MEDANHEADLINES.COM – Seorang anak muda, aktivis mahasiswa kritis, juga penulis berbakat di Medan, mengirim tanya melalui media sosial, mengapa mesti masuk politik praktis (DPDRI 2019), setelah sekian lama menjauhi dan bahkan antipati terhadap politik praktis? Adakah alasan yang sehat untuk dikemukakan atas pilihan itu? Bukankah dunia politik praktis kita sedang terserang penyakit pragmatis yang akut?
Semua orang bijak tahu, alangkah banyaknya para pengembara yang berjalan di kolong jagad ini, justru menjauh dari hingar bingar kehidupan dunia. Banyak para “pejalan” justru menempuh “jalan lain” yang tak biasa diambil.
Kehidupan pada dunia “the others” kadang justru dirindukan dan ditempuh. Secara philosofis, manusia sejatinya membutuhkan udara yang bersih tidak tercemar sebagai energi untuk membersihkan tubuhnya. Begitu juga dalam kehidupan ini, manusia sejatinya membutuhkan “kebersihan hati” untuk membaluri akalnya agar senantiasa dapat bertindak mulia dan luhur. Manusia kemudian memilih menjauhi konflik, persaingan, perebutan kuasa, bertengkar satu dengan yang lain, tipu menipu, dan memulai kehidupan baru yang serba “terasing”.
Pada bagian yang lain, kehidupan ekonomi, sosial dan budaya serta politik terus berjalan beriringan. Politik praktis lambat laun menjadi “dunia umum” yang sudah diterima oleh masyarakat umum sebagai suatu sub-sistem kehidupan yang berjalan mengiringi suatu bangsa. Pada sebagian besar kehidupan, perebutan harta, tahta, dan kecintaan dunia adalah hal yang lumrah untuk mencapai kebahagiaan. Hanya dengan membebaskan persaingan maka manusia akan beroleh kesejahteraan kata Adam Smith, sebab dengan bersaing manusia akan semakin meningkatkan kemampuannya untuk menang, sehingga manusia berkualitas pada akhirnya yang akan bertahan hidup kata Charles Darwin.
Namun pada akhirnya, ternyata kehidupan manusia tidaklah seperti garis lurus. Ditengah-tengahnya ada ruang kosong yang tak bisa dimatematiskan, tidak kalkulatif, dimana semua ilmu hitung berhenti dan dihentikan. Langkah, Rezeki, Pertemuan dan Maut ternyata hanyalah milik-Nya yang tak bisa tercerna oleh akal manusia. Ruang dan Waktu yang diagungkan manusia untuk menempatkan akalnya, justru adalah ukuran yang paling sederhana dan hari inipun mulai “terlampaui”.
Sebagaimana semua orang bijak berkata, manusia hanyalah bisa berikhtiar, beharap-harap, bermohon, berkeinginan, namun kenyataannya tetap ada dimensi lain yang menentukan. Sebagaimana juga perjalanan umat manusia 500 tahun terakhir saat ini, yang awalnya dirancang, direncanakan, akan membawa kemakmuran bagi umat manusia sejagad raya ini, namun kenyataannya yang terjadi justru masalah. Begitu juga perencanaan pasca kemerdekaan 1945, juga belum mencapai tujuan hakikinya meski sudah berusia 73 tahun.
Pada dimensi “kenyataan” itulah “perencanaan” tidak lagi bisa berbicara. Sebab “kenyataan” adalah suatu bentuk persetujuan dari-Nya, sementara “perencanaan” atau ikhtiar adalah bentuk harapan dari manusia. Ketika bangsa Indonesia berdoa sejak tahun 1928 untuk beroleh Tanah Air, Bahasa dan Bangsa yang merdeka lepas dari penjajahan, maka ikhtiar itu baru terwujud tahun 1945. Namun meski sudah merdeka, ikhtiar untuk memperoleh “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” belum juga terpenuhi hingga saat ini.
Saya hanya ingin menutupnya dengan jawaban, bahwa apa yang terjadi pada kita semua tidak terkecuali pada diri saya pribadi adalah sesuatu yang lepas dari skenario dan perencanaan akal. Sama sekali tak pernah berfikir masuk politik praktis, justru kemudian mendaftar masuk politik praktis adalah hal yang diametral dalam kehidupan.
Namun perjalanan masih panjang, mendaftar belum tentu lulus, dan lulus pun sebagai calon belum tentu dipilih masyarakat. Hukum besi dalam dunia politik praktis yang sedang berlangsung, tentu saja bahagian yang tak terpisahkan dari pilihan masuk politik praktis. Dan semua itu hanya bisa “ditawarkan”, dinetralisir oleh kerja bersama, kerja gotong royong, yang justru belakangan sudah semakin ditinggalkan.
Intinya, apa yang akan terjadi di depan jalan kita, jelas tidak akan kita ketahui, karenanya yang kita miliki hanyalah ikhtiar (perencanaan, harapan dan permohonan) dimana perjalanan yang sedang kita tempuh tetap berada pada kebenaran.
Penulis : H.Dadang Darmawan, M.Si
Dosen FISIP USU












