Meningkatkan Cakupan Vaksin Dengan Menangkal Hoaks Seputar Covid 19 dan Vaksinasinya

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Gelombang informasi menyesatkan merupakan salah satu permasalahan pandemi Covid-19. Begitu parahnya situasi ini hingga memunculkan istilah baru yaitu Infodemi.

Infodemi adalah gelombang informasi yang muncul bertubi-tubi sedemikian rupa, hingga menyulitkan klarifikasi kebenarannya. Wujud infodemi bermacam-macam, mulai dari gosip hingga misinformasi/ disinformasi, atau lebih dikenal dengan hoaks.

Infodemi menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat, dan kelelahan karena harus mencerna informasi sebanyak itu. Infodemi disinyalir menjadi salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat untuk divaksinasi. Hal ini bukan hanya mengancam penanganan pandemi, tetapi juga berpotensi mengganggu program vaksinasi lainnya di masa depan.

Guna mengatasi dampak infodemi berupa sebaran hoaks vaksinasi Covid-19 yang menyesatkan publik dan mengganggu program vaksinasi, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) didukung oleh Unicef melaksanakan penelitian bertema Social Inoculation 2.0.

Kajian Social Inoculation untuk mencari model intervensi ini merupakan ujicoba level internasional  yang dilakukan di bagian Timur dan Barat dunia. Bagian Timur diwakili oleh Indonesia, yang selama ini dianggap salah satu leading dalam gerakan anti hoaks berbasis komunitas. Hasil penelitian bukan saja bermanfaat untuk Indonesia sendiri. Modelnya diharapkan dapat direplikasi di negara-negara lain. Itu sebabnya, tim Peneliti didampingi oleh para pakar infodemi dari WHO, CDC US, dan akademisi dari sejumlah universitas bereputasi internasional.

Dilangsungkan sejak April 2020, penelitian telah mencapai tahap final dan dipublikasikan dalam acara Diseminasi Pendekatan Inokulasi Sosial Terkait Pengelolaan Hoaks/Misinformasi Dalam Rangka Peningkatan Cakupan Vaksinasi Covid19 pada Kalangan Rentan. Diseminasi berlangsung serempak di 3 kota yang menjadi lokasi ujicoba model intervensi, yaitu Medan, Bandung dan Makassar, pada hari Senin, 12 September 2022, pk. 09.00 – 12.00 WIB/WITA.

Diseminasi menghadirkan para stakeholder terkait dengan isu infodemi dan cakupan vaksinasi khususnya pada kalangan rentan seperti warga lanjut usia (lansia), meliputi unsur Dinas Kesehatan, Dinas Komunikasi dan Informatika, pegiat literasi, pegiat kesehatan, akademisi, hingga kepolisian. Di Medan, diseminasi berlangsung di Hotel Alam, Medan Area, menghadirkan narasumber Santi Indra Astuti (MAFINDO), Dimas Budi Wicaksono (Jenewa Madani Institute) dan Zulhilminil Amani Hasibuan, SKM. (Perwakilan Dinas Kesehatan Kota Medan).


Santi Indra Astuti selaku Koordinator Riset Nasional Social Inoculation MAFINDO menyatakan, hingga kini hoaks vaksinasi masih mendominasi hoaks-hoaks bertema Covid-19. Penelusuran MAFINDO sepanjang Januari hingga Agustus 2022, terdapat 73 konten hoaks yang dilaporkan publik maupun yang dijumpai oleh para pemeriksa fakta MAFINDO.

“Porsi konten hoaks vaksinasi Covid-19 mencapai lebih dari 50%. Isinya sebagian besar mengulas KIPI atau kejadian ikutan pasca imunisasi, seperti hoaks tentang dampak vaksin booster, dampak vaksinasi Covid-19 pada anak, dan mempermainkan kebijakan vaksinasi,” tutur Santi yang juga merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Islam Bandung (Unisba).

Penelitian Social Inoculation 2.0 menggunakan mix method approach yang menggabungkan beberapa teknik pengambilan data, seperti survey, wawancara, dan diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Survey melibatkan 900 orang responden dan berlangsung di 6 kota, yaitu Medan, Banda Aceh, Makassar, Kendari, Jakarta, dan Bandung.

Dimas Budi Wicaksono, selaku perwakilan Jenewa Institute yang mendampingi MAFINDO dalam survey memaparkan bahwa peningkatan wawasan/ pengetahuan merupakan salah satu faktor utama untuk meningkatkan kesadaran terhadap risiko Covid-19, resiko tidak divaksinasi, serta resiko terhadap hoaks bertema Covid-19 dan vaksinasinya.

Selain itu, hasil pemetaan segmen masyarakat dalam lingkup penelitian mendapati bahwa lansia adalah pihak yang paling rentan dalam situasi ini. Di kalangan lansia, cakupan vaksinasi terdeteksi rendah, penerimaan terhadap vaksin rendah, sementara keragu-raguan terhadap vaksinasi sangat tinggi.


Di sisi lain, lansia juga terbatas akses informasi dan komunikasinya, juga terbatas kepemilikan gawai maupun cara menggunakannya. Akibatnya, mereka menjadi sasaran hoaks yang tersebar dari mulut ke mulut, percaya begitu saja tanpa memiliki motivasi maupun kemampuan untuk mengatasinya.

Dalam diseminasi, dipaparkan model intervensi yang diujicobakan sesuai temuan survey dan diskusi kelompok terarah, yaitu peer to peer consultation. Model ini memanfaatkan kader sebagai ujung tombak untuk menjangkau lansia.

“Di sini, kader ditingkatkan kapasitasnya sedemikian rupa sehingga mereka memiliki kemampuan untuk mencoba membantu lansia yang terbatas akses informasi sehingga mudah tertipu hoaks. Selain itu, memotivasi lansia agar mengubah persepsinya tentang vaksinasi Covid-19 sehingga bisa meningkatkan cakupan vaksinasi” tutur Santi.

Ujicoba model intervensi berlangsung selama 1 (satu) bulan di Bandung, Medan, dan Makassar, melibatkan 43 kader dan 416 lansia.

Irwan Idris selaku Koordinator Social Inoculation di Medan melaporkan, terdapat 15 kader yang membina 150 lansia di berbagai wilayah kota. Mereka yang dibina terdiri dari 114 lansia perempuan, dan 36 lansia laki-laki. Beberapa didampingi oleh keluarganya karena keterbatasan gawai.

Para kader Medan juga berhasil melakukan 30 edukasi mandiri dengan pendekatan yang bervariasi, sehingga mampu menjangkau 300 khalayak dari berbagai komunitas sepanjang masa intervensi. Prestasi kader-kader Medan menggenapkan keseluruhan capaian program di 3 kota yang melibatkan 43 kader. Mereka berhasil melaksanakan 74 edukasi mandiri yang menjangkau 777 khalayak dalam waktu satu bulan saja.

 

Dari keseluruhan lansia yang dibina, lebih dari setengahnya mengalami perubahan baik dalam menyikapi isu vaksinasi, maupun dalam menumbuhkan awareness terhadap bahaya informasi menyesatkan.

Intervensi di kalangan kader berhasil meningkatkan self-efficacy (perasaan mampu melakukan perubahan), menambah kemampuan periksa fakta, berkomunikasi dengan lansia, sekaligus menguatkan motivasi untuk mengubah perilaku sasarannya.

Santi menambahkan “Alat bantu yang disiapkan untuk program ini ternyata juga bermanfaat bagi kader untuk menopang tugasnya di program-program lain. Di sinilah letaknya potensi keberlanjutan (sustainability) dari model intervensi peer to peer consultation dalam mengatasi gangguan hoaks apapun, ketika wabah terjadi.” katanya.

Dalam kesempatan diseminasi, Zulhilminil yang menjabat sebagai Kasie Surveillance dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Medan memperbarui data vaksinasi. Cakupan vaksinasi di Kota Medan saat ini telah mencapai lebih dari 80% (dosis pertama). Sementara dosis ke dua telah mencapai lebih dari 70%. Sedangkan vaksin ke 3 baru mencapai 30%. Untuk warga lanjut usia, pada bulan Januari cakupan vaksinasinya sudah berada masih di sekitar 29%.

Zulhiminil membenarkan gangguan hoaks telah mengurangi kepercayaan masyarakat pada upaya medis. “Kami kerepotan dan tidak tahu bagaimana menanganinya,” ungkap Zulhilminil. Ia menyambut baik hasil riset dan berharap dapat diaplikasikan dan dikolaborasikan dengan semua pihak.

 

Diseminasi mengeluarkan 4 rekomendasi penelitian yang perlu ditindaklanjuti. Pertama, penanganan hal-hal yang mengganggu upaya peningkatan cakupan vaksinasi dari sisi pengelolaan infodemi perlu dilakukan secara proaktif, bukan reaktif. Model Inokulasi Sosial menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan secara proaktif, dengan menumbuhkan kebiasaan periksa fakta, mencerna informasi secara kritis, dan mengkonsultasikan sumber-sumber informasi yang beredar.

Kedua, perlu adanya pihak yang bisa memantau lalu lintas informasi yang beredar, sehingga bisa mendeteksi sesegera mungkin hoaks atau rumor yang berpotensi mengacaukan upaya penanganan pandemi atau wabah yang sedang berlangsung.

Ketiga, dibutuhkan sinergi pemerintah –dalam hal ini Dinas Informasi dan Komunikasi serta Dinas Kesehatan hingga level lokal– untuk memantau, mengelola krisis, termasuk melakukan mitigasi ketika gangguan komunikasi dan informasi kesehatan terjadi.

Keempat, pelibatan masyarakat hingga ke akar rumput adalah keharusan, sehingga masyarakat bisa berpartisipasi aktif melawan hoaks yang mengganggu penanganan pandemi/wabah. Mewakili MAFINDO, Santi menyatakan siap berkolaborasi dengan siapa saja untuk mereplikasi model intervensi ke berbagai komunitas dan wilayah yang membutuhkan (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.