NASIB BANGSA PASCA 411

MEDANHEADLINES, – Pasca demo ummat Islam 411 banyak pihak khawatir akan masa depan bangsa Indonesia. Seolah hanya tinggal selangkah lagi kita akan menuai badai tercabik-cabik dan terkoyak-koyak satu dengan yang lain. Jika salah kelola bangsa Indonesia yang majemuk beragam suku, daerah, dan agama akan sangat rentan dengan konflik horizontal. Sudah sejak jaman Penjajahan Belanda politik pecah  belah digunakan untuk memperlemah persaudaraan maupun persatuan bangsa. Caranya apalagi kalau bukan dengan memantik sentimen agama, suku dan kelompok.  Karena melalui sentimen inilah yang seumpama rumput kering kerontang ,ketika disulut api akan mudah sekali terbakar.

Tidak berlebihan jika atas perbedaan Nusantara ini selalu gagal membangun kesepahaman dan apalagi persaudaraan. Tanpa formula bersatu, bersama, dan bersaudara hanyalah akan memperpanjang ketertindasan serta kesengsaraan ‘dipijak’ oleh Penjajah Belanda,

Hingga akhirnya formula untuk mengenyahkan Penjajah Belanda ditemukan dan puncaknya adalah saat tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda dari segala suku bangsa dan agama serta kelompok bersepakat menggalang persatuan nasional, Dengan  persatuan nasional pertama ini lah muncul deklarasi yang lebih sakral lagi yaitu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Para pendiri bangsa sangat paham betul bahwa ancaman terbesar dari bangsa Indonesia adalah kemajemukan yang melekat dalam dirinya sendiri. Itu sebabnya sebelum merdeka para pendiri bangsa bertukar pikiran mencari dasar pijakan nilai dan cita-cita bersama yang bisa menyatukan seluruh perbedaan. Identitas suku, kelompok, agama yang menyembulkan perbedaan sikap, keyakinan dan kecurigaan .

Akhirnya, tercapailah satu konsensus bersama saat itu (1 Juni 1945) yaitu adanya lima nilai dasar yang menjadi falsafah dan sumber hukum bagi negara-bangsa yang baru yaitu Pancasila. Bung Karno mengingatkan bahwa jika lima dasar ini dapat kita pegang teguh maka kita akan menjadi bangsa mercusuar dunia, sebaliknya jika kita gagal pegang teguh maka kita akan menjadi bangsa kuli, menjadi kuli bagi bangsa-bangsa di dunia.

Indonesia Hari Ini

Hari ini kelima nilai dasar dalam Pancasila tersebut yang seyogyanya menjadi sumber kebahagiaan dan kehidupan yang aman dan tentram (tentram kertarahardja) bagi anak-anak Nusantara justru kelimanya sedang bermasalah. Terutama dalam implementasi nilai dasar tersebut masalah kita amat sangat berat. Kita seolah menjadi bangsa yang kehilangan pijakan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Kebangsaan, Kebijaksanaan-Musyawarah, dan Keadilan. Hari ini, operasionalisasi nilai-nilai dasar tersebut seketika hilang ditelan riuhnya ideologi liberal-kapital yang meringsek masuk dengan nyaman dalam kesadaran anak-anak bangsa.

Nilai-nilai liberal-kapital bahkan demokrasi yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila seolah kita sendiri yang mengundang masuk ke dalam rumah kebangsaan kita. Hingga akhirnya nilai liberal-kapital tersebut duduk bersemayam dalam kehidupan kita sehari-hari menggeser dan mencampakkan nilai-nilai luhur kita sendiri. Buktinya sangat jelas, bahwa kini seluruh sektor kehidupan berbangsa dan bernegara (ipolekhuksosbud) digerakkan oleh nilai-nilai liberal-kapital. Ideologi kita liberal, ekonomi kita liberal, politik kita liberal, hukum kita kolonial, pendidikan kita liberal bahkan budaya pergaulan anak-anak bangsa hari ini sangat liberal. Hingga akhirnya kita kehilangan jatidiri kita sendiri, kita bahkan tak mengenal diri kita sendiri.

kini kita sampai pada waktu dimana kita telah kehilangan pegangan idiil dan operasionalnya dari keyakinan terhadap ideologi kita sendiri. Kita sudah tak punya alat untuk menilai dan mengukur diri kita. Karena kita hari ini telah menggunakan alat penilaian dari sistem ideologi liberal yang berbeda dengan Pancasila. Lihat, dalam iklim demokrasi yang kita operasikan selama ini, hukum kebebasan dan suara terbanyak adalah hukum kekekalan yang mau tidak mau wajib kita terima. Bukankah, suatu bangsa yang menerima hukum demokrasi maka wajib menjunjung nilai demokrasi tersebut? Itulah sebabnya tuntutan akan berlakunya nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan-musyawarah, dan keadilan tidak akan pernah tercapai jika kita paksa lahir dari sistem nilai liberal-demokrasi. Bukankkah akan semakin aneh jika kita ikut sistem demokrasi yang mementingkan persaingan dan suara terbanyak, namun pada saat yang sama kita atur siapa yang harus menang? Bukankah mereka yang berkuasa akan selalu mempertahankan kekuasaannya dan membuat hukum sesuai dengan kehendaknya?

Jika di Amerika berlaku aturan the winners take all dimana setiap calon partai yang menang dalam pemilihan di satu negara bagian maka dia akan memenangkan seluruh suara (electoral)  dinegara tersebut. Maka dalam bentuk yang berbeda prinsip itu juga berlaku di sistem demokrasi kita. Semua yang menang dalam Pilpres dan Pilkada akan menentukan seluruh orientasi kehidupan suatu negara atau suatu daerah. Artinya kepentinganlah yang menjadi panglima dalam mengatur kehidupan masyarakat. Artinya, sepanjang hukum liberal itu kita terapkan maka sepanjang itu pula kita pasti tidak akan menemukan adanya musyawarah-kebijaksanaan, keadilan, kemanusiaan, maupun kebangsaan apalagi ketuhanan. Semua pemenang pasti akan menomorsatukan kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan bangsa yang lebih besar.

Penutup

Kasus Ahok yang menista agama Islam dan menyulut demo terbesar sepanjang sejarah sesungguhnya dapat kita baca sebagai fenomena gunung es semata. Artinya, jauh sebelum aksi telah menggumpal dibawah permukaan perasaan dan amarah karena tidak mendapatkan keadilan, kebijaksanaan dan perhatian. Namun, jika kita berandai-andai, andaikan Ahok kemudian dipidana karena kasus penistaan tersebut apakah tuntutan akan keadilan, kebangsaan, kejujuran, kesejahteraan dan kebijaksanaan dari pemerintah akan terwujud? Sudah pasti tidak, sebab kita akan kembali masuk dalam suasana kontestasi yang semakin sengit. Mengapa semakin sengit? Secara teori-praktek paham liberal selalu mendorong manusia memperebutkan sumber saya untuk kehidupan dimana sumber daya itu sangat terbatas. Semakin lama sumber daya untuk mencukupi kehidupan manusia menjadi sangat langka (minyak, energi, makanan, bahan tambang, hutan, dll). Akibatnya manusia akan semakin sengit bersaing satu dengan yang lain bahkan akan saling bersih bunuhan.

Sementara hukum sosial bangsa kita adalah membagi, bersama, bersaudara yang sangat bertentangan dengan hukum persaingan. Jadi sepanjang kita masih menerapkan nilai-nilai dari ideologi asing yang jelas bertentangan dengan nilai luhur yang kita anut, maka masalah ditengah bangsa kita pasti akan terus muncul tak berhenti. Kita semakin terkesima dengan penjelasan Panglima TNI Gatot Nurmantyo akan ancaman yang luar biasa yang sudah di depan mata saat acara ILC tadi malam. Kita saat ini mirip makanan lejat yang sedang diperebutkan para pemangsa. Segala upaya telah dikerahkan oleh pihak asing untuk menguasai Nusantara mulai dari perang ideologi (proxy war), keberadaan pangkalan militer asing disekitar kita, respon negatif negara-negara tetangga, dan yang terakhir menghancurkan Indonesia melalui narkoba (perang candu).

Hari ini, jelas kita membutuhkan pemerintahan yang dinaungi manusia-manusia bermental negarawan yang menjadi rahmat dan berkat bagi seluruh anak-anak Indonesia. Bukan pemerintahan yang justru mengadu domba rakyat. Kita hari ini membutuhkan elite politik yang sadar akan masalah dan mau mencari jalan keluar bukan malah sibuk bersaing merebut kekuasaan. Kita membutuhkan pimpinan-pimpinan masyarakat, pimpinan ummat yang selalu melahirkan kader-kader yang penuh dengan kemuliaan dan kenegarawanan sebagai sumber energi bangsa di masa depan. Namun ditas itu semua kita butuh merenungkan kembali agar kita semua dapat kembali pulang ke asal kita sendiri. Pulang kembali kepada nilai-nilai luhur yang pernah hidup dalam pergaulan kita sehari-hari. Bukankah sejak dahulu para orang bijaksana sudah mengingatkan kepada kita kelak sutau hari nanti apabila kita tersesat di ujung jalan, cepatlah kita kembali pangkal.

 

Penulis:Dadang Darmawan, M.Si

Dosen FISIP USU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.