Ribuan Orang Tewas Karena Covid-19, Peti Mati di Italia Menumpuk

Pendeta membacakan doa saat upacara pemakaman warga yang meninggal di pemakaman Grassobbio, Lombardia, Italia, Selasa (24/3). [Piero CRUCIATTI / AFP]

MEDANHEADLINES.COM – Italia mengalami jumlah kematian terbesar karena pandemi virus Corona Covid-19. Per Selasa (24/3/2020), ada 743 orang meninggal dalam sehari, menjadikan total korban meninggal sebanyak 6.820.

Kepala Perlindungan Sipil Italia, Angelo Borreli, mengatakan ada tambahan 3.612 kasus sejak pengumuman terakhirnya, sehingga jumlah total orang yang terinfeksi saat ini di atas 54.000.

Karena tingginya jumlah penderita, sistem layanan kesehatan Italia kewalahan dan tekanan meningkat terhadap rumah sakit di bagian utara negara itu yang paling parah terimbas.

Dilansir VOA Indonesia, peti mati untuk orang yang meninggal menumpuk, menunggu kremasi dan penguburan di banyak tempat.

Sebagian besar pasien yang terkena virus corona hanya mengalami gejala ringan dan sembuh setelah sekitar dua minggu, namun virus ini sangat menular dan bisa menyebar dari orang-orang yang tidak menunjukkan gejala nyata.

Meski pemerintah Italia memberikan pelayanan kesehatan gratis untuk kasus covid-19, namun ternyata pelayanan ini tak disertai dengan anggaran yang matang.

Meringkas dari TIME, Layanan kesehatan nasional Italia, Servizio Santario Nazionale (SSN), menyediakan perawatan gratis untuk pasien. Namun mereka mengalami kekurangan dana.

Investasi untuk layanan kesehatan publik hanya mencapai 6,8% dari produk domestik bruto negara tersebut.

“Pemotongan terus menerus untuk perawatan dan penelitian ini jelas merupakan masalah saat ini,” kata Lorenzo Casani, direktur kesehatan sebuah klinik di Lombardy, Italia.

Jumlah kasus cirus corona yang terus meningkat membuat kementerian kesehatan Italia menambah jumlah tempat tidur rumah sakit.

“Saat ini di Lombardy, kami tidak memiliki tempat tidur gratis di unit perawatan intensif,” kata Casani.

Ia menambahkan bahwa dokter bahkan harus membuat pilihan yang mengerikan, seperti memutuskan siapa yang akan bertahan hidup dan siapa yang tak akan tertolong. Termasuk siapa yang akan mendapat monitor, respirator, dan perawatan.(red/suara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *