Merawat Multikulturalisme Sumatera Utara

MEDANHEADLINES, – Kondisi masyarakat yang sangat plural baik dari aspek suku, ras, agama, serta status sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan dinamika dalam masyarakat. Dalam kondisi masyarakat tersebut di atas, termasuk di Indonesia, wacana tentang pendidikan multikultural menjadi penting untuk membekali peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan karena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Sama halnya dengan kondisi masyarakat di Sumatera Utara yang multikultural.

Kondisi masyarakat yang sangat plural serta multikultural baik dari aspek suku, ras, agama, serta status sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan dinamika dalam masyarakat Sumatera Utara. Sumatera Utara sebagai propinsi  yang memiliki komposisi masyarakat yang sangat beragam baik dari keberagaman suku, agama, adat bahkan ragam kekayaan makanan khas. Keberagaman di Sumatera Utara menjadi sesuatu yang sangat menarik karena pengaruh akulturasi budaya dari berbagai etnik yang mendiami masing masing di 33 Kabupaten/Kota , seperti yang diantaranya adalah suku Melayu, Jawa, Karo, Toba, Simalungun, Minang, Pakpak, Tionghoa, Tamil dan lain sebagainya.

Tiap-tiap suku disebutkan membawa budaya masing-masing yang menjadikan Sumatera Utara sebagai propinsi keberagaman yang begitu unik. Selain suku, agama yang ada di Kota Medan juga beraneka ragam mulai dari agama resmi seperti Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Buddha, Hindu dan Khonghucu hingga aliran kepercayaan baik yang bersifat lokal maupun tidak ada di Kota Medan yaitu Parmalim, Sikh, Baha’i, Ahmadiyah, Ugoma bangso Batak, dan lain sebagainya.

Merawat multikulturalisme merupakan pedoman esensial untuk proses pembangunan bangsa. Hal ini disebabkan pembangunan merupakan agenda seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Oleh karena itu, mutlak diperlukan iklim saling mempercayai antar seluruh warga Manakala iklim ini tidak dipelihara dengan baik maka perjalanan pembangunan bangsa dengan sendirinya akan jalan di tempat dan berjalan secara sia-sia. Terwujudnya kondusifitas dan kerukunan masyarakat Sumatera Utara merupakan salah satu persyaratan bagi percepatan pembangunan, itulah sebabnya pemerintah bersama majelis-majelis agama secara sungguh-sungguh membina dan mengembangkan kerukunan hidup umat beragama untuk merawat multkulturalisme. Menyikapi masyarakat yang pluralis di Sumatera Utara, dialog merupakan sangat penting dan krusial dilakukan terutama dalam membangun kerukunan umat beragama dalam system trilogi kerukunan umat beragama, dan juga dalam percepatan pembangunan nasional dan lokal yang modern, madani, dan religious.

Banyak hal menarik yang penting digarisbawahi dari sejarah interaksi sosial antar umat beragama di Sumatera Utara. Persentuhan bermacam etnis dan agama selama puluhan tahun telah membuahkan beragam pola adaptasi, akomodasi, akulturasi, dan asimilasi. Interaksi ini menjadi semakin menarik karena etnis pendatang dengan etnis setempat memiliki dinamika tersendiri.

Secara teoritis adanya ancaman baik yang bersifat fisik maupun non-fisik yang datang dari luar suatu komunitas yang heterogen akan mengurangi sikap etnosentris atau etnoreligius pada masing-masing komunitas yang berbeda. Dalam konteks kehidupan sosial di Sumatera Utara, dan juga di daerah-daerah lain di Indonesia, masyarakat harus dapat mengidentifikasi kelompok orang tertentu yang dengan sengaja melakukan tindakan provokasi terhadap masyarakat dengan tujuan untuk menimbulkan sikap saling mencurigai, memancing sikap permusuhan, dan menciptakan keresehan sosial.

Sebahagian masyarakat, terutama dari lapisan grassroots, mungkin bisa terpancing dengan tindakan ini, tapi tidak pada lapisan pemuka agama dan tokoh masyarakat. Sebaliknya, dengan kesadaran akan adanya musuh bersama tersebut, para pemuka antaragama dan tokoh masyarakat secara lebih intens melakukan kegiatan kegiatan antisipatif seperti dialog, diskusi, seminar, dan temu ramah. Tentuanya masyarakat Sumatera Utara tidak menginginkan aksi pembakaran rumah ibadah yang di provokasi oleh okum tertentu yang terjadi di Tanjung Balai beberapa waktu yang lalu atau ujaran kebencian yang di provokasi di Sosial Media untuk memancing kemarahan suatu kelompok keagamaan dan etnisitas tertentu.

Sistem kekerabatan sebagai kearifan lokal (Local Wisdom) pada etnis di Sumatera Utara yakni yang termasuk pada rumpun Batak, antara lain dalihan natolu (Batak Toba, Batak Angkola, Mandailing), daliken sitelu (Karo),sulang silima (Pakpak), dan tolu sahundulan lima saudoraan (Simalungun) telah mengikat komunitas etnis tersebut pada aspek sosial kemasyarakatan di Sumatera Utara hingga melampaui perbedaan agama sebagai sistem nilai yang mungkin dapat menjadi pemicu konflik. Oleh sebabab itu merawat Multikulturalisme dalam keberagamaan dan perbedaan di Sumatera Utara menjadi sesuatu hal yang penting guna transformasi nilai-nilai yang datangnya dari umat beragama dan masyarakat yang multi entnis guna mewujudkan sikap saling tolerasi, saling menghargai, menghormati dalam kebhinekaan Indonesia untuk mewujudkan pembangunan bangsa yang adil dan beradab. Rholand Muary

 

Penulis : Rholand Muary

Mahasiswa Magister Sosiologi USU/ Pengurus Institut Kajian Sosiologi Indonesia (IKSI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.