MENJADI MAHASISWA

MEDANHEADLINES, – Apa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang mahasiswa? Pertanyaan ini mengandaikan adanya satu konsep tentang mahasiswa. Untuk menjawabnya perlu diketahui lebih dahulu apa itu mahasiswa. Setelah itu dapat diketahui apa peranannya dan bagaimana sebaiknya mereka berlaku.

Mahasiswa secara harafiah adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, entah di universitas, institut atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi otomatis dapat disebut sebagai mahasiswa. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Untuk memahami apa itu mahasiswa secara menyeluruh, kita perlu melihat jauh ke masa tradisi pendidikan tinggi dimulai.

Sejarah

Sebuah zaman yang dapat dikatakan sebagai awal dari tradisi akademis adalah masa Yunani Kuno, tepatnya masa ketika filsafat mulai berkembang. Tokoh utama yang perlu kita sebut di sini adalah Socrates, Plato dan Aristoteles.

Socrates adalah filsuf Yunani Kuno yang memulai pembicaraan tentang pendidikan. Ia menegaskan bahwa pendidikan tentang pengetahuan dan moral perlu diajarkan kepada anak-cucu kita. Socrates menegaskan Manusia harus mencapai jiwa yang baik agar dapat hidup bahagia. Jiwa yang baik adalah jiwa yang berpengetahuan. Mencapai jiwa yang berpengetahuan inilah yang merupakan tujuan pendidikan.

Salah seorang muridnya,plato kemudian mempelopori Akademia, sebuah cikal-bakal sekolah yang terletak di sebuah taman yang bernama Akademos. Akademia adalah tempat Plato beserta murid-muridnya berkumpul membicarakan berbagai permasalahan hidup. Pembicaraan mereka mencakup bidang yang luas, dari masalah jiwa hingga negara, dari masalah pengetahuan sampai seni. Pemikiran Plato tentang pendidikan pun diajarkan di Akademia. Plato melihat pendidikan sebagai sarana yang penting untuk dapat menghasilkan manusia-manusia yang mengenal pengetahuan.

Dari academia inilah muncul Salah satu murid Plato yaitu Aristoteles , seorang filsuf yang tak kalah besar dibanding Plato. Aristoteles dapat dibilang sebagai pelopor ilmu pengetahuan empiris dan logika. Ia pun memandang penting peran pendidikan. Salah satu jasanya adalah mendirikan Lyceum, sebuah sekolah yang juga jadi cikal bakal perguruan tinggi. Di Lyceum diajarkan berbagai hal yang dianggap sebagai keutamaan manusia. Bagi Aristoteles, selain sebagai makhluk rasional, manusia juga adalah makhluk sosial. Seorang manusia dikatakan utuh jika ia dapat memenuhi fungsinya sebagai makhluk rasional yang penuh refleksi serta berpengetahuan dan sekaligus aktif memberi sumbangan yang berharga bagi masyarakatnya. Setelah melewati kebekuan di masa kekuasaan Romawi dan sebagian besar Abad Pertengahan, kebangkitan pendidikan terjadi di masa renaissance. Zaman Renaissance adalah zaman yang ditandai oleh semakin leluasanya pengungkapan daya manusia secara menyeluruh, tanpa terlalu menghiraukan berbagai tabu yang tadinya secara a priori (tanpa dasar empirik) menjadi pembatas terhadap perkembangan alam pemikiran manusia. Berbagai pandangan baru dan ide perbaikan ini mengarahkan Eropa ke Zaman Modern yang sarat dengan perbaikan dan kemajuan yang pesat dalam banyak bidang.

Dari sekilas sejarah perkembangan pemikiran manusia terutama tentang pendidikan dan peran perguruan tinggi, kita melihat bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban manusia.

Peran  mahasiswa

Sejak masa Socrates,hingga para pemikir abad ke-20, terlihat peran orang-orang hasil didikan perguruan tinggi. Peran mencolok yang jelas-jelas tertangkap adalah peran pembaharu. Orang-orang yang berasal dari universitas banyak melakukan pembaruan di banyak bidang kehidupan.

Peran pembaharu yang kelak akan dijalankan oleh mahasiswa ketika ia terjun ke masyarakat menuntut mahasiswa untuk melatih dirinya sebagai pembaharu. Ia dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap berbagai hal yang membutuhkan pembaruan dan perbaikan di berbagai bidang. Kepekaan itu harus dilatih sejak awal ia masuk ke perguruan tinggi.

Peran mahasiswa sebagai calon pembaharu berkaitan erat dengan perannya sebagai calon cendekiawan. Sebagai calon cendekiawan, mahasiswa harus melatih kepekaannya sedemikian rupa sehingga pada saat terjun ke masyarakat ia siap menjalankan perannya sebagai cendekiawan. Kelak, sebagai seorang cendekiawan ia dituntut menyumbangkan pemikiran untuk melakukan berbagai perbaikan. Mengutip Julien Benda (1927), kaum cendekiawan adalah mereka yang berperan sebagai pihak yang memberi petunjuk dan memberi pimpinan kepada perkembangan hidup kemasyarakatan, dan bukannya,.malahan menyerahkan diri kepada golongan yang berkuasa yang memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing.”

Selain sebagai calon pembaharu dan cendekiawan, mahasiswa juga nantinya diharapkan akan menjadi penyangga keberlangsungan hidup masyarakatnya. Setelah lulus mahasiswa dituntut untuk terus meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat. Ia dituntut untuk dapat mengaplikasikan ilmunya agar menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi orang banyak.

Sehingga dapat dinyatakan definisi mahasiswa adalah sebagai: calon pembaharu, calon cendekiawan dan calon penyangga keberlangsungan hidup masyarakat. Nantinya mahasiswa diharapkan menjadi pembaharu, cendekiawan, dan penyangga keberlangsungan hidup masyarakat. Tiga hal itu menjadi tujuan yang akan dicapai oleh mahasiswa melalui perguruan tinggi merupakan dasar bagi penentuan kualitas-kualitas apa yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa. Tujuan-tujuan itu juga menjadi dasar pertimbangan bagi penentuan kegiatan-kegiatan apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh mahasiswa.

Untuk mencapai peranan mahasiswa itu ada tiga hal penting yang harus dilakukan,yaitu  keterbukaan pikiran,  kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas.

Keterbukaan berfikir

Berpikir adalah kegiatan mental yang dilakukan manusia untuk mengolah informasi, baik yang diperoleh dari lingkungan maupun yang sudah ada dalam benak.sementara . Informasi adalah segala sesuatu yang dapat dipersepsi oleh manusia.

Dari definisi tentang berpikir tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir harus selalu melibatkan informasi. Tanpa informasi, manusia tidak dapat berpikir. Semakin banyak informasi, semakin lancar kegiatan berpikir. Implikasinya, semakin manusia mampu menyerap informasi, semakin ia mampu berpikir dengan baik. Kemampuan menyerap informasi mensyaratkan adanya keterbukaan dalam benak (pikiran) manusia,lalu Apa jadinya kalau pikiran tidak terbuka?jika  pikiran tidak terbuka, manusia masih dapat berpikir, namun kegiatan berpikirnya lebih menyerupai kegiatan instingtif pada hewan. Kegiatan berpikir yang dilakukannya cuma sekedar pengulangan dari yang sudah dilakukan olehnya dan nenek-moyangnya. Dengan berpikir macam ini manusia lebih mungkin mengalami banyak kecelakaan. Dengan berpikir yang hanya mengandalkan insting, manusia tidak tahu bagaimana menemukan cara baru untuk menghindari bencana, mencegah terjadinya kecelakaan dan menangani akibat kecelakaan.

Mahasiswa sebagai calon pembaharu, calon cendekiawan dan penopang hidup masyarakat membutuhkan kualitas keterbukaan pikiran agar dapat membuka diri ke berbagai hal baru. Untuk dapat melakukan pembaruan, seseorang harus mampu melihat berbagai hal yang berbeda dengan kondisi yang ada saat ini. Ia harus dapat membuka dirinya terhadap berbagai kemungkinan.

kemampuan berpikir kritis.

Setiap saat seorang mahasiswa selalu berhadapan dengan informasi, baik dari buku, hasil observasi, media massa, iklan, juga dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sebagai calon pembaharu dan cendikiawan, mahasiswa harus melatih kemampuannya menimbang informasi secara cermat agar saat terjun ke masyarakat ia dapat memberikan masukan-masukan yang tepat dan membantu masyarakatnya terhindar dari kerugian akibat kesalahan menggunakan informasi.

Bagaimana caranya menghindari kerugian atau kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan informasi? Moore dan Parker (1986) mengemukakan satu cara, yaitu dengan berpikir kritis. Menurut mereka, berpikir kritis memperbesar kemungkinan manusia memperoleh informasi yang benar. Informasi yang benar sangat membantu manusia mengambil tindakan yang tepat.

Dengan melakukan pertimbangan yang hati-hati dan cermat sebelum memberi putusan atau judgement, seseorang bisa terhindar dari penggunaan informasi yang menyesatkan (Moore & Parker, 1986).

Inti dari berpikir kritis adalah tidak begitu saja menerima apa yang ada. Seorang yang berpikir kritis akan menanggapi secara hati-hati informasi-informasi yang diperolehnya. Sebelum ia mengambil keputusan tentang sebuah informasi, ia terlebih dahulu menimbang-nimbang informasi itu dengan cermat, sistematis dan memanfaatkan informasi-informasi tambahan yang mungkin ia peroleh.

Seperti seorang ilmuwan, seorang mahasiswa yang berpikir kritis menyelidiki asumsi yang melandasi keputusan, kepercayaan (belief), dan tindakan mereka. Ketika dihadapkan dengan ide-ide baru atau argumen yang persuasif, mereka mengevaluasinya secara hati-hati, memeriksa konsistensi logika yang digunakan,Orang yang berpikir kritis tidak begitu saja menerima solusi dan pernyataan absolut yang muncul. Mereka skeptis terhadap jawaban sederhana untuk problem yang kompleks. Alih-alih menerima jawaban yang tersedia mendadak atau petuah umum yang sudah klise, mereka lebih mengembangkan cara alternatif dalam memahami situasi dan mengambil tindakan.

Kemampuan Kreativitas

Sebagai calon pembaharu, mahasiswa harus memiliki kemampuan kreatif. Secara umum kreativitas dibutuhkan untuk menciptakan hal-hal baru yang menjawab permasalahan dan pemenuhan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. Pada awalnya adalah adanya kesenjangan antara yang diinginkan dengan kenyataan yang ada. Dengan kata lain, ada kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh apa yang ada. Kesenjangan antara kebutuhan dengan alat pemenuh kebutuhan ini menuntut seseorang untuk mengurangi bahkan menghapus kesenjangan itu dengan menciptakan produk-produk baru. Produk-produk baru itu diharapkan kemudian dapat memenuhi kebutuhan.

Selain produknya yang baru, cara-cara produksi, teknik dan metode yang digunakan juga dituntut untuk diperbaharui. Hal ini berkaitan erat dengan efisiensi dan tingkat produktivitas kerja. Dengan adanya cara, teknik dan metode baru yang lebih baik diharapkan biaya dapat menjadi lebih murah, penggunaan bahan baku lebih sedikit untuk hasil yang lebih baik, dan penggunaan sumber daya alam lebih hemat.

Penemuan-penemuan hal baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah tugas pembaharu yang nantinya akan disandang oleh mahasiswa. Di sini menjadi jelas bahwa mahasiswa membutuhkan kreativitas agar nantinya mampu menjadi pembaharu dan mampu memberi arah kepada masyarakat ke jalan yang lebih sejahtera..

Sebuah Catatan singkat

Catatan penting yang harus diketahui adalah menjadi mahasiswa lebih jauh dari sekedar terdaftar dan belajar di perguruan tinggi. Mahasiswa yang diharapkan akan menjadi pelopor bagi kemajuan dan penopang keberlangsung hidup masyarakatnya, memerlukan jauh lebih dari sekedar kuliah di kelas dan menghafal apa yang dikatakan dosen. Sejak awal seorang mahasiswa harus membiasakan diri berkutat dengan berbagai persoalan dalam masyarakat sebab persoalan-persoalan itu nantinya akan jadi persoalannya. Menjadi mahasiswa berarti menjadi orang yang terlibat dalam persoalan-persoalan masyarakatnya.

Dengan dijelaskannya apa itu mahasiswa, apa peranannya dan kualitas-kualitas apakah yang perlu dicapai olehnya, maka kita dapat lebih mudah menentukan kegiatan-kegiatan apa saja yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa

Penulis : Putra Septian Pratama

KABID PTKP HMI KOMISARIAT FISIP USU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.