HMI Tusuk Sate dan HMI Ulul Albab

MEDANHEADLINES.COM, Para adinda yang menjadi peserta kongres ke-32 HMI MPO di Kendari adalah kumpulan mahasiswa paling “seksi” se-Indonesia saat ini. Karena memang HMI MPO saat ini adalah organisasi mahasiswa “paling seksi”. Paling dilirik, memesona, dan ingin didekati, jika bisa akan “dimahari” ke pelaminan.

HMI MPO semakin lama terlihat semakin anggun, cerdas, dan penuh harapan. HMI MPO semakin gagah, tampan, dan cerdas. Lebih dari itu kader-kadernya semakin dekat dengan Tuhan dan semakin cinta pada kehidupan manusia yang damai dan saling peduli.

Dua entitas yang menjulang ke angkasa dan menancap ke bumi. Semua itu adalah hasil pergulatan panjang dari dialektika kehidupan yang dibingkai dalam kawah perkaderan. Ini sekaligus mengukuhkan dictum bahwa HMI MPO akan tiada eksistensinya tanpa perkaderan (LK secara berjenjang). Di ruang-ruang perkaderan itulah dialektika ditempa, di rongga malam yang sepi itu pula segenap potensi keilahian disublimasi. Dan di siang hari energy kesabaran dan ketahanan dilatih dalam akademi puasa.

Maka perkaderan HMI MPO akan tiada eksistensinya tanpa dialektika berpikir berbasis literasi mendunia, solat malam, baca Alquran dan puasa. Karena itulah akademi dunia akhirat yang telah mampu melahirkan kader yang memesona di segenap di mana dia berada.

Itulah HMI Ulul Albab. Itulah kader HMI yang tidak lupa diri dipuja, dan tidak marah dikritik bahkan dicaci.
HMI Ulul Albab tidak bisa dibandrol. Kendati kader-kadernya banyak kekurangan (materi), tetapi tidak merasa miskin sehingga meminta-minta dengan hina, menjilat sepatu penguasa atau menjadi agen prabayar.

Apalagi sekadar tiket pulang pergi dan sedikit uang saku hanya untuk dukungan suara seperti terjadi di tempat lain. Itu tidak akan pernah dijumpai di HMI MPO. Dan tidak akan. Tak. Itu adalah malam gelap tigapuluh. Jauh dari cahaya.

Karena disadari secara intelektual dan beradab bahwa itulah bagian termahal di HMI MPO dan itulah bagian kait besar sehingga masih pantas berharap kepadanya. Yes. Dari sini pulalah cerita punya jalan bahwa di HMI MPO begitu uang diterima uang itu menjadi bisu. Tidak bisa bicara seperti selera pemberinya. Dari mana pun uang itu datangnya, meski dari alumni.

Di tempat-tempat lain pada umumnya uang adalah pabrik kata-kata, mirip uang rentenir. Sekali menerimanya dan itulah awal mula hutang tak bertepi. Itulah yang merubah panggilan abang menjadi BANK.

Dan jika itu terjadi maka segalanya terserah padamu. Umpan inilah yang memancing terjadinya pelajaran kudeta, lempar kursi bukan argumentasi. Episode termurah dan tidak beradab.

Karena itu kongres adalah forum tertinggi pertemuan pemikiran merancang masa depan bangsa dan umat manusia. Lobi yang ada tentu lobi pemikiran, bukan suara. Jauh sekali. Ibarat kenderaan, tujuan sudah ditetapkan, jadwal dan tempat berhenti sudah ditentukan, aturan di jalan sudah disepakati.

Semua itu diputuskan di kongres. Tinggal mencari supir yang tangguh yang dipercaya bisa membawa dan memimpin hingga ke tujuan. Sebab itu tidak relevan primordialisme asal cabang dipersoalkan untuk menjadi Ketum PB. Ini bukan pimpro sebuah proyek basah. Ini soal yang paling layak.

Tusuk Sate.

Seluruh sebutan HMI Tusuk Sate atau Tusuk Sate dalam tulisan ini meski tak terlihat adalah dalam tanda petik. Jadi kepada pembaca, siapapun mohon dimaklumi ini literasi tingkat mahasiswa, bukan urusan pasal-pasal dan adu-aduan seperti yang lagi musim. Lagi pun tulisan ini didedikasikan untuk HMI MPO yang lagi kongres.

Perhatikan sate dengan seksama. Ada dua bagian paling menonjol. Pertama, tusuknya biasanya dari lidi atau bambu. Bagian depannya terlihat dan berfungsi sebagai pegangan. Bagian tengah hilang, tertutup oleh daging dan lidi itu terlihat lagi sedikit di bagian ujung. Kedua, daging yang bagian tengahnya ditusuk oleh lidi yang membelah. Sate terlihat seksi dan imajinatif. Apabila sudah dilumuri dengan bumbu kemudian dibakar secara sepadan, bukan main nikmat sekali.

Setelah menikmatinya, tusuk sate akan dikumpulkan dan dibuang. Karena penikmat menganggap tusuk sate itu telah berpindah fungsi di mana setelah daging habis dinikmati, tusuk sate kini dianggap sampah lalu dibuang. Memang begitulah nasib sate. Begitulah sate berkhidmat untuk dinikmati.

Meski belum terjadi, ada potensi muncul HMI tusuk sate. HMI ditusuk dan dinikmati oleh para penikmat. Anda tahu bahwa sate ada bandrol harga, bisa murah bisa mahal. Bahkan bisa turun hingga harga paling murah. HMI menjadi rumah dengan banyak spanduk merek dagang di sekelilingnya.

HMI diurus orang dengan pikiran pedagang dalam hal untung rugi. Orang muda berpikiran preman. Hidupnya untuk perut dan sekitarnya. Berambisi, rajin orasi tapi malas literasi, hobi melobi tapi jarang mengaji, suka berjanji tapi sering diingkari. Hakekatnya mereka para begundal yang suka lendir. Orang-orang dengan watak itu mengganti panggilan abang menjadi BANK.

Mengapa kondisi itu suatu waktu bisa saja terjadi. Karena bagian terpenting yaitu jika pekaderan telah dicemari, diabaikan, dan diselewengkan. Lebih parah lagi fakta ditutupi dengan kebohongan. Sejarah ditutup dan dibenamkan. Demikianlah jika HMI lari dari kodrat intelektualnya, mengais-ngais recehan dan mencampakkan kebenaran. Amatlah sangat menyedihkan jika perseteruan di tubuh HMI adalah perseteruan jabatan dan kasus lendir.

Karena sejatinya sesuai latar belakang sejarahnya HMI lahir dari pergulatan intelektual yang merdeka. Para kadernya adalah pemimpin yang penuh tanggung jawab, bukan yang doyan melempar handuk sambil menggenggam recehan, tersenyum.

HMI MPO saat ini sudah sangat layak dijual dengan harga mahal. Terserah kepada generasi hari ini ingin menjadi pedagang, tetapi tidak punya komoditas dagangan sehingga menjadikan HMI tusuk sate. Atau ingin meneruskan harapan bahwa HMI adalah kumpulan manusia muda dengan selera membangun peradaban yang mulia. Mahasiswa yang turut bertanggung jawab mewujudkan masyarakat yang diridhoi Allah swt.

Ciri khas HMI MPO adalah pantang menunduk pada kekuasaan yang tidak berpihak pada kebenaran dan rakyat. HMI bersama rakyat belum tentu bersama elit. secara intelektual Cerdaslah memilih pemimpin karena periode ini sangat strategis. Salah satu kader HMI MPO sedang mendapatkan dukungan luas menjadi pemimpin tertinggi.
Jika pemimpin yang terpilih di PB HMI MPO tergoda menjadi agen prabayar, itu tanda bahaya. Namun itu jauh.

Tidak akan mendekat. Mengingatkan tidak ada celanya bukan?  Selamat menuntaskan kongres.

Penulis : Ahmad Dayan Lubis

Mantan Ketum Komisariat HMI MPO IAIN Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *