Dibalik Kemenangan Anis-Sandi

MEDANHEADLINES – Dalam kacamata analis sosial-politik, satu kaca kunci yang begitu membuncah dari kemenangan Anis-Sandi adalah un-predictable. Meski menang, namun kemenangan sampai selisih dua digit (15%) tak banyak yang memprediksikan. Bahkan lembaga-lembaga survey sudah kelihatan “bermasalahnya”, ketika menjelang minggu tenang, masih saja ada yang memenangkan kedua belah pihak, yang lagi-lagi membuat suasana terus “demam” tetap terjaga.

Sebagian besar menganalisis berbekal rilis angka-angka yang moderat dengan selisih jarak yang rendah, yang masih membuka peluang bagi kedua pasangan. Analis lain masih juga terjebak opini media yang begitu gencar “membutakan” realitas sosial-politik DKI. Namun yang pasti lembaga-lembaga survey tetap saja masih digerakkan dengan berbagai motiv tertentu yang kadang membuat semuanya serba meragukan.

Menafsirkan perilaku pemilih sebelum pemilihan, jelas lebih sulit, ketimbang menganalisis perilaku pemilih setelah pemilihan. Untuk pilpres sekelas Amerika sendiripun terbukti tak ada lembaga survey yang memprediksi kemenangan Trump.

Faktor-faktor tersembunyi dibalik persepsi/jawaban responden tentu saja masih menjadi ruang kosong yang kadang turut mempengaruhi hasil pemilihan. Karena itu pertanyaan tentang mengapa selisih dua digit kemenangan Anis-Sandi jelas lebih mudahlah kita selusuri alasannya setelah pemilihan selesai. Setidaknya dengan menelusuri satu per satu hal-hal yang empiris terjadi dilapangan kita bisa menggunakan teknis induksi untuk menarik kepada hal yang lebih umum.

Namun, memaknai kemenangan Anis-Sandi tidaklah mesti melulu kita teropong dari analisis sosiologi pemilih semata, mungkin memaknai dari sudut psikis yang tersembunyi dibalik suatu peristiwa dapat mendatangkan inspirasi ataupun gamabran yang lebih nyata.

Kontestasi Mentalitas

Mendiskripsikan perilaku pemilih Anis-Sandi dan Ahok-Dajrot pada Pilkada DKI jelas menarik dan menantang. Keduanya telah menyejarah dan menjadi ikon dalam perebutan kekuasaan daerah yang paling “mengguncangkan” jagad politik nasional yang getarannya masih dapat dirasakan di belahan dunia lain.

Semua orang mungkin sepakat, bahwa pertarungan kemarin tentulah bukan pertarungan Anis-Sandi versus Ahok-Djarot semata, tetapi adalah pertarungan mentalitas yang mengisi kepala kedua kelompok, atau bahkan pertarungan dua ideologi besar yang menguasai dunia. Kompleksitas mentalitaslah yang sesungguhnya banyak bekerja dalam pertarungan kemarin, mengatasi pertarungan yang selama ini hanya demi kekuasaan belaka.

Karena menyangkut mentalitas, kontestasi ini tentu saja tidak bisa diakhiri dengan pernyataan-pernyataan dan slogan-slogan penyejuk yang simbolik yang diucapkan kedua belah pihak, sebagaimana yang selama ini kita praktekkan. Segalanya telah menjadi tanaman yang tumbuh dalam mental setiap orang. Sehingga apa yang terjadi, hanyalah merupakan penguatan atau pengentalan perbedaan yang lebih ideologis ketimbang sekedar kontestasi biasa. Tanpa sadar kita sudah memupuk tanaman kerusakan yang akan tumbuh membesar dan pasti akan berbuah pahit.

Mengutip Foucault, kita sesungguhnya sudah terjebak dalam cengkeraman sistem ekonomi-politik-sosial global yang memaksa kita mengikuti seluruh kebenaran yang sudah ditetapkan sepihak, termasuk dalam konteks melahirkan pemimpin. Omong kosong kebenaran itu, kata Foucault sebab semua kebenaran itu hanyalah ciptaan dan rekaan bagi yang dominan belaka. Sejatinya kita sedang dijauhkan dari kebenaran yang sejati fitrahnya manusia.

Kekuasaan yang kita peroleh jelas adalah relasi dari sistem yang dikonstruksi oleh kekuatan ideologi global dominan. Sehingga siapapun pemenangnya secara mentalitas, tetaplah terbaca masih dalam relasi atau jejaring kekuasaan ideologi global. Sehingga kemenangan dalam kekuasaan, telah mengambil jarak dengan kemenangan mental/keperkasaan jiwa yang sesungguhnya. Kita boleh saja merayakan kemenangan namun dalam bingkai permainan yang telah dikondisikan.

Sebagaimana yang selalu disinggung oleh Marcuse, sepanjang kita masih berada dalam sistem relasi dan jejaring global kita dipersilahkan untuk berbuat apa saja. Sebab segala sesuatunya, undercontrol. Andaikanpun muncul gejolak/destruksi yang luar biasa, segalanya akan kembali dinetralisir dan kembali kepada kesetimbangannya semula. Kesetimbangan inilah yang dijaga melalui aparatus-aparatus ideologis yang tak terlihat yang menjelma dalam bentuk sistem ilmu pengetahuan, sistem sosial, sistem politik, teknologi, dan sistem budaya.

Semua sub-sistem kehidupan sosial adalah merupakan perangkat dari jejaring kekuasaan yang jelas dan tegas yang oleh para kaum strukturalis ditengarai sudah ajeg berlaku dalam sistem kehidupan yang kita jalani saat ini. Maksudnya, setiap kemenangan dalam kontestasi yang paling sengit sekalipun, termasuk dilakukan dengan mengerahkan berbagai perangkat ideologi/mental, asalkan masih dalam lingkup sistem demokrasi-liberal, sebetulnya by-design  oleh tangan-tangan tak terlihat.

Artinya, kita sesungguhnya mengalami kerugian yang luar biasa, jika melihat seluruh pengerahan antar dua kubu dalam pilkada DKI kemarin. Sebab pengerahan itu telah menembus level kesadaran kita tanpa kita sadari, sehingga membuat kita tak pernah lagi menjadi sadar sepenuhnya, sebagai suatu bangsa yang berdaulat dan berideologi Pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang luhur, terutama nilai persaudaraan, kasih-sayang maupun gotong-royong.

Bisa saja kita seperti gambaran Freud, bahwa kita sedang berada pada level ketidak sadaran dalam menjalankan seluruh aktifitas kehidupan kita saat ini. Sebagaimana kita telah dibentuk oleh budaya keluarga kita sejak kecil sebelum kita benar-benar memiliki kesadaran dan mampu menilai, tentang baik dan buruk terhadap nilai yang dipaksa masuk pada kesadaran kita.

Tanpa sadar, kekuasaan dalam bingkai sistem kontestasi liberal yang memaksa kita berkonflik, bukan mendorong kita bersaudara, sesungguhnya hanya menjadikan kita menjadi bangsa terasing dari jati diri kita sendiri. Akar tunggang nilai luhur yang bajik sekaligus bijak kelihatan banyak tercerabut, yang wajar membuat kesadaran berbangsa kita menjadi goyang dan rapuh.

Pada konteks ini, masalah mentalitas persaudaraan/kesatuan tidaklah wajar jika hanya kita selesaikan dengan ucapan-ucapan dan pidato penenang antar dua kubu yang artifisial, bahasa-bahasa tubuh yang menyimbolkan kebersamaan, pertemuan antar dua kubu, ataupun bahkan dengan melaksanakan janji-janji kampanye yang sudah diucapkan.

Sebanyak apapun kegiatan artifisial, atau yang nyata, dalam bentuk menggeber pelaksanaan proyek-proyek kerja Pemda DKI dalam mewujudkan janji-janji kampanye, semua itu tidak serta merta mampu menyelesaikan masalah warga DKI atau bahkan bangsa Indonesia. Pada level tertentu, kita mungkin saja bisa mencapai standar “kemajuan” suatu kota yang kita idamkan, namun belum tentu bisa mengadirkan “kebahagiaan” dalam diri warga kota.

Studi-studi postmodernisme sudah jelas-jelas membuktikan, bahwa kebahagiaan bertolak belakang dengan kemajuan. Jika bahasa kemajuan adalah bahasa bersimbol materi, mekanis, dan teknologis, maka bahasa kebahagiaan adalah bahasa jiwa/qalbu yang sesungguhnya nyata, meski tersimpan dalam pikiran.

Hari ini dipastikan, bahwa seluruh simbol-simbol kemajuan yang ada di kota-kota termaju saat ini, tidak sedikit yang membawa masalah-masalah sosial yang luar biasa. Dapatkah kita menikmati rumah megah/mewah ditengah hutan-hutan dan gunung-gunung rusak sebagai bahan baku untuk membangun rumah kita? Bahagiakah kita dengan capaian materi dan kedudukan yang tinggi ditengah penderitaan orang miskin yang kita abaikan? Bahagiakah kita ditengah penderitaan orang lain?

Dikolong jagad semesta ini, kita hanya mirip gerombolan orang “sakit jiwa”, yang kerjanya doyan merusak alam semesta ini yang merupakan rumah, tempat tinggal kita sendiri. Ditengah kerusakan yang terus menggerus, bukankah aneh, jika kita justru bahagia melihatnya?

Jika itu yang terjadi, maka itulah dunia simulakra yang terjadi pada kita saat ini sebagaimana yang disebut oleh Baudrilard. Kebahagiaan hanyalah suatu simulasi yang sejatinya “tak ada” yang diberikan dan digambarkan kepada penikmatnya untuk selalu kita konsumsi walaupun tidak kita butuhkan. Kita hari selalu digoda untuk meraih kuasa dengan menghancurkan orang lain, yang sebetulnya tidak kita butuhkan dan sangat kita benci.

Kita selalu dipaksa percaya bahwa mengkonsumsi “materi” adalah hakikat kebahagiaan sejati bagi manusia modern. Sementara mengkonsumsi “nilai-luhur” adalah suatu kebodohan. Dunia simulasi memang berkehendak untuk menukar “yang luhur” itu dengan materi dan fisik.

Membangun proyek fisik memenuhi janji kampnye itu mudah, semudah membalikkan telapak tangan, sebab contohnya sudah banyak terjadi di kota-kota termodern di dunia. Asalkan ada kemauan proyek fisik bisa dibangun atau bangunan fisik bisa di hancurkan dalam waktu singkat. Masalahnya, pada hal-hal yang berbau mentalitas, membangun karakter/mental-spritual bukanlah pekerjaan mudah sebagaimana proyek fisik.

Pada level tertentu, kabahagiaan bahkan samsekali tidak berhubungan dengan benda, materi dan teknologi. Tanpa materi-teknologi-jabatan justru kebahagiaan hakiki bisa tumbuh subur dan kita petik manfaatnya. Objek-objek duniawi jelas adalah surga dunia yang sifatnya sesaat, yang jelas tidak akan melahirkan kebahagiaan hakiki.

Karena itu, disebalik begitu banyaknya upaya-upaya pembangunan fisik yang akan dilakukan kepada warga Jakarta, adalah jauh lebih bijak untuk melakukan pembangunan mental-spritual yang sudah mendesak kita butuhkan. Sebagaimana kata semua orang bijak, urusan nilai spritual, ideologi, mentalitas adalah pondasi utama suatu bangsa.

Tak apa kita miskin harta, tapi kaya hati/jiwa. Tak masalah kita beda-beda suku atau agama, namun kita bersaudara. Tak masalah, kita bangunlah terlebih dahulu “jiwa” bangsa kita ini baru kemudian “badannya”, sebagaimana pesan abadi yang selalu kita nyanyikan. Pada kedalaman jiwa terkandung kasih-sayang sebagai bahasa “ilahiah” yang sejauh ini selalu gagal di wujudkan dalam bahasa manusia. Dari kejauhan, kami sampaikan “ingatan” ini kepada Anis-Sandi sebagai bentuk ucapan tahniah.

 

Penulis : Dadang Darmawan  M.Si

Dosen FISIP USU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.