Marelang Siagian
MEDANHEADLINES.COM – Panggilannya Elang, Tapi bukan burung pemangsa seperti yang kita pikirkan. Karena pria kelahiran padang lawas 32 tahun yang lalu itu memang memiliki nama asli Marelang Siagian
Seperti namanya yang unik, Ayah satu anak ini juga memiliki hobi yang juga tidak biasa. Tak seperti kebanyakan orang yang menyukai hewan peliharaan semisal Anjing dan Kucing, Ayah satu anak ini lebih memilih Ular sebagai hewan peliharaannya
Setidaknya saat ini ia memiliki 6 ekor Ular di rumahnya. Semuanya diberi nama dan memiliki keunikannya masing-masing
” Yang ini namanya Yona, Jenisnya Albino Purple Reticulatus Phyton. Sudah sekitar 3 tahun dipelihara, Kalo panjangnya sudah sekitar 4 meter lah,” Ungkapnya

Selain Yona, ia juga mengenalkan Ular lain yang ia namai Grace. Ular jenis Reticulatus Phyton modley Purple ini sudah dipelihara selama sekitar 1 tahun dan panjangnya mencapai 3 Meter.
“ Kalau yang ini namanya Yesi, Jenisnya Tiger Whiteface, Kemudian ada juga Koko Jenisnya Tiger Modley, ” Pungkasnya
Pria yang hobi memancing ini juga memperkenalkan 2 ular lainnya yang memiliki keunikan yang jarang dimiliki oleh pencinta ular lainnya
“ Kalau yang ini dinamai Simon, jenisnya Reticulatus Phyton Slayer. Kalo kita lihat di badannya seperti ada angka 09,”

“ Kalau yang ini jenis Golden Child Tiger Platinum head Purple,Namanya Ciko, Warnanya Emas, Perkawinan dari Albino Purple dan Golden child platy,” Jelasnya

Elang bercerita, Ia mulai tertarik terhadap hewan melata yang bisa hidup hingga puluhan tahun ini saat merantau ke pulau Jawa tepatnya di Tanggerang sekitar tahun 2017 yang lalu. Secara tak sengaja, Ia bertemu dengan komunitas Pencinta Ular di Sana.
“ Sempat Takut juga pada awalnya, Cuma lama-lama malah jadi tertarik, eh malah jadi Hobi,” Jelasnya
Ketertarikannya terhadap Reptile tak berkaki itu kemudian membuatnya mencoba untuk memelihara hewan tersebut. Ia kemudain membeli 2 jenis ular yaitu Phyton dan Gendang
“ Dulu belinya Kalo gak salah Rp 170.000,” Katanya
Elang mengaku, Memelihara hewan ini memiliki tantangan tersendiri. Meski cara merawatnya relatif mudah namun perlu ketelatenan.
Agar Ular tetap sehat, Kebersihan Kandang haruslah tetap terjaga. Selain Itu hewan yang diduga merupakan evolusi dari kadal tanah pada Era Dinosurus itu harus dijemur setiap hari dan dimandikan sekali dalam tiga hari

Untuk Makanan, Elang mengaku memberi peliharaannya itu tikus putih hasil ternakan.
“ Kalau ular hanya butuh makan sekali dalam seminggu,” Ujarnya
Meski Hanya Makan Sekali Seminggu, Namun persediaan tikus dari peternak tak selalu ada, Sehingga terkadang Elang sering kesulitan untuk mencari persediaan pakan ular-ularnya itu
“ Kalo untuk ular peliharaan sebaiknya makan tikus hasil ternak karena lebih terjamin, kalo tikus yang tidak diternak bisa berpotensi menularkan penyakit untuk si Ular,”
Elang juga mengaku, Dalam sebulan ia harus mengeluarkan kocek sekitar Rp 300.000-Rp 500.000 untuk membeli tikus agar kebutuhan pangan ularnya terpenuhi
“ Kalau Harganya sekitar Rp 15.000 hingga rp 45.000, tergantung ukurannya, Apa lagi Ular yang kita pelihara juga besarnya berbeda-beda, Untuk ular ukuran 1-2 meter biasanya dikasih yang kecil, Tapi kalau seperti si ‘Yona’ Yang sudah 4 Meter ini harus yang besar,” Jelasnya
Pria yang berprofesi sebagai wiraswasta ini juga mengaku di era Pandemi seperti saat ini, terkadang ia harus mengirit Pengeluarannya agar kebutuhan peliharaannya bisa tetap terpenuhi
“ Diawal pandemi pemasukan ya berkurang karena banyak pembatasan-pembatasan, sementara kebutuhan pakan ular tak mungkin dikurangi, jadi ya berat juga,” katanya
Beternak Tikus
Berawal dari kebutuhan akan pakan Ular serta untuk menghemat pengeluaran, Elang Kemudian mencoba mempelajari bagaimana cara untuk beternak tikus.
Awalnya ia membeli 2 ekor indukan, dan bermodal belajar di Internet dan masukan dari peternak tikus akhirnya Elang berhasil mengembangbiakan hewan bernama lain Rattus Norvegicus itu.
“ Dari Seekor Indukan bisa melahirkan hingga 10 anak,” Jelasnya

Melihat Potensi itu, Elang kemudian mencoba mempelajari ternak tikus ini lebih dalam. Meski sempat ragu dan takut gagal, Namun akhirnya ia memutuskan untuk memulai ‘Bisinis” baru ini setelah mendapat dukungan dari keluarga dan teman-temannya
Dengan modal Seadanya, Ia kemudian mulai membangun kandang dari seng di sebidang tanah kosong berukuran 14x 14 Meter milik keluarganya di Daerah Tuntungan. Didalam banguan itu ia kemudian membuat rak bertingkat yang berisi beberapa Kotak kayu dengan lebar 37 Cm, Tinggi 15 Cm dan, panjang 52 cm.
Dikotak kayu itu juga diberinya kawat agar tikus tidak bisa keluar. Selain itu, ia juga memberi botol minuman yang sudah dimodifikasi agar tikus tak kehausan.

Ia kemudian memasukan 6 ekor tikus betina dan 2 ekor tikus jantan kedalam kotak yang sudah disediakannya itu. Hasilnya dalam sebulan 6 ekor indukan itu berhasil melahirkan lebih dari 60 ekor
Sementara untuk makanan bagi tikusnya, Elang memberinya poor yang biasa dibeli di toko makanan hewan
“ Kalo makanan tikus ini relatif terjangkaulah, sekitar Rp 5.000-10.000 Perkilogramnya,” ungkapnya
Karena fase mengandung tikus hanya sekitar 20 hari saja dan bisa melahirkan sebanyak belasan ekor, ternak elang ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dalam beberapa bulan saja, hewan yang berasal dari china ini sudah mencapai ratusan ekor
“ Kalau sekarang sudah tak pusing lagi untuk memberi makan ular, sudah tinggal ambil di Kandang,” katanya
Bahkan kini, Ia sudah mulai memasarkan tikusnya itu di Media sosial miliknya yaitu @Sahabattikusmedan.Namun ia mengaku masih dipasarkan di komunitas-komunitas pencinta reptile saja.
“Takut kalau ada permintaan lebih malah tak bisa dipenuhi,” Jelasnya
Dikatakannya, permintaan akan tikus ini cukup tinggi bahkan bukan saja berasal dari Medan namun juga dari luar daerah. Hewan pengerat ini biasanya dicari pembeli bukan saja untuk pakan ular atau reptile lainnya namun juga sebagai bahan praktek mahasiswa di laboratorium

Saat ini, Elang juga mengaku, Dalam seminggunya ia bisa menjual sekitar 40- 50 ekor tikus.
Untuk tikus kecil atau yang biasa disebut mencit dibandrolnya dengan harga Rp 10.000- Rp 15.000, Sementara Ukuran sedang dan besar biasanya dijual di harga Rp 20.000- Rp 45.000.
“ Tapi kalo penjualan untuk sementara masih dibatasi, Karena untuk membesarkan tikus itu kan butuh waktu, kalo dijual semua ya gak bisa dikembangkan,” Pungkasnya
Elang Berharap, Bisnis barunya ini bisa menjadi tambahan ekonomi ditengah banyaknya kesulitan ekonomi yang terjadi akibat pandemi yang tak kunjung usai.
“ Satu Sisi inilah berkah dibalik Pandemi, bisa memulai bisnis baru,kebutuhan pakan ular peliharaan bisa terpenuhi, dan mudah-mudahan bisa menjadi penambah Rezeki,” Tutupnya.(red)












