FINAL AFF 2016: “90 Menit Melupakan Pro dan Kontra”

MEDANHEADLINES – Sabtu 17 Desember 2016 Timnas Indonesia akan berhadapan dengan Thailand di babak Final Leg ke II Piala AFF. Sebagai warga Negara Indonesia dan seratus persen pengamal Pancasila, siapa tak menginginkan Indonesia keluar sebagai Juara? Bila ada, patut dipertanyakan dimana kampung halamannya. Jangan-jangan ia lahir di emperan Kota Bangkok dan punya garis kerabat dengan Teerasil Dangda, striker Thailand.

Perjalanan Timnas Indonesia hingga partai puncak memang terjal dan mencemaskan. Tak jauh beda seperti situasi perpolitikan di Negara ini. Di partai pembuka penyisihan grup, Indonesia lebih dulu di gebuk Thailand dengan skor 4-2. Menghadapi Filipina di pertandingan kedua, Indonesia yang sempat unggul 2-1 Justru harus kecolongan dimenit akhir. Alhasil skor 2-2 harus diterima dengan lapang dada. Untung di pertandingan ke tiga, kita berhasil mengalahkan Singapura dengan skor 2-1. Pertandingan sempat mendebarkan karena Timnas lebih dulu tertinggal 1-0 di babak pertama.

Dibabak Semi Final juga demikian. Meski di Leg pertama berhasil menang 2-1 kontra Vietnam, di Leg kedua Timnas di paksa bertarung hingga babak extra time untuk memastikan lolos ke babak final. Pola permainan saat melawat ke Hanoi sungguh membuat dada supporter Indonesia kembang kempis. Ditambah lagi teriakan-teriakan komentator yang abusurd dan meledak-ledak, membuat jantung terkadang mau copot. Namun sekali lagi Indonesia keluar dari lubang jarum dengan berhasil lolos ke Babak Final.

Keberhasilan Indonesia melaju hingga babak Final sedikitnya membuat saya senang dalam dua hal. Pertama, sepanjang hidup sejak dekade 90-an saya belum pernah menyaksikan Timnas (senior) Indonesia meraih juara dalam turnamen sepak bola bergengsi. Yang ada cuma mengebrak diawal namun kemudian kandas di babak Final. Masih terbayang 2 kekalahan atas Thailand di AFF 2000 dan 2002, Singapura di AFF 2004 dan Malaysia di AFF 2010. Dengan melangkah ke partai puncak, peluang menyaksikan Indonesia juara kembali terbuka lebar.

Kedua, Final AFF setidaknya mengurangi wacana-wacana provokatif seputar nista-menista, kafir-mengkafirkan, merasa paling toleran dan paling paham soal kebhinekaan. Seminimalnya dinding facebook dan berita televisi sekarang diselingi soal Timnas Indonesia yang siap berlaga merebut gelar juara. Ya, meskipun masih ada juga sebagian manusia kurang kerjaan yang mempersoalkan Kapten Timnas Indonesia (Boaz Solossa) bukan beragama Islam. Tapi yakinlah itu hanya bahan lelucon yang tidak ada hubunganya dengan prestasi. Jika ada, barangkali Arab Saudi sudah jadi juara Piala Dunia belasan kali.

Harus diakui, beberapa bulan belakangan Indonesia sedang dilanda wabah pro dan kontra begitu sengit. Situasi ini tercermin dari perang wacana di media sosial setiap pagi, setiap hari. Mencari “meme” soal Ahok atau FPI jauh lebih mudah dari mencari penjual lontong pagi. Perdebatan antar pihak boleh dikata sampai pada level memuakkan. Selain saling mengklaim pemilik kebenaran,perdebatan tersebut juga tidak mampu mengubah (atau setidaknya)memperbaiki  keterpurukan bangsa di segala lini. Tetap saja korupsi merajalela, ekonomi ambruk merata, dan konflik agraria tumbuh dimana-mana. Akh,, menjengkelkan.

Semoga saja euphoria Final Piala AFF mampu mempersatukan bangsa Indonesia untuk satu suara. Setidaknya 90 menit melupakan kalau teman sebelah anda adalah pendukung Ahok garis keras atau mungkin jamaah taat Habib Rizieq. Toh kita sama-sama berteriak dan berjingkrak gembira saat Hansamu Yama menceploskan gol penentu kemenangan kegawang Thailand pada Final Leg pertama. Sebuah bukti, ternyata kita masih satu Indonesia.

 

Penulis : Amin Multazam

Alumnus Antropologi Fisip USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.