Aksi Massa: "Antara Drama, Hobi Baru dan Tan Malaka"

MEDANHEADLINES – Belum habis cerita Aksi Bela Islam tanggal 2 Desember 2016 (212) yang memasuki episode ke tiga, masyarakat Indonesia kembali disuguhkan tayangan kelas wahid. Kali ini namanya aksi “Kita Indonesia”. Ya, deretan aksi-aksi ini semacam tidak mau kalah dari Sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang alur ceritanya panjang, berliku serta tak tentu kapan berkesudahan.
Kembali ke cerita aksi, karena berlangsung tanggal 4 Desember kemarin, aksi ini lantas dikenal sebagai aksi 412. Apa bedanya dengan 212? Selain tidak ada hubungan dengan Wiro Sableng, 412 disebut-sebut sebagai aksi tandingan yang isinya diorganisir oleh beberapa elemen organisasi (termasuk partai politik) pengusung Ahok. Jika 212 hampir keseluruhan massanya diisi oleh umat islam (homogen) yang menuntut tangkap Ahok, aksi 412 justru mengusung keberagaman dan perbedaan (heterogen) sebagai pilar utama. Semacam mau bilang bahwa Indonesia bukan milik satu kelompok saja.
Sebelum terlalu jauh, dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas mana aksi yang paling paten, keren atau mana pula aksi yang paling hebat. Sebab itu persoalan sensitif yang tidak bisa lepas dari perspektif masing-masing. Pilih aksi 212 ya monggo, 412 ya silahkan. Mau diam atau pilih jadi komentator juga boleh. Bagi saya, yang menarik untuk ditelaah adalah persoalan munculnya hobi baru di kalangan masyarakat Indonesia, baik ulama, aktor politik, atau elemen organisasi lainnya. Hobi itu bernama Aksi Massa dengan kuantitas super. Tidak ada yang salah dengan hobi tersebut, bahkan cenderung baik. Hitung-hitung senam revolusi, kata seorang senior. Namun apakah semua Massa Aksi paham apa sebenarnya Aksi Massa?
Coba tanyakan pada bocah –bocah (kalau boleh disebut cabe-cabean) yang tertangkap kamera memegang bendera hijau hitam (bendera HmI) pada aksi “Kita Indonesia” tanggal 4 Desember 2016. Pernahkah mereka setidaknya membaca tulisan Tan Malaka soal aksi massa? Bahkan saya ragu mereka mengenal nama ini.
Dalam buku berjudul Aksi Massa yang ditulis tahun 1926, Tan Malaka membuka kisah melalui ikhtisar riwayat Indonesia. Selanjutnya ia panjang lebar menjelaskan soal pemerasan dan penindasan imprialisme, Kapitalisme Indonesia, keadaan rakyat baik dalam konteks sosial politik maupun budaya, hingga soal revolusi. Sebelum berbicara soal Aksi Massa, Tan Malaka dengan jeli menggambarkan kondisi rakyat dan bagaimana cara mengatasinya.
Ia menyinggung soal ‘putch’. Ya, “Putch” adalah segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan itu bisanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa peduli perasaan dan kesanggupan massa. Singkatnya, tanpa memperhitungkan lebih dulu apakah saat untuk aksi massa sudah matang atau belum. Sayangnya, Aksi Massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch, seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan sekalipun.
Oleh sebab itu Tan Malaka berpesan bahwa Aksi Massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka. Itu disebabkan oleh kemelaratan yang besar (krisis ekonomi dan politik) dan siap bilamana mungkin berubah menjadi kekerasan. Aksi Massa  membutuhkan pemimpin yang revolusioner, cerdas, tangkas, sabar dan cepat menghitung kejadian yang akan datang, serta waspada akan situasi politik. Selanjutnya, ia harus mengetahui tabiat massa, mampu bersemboyan yang menyemangatkan rakyat sehingga mengubah “kemauan massa” menjadi “tindakan massa”.
Memang, Aksi Massa dalam benak Tan Malaka kurang tepat dibandingkan dengan Aksi 212 maupun 412. Tan Malaka bicara panjang lebar dalam konteks revolusi, mengubah tatanan, mencapai kemenangan dengan cara menumbangkan kekuasaan yang menindas (Era Pra Kemerdekaan). Sedangkan dalam aksi massa belakangan ini, sekedar tuntutan “Tangkap Ahok Si Penista Islam” atau teriakan “Menjaga Keberagaman Indonesia”. Menyinggung soal kekuasaan saja (barangkali) tidak dilakukan. Bisa-bisa pihak kepolisian bertindak cepat dan menjebloskan kedalam penjara atas tuduhan Makar. Lagian terlalu lebay kalau ingin menumbangkan rezim ditengah cara konstitusional (pemilu) yang masih relevan.
Jika Aksi 212 dan 412 tidak sesuai dengan standarisasi Tan Malaka soal Aksi Massa, lantas apa kategorisasi yang pas untuk menyebut kumpulan ratusan bahkan jutaan orang tersebut? Di alinea pertama tulisan ini sih saya membandingkan dengan sinetron tukang Bubur Naik Haji. Bukan berniat mengejek, apalagi sok paten. Bukan, sama sekali bukan. Aksi Massa adalah hak setiap warga Negara yang di lindungi oleh konstitusi.
Hanya sudah kadung bosan dengan berbagai sandiwara politik belakangan ini. Kemarin saling memaki, besok saling berbagi. Bulan lalu digulingkan, Bulan depan di pilih kembali. Disisi lain rakyat kecil terus digusur, tanah petani dirampas, ekonomi ambruk merata dan korupsi merajalela. Wajar Ada ketakutan besar (semoga saya salah) bahwa aksi-aksi tersebut juga bagian dari sandiwara politik para elit.
penulis : M.Amin Multazam
Alumnus Antropologi FISIP USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.