Gerakan Kak Nawal Lubis dan Kontribusi HMI

MEDANHEADLINES.COM – Kita mulai tulisan ini dengan sebuah kata-kata bijak yang berlafazkan, “Buku adalah jendela dunia.” Sebagaimana deskripsi sebuah jendela, saat membuka jendela kita pun dapat melihat pemandangan dari luar rumah.

Dari proses penglihatan itu akan berlanjut pada penerimaan informasi apa yang kita lihat terkait objek pemandangan sejauh mana kita bisa melihatnya. Dari informasi penglihatan itu pun berlanjut lagi menjadi sebuah pengetahuan. Sampai di ‘pengetahuan’ ini pun, kita akan dapat membedakan antara objek benda yang satu dengan objek benda yang lain.

Jika kita melangkah lebih jauh lagi, dengan segala bentuk proses atau metode eksperimen, maka kita pun mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan (sains).

Demikianlah dengan membaca buku. Aktivitas membaca buku tidak jauh berbeda dengan membuka jendela tadi. Dengan aktivitas membaca buku, maka kita pun dapat mengetahui apa yang belum pernah kita ketahui, jika pun sebelumnya kita sudah mengetahui, tentu kita sepakat bahwa kita mengalami penambahan pengetahuan.

Jika kita melangkah lebih jauh untuk meneliti apa yang kita tahu dari sebuah buku, maka di sini lah letaknya kita mendapatkan ilmu pengetahuan. Karena dalam kehidupan ini kita tidak hanya sekadar memenuhi informasi pengetahuan, seharusnya dapat juga mereproduksi ilmu pengetahuan. Mengingat saat ini kita hidup dalam masalah dunia yang kompleks yang ditandai dengan kecanggihan teknologi dan informasi yang begitu cepat aksesnya.

Untuk sampai pada masyarakat yang berpengetahuan luas atau mendalam, kemudian berlanjut sampai pada masyarakat yang melahirkan dan atau menguasai sebuah ilmu pengetahuan, tentunya kita tidak boleh melupakan aktivitas membaca buku. Aktivitas membaca buku ini adalah salah satu budaya literasi.

Terkait soal minat masyarakat Indonesia untuk membaca buku , menurut data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), minat baca buku masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca buku. Dari data ini menunjukkan bahwa minat baca buku di negara kita ini masih sangat rendah.

Berdasarkan riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University lima tahun lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal membaca buku. Indonesia masih dibawah negara Thailand.

Berdasarkan data yang melaporkan keadaan rendahnya minat baca buku di negara kita ini, terkhususnya di Sumatera Utara (Sumut) pemerintah pun terus menggerakkan literasi membaca. Bukan hanya dari pihak pemerintahan, masyarakat yang peduli pun ikut menggerakkan budaya membaca dengan membentuk komunitas-komunitas literasi membaca di berbagai daerah.

Gerakan Kak Nawal Lubis

Sebagai bentuk kepedulian dan untuk meningkatkan minat baca di Sumut, Kak Nawal Lubis selaku Ketua Gerakan Permasyarakatan Minat Baca Sumatera Utara (GPMB Sumut) terus berusaha meningkatkan minat baca di seluruh daerah yang ada di wilayah Provinsi Sumut. Tidak hanya diperkotaan, Kak Nawal Lubis juga gerakan membaca harus juga ditingkatkan sampai ke desa-desa.

Kak Nawal tidak lupa merangkul para penggiat literasi yang ada di Sumut yang jumlahnya sangat banyak. Di sini kita cukup salut dan mendukung dengan langkah-langkah Kak Nawal Lubis untuk membuat pojok-pojok baca dari kota hingga sampai ke desa. Para penggiat literasi yang ada di setiap daerah dapat menjadi fasilitator demi meningkatkan minat baca masyarakat. Hal ini perlu disambut baik oleh kita semua.

Kak Nawal Lubis mengatakan, “Kalau bisa menyarankan agar Dana Desa bisa digunakan untuk membuat pojok baca dan pengembangan perpustakaan yang ada desa, minimal 5 % saja dari dana desa yang diterima,” pada saat pertemuan dengan para penggiat literasi di Sumut bulan Februari kemarin.

Harapan Kak Nawal dan para penggiat literasi agar pemerintah dari tingkat provinsi hingga desa bersedia mengeluarkan dana untuk menggerakkan minat baca masyarakat saya pikir ini penting untuk direalisasikan. Jika ini dikerjakan secara bersama-sama, maka minat baca dapat meningkatkan. Tujuan besarnya adalah supaya memajukan pengetahuan masyarakat. Sebab, minat baca masyarakat salah satu tolak ukur kemajuan bangsa dan negara.

Gerakan Kak Nawal Lubis lewat GPMB Sumut bukan hanya mendirikan pojok-pojok baca akan tetapi beliau juga mendirikan Sanggar Bunga Rampai. Di sanggar tersebut anak-anak belajar menari, bermain alat musik dan menggambar. Ini merupakan upaya Kak Nawal Lubis untuk mengenalkan budaya Sumut pada generasi muda Sumut.

Singkatnya, gerakan Kak Nawal Lubis untuk mencerdaskan anak bangsa dan memajukan budaya literasi di Indonesia, terkhususnya di wilayah Sumut perlu untuk kita apresiasi. Bukan hanya apresiasi ungkapan, tapi apresiasi lewat perbuatan.

Kontribusi HMI di Sumut

Mengenai kontribusi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Indonesia, terkhususnya di Sumut soal memajukan literasi dalam artian meningkatkan minat baca masyarakat adalah salah satu tanggung jawab HMI sebagai generasi muda bangsa Indonesia.

Dari sejak berdirinya HMI, organisasi mahasiswa Islam ini tidak pernah memisahkan dirinya dari aktivitas-aktivitas dalam rangka menambah pengetahuan. Pasalnya, HMI adalah organisasi yang bergerak untuk meningkatkan kualitas mahasiswa Islam. Tidak hanya untuk internal pribadi, tapi untuk masyarakat luas sebagai bukti bahwa HMI kader umat dan kader bangsa. HMI juga ikut serta dalam menjalankan amanah UUD 1945 yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan HMI yang termaktub dalam Pasal 4 AD HMI adalah bukti tertulisnya. Selanjutnya, dalam Pasal 5 AD HMI dapat kita lihat salah satu poin yang menyatakan Usaha-usaha HMI adalah berperan aktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Jadi jelaslah bahwa HMI dapat berkontribusi dengan siapa pun asal itu bagian dari kebaikan, tak terkecuali dengan gerakan Kak Nawal Lubis menggerakkan minat baca di Sumut.

Merealisasikan, dalam artian berkontribusi atau berkolaborasi dengan gerakan Kak Nawal Lubis tersebut tidaklah susah bagi HMI. Bahkan HMI di Sumut akan dapat melancarkan program GPMB Sumut. Sebab, HMI secara struktural di Sumut ada di daerah-daerah. Jika di wilayah provinsi, ada Badan Koordinasi (Badko) HMI Sumut. Di daerah-daerah ada Pengurus Cabang HMI. Dari 33 Kabupaten/Kota yang ada di wilayah Provinsi Sumut, secara mayoritas Cabang HMI ada. Jika pun tak ada HMI di beberapa Kabupaten/Kota lainnya, tapi dapat di pastikan setiap Kabupaten/Kota ada kader HMI. Belum lagi jika kita menghubungkannya dengan lembaga Alumni HMI (KAHMI). Artinya, HMI dapat berkontribusi dalam memajukan minat baca dan atau literasi di Sumut.

Secara kultural HMI, membaca sudah bagian dari budaya intelektual yang ada di HMI selain diskusi dan menulis. Akan tetapi budaya intelektual ini masih bergerak dalam internal HMI itu sendiri. Sehingga, di sini lah letak pentingnya HMI harus juga bergerak ke luar (eksternal) HMI dengan membentuk komunitas-komunitas literasi dan membuat lapak-lapak baca di daerah masing-masing.

Guna dari gerakan ini adalah agar anak-anak muda, remaja dan masyarakat secara umum dapat merasakannya. Seorang kader HMI dapat juga mendirikan perpustakaan sendiri dengan bantuan sumbangan buku dari kader-kader dan alumni-alumni yang memiliki banyak koleksi buku. Selain itu, kader HMI dapat membantu pemerintahan desa untuk membuat pojok-pojok baca. Pasalnya, urusan buku kader HMI paling suka. Mengapa demikian? Sebabnya adalah buku adalah harta termewah seorang kader HMI. Soal minat membaca, kader HMI jangan diragukan lagi.

Sekarang saatnya kita (kader HMI) menunjukkan kontribusi kita dalam membantu negara untuk mewujudkan masyarakat akademis dengan segala ilmu pengetahuan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan di dalam masyarakat kita, masyarakat yang diimpikan HMI pun (Masyarakat Cita), masyarakat yang diimpikan bangsa kita yaitu masyarakat madani (civil society) dapat diwujudkan. Apabila ini sudah terwujudkan, maka kita sampai pada masyarakat yang berilmu pengetahuan. Masyarakat yang berilmu pengetahuan akan sampai masyarakat yang berperadaban

 

Penulis: Abdul Rahman
Wasekum Badko HMI Sumut Periode 2018-2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.