Terima kasih Bumiku

MEDANHEADLINES – Sudah lebih dari lima ratus tahun, bumi sebagai tempat kita tinggal dan hidup diperlakukan sebagai “orang lain”, sebagai objek yang dapat ditundukkan manusia, bahkan sebagai komoditi yang mesti dieksploitasi untuk kebahagiaan manusia. Sejak era renaisans, dimana logika subjektif manusia kembali diaktifasi, dihidupkan kembali, sebagai bentuk protes dimana selama seribu tahun sebelumnya, metode kontemplasi dan dogma gagal dalam membahagiakan umat manusia, berbagai karya cipta dan karsa logos telah menghiasi alam semesta raya.

Sudah ratusan tahun berlalu manusia menganggap dirinya sebagai pusat kosmik yang dapat mengatur alam semesta lepas dari segala ketergantungannya kepada kekuatan diluar dirinya apakah itu Alam maupun Tuhan. Selama itu manusia dengan keyakinan yang intens mulai “menghela” bumi sesuai dengan kehendak dirinya sendiri. Rasiolah kini yang menjadi penuntun manusia dalam menapaki jalan setapak di kolong jagad semesta raya.

Namun memasuki abad-21 hari ini, manusia begitu dikejutkan akan realitas sosial dan alam yang telah ia perbuat sendiri. Hari ini, segala sesuatunya menjadi masalah yang pelik. Rasionalitas, yang kemudian berkembang menjadi rasionalitas teknologis, kini menjadi bahagian yang tak terpisahkan dalam menumpuk masalah kehidupan manusia. Manusia kini justru sudah bergantung kepada ciptaannya sendiri, bahkan ciptaannya itu sendiri yang telah mengatur segala kehidupannya.

Manusia diatur mesin, diatur sistem, diatur berbagai teknologi, diatur berbagai hal temuannya sendiri. Tanpa semua ciptaannya itu manusia seolah mati dan lumpuh, tak bisa apa-apa. Kini manusia justru tak bisa keluar dari dunia yang dia ciptakan sendiri. Apa yang ia ciptakan kini hidup dan menguasainya.

Masalahnya segala kerusakan yang ditimbulkan oleh ciptaannya sendiri kini tak lagi bisa diperbaiki manusia. Mengapa?, sebab kerusakan utama justru ada pada “manusia” penciptanya sendiri. Di pusat logos itu sendirilah kini akar masalah itu berada.

Hari Bumi 2017 bertema “Melek Lingkungan dan Iklim” setidaknya memastikan bahwa umat manusia telah kehilangan “Lingkungannya” sendiri dan telah diancam oleh iklim/alam “rumahnya” sendiri. Mengapa mesti melek? Ya tentu maknanya selama ini manusia sudah dibutakan oleh logika/rasio yang dimilikinya. Manusia sudah “tidak sadarkan diri” lagi akan realitas lingkungan hidup yang sesungguhnya “hidup” dan menjadi sahabat serta menjadi penuntunnya. Manusia sudah buta dan mengabaikan berbagai hal “peringatan alam” yang sudah dengan kejamnya diporak-porandakan demi memenuhi hasrat serakahnya.

Dampak perubahan iklim ekstrem yang akan menimpa umat manusia dan alam 50 tahun ke depan, ternyata kini diprediksi justru sudah terjadi dan dirasakan manusia. Michela Pacific dari Sapienza University of Rome merilis temuannya bahwa 47% spesies burung terancam punah akibat dampak perubahan iklim dunia. Mamalia akan mendahului kepunahan sebelumnya spesies lainnya termasuk manusia, mengingat mamalia lebih rentan akan ancaman suhu dan turunnya hujan yang dalam 50 tahun terakhir meningkat 0.13 derajat celsius.

Bahkan PBB mengatakan bahwa 50 tahun ke depan 2030, manusia membutuhkan 50 persen tambahan makanan, 45 persen tambahan energi, 30 persen tambahan air, dan mungkin juga membutuhkan tambahan kayu dan material untuk membangun rumah dan lingkungan mereka. Darimanakah semua kebutuhan itu dipenuhi? Pastinya hari dari Bumilah semua itu ingin di diperoleh. Masalahnya, apakah Bumi mampu menyediakan apa yang diminta manusia tahun 2030 itu? Kalau Bumi gagal, maka dipastikan akan terjadi bencana yang luar biasa menimpa manusia (Dilla Zafarina, Kompasiana, 2013).

Bumi akan gagal, pasti karena manusia tidak lagi “melek” memahami “siapa” si “bumi” itu sendiri. Manusia sudah buta akan kesatuan dirinya dengan alam. Mengingat bahwa bumi dan isinya adalah bahagian yang menyatu dengan alam semesta sebagai unsur kosmos, maka seluruh kehidupan di alam semesta saling berhubungan (interconectedness) dan saling ketergantungan ketergantungan (interdependence).

Semua kepunahan spesies di muka bumi jelas adalah ancaman bagi spesies lainnya, dan itu pasti. Inilah yang dimaksud dengan kesetimbangan alam raya yang sudah “dicetak” dan “diatur” secara alamiah/ilahiah yang telah dirusak oleh manusia (Kompas, Rabu 26 April 2017, hal 14).

Terdapat lima ancaman serius yang ada ditengah umat manusia manusia saat ini yaitu pemanasan global, perubahan struktur tanah, peningkatan kadar Co2, punhanya hutan, dan punahnya spesies baik hewan dan tanaman (media.iyaa.com). Kepunahan spesies adalah bukti bahwa alarm bahaya dari alam sudah berbunyi kuat ditelinga manusia. Kepunahan hanyalah tanda bahwa rantai kehidupan alam yang memiliki hukumnya sendiri telah hancur dan diputuskan oleh ulah tangan manusia (Kompas, Rabu 26 April 2017, hal 14).

Bagaimanakah Solusi Mengatasinya?

Setiap tahun Hari Bumi yang jatuh pada setiap 22 April banyak diperingati dengan berbagai kegiatan simbolik dan upaya yang nyata dalam mengatasi masalah kerusakan alam. Namun setiap tahun itu juga laju kerusakan alam (kerusakan hutan, keracunan tanah, perubahan iklim, kepunahan spesies, keracunan udara, keracunan air, dan punahnya terumbu karang, dan lainnya) terus tak bisa dicegah.

Upaya simbolik dan upaya tindakan nyata, ternyata masih jauh sekali dari harapan yang mampu mengembalikan bumi dan alam pada kesetimbangannya semula. Meski hari bumi tahun 2017 ini mengambil tema “melek lingkungan”, namun sejauh apa “melek” itu akan tersampaikan pesannya ke dalam sanubari manusia jelas bukan pekerjaan mudah. Berbagai upaya penyadaran kepada umat manusia kelihatan selalu gagal dalam menghentikan kerusakan.

Karena itu tentu saja dibutuhkan kerja ekstra keras dari manusia pelopor dalam berbagai dimensi yang selalu berfikir dan bertindak dengan berbagai upaya penyelematan bumi. Meski berbagai contoh buruk senantiasa muncul dihadapan kita, namun sejarah membuktikan berbagai contoh baik dan keteladanan juga senantiasa muncul bergantian di panggung sejarah manusia di kolong langit ini.

Kita tak bisa menghindari adanya prilaku destruksi dari sekelompok orang, sebab mereka pun sebetulnya adalah “ujian” bagi manusia lainnya. Masalahnya, sudah menjadi kehendak pula mendorong munculnya orang-orang yang selalu mendedikasikan dirinya hidup untuk perbaikan secara terus-menerus. Tentu kita mengapresiasi berbagai kelompok kecil yang ada disekitar kita dan dunia ini, yang dengan  tulus ikhlas selalu berupaya dengan swadaya memperbaiki bumi yang telah rusak ini. Banyak sekali kelompok kecil, para aktifis lingkungan, para manusia bijak, yang tiada henti berjuang sendiri menghentikan kerusakan lingkungan dunia.

Sebagai insan-insan penyelamat bumi “earthdefender” satu hal yang menjadi jatidirinya adalah eksisnya pribadi yang penuh dengan “kasih dan sayang”. Ya inilah dua kata sakti yang mestinya benar-benar menghunjam mendalam dalam kesadaran kita. Sifat-sifat kemuliaan, kasih dan sayang inilah yang mestinya disebarluaskan sehingga hidup dan menjadi “tenaga gerak” dalam kehidupan manusia.

Manusia berkasih sayang dengan seluruh alam di semesta raya ini sebagai suatu keluarga yang menyatu dan saling menolong satu dengan yang lain. Tidak seperti hubungan selama ini, dimana keduanya saling membantai satu dengan lain. Manusia selalu “membantai hutan” sementara hutan memberikan banjir dan ancaman kekeringan bagi manusia. Dengan kasih sayang semua mahluk tidak ada yang “mati” melainkan semua mahluk dihadapan kita menjadi “hidup” memiliki tempat yang terhormat sesuai dengan perannya masing-masing.

Maka jelaslah dan sungguh jelas, solusi tunggal penyelematan bumi ini ada pada manusia sendiri, dan hanya manusia yang memiliki “ruh” kasih dan sayanglah yang mampu menyelematkan bumi ini dari kepunahan. Tak perlu modal, sebab kasih sayang itu adalah energi gerak yang kekuatannya melebihi energi lain. Masalahnya, bagaimanakah caranya agar “ruh kasih dan sayang ini bisa kita aktifasi dalam kesadaran manusia? Apakah kita mulai dari diri sendiri, dari keluarga, dari lingkungan/kelompok, dari negara atau dari dunia?

Semua itu tentu saja dikembalikan kepada kita sendiri, sebab pertanyaan itu hanyalah pertanyaan, dimana jawaban tak perlu tertulis melainkan terpatri dalam perbuatan kita masing-masing. Jelasnya, hanya kasih dan sayang sesama mahluk yang dapat menyelematkan bumi ini. Ayo Kita Selamatkan Bumi.

 

Penulis:Dadang Darmawan, M.Si

Dosen FISIP USU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.