2 Piala AFF 2016 yang akan dilaksanakan di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand. Menantang raksasa Asia Tenggara saat ini, Indonesia dihadapkan pada jalan terjal yang sedikit demi sedikit sudah berhasil ditempuh.

Tidak seperti Piala AFF sebelumnya yang selalu dianggap sebagai unggulan, Indonesia saat ini datang dengan kondisi yang seadanya. Konflik berkepanjangan antara Pemerintah dan PSSI membuat persepakbolaan Indonesia diskorsing oleh FIFA. Dengan keadaan yang mati suri, kompetisi yang tidak resmi, persiapan seadanya, Indonesia harus rela dianggap tim “pengembira” di Piala AFF ini. Namun dengan segala dinamika yang terjadi, skuad garuda justru tampil spartan. Final adalah ganjaran yang didapat Timnas Indonesia dari aksi tak kenal lelah yang dilalui.

Namun persiapan yang compang camping memang bukan jaminan bagi sebuah timnas sepakbola tampil melempem dalam sebuah turnamen. Timnas Sepakbola Italia bisa dijadikan contoh nyata sebuah kesuksesan yang dilatarbelakangi oleh sebuah persiapan pas-pasan. Pecinta sepakbola jaman dulu , khususnya tifosi Italia pasti ingat pencapaian heroik Italia saat menjuarai Piala Dunia tahun 1982. Pada tahun tersebut Sepakbola Italia diguncang kasus judi totonero. Beberapa pemain dihukum karena terbukti menjadi “pemain” dalam kasus tersebut, termasuk sosok familiar bagi rakyat Italia saat itu, Paulo Rossi. Namun diakhir cerita, justru Italia berhasil menjadi Juara Dunia setelah mengandaskan Jerman Barat dengan skor 3-1. Dan yang lebih fenomenal lagi, si “terhukum”, Rossi, menjadi bintang dalam turnamen tersebut dengan menasbihkan diri menjadi topscore turnamen.

Selanjutnya adalah saat Italia Piala Dunia 2006. Pasti belum terlupakan insiden kontroversi Zinedine Zidane saat menanduk Marco Materazzi di Final 2006. Sebuah insiden yang pada akhirnya “membantu” Italia menjadi juara dunia setelah menang dibabak tos-tosan dengan Prancis. Namun tidak bisa dilupakan, Italia menghadapi turnamen paling bergensi didunia tersebut juga dengan masalah. Bagaimana tidak, “raja” disepakbola Italia, Juventus, dihukum terdegradasi ke Serie B karena terbukti bersalah melakukan pengaturan skors atau lebih dikenal dengan skandal calciopoli. Bahkan bukan hanya Juventus, klub besar lainnya seperti Inter Milan, AC Milan, Lazio, Fiorentina sampai Reggina juga divonis bersalah. Skandal besar tersebut membuat berbagai pihak menyebut Italia akan menjadi bulan-bulanan dalam Piala Dunia 2006.

Namun pada akhirnya Italia membungkam suara sumbang dari para kritikus. Melalui kejelian si “kakek”, Marcelo Lippi, Italia melibas satu persatu lawan-lawannya. Bahkan Italia juga menjadi tim dengan pertahanan yang terkokoh dalam turnamen, setelah hanya kebobolan 2 gol diwaktu normal. Pada akhirnya seperti kita ketahui, Italia menjadi juara dengan kondisi seadanya untuk kedua kalinya (total Italia menjadi juara dunia empat kali).

Tentunya kita semua berharap, semangat Italia bisa menjadi motivasi tambahan bagi Timnas kita untuk berprestasi meski diawali persiapan yang seadanya. Bahkan Italia berhasil merebut juara 2 kali dengan kondisi demikian. Ingat, 2 kali.

Bicara angka 2, Indonesia juga mempunyai sesuatu yang menarik yang berkenaan dengan angka 2 di Piala AFF 2016 ini. Yang senantiasi mengikuti perjalanan Timnas Indonesia pasti tau benar bagaimana Indonesia selalu mencetak 2 gol dalam setiap pertandingan selama Piala AFF ini. Namun selain itu, sebenarnya ada beberapa fakta menarik lainnya seputar angka 2 bagi Indonesia.

Sejauh ini Indonesia tercatat 2 kali mencatat hasil seri diwaktu normal pertandingan, yaitu melawan Filipina dan Vietnam. Menariknya skor saat itu identik, yaitu 2-2. Selanjutnya Indonesia hanya berhasil menciptakan 2 gol dibabak pertama selama turnamen. Dan 2 gol yang masing-masing dicetak melawan Filipina dan Vietnam tersebut , secara kebetulan dicetak oleh ke-2 palang pintu pertahanan Indonesia, Fachruddin dan Hansamu. Dan keperkasaan Indonesia sesungguhnya terlihat dari 10 gol yang diciptkan Indonesia dibabak ke-2.

Tidak hanya sampai disitu, jika melihat daftar pencetak gol Indonesia, ada 2 orang pemain yang telah menciptakan 2 gol bagi Indonesia. Disisi skorsing, sampai sejauh ini ada 2 pemain yang sudah pernah mendapat akumulasi kartu kuning, Fachruddin dan Yanto Basna, yang keduanya juga merupakan pemain belakang.

Dari sisi kepelatihan, final kali ini adalah yang ke-2 bagi Opa Alfried Riedl bersama timnas Indonesia. Sebelumnya Riedl membawa Indonesia sampai ke final 2010. Sayang saat itu Indonesia dikalahkan Malaysia dan harus puas duduk di tempat ke-2. Riedl juga mengubah kebiasaannya memakai Wolfgang Pikal sebagai asisten tunggalnya. Kali ini Riedl juga dibantu oleh Hans-Peter Schaller sebagai asisten pelatih 2.

Dimasa persiapan, angka 2 kerap Indentik dengan Indonesia kali ini. Indonesia hanya mengalami 2 kali kekalahan dari sembilan laga setelah lepas dari sanksi FIFA. Selain itu Opa Riedl sempat dibuat kepayahan oleh kebijakan pembatasan pemanggilan pemain dari setiap klub yang hanya boleh 2 pemain. Riedl juga terpaksa memanggil 2 pemain “dadakan” untuk mengganti rekannya yang cedera didetik-detik akhir persiapan, yaitu Teja Paku Alam untuk menggantikan Dian Agus Prasetio dan Lerby Eliandri Pong yang menggatikan Irfan Bachdim.

Jika kita menganggap semua kemiripan yang menyambangi Indonesia di Piala AFF 2016 adalah sebuah kebetulan, tentu sangat luar biasa kebetulan yang “menimpa” Indonesia. Mulai dari kesamaan “nasib” Indonesia dengan Italia sampai kebetulan angka-2 yang menjadi tuah bagi Indonesia. Tentunya kita berharap semua kemiripan dan kebetulan tersebut mampu mengantarkan Indonesia kepuncak tertinggi untuk (sejenak) melupakan sekelumit persoalan bangsa ini. Karena kita sudah terlalu lama bangsa ini hanya menyajikan tontonan politik dagelan dari para elit-elit negeri. Kali ini sepertinya bisa kita melupakan sejenak hal tersebut dan bersatu untuk mendukung Garuda terbang tinggi dilangit Asia Tenggara.

Indonesia Pasti Bisa…!!!

 

Penulis : IIL Askar Mondza

Alumnus FISIP USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.