SAKRATUL MAUT (5 Feb 1947 – 5 Feb 2020)

HMI

MEDANHEADLINES.COM – Akhirnya,Tiba juga masanya.Masa muda yang enerjik, penuh cita dan harapan kin itertinggal jauh di belakang.Masa lalu yang penuh suka cita, penuh hasrat, penuh angan kini tinggal kenangan.

Tersisa kini tubuh tua renta, 73 tahun, dengan rambut yang memutih,batuk tak berhenti, pandangan redup, dan penciuman yang mulai berkurang pertanda alam sudah membatasi.Nyaris tak ada pekerjaan yang berat sehari-hari selain hanya mengenang-ngenang, merenung dan bernostalgia masa lalu, diselingi batuk yang tidak berhenti, sesekali sesungging senyuman, namun nyaris selalu ditutup dengan kesedihan mendalam dan air mata nestapa yang membasah.

Segalanya kini berubah.Memasuki tahun 2020, situbuh renta 73 tahun kini berada di dunia lain. Dunia yang sedang berlari kencang bahkan kadang terbang tak terarah.Dunia yang dengan cepat melewati era modernism yang sudah ratusan tahun, dan dengan cepat pula mendarat, tiba di gerbang lapangan penumpukan hasil piki rmanusia sejagad.Semua hasil karya manusia kini menumpuk

Disini dan saat inilah semuanya ditumpuk jadi satu.Situbuh tua, dengan tubuh-tubuh lain yang lebih muda kini hidup ditengah tumpukan post-modernisme, post-strukturalisme, post-truth, post-kolonial, artificial intelegence, big-data, kerusakan lingkungan yang parah, dan kerusakan mental akut.

Di hamparanbaru yang penuh tumpukan, segalanya tampak mudah namun juga penuh dengan derita.Tidak hanya semua perangkat hasil ciptaan tampak menumpuk, namun pelaku dan penggunanya dari berbagai gernerasi juga turut menumpuk.

Generasi dengan beragam latar mental menyatu dalam situasi yang satu.Ada alpha yang paling muda yang begitu lahir dikelilingi gadget.Ada milenial yang memiliki kejiwaan yang khasjaman baru penuh optimistic, cerdas, berbasis iptek mutakhir, namun penuh dengan kerapuhan.Ada x yang sedang menunggu peralihan namun sudah terinfeksi virus baru duniawi yang lebih mematikan dari yang lainnya.Namun juga ada baby boomer yang sudah memutih tapi abnormal, gila kuasa tiada henti.Semuanya berebut tempat untuk sekedar mencicipi nikmatnya buah duniawi yang berasal dari pokok kayu belukar yang kering.

Semua tak pernah sadar jika semua sedang berada dikendaraan panser “juggernaut” yang sedang melaju kencang tanpa supir yang jelas-jelas sedang mengarah kejurang yang dalam.Semua tak sadar jika seluruh manifestasi kehidupan manusia dari beragam latar itu hanyalah menghasilkan seluruh kerusakan dunia mulai dari uang, amoral, narkoba, perang, seks bebas, kerusakan multi dimensi, dan lainnya yang sudah tak cukup lagi disebutkan satu persatu.Semua tak sadar jika hidup di era milenialini hanyalah metaphor dari kehidupan di atas kapal kertas bermuatan kapas yang sedang berlayar di samudera lautan api, atau bahkan laksana kehidupan ikan-ikan ditengah kolam bertuba.

Sehingga sesungguhnya segala pikiran, ucapan dan tindakan manusia hanyalah manifestasi dari kebohongan yang dijual dengan tipu dan dibeli dengan dusta.Suatu dunia yang sesungguhnya sudah “dikosongkan” dari seluruh nilai-nilai luhur yang merupakan sumber jiwa manusia.Suatu dunia yang sesungguhnya sudah “mati”, sudah menjadi kuburan, dimana yang jelas-jelas hidup hanyalah para “jombi” yang sudah “kosong” yang bertugas menyempurnakan kehidupan “kejombiannya” dengan mencari dan membasmi sisa-sisa manusia sadar. Semua dengan sempurna sudah tiba ditempat yang sama, suatu padang mahsyar postmodern-posttruth-postindustry yang akan menguji semua manusia dengan cara melewati suatu jembatan (titian) sehelai rambut dibelah tujuh, sehingga akan kelihatanlah siapa yang selamat dan siapa yang terjatuh dan terbakar api.

Pada situasi inilah tubuh-tubuh 73 tahun luput dan kehilangan kesadaran.Serasa hendak kembali ke masa silam namun sudah kehilangan masanya.Serasa hendak mengubah jalannya zaman namun lupa kalau mereka adalah anak zaman itu sendiri.Serasa memiliki semua kekuatan pikiran berskala guru besar namun kenyataannya sudah pikun dan kehilangan syahwat.Serasa hendak mengubah haluan dan menghambat “juggernaut” yang meluncur kencang menuju jurang-dalam, namun kehilangan “setir” dan “rem” yang sudah tidak berfungsi.

Tubuh tubuh renta nyaris kehilangan kesadaran bahwa mereka sudah kehilangan seluruh upaya, sebab seluruh ruang “juggernaut” sudah disesaki tubuh-tubuh muda milenial, simuda alpha yang sudah pula memiliki mimpi dan pandangan yang berbeda. Pada merekalah kini penguasaan “setir” dan “rem” yang justru dengan optimistic, gembira, dan keyakinan binalnya sudah tidak mereka fungsikan kembali.

Akhirnya tiba juga masanya.Ketika gelombang lontaran ucapan-ucapan selamat yang berkeluaran dari mesin-mesin media baru yang nyaris dianggap “sesuatu yang baru”, “harapanbaru”, “karpet merah fajar perubahan” sesungguhnya hanyalah lontaran “pesan tanpa kesan”, ucapan “selamat tanpa keselamatan”. Dengan mesin yang skalanya melampaui kemampuan manusia, ditopang era big data, artificial intelegence, deep learning, segalanya hanyalah mesin, hanyalah semu, arti fisial, tanpa jiwa.Semua percikan pikiran manusia melalui mesin hanyalah pandangan kosong tanpa “seni yang subtil”, tanpa “budaya mulia” dan sudah kehilangan unsur-unsur “ilahiah”. Semuanya tinggal sebatas, terbatas, dan dibatasi oleh keterbatasan pandangan, pikiran dan harapan ke depan.

Tubuh 73 tahun, akhirnya benar-benar kehilangan “dirinya”, ditengah-tengah perayaannya yang diraya-rayakan,penyakit-penyakit kronisnya tetap muncul dan semakin kronis.Untuk merayakan tubuhnya yang sudah73 tahun tanpa malu tetap dengan menjinjing proposal ke kiri-kenanan, keatas-kebawah, tetap setia mintak dan nanduk, bertahan menjilat kiri dan kanan, kongresnya pecah belah, perilaku amoral pengurus nasional terus lestari berjalan menghantui, kehilangan ummat, kehilangan momentum, kehilangan kepercayaan, dan mungkin kehilangan akidahnya yang tinggal satu-satunya. Ditengah-tengah itulah kini semuanya tampak menyatu, sedih-gembira, suka-duka, menunggu-nunggu cerita akhirnya…(Catatan 73 Tahun HMI)

 

Penulis :DDP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.