MEDANHEADLINES.COM – Saya jelas bukan seorang pembaca novel. Bisa dihitung dengan jari berapa banyak novel yang pernah saya baca seumur hidup. Namun kali ini, begitu Novel “Siti Kewe” terbit, serasa tidak ada pilihan lain kecuali mesti membacanya sampai tuntas. Latarnya sederhana, penulis Novel ini Raihan Lubis alumnus Fisip USU (Kom 94) adalah junior yang sejak mahasiswa sudah produktif dengan dunia Jurnalis dan menonjol dengan berbagai kreatifitasnya. Sebagai karyanya yang pertama, tak ada yang bisa ditunjukkan untuk mengapresiasinya selain dengan membacanya seraya menyelami maknanya.
Manusia, Alam dan Tuhan
Setelah membaca novel “Siti Kewe”, dapatlah saya katakan novel ini sangat menarik meski mungkin bukanlah yang terbaik. Bukan juga karena penulisnya sudah kenal, lantas mesti dibilang menarik. Tentu tidak sesederhana itu. Menarik, karena jika kita membacanya, maka kita akan disuguhkan tidak hanya detail penggambaran dan penjelasannya tentang kehidupan Petani Kopi di Desa Karang Tengah, di bawah kaki Gunung Bur Ni Telong, Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah (sejak 2003 dimekarkan menjadi Kabupaten Bener Meriah) yang penuh dengan lika-liku dan tantangan zaman, namun juga yang sungguh khas adalah penggambarannya tentang hubungan para Petani Kopi Gayo dengan alamnya maupun Tuhannya yang telah menyatu dalam kehidupan keseharian mereka.
Satu yang paling membuat terkesima, ketika Novel ini dibuka, di halaman awalnya tertulis sebuah mantra yang selalu diucapkan para petani kopi di Gayo dahulu ketika melihat bunga bunga kopi telah keluar, yang membuat bathin kita bahagia.
“Orom Bismillah Siti Kewe Kunikahen Ko Orom Kuyu Wih Kin Walimu Tanoh Kin Saksimu Lo Kin Saksi Kalammu” (“Dengan Bismillah, Siti Kawa Kunikahkan Dikau Dengan Angin, Air Walimu, Tanah Saksimu, Matahari Saksi Kalammu”) (Hal: 2).
Ada apa dengan mantra itu sesungguhnya? Siapakah Siti Kewe? Mengapa ia mesti dikawinkan dengan Angin?
Siti Kewe adalah sebutan untuk menyebut “Tanaman Kopi” bagi masyarakat Petani Kopi di Gayo. Sudah biasa bagi masyarakat Petani Kopi Gayo, ketika mereka menaman Kopi mereka seolah sedang merawat anak-anak mereka sendiri. Karena itu, jika usianya sudah cukup maka Siti Kewe pun akan segera dikawinkan dengan angin. Anehnya, jika mereka sudah dikawinkan, maka bunga-bunga Kopi pun akan muncul semerbak membanjiri tanaman Kopi. Para orang tua tentu saja akan bersuka cita menyambut kegembiraan Siti Kewe yang sudah menyatu dengan “angin”. Munculnya bunga tentu saja pertanda Alam dan Tuhan telah memberikan rahmatnya.
Mantra inilah sebagai suatu penanda bahwa dalam kehidupan masyarakat Nusantara ini keyakinan kepada Tuhan yang diekspresikan dengan pergaulan dan penghormatan terhadap Alam menjadi faktor-faktor yang hidup dan dijunjung tinggi dalam kosmologi masyarakat.
Orang-orang Nusantara percaya bahwa Alam adalah mahluk hidup yang benar-benar hidup ditengah-tengah mereka, yang memiliki kekuatan yang luar biasa, namun bertugas memberi kebahagiaan kepada manusia. Wajar jika para Petani Kopi di Gayo dahulu menyambut gembira ketika keluarnya bunga-bunga Kopi dengan membaca mantra.
Dalam satu kesempatan Bung Karno pernah menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia terbentuk dari peradaban yang berlapis-lapis. Indonesia adalah hasil dari peradaban yang menurutnya ber saf-saf, ada saf diatas saf lainnya. Setidaknya ada empat Saf yang pernah masuk dan datang mempengaruhi corak budaya masyarakat Nusantara.
Sebagai contoh, Saf pra-Hindu. Pada saat pra-Hindu bangsa Indonesia yang sekarang ini sudah berbangsa dan juga sudah berbudaya juga bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya saja agamanya lain dengan agama sekarang. Jangan kira sebelum Hindu, orang Nusantara belum berbudaya. Penelitian Prof. Brandes membuktikan bahwa sebelum kedatangan orang Hindu ke Nusantara, bangsa Nusantara sudah mahir dalam sepulu hal, yaitu diantaranya : Tanam Padi, Sudah ada alfabet ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-lai, dan Wayang kulit (lakon semar, gareng, petrok, bagong, dawala, cepot).
Berdasarkan bacaan itulah Bung Karno kemudian menggogo sedalam-dalamnya sehingga menembus sampai ke Saf pra-Hindu. Di kedalaman Saf pra-Hindu itulah Bung Karno menemukan mutiara-mutiara kemuliaan yaitu Ketuhanan, Kebangsaan, Peri-kemanusiaan, Musyawarah dan Keadilan.
Intinya, Nusantara kita ini, kaya akan pergaulan antara masyarakatnya dengan Alam maupun Tuhannya. Masyarakat Nusantara, sebagaimana juga masyarakat Gayo dibawah Kaki Gunung Bur Ni Telong adalah masyarakat yang sadar diri bahwa Alam dan Tuhan adalah kekuatan mereka yang senantiasa menjaga dan melindungi mereka.
Sekalipun dalam perjalanan selanjutnya, Kopi Gayo dibawa masuk Belanda ke Gayo pada era-modern (1900 awal), dan memaksa masyarakat Gayo menanam Kopi maupun Teh, namun dalam prakteknya, kearifan tradisi Nusantara yang menjunjung tinggi Alam sebagai eksistensi Tuhan tetap berlaku. Tradisi-tradisi arif yang ribuan tahun sebelumnya pernah hidup masih bisa dirasakan ditengah-tengah masyarakat pemilik kebun-kebun Kopi di Gayo, Aceh Tengah. Dalam praktek kehidupan manusia tetap saja menyatu padu dengan Alam dan menghormatinya sebagai sesuatu yang “hidup”
Di dunia modern sendiri, sudah bekerja para ilmuwan yang sejak tahun 1500 menegaskan superioritas subjek terhadap objek, sebagaimana yang ditegaskan oleh Descartes. Ada atau tidaknya “Tuhan” sangat tergantung pada dipikirkan atau tidak dipikirkannya oleh subjek (manusia).
Jika sebelumnya alam dikaitkan dengan eksistensi kekuasaan Yang Maha Agung (Tuhan) yang kemudian termanifestasi dalam figur totem, taboo, animisme, dinamisme bahkan agama, maka metodologi eklektis Cartesian kemudian menjadikan akal sebagai avant-garde eksistensi manusia di hadapan alamnya. Manusia dengan akalnya merasa mampu membedah alam, untuk kemudian menundukkannnya, sehingga alam hanya dijadikan sebagai objek yang dipikirkan (res extansa). Ini kemudiaan disebut oleh Imanuel Levinas, dijuluki sebagai egologi, yaitu ilmu pengetahuan yang berkutat dengan ego manusia (Nurhamzah).
Alam pemikiran modernlah yang kemudian mendorong manusia untuk menaklukkan Alam (kehidupannya) sendiri. Alam yang sebelumnya dipersonalisasi sebagai yang hidup dan dihormati, dijunjung, serta bersahabat kini Alam justru dianggap sebagai benda mati, hanya sebatas komoditi, yang bebas untuk dieksploitasi dan diberangus. Dengan cepat dunia kemudian masuk kepada krisis ekologi sekaligus krisis kemanusiaan yang parah hingga saat ini. Sesuatu yang sebetulnya pada era-modern sedikit terkecualikan di tengah masyarakat penanam Kopi di Gayo.
Desa Petani Kopi Arabika Terbaik di Dunia, yang Permai Aman Damai dan Penuh Kebahagiaan
Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, dimana Penduduknya banyak bersuku Aceh Pesisir, bercampur dengan suku Jawa yang didatangkan Belanda tahun 1900-an untuk membantu Belanda membuka kebun Teh, mengelola getah pinus menjadi terpentin, dan membuka kebun kopi.
Kehidupan di Kampung kecil dibawah kaki gunung di Gayo Aceh Tengah jelas adalah kehidupan yang penuh kedamaian dan kepermaian yang mengundang rindu siapapun. Mengingatkan kita semua tentang suasana desa-desa Nusantara dahulu kala, yang kini sudah diberangus.
Membaca Novel ini, jelas membuat saya dan mungkin juga pembaca lainnya berkeinginan suatu hari nanti “menikmati” dan menyambangi Alam Pegunungan Gayo, yang tentu saja dengan bertemu dengan guru-guru bijak dengan “mantra-mantra”-nya yang mudah-mudahan masih hidup.
Kampung kami meski kecil tapi sangat permai- sebagaimana gambar-gambar pemandangan yang sering digambar anak-anak sekolah dasar, begitulah gambaran kampung kami sesungguhnya. Ada gunung, ada hamparan bukit yang ditumbuhi pohon-pohon pinus atau damar. Di bawah kaki gunung itulah kami lahir dan bertumbuh. Menggigil-gigil dipeluk-peluk kabut saban pagi dan malam hari. Kampung dengan hamparan sawah dan juga kebun-kebun kopi arabika. Ada sungai kecil yang mengalir memisah antar kampung- menjadi tempat mandi anak-anak yang ingin bermain air di siang yang terik- ketika pulang sekolah. Jika masuk musim tanam padi, banyak kerbau-kerbau atau kuda menarik bajak di sawah. Jika panen padi tiba, sejauh mata memandang hamparan padi menguning yang bertingkat-tingkat sangat memanjakan mata. Kalau padi sudah dipotong, maka sawah berubah jadi lapangan tempat anak-anak bermain layang layang di antara ternak yang merumput.(Hal:4)
Jika musim panen kopi yang datang, para inen dan aman ramai bercengkrama dan bersenandung riang di tengah-tengah kebun sambil jari jemari mereka mengutip dan memetik buah-buah kopi, dari satu pohon ke pohon kopi lainnya. Seperti burung-burung yang berterbangan sepanjang hari tanpa lelah- begitulah jari jemari mereka. Menari-nari di antara batang-batang pohon kopi- mengumpulkan buah-buah kopi yang berwarna merah merona. Ketika dingin malam mulai urun- lantunan suara ceh didong dengan kelompok penepuk bantalnya akan terasa menghangatkan. Pukulan dan hentakan tangan yang seirama dengan syair, bersahut-sahutan menghangatkan hati siapa saja yang mendengarnya (Hal:5).
Masa panen kopi adalah masa-masa yang membahagiakan bukan hanya bagi petani kopi, tapi juga bagi kami. Karena kami akan punya duit sendiri. Setiap panen kopi, akan ada buah lelesan – buah-buah kopi matang yang jatuh di bawah-bawah pohon. Kopi-kopi merah ini kami kutip dan kami jual ke pengepul. Uangnya kami pakai untuk naik bis ke Takengon. Di Takengon, aku akan mengajak Pri dan Azmi jajan sesuka hati dan berjalan-jalan di sekitar Danau Lut Tawar. Sehabis panen padi juga masa bahagia lainnya. Karena biasanya akan ada pacuan kuda selama satau pekan di Kota Takengon. Pacuan kuda dengan joki para anak kecil (Hal:12).
Selain pingin bertemu Alam dan Guru, di Gayo-lah, kita bisa merasakan cita rasa kopi Arabika asli yang beraroma harum dan rasa gurih hampir-hampir tidak pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika. Di daerah Gayo-lah tumbuhan kopi ditanam dengan cara organik tanpa bahan kimia sehingga kopi ini juga dikenal sebagai kopi hijau (ramah lingkungan), sebagai Kopi Organik yang disebut-sebut terbaik di dunia (https://madrecoffee.com/sejarah-kopi-gayo).
Ditengah Pusaran Tekanan: Penjajahan Belanda, GAM, Pengungsian & Dinamika Kehidupan Petani Kopi
Penting diingat, sejak Belanda ke Gayo, Aceh Tengah dengan membuka kebun-kebuh Teh, dan Kopi, Belanda telah pula berlaku diskriminatif dengan memaksa masyarakat menanam kopi arabika yang berkualitas tinggi, sehingga hasil panennya dikirim keluar Aceh, sebagai konsekuensinya masyarakat justru disuruh minum robusta yang murah.
Tahun 2000, Soeharto Jatuh, Reformasi, dan pencabutan status Dom, GAM mulai angkat senjata, namun Gayo tak menjadi sasaran operasi militer. Namun kini huruhara singgah di Gayo membuat banyak orang putus sekolah karena pergi meninggalkan kampung yang tak aman. Ribuan jiwa keluar dari Gayo yang mulai tak aman. Banyak yang ke Sumut. Banyak kebun kopi terlantar.
Konflik Pasca Dom lah yang kemudian membawa perubahan yang signifikan di desa-desa di Gayo, Aceh Tengah dimana ribuan orang kemudian mengungsi dan keluar dari Aceh Tengah, terutama orang-orang Jawa. Sebagian masuk ke Sumatera Utara yang terdekat, sementara yang lain pergi lebih jauh lagi. Akibatnya banyak kebun-kebun Kopi terlantar dibiarkan begitu saja.
Penutup
Namun ditengah perubahan dunia secara global yang juga turut mempengaruhi kehidupan di Desa Karang Tengah, di bawah kaki Gunung Bur Ni Telong, Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, setidaknya para orang tua dan leluhur Desa, senantiasa memanggil putra-putri Gunung Bur Ni telong untuk kembali pulang kampung.
“Nah, kau dengar suara daun-daun kopi di belakang rumah yang baru diterpa angin barusan?” tanya Azmi sambil kami melangkah masuk ke rumah lagi. Aku menggeleng. “Mereka senang katanya,” ujar Azmi padaku seolah ada kabar yang baru diterimanya dan harus segera disampaikan padaku. Azmi memandangiku bahagia. “Pohon-pohon kopi sudah menerimamu.” (Hal:123)
Namun yang pasti alam, Modernisme bahkan Post-Modernisme pada akhirnya telah menyapu Gayo tanpa terkecuali. Meski masyarakat menyadari pentingnya kembali membuka kebun-kebun Kopi yang kemarin banyak terbengkalai, namun semua itu hanyalah sebatas komoditi belaka. Aromanya yang wangi, cara membuatnya yang lebih modern, dan harganya yang sudah meningkat mahal, adalah penanda dimana mantra leluhur hanya tinggal sayup-sayup, pun tinggal kenangan saja.
Tak terasa begitu asyiknya membaca “Siti Kewe”.
Penulis : Dadang Darmawan, M.Si
Dosen FISIP USU












