MEDANHEADLINES, – Masih saja suram dan kelam narasi kehidupan berbangsa kita. Ekspresi pikiran, sikap dan perilaku para pemimpin diruang publik masih saja menunjukkan dua pola negatif yang tegas, kalau tak ‘terjajah’ sebaliknya ‘menjajah’. Dalam hal terjajah, lihat saja statement warga dunia maya yang kerap menunjukkan antipati akan takluknya kita dihadapan tuan-tuan asing. Sudah penyakit ‘bawaan’ badan jika kita selalu ciut dan tunduk dihadapan sang tuan. Selama puluh tahun kita senang meski menjadi mandor sang tuan.
Namun, melihat perilaku kita yang cenderung destruksi agaknya status kita telah berubah, hanya sekedar kuli pecok dan budak upahan saja. Buktinya, kita sudah tak punya daya menyangkut kontrak-kontrak pertambangan dan industri strategis, malah senang hanya ‘minta uang jajan’ (ingat kasus papa minta saham). Kita tak tau mau buat apa ketika Panglima TNI teriak-teriak di berbagai daerah akan ancaman dan intervensi asing baik Timur (China), Barat (Amerika) maupun Timur Tengah (Teroris). Terakhir kita juga bingung saat bendera negara Asing berkibar di kampung kita sendiri. Mungkin ini yang dimaksud Nandy bahwa penjajah telah berhasil ‘mengosongkan’ pikiran siterjajah. Kita bingung ternyata memang tidak ada apa-apanya dalam pikiran kita.
Dalam hal menjajah, lihat saja perilaku pemimpin terhadap rakyatnya. Praktek dominasi-subordinasi dalam hubungan pemimpin dengan rakyat justru lestari. Pemerintah dan jejaringnya terus mendominasi berbagai wacana politik, ekonomi, sosial, hukum tanpa memberi ruang yang lebih terbuka bagi masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Terakhir pemerintah mulai buat kebijakan mengontrol suara-suara rakyat dan memberi tafsir linier-asimetrik terkait masalah-masalah hukum yang sedang berproses.
‘Terjajah’ dan ‘Menjajah’ ternyata adalah dua narasi utama yang menunjukkan perilaku negatif pada negara-negara yang pernah menikmati buruknya perlakuan kolonial/penjajah. Pengaruh kolonial yang pada ranah kejiwaan diperkirakan tidak berakhir ketika kita merdeka. Kini kita bertanya, benarkah pengaruh kolonialisme masih melekat dalam kepribadian pemimpin kita? Adakah upaya yang lebih serius untuk keluar dari jerat kolonialisme? Para teoritisi di Asia Selatan belakangan muncul untuk memperjelas dampak buruk kolonialisme dan mencari jalan untuk keluar dari hegemoni penjajah yang terus menghantui milyaran rakyat jajahan. Berikut pemikiran mereka yang dikenal dengan teori poskolonial yang kita pinjam dalam menjelaskan apa yang terjadi dengan kita saat ini.
Pasca & Dampak Kolonial
Pasca PD II, pergaulan bangsa-bangsa dunia memasuki babak baru yang menandai adanya hubungan yang lebih sejajar antara negara kolonial dengan koloni-koloni mereka. Negara-negara di Asia, Afrika dan Latin Amerika menyambut histeris kemerdekaan mereka dari para penjajah. Banyak orang merayakan kemerdekaan dengan berbagai retorika dan euforia yang menandakan kebebasan dan kemandirian. Tidak sedikit juga yang merasa yakin dan berharap pada arsitektur dunia baru ini akan dapat membawa perubahan yang signifikan diatas reruntuhan fisik kolonialisme.
Namun bagi Albert Memmi seorang revolusioner Tunisia tidak demikian. Memmi mengatakan bahwa negara penjajah sudah memperlakukan negara terjajah dengan semua kekuatannya yang melumpuhkan yang kerusakannya telah menghancurkan tidak hanya pondasi ekonomi dan politik melainkan juga jiwanya. Penjajahan seperti takdir abadi, suatu hasil yang sangat aneh dan sangat tidak adil namun nyata (Edward Said 1989:207). Dampak kolonial ternyata tidak terputus penjajahan mereka telah berakhir. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk memutuskan hubungan dengan tradisi masa lalu dan memunculkan cara-cara kehidupan dan pemikiran yang baru sama sekali.
Pemutusan itu penting sebagai jalan untuk melupakan dan merepresi masa lalu sehingga tidak terulang dan dapat melewatinya. Diskontinuitas tentu saja sangat penting sekaligus rentan terhadap residu-residu berbahaya dari peninggalan penjajah (Lyotard 1992:90). Memori-memori yang merupakan residu berbahaya dan cenderung terlupakan inilah, yang kemudian menjadi fokus teori poskolonial. Dengan kata lain dampak kolonial memerlukan sebuah teori amelioratif dan theraupetic yang responsif terhadap tugas mengingat dan mengenang masa lalu kolonial. Lyotard menggambarkan adanya prosedur psikoanalitik dari an-amnesis, atau analisis yang mendorong ‘kita’ mengungkap persoalan saat ini dengan mengaitkannya dengan detil-detil pelbagai masalah masa lalu sehingga kita mmapu mengungkapkan makna-makna tersembunyi dalam kehidupan dan perilaku kita. Dalam mengadopsi prosedur itulah teori poskolonial ini menceburkan dirinya dalam proyek ‘pemulihan’ historis dan psikologis yang kompleks. Tidak hanya secara teori namun secara politik upaya ini akan memaksa setiap orang untuk membantu subjek-subjek poskolonialitas hidup untuk maju dan swapemahaman. Tidak kita pungkiri bagi bangsa yang terjajah sudah terbentuk perasaan permusuhan kepada bangsa sipenjajah.
Para analis mengingatkan bahwa perlu pemahaman yang lebih kompleks mengenai mekanisme kekuasaan. Kritikus Benita Perry mengatakan bahwa kekuasaan melintasi perbedaan yang tidak kita perhitungkan. Disatu sisi kekuasaan menggunakan pemaksaan (coersion) namun disisi lain justru menggoda (seduction), disatu sisi pamer kuasa dan keras namun disisi lain sebagai agen pencerahan dan reformasi kultural. Kekusaan memang memperlihatkan adanya dua tipe atau genre kolonialisme yaitu pertama menyangkut fokusnya pada penaklukan fisik banyak teritori, sedang yang kedua lebih mengacu pada komitmennya terhadap penaklukan dan penjajahan pikiran, jiwa dan budaya. Jika yang pertama kolonialisme lebih tampak sebagai bandit penuh dengan ketamakan dan keserakahan maka yang kedua, yang diprakarsai oleh kaum rasionalis, imperialisme lebih tampak sebagai mesiah menuju dunia yang tak beradab (Nandy).
Namun dilain pihak Nandy mengatakan bahwa penjajah/kolonial/Barat telah membentuk kekerasan lain dengan melembagakan hierarki atas subjek-subjek dan pengetahuan yang abadi (penjajah-terjajah, Timur-Barat, ilmiyah-tahyul, beradab-primitif, maju-berkembang, tuan-budak). Dalam konteksnya, Penjajah/Eropa tetap ingin muncul sebagai situs peradaban yang sempurna sehingga dunia si terjajah mesti dikosongkan dari makna. Karena itu kolonialisme mempersyaratkan penjajahan pikiran/jiwa sebagai pelengkap penjajahan fisik/tubuh dengan cara membebaskan kuasa-kekuasaan dalam masyarakat terjajah, untuk mengubah pelbagai prioritas kultural mereka sekali dan selamanya (Nandy, 1983:xi).
Dalam pemahaman ini, apa yang kita alami selama masa penjajahan ratusan tahun terutama oleh Belanda jelas telah mempengaruhi corak pemikiran kita tak terkecuali pemerintah maupun pejabat serta politisi. Beralihnya kekuasaan penjajah kepada republik adakalanya hanyalah melanjutkan represi psikologis yang dilakukan oleh penjajah sebelumnya.
Keluar Dari Watak Kolonialisme
Jangan pernah berfikir bahwa penjajahan akan berakhir dengan kemerdekaan yang kita rebut. Kita menolak penjajah justru sejak pertama sekali mereka menjajah. Jadi kerugian yang kita peroleh tidak hanya pada saat penjajah datang pertama sekali tapi juga berlanjut setelah mereka pergi. Jika dampak penjajahan secara psikis terus berlanjut dan berdampak destruktif, apakah tindakan yang dapat kita lakukan untuk keluar dari keterjajahan non-fisik yang ditinggalkan penjajahan dalam kepala kita? Mengapa kita masih saja melihat para pemimpin dan politisi, pejabat negara, para pengurus partai-partai baik di level pusat dan daerah justru bertindak seolah sebagai penjajah bagi rakyatnya sendiri?
Terhadap masalah itu, teoritisi poskolonialis yang radikal menyarankan beberapa usulan diantaranya membubarkan partai politik dan menggantinya dengan format negara-kota yang terdesentralisasi sehingga lebih mudah melayani rakyat. Usulan ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh banyak negara. Bahkan dinegera pengusulnya sendiri usulan ini tidak mendapat tempat sama sekali. Adapun usulan yang kedua yang juga tak kalah ‘sulitnya’ adalah menciptakan proyek menciptakan manusia seutuhnya, manusia yang tak mampu diciptakan oleh penjajah, manusia yang memperhatikan seluruh aspek kepribadian, manusia yang mampu melampaui manusia penjajah (Fanon, 1990:252).
Mungkin maksud Fanon adalah manusia Pancasialis. Sebab menurut Bung Karno manusia Pancasilais akan mampu menjadi mercusuar dunia. Apakah kita mampu menciptakan manusia seutuhnya tersebut sebagaimana yang disampaikan Fanon? Semua tentu saja dikembalikan lagi kepada kita sendiri, dengan segala konsekuensi destruksi yang kita terima jika kita tak mampu.
Penulis: Dadang Darmawan, M.Si
Dosen FISIP USU












