Memahami Sumber Pengetahuan

MEDANHEADLINES.COM – Dalam kajian filsafat ilmu atau filsafat pengetahuan (epistemologi) dan bagi setiap kita yang aktif dalam keilmuan (akademik) perlu mengenali sumber-sumber pengetahuan. Hal ini perlu untuk menjadi pengetahuan dasar bagi kita semua untuk memudahkan aktivitas keilmuan, dan juga dalam penggalian kebenaran. Sering terjadi banyak di antara kita terlalu jauh mengkaji atau memahami tentang sesuatu akan tetapi tidak memahami dasarnya, seperti kajian-kajian filsafat dan ilmu logika. Bahkan ada orang yang phobia belajar filsafat. Dalam pembahasan kita ini pun tidak terlepas dari dua kajian tersebut.

Dalam dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan yang sifatnya a priori maupun a posteriori dibutuhkan untuk mengetahui dari mana sumber-sumber pengetahuan itu di dapatkan. Dalam aktivitas penalaran maupun analisis keilmuan serta untuk menganalisis sebab akibat sebuah permasalahan penting untuk mengenali sumber-sumber pengetahuan. Hal ini menuntun kita menghasilkan sebuah pertanyaan dasar agar mengetahui sebuah kebenaran dalam pengetahuan: bagaimanakah cara mendapatkan pengetahuan yang benar itu?

Mengenali Sumber Pengetahuan

Walau masih terus terjadi perdebatan banyak orang dari dahulu hingga sekarang, manakah sumber pengetahuan yang benar-benar mengungkap kebenaran sejati, setiap pengikutnya mengklaim kebenaran sumber pengetahuannya. Serta tidak sedikit juga yang menggabungkan atau memakai semua sumber pengetahuan yang akan kita kenali ini.

Dalam filsafat pengetahuan (epistemologi) sumber pengetahuan selama perjalanan ilmu pengetahuan, baik dari dunia Barat maupun Timur, terdapat empat sumber pengetahuan yang dapat menjawab pertanyaan dasar kita di atas tadi, yaitu:

Pertama, sumber pengetahuan dari rasio. Orang-orang yang mengembangkan cara ini disebut kaum rasionalis. Kaum rasionalis ini mengembangkan paham yang kita kenal dan sering dengar saat ini dengan term rasionalisme.

Jujun S. Suriasumantri (1984) menjelaskan bahwa, kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut kaum rasionalis bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendiri telah lama ada sebelum manusia berusaha memikirkannya. Paham ini pulalah yang dikenal dengan nama idealisme.

Lebih lanjut Jujun menjelaskan fungsi pikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sendiri telah ada dan bersifat a priori kemudian dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya.

Kedua, sumber pengetahuan berdasarkan pengalaman. Sumber pengetahuan yang kedua ini biasa disebut empiris yang dijadikan paham empirisme oleh kaum empiris. Cara kedua ini berbeda dengan sumber pengetahuan yang pertama. Sumber kedua ini sangat kontradiksi kaum rasionalis.

Jujun kembali menjelaskan bahwa, kaum empiris berpendapat pengetahuan manusia itu bukan didapatkan dari penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman (empiris) yang kongkret. Gejala-gejala menurut kaum empiris adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia. Kaum empiris menggunakan metode induktif. Dengan mempergunakan metode ini maka dapat disusun sebuah pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual.

Ketiga, sumber pengetahuan secara intuisi. Maksud pengetahuan yang didapatkan dari intuisi ini sama sekali tidak didapatkan dari dua proses sumber pengetahuan di atas tadi. Seseorang yang mendapat sumber pengetahuan intuisi ini tiba-tiba mendapatkan jawaban atas suatu permasalahan tanpa melewati proses berpikir yang berliku-liku.

Hal ini dapat kita contohkan seperti; ketika seseorang sedang memikirkan permasalahan yang ia geluti kemudian pikirannya mengalami kebuntuan. Kemudian, tiba-tiba secara tidak sadar dalam benaknya muncul jawaban atau solusi atas sebuah permasalahan walau sangat sulit untuk sampai ke apa yang muncul secara tiba-tiba itu. Hal itu sangat ia yakini benar walau sangat sulit untuk dijelaskan karena ia datang secara tiba-tiba.

Contoh di atas tadi pastinya setiap kita pernah melewatinya, yang kita sebut dengan ide padahal secara pastinya itu belum tentu ide. Atau banyak mengatakan bahwa disebut dengan hidayah atau ilham, dan banyak penamaan lainnya. Singkatnya intuisi ini menjadi sumber pengetahuan yang kita yakini benar walau datang secara tiba-tiba dan sangat sulit dijelaskan.

Kembali saya kutipkan penjelasan dari Jujun dalam bukunya “Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer” mengatakan bahwa, intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diketahui kapan datangnya. Sehingga kata Jujun, pengetahuan intuitif ini hanya bisa dijadikan hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar-tidaknya pernyataan yang dikemukakan.

Dan yang terakhir atau keempat adalah sumber pengetahuan dari wahyu. Sumber ini merupakan pengetahuan dari Tuhan kepada manusia lewat orang-orang yang dipilih-Nya sendiri, yang kita kenal Nabi. Nabi-nabi ini diutusnya untuk menyampaikan wahyu sebagai sumber pengetahuan manusia. Ajaran-ajaran dalam wahyu itu kita sebut juga dalam ranah agama. Agama bukan hanya mengandung atau mengatur masalah-masalah pengalaman di dunia, namun juga secara transendental. Pengetahuan ini didasarkan pada keimanan (kepercayaan) yang kuat akan hal-hal ghaib (supernatural), termasuk kepercayaan pada Tuhan yang memberi wahyu, hingga hal-hal ghaib lainnya yang sifatnya tidak menyesatkan dan atau yang tidak mencelakakan umat manusia.

Penutup

Empat sumber pengetahuan tadi pasti mengandung sesuatu polemik, baik itu polemik kebenaran pengetahun yang dihasilkan dari proses sumber pengetahuan tersebut maupun metode yang digunakannya. Dan atau polemik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.

Terkait mengenai dua metode yang terdapat dalam sumber pengetahuan yang pertama dan yang kedua, dalam kesempatan lain akan kita bicarakan, atau pembaca dapat mempelajarinya dalam buku-buku yang telah dalam membahasnya seperti dalam buku-buku filsafat dan logika.

Dalam menggali pengetahuan dari sumber yang telah kita bicarakan di atas, metode sangatlah kita perlukan. Metode sangat membantu kita dalam melakukan kajian ilmiah atau atas permasalahan yang kita hadapi. Ahmad Wahib pernah berkata dalam bukunya “Pergolakan Pemikiran Islam” bahwa, memahami suatu ilmu pengetahuan atau melakukan penelitian akan lebih mudah jika mengetahui metodenya dan kemudian menggunakannya.[]

 

Penulis: Ibnu Arsib

(Penggiat Literasi di Sumut).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *