Gelombang Peradaban Digital

MEDANHEADLINES.COM – Pembicaraan tentang perubahan zaman yang begitu cepat saat ini menjadi perhatian banyak orang. Sikap yang dihasilkan dari perhatian tersebut membuat nilai-nilai kehidupan umat manusia pun berubah, baik secara pemikiran dan juga secara kultur, baik secara individual maupun sosial. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan itu adalah sebuas keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh manusia dalam peradabannya.

Berbicara tentang peradaban umat manusia, saat ini kita sedang berada dalam sebuah istilah yang dikatakan oleh futurolog Alvin Tofler dari Amerika Serikat, yaitu disebut “gelombang ketiga” peradaban umat manusia. Mengutip komentar dari Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam bukunya yang berjudul Cendikiawan dan Religiusitas Masyarakat, “gelombang ketiga” akan membuat bumi menjadi seolah-olah sebuah kampung atau desa paguyuban (gemeinschaft) yang transfaran, sering juga disebut “desa buwana,” global village.

Jika Alvin menyebut adanya gelombang ketiga, tentu adanya gelombang pertama dan gelombang kedua. Gelombang pertama peradaban umat manusia tumbuh sekitar limaribu tahun yang lalu oleh bangsa-bangsa yang menghuni lembah sungai-sungai Efrat dan Tigris, dikenal dengan Mesopotamia, yaitu sekarang di Irak. Dengan rintisan bangsa Sumeria yang tinggal di sana pada masa itu, umat manusia memasuki peradaban zaman pertanian. Bukan hanya di Mesoptamia (Lembah Dua Sungai), akan tetapi zaman ini juga berkembang di lembah sungai Nil yang dihuni oerang Mesir. Pendeknya, peradaban umat manusia gelombang pertama ini adalah zaman pertanian.

Gelombang kedua peradaban umat manusia yaitu zaman industri. Zaman ini dimulai pertumbuhannya oleh Inggris pada abad ke-18. Hal ini sering kita sebut revolusi industri Inggris yang kemudian menyebar ke berbagai negara-negara di dunia. Gelombang kedua ini awal mulanya berpusat di negara-negara Eropa, sejak perjalanannya selama tiga abad terakhir ini, ia sudah sampai menyentuh banyak negara. Seperti Amerika Utara, Australis-Selandia Baru, Jepang, Malaysia, Muangthai dan Indonesia yang sangat potensial.

Sedangkan gelombang ketiga peradaban umat manusia adalah zaman digital atau kita sebut gelobang peradaban digital. Zaman ini bermula saat manusia menemukan silikon dan microchip sebagai komponen teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) seperti komputer, internet, ponsel pintar, dan aplikasi-aplikasi yang menghubungkan jejaring manusia di seluruh permukaan bumi, bahkan sampai menangkap informasi dari luar angkasa. Zaman ini sering disebut juga zaman informatika karena ditandai dengan mudahnya menjalin komunikasi timbal-balik antara berbagai kelompok umat manusia di seluruh penjuru muka bumi. Dampak perkembangan globalisasi dunia pun semakin cepat sampai dan mempengaruhi pola pikir dan pola sikap manusia dalam berbagai bidang. Masyarakat bumi pun menjadi masyarakat “maya” disebabkan pengaruh media sosial, yang kini kita sebut media sosial online.

Perubahan sosial di zaman digital saat ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan zaman pertanian (gelombang pertama) dan zaman industry (gelombang kedua). Perubahan sosial yang diakibatkan perkembangan pola budaya ke pola budaya berikutnya menjadi persoalan manusia. Perubahan-perubahan zaman peradaban digital saat ini, menurut Cak Nur, bukan hanya secara cepat, akan tetapi juga dalam skala besar yang tidak dapat dihindari berbagai bentuk krisis yang akan terjadi, baik krisis pribadi maupun krisis sosial. Gejala-gejala yang timbul, seperti deprivasi relatif, dislokasi, dan disorientasi, merupakan penyakit masyarakat internet yang amat gawat akibat perubahan-perubahan sosial yang cepat dan besar itu.

Melihat kondisi saat ini di Indonesia, apa yang dikatakan Cak Nur masih sangat relevan untuk dipikirkan, bahwa bangsa Indonesia dewasa ini menghadapi perbenturan nilai yang berlapis-lapis yang dampaknya akan terasa dalam krisis-krisis sosial yang sudah kita lihat sekarang ini, karena pada bangsa kita, ketiga gelombang peradaban yang disebut Alvin Tofler ada pada masyarakat kita. Sehingga bisa dibayangkan betapa kompleksnya masalah Indonesia sekarang ini. Fakta yang paling terdekat saat ini adalah krisis politik dan kenegaraan. Di zaman peradan digital ini, tidak jarang kita menemukan isu-isu hoaks, berita bohong, penipuan online, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, perundungan siber, ulah para buzzer sampai pada hari ini kebocoran data. Ini menandakan bahwa kita mengalami krisis, belum lagi kejadian-kejadian buruk lainnya yang disebarkan lewat internet.

Program Literasi Digital Nasional

Program Literasi Digital Nasional baru saja dilucurkan di Indonesia oleh Pemerintah Republik Indonesia Presiden Joko Widodo yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pada saat memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei 2021 kemarin. Program ini sudah diiniasi sejak tahun 2017, dan pada tahun 2021 baru diluncurkan dengan 4 (Empat) Pilar Utama, yaitu: Etis Bermedia Digital; Aman Bermedia Digital; Cakap Bermedia Digital; dan Budaya Bermedia Digital. Dalam upaya meningkatkan literasi digital ini, program ini digerakkan oleh Kemkominfo di seluruh daerah yang ada di Indonesia melalui Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD).

Gerakan literasi digital ini tentu sangat bermanfaat bagi bangsa kita saat ini, yang sekarang mayoritas telah berada dalam “dunia maya” atau dunia internet. Dunia digital saat ini bukan lagi hanya dihuni oleh segelintir orang atau pun segelintir negara di dunia ini. Tapi, mayoritas bangsa Indonesia sudah berada di dalamnya, dan tak ada negara yang tidak berada dalam dunia digital. Bahkan, tidak hanya dalam media sosial online, dalam aspek ekonomi (E-Commers dan perbankan) dan aspek lainnya saat ini tidak bisa lagi melepaskan dirinya dari gelombang peradaban digital. Sebagaimana data yang dipaparkan oleh Menkominfo, saat ini terdapat setidaknya 196,7 juta masyarakat pengguna internet di Indonesia.

Hal ini bisa berdampak buruk bagi negara jika perubahan sosial yang terjadi, sebagaimana gejala-gejala dan kejadian-kejiadian buruk yang kita sebutkan di atas tadi tidak diantisipasi. Krisis individu dan sosial akan terjadi karena penguruh digital yang berbasis internet sangat cepat menyebar dan dalam skala besar. Gelobang peradaban digital ini jika tidak terkontrol dengan baik maka akan dapat merusak persatuan bangsa dan negara. Sebab, krisis politik dan kenegaraan tidak dapat dipungkiri akan terjadi.

Untuk itu, Pemerintah melalui Kemkominfo jangan hanya memikirkan keuntungan secara ekonominya saja. Akan tetapi, bagaimana dampak sosial dan individual terhadap bangsa harus terus dipikirkan dan melindungi warga net dari dampak buruk gelombang peradaban digital saat ini. Sehingga sudah sangat tepat upaya program tersebut dengan 4 (Empat) Pilar Utamanya. Kiranya ini bukan hanya sekedar program belaka, tapi dapat bermanfaat nyata bagi masyakat kita, agar terhindar dari gejala-gejala buruk–perubahan sosil–yang diakibatkan gelombang peradaban gital. Sebab, setiap perkembangan peradaban akan memakan korban dan mempengaruhi nilai-nilai perubahan sosial.

Untuk seluruh masyarakat, kita mesti dapat melihat dan memikirkan secara kritis setiap apa yang lahir dari gelombang peradaban digital saat ini. Menjadi konsumen internet atau aplikasi internet dengan berlebihan akan mengakibatkan dampak buruk bagi kita. Secara bersama-sama dan perlahan-lahan kita harus mulai lebih bijaksana dalam menggunakan sarana dan prasarana digital. Selain perlindungan dari pemerintah dalam dunia digital, kita juga harus membuat perlindungan mandiri. Untuk itu kita mesti etis dan cakap dalam bermedia digital

 

Penulis : Ibnu Arsib Ritonga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *