Kahmi Dukung Pariwisata Sumut Ramah Untuk Wisatawan Muslim.

 

MEDANHEADLINES.COM, Medan – KAHMI Sumut melakukan berbagai cara untuk mengubah cara pandang masyarakat agar bisa mengelola wisata yang ramah terhadap wisatawan muslim.

Hal Ini dilakukan selain untuk meningkatkan jumlah wisatawan sekaligus dalam rangka ikut serta dalam pengembangan pariwisata Sumut.

Untuk Itu, Dalam upaya mewujudkan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berbasiskan pariwisata, Maka kolaborasi pelaku usaha atau dunia usaha, pemerintah, pihak akademis, komunitas, ormas dan segenap elemen masyarakat sangat diperlukan.

KAHMI Sumut yang bekerjasama dengan Pemprov Sumut pun kemudian menggelar Focus group Discussion (FGD) dengan tema Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pariwisata, yang digelar di Kantor Balitbang Pemprovsu Jl. SM. Raja, Medan

Bertindak sebagai narasumber dalam FGD Itu adalah Kepala Balitbang Pemprov Sumut, Irman Dj Oemar, Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Sumut, Ivan Iskandar Batubara, Dan Rektor Universitas Panca Budi,M. Isa Indrawan

Dalam Kegiatan ini, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sumut Ir. Irman MSi, menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ( Pemprovsu) sedang mengupayakan dan mengoptimalkan secara maksimal agar sektor Pariwisata dapat menjadi sebagai bisa mendorong bangkitnya perekonomi baru, yang ramah dan nyaman bagi semua golongan.

” Kita akan dorong masyarakat untuk bisa turut andil menciptakan Iklim Ramah bagi wisatawan Muslim,” Ungkapnya.

Irman juga mengatakan, Dalam menjalankan sektor Pariwisata harus juga menjaga aspek keramah-tamahan, kesopanan, keakraban dan juga rasa saling menghormati (hospitality) dan aspek fasilitas pendukung (amenity), kedua aspek ini merupakan faktor penting selain potensi alam yg cukup baik dan asri telah dimiliki Sumut.

Selain kawasan danau toba, Tambahnya, Pemprovsu juga telah menjadikan kawasan lainnya menjadi tujuan destinasi Pariwisata Sumut. Antara lain, Kabupaten Langkat di Bahorok dan Tangkahan, Kabupaten Karo, Kabupaten Nias, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Tapanuli Tengah dengan daerah wisata dan budaya serta kesenian daerah juga akan terus dikembangkan lagi.

” Kita tidak bisa menampik, memang masih ada daerah kabupaten / kota di Provinsi ini, yang tidak ramah atau terkesan agak kurang ramah melayani wisatawan Muslim. Seperti terjadi pada Destinasi pariwisata Samosir aja, untuk mendapatkan fasilitas sholat dan makan saja, para wisatawan keluh karena keterbatasan fasilitasnya dan kalau pun ada masih terasa kurang nyaman. Lain halnya dengan daerah Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun banyak restoran yang sangat cocok untuk para wisatawan muslim dan tempat Sholat gampang didapati,” Pungkasnya

Sementara itu, Rektor Panca Budi, Isa Indrawan menjelaskan tentang perlunya ada pemberdayaan masyarakat dalam hal peningkatan mutu pariwisata

” Harus ada satu contoh Desa wisata yang masyarakat paham betul bagaimana konsep menarik wisatawan,” Ungkapnya.
Dijelaskan Isa , Dari 11 Desa wisata terbaik nasional Indonesia, ternyata Provinsi Sumut tidak tercatat satu pun Desa wisata yang masuk nominasi sebagai Desa Wisata Nasional.

“Di tengah keindahan alamnya dan keberagaman kekayaan budaya adat lokalnya, Provinsi Sumut tidak punya satu pun tercatat sebagai Desa wisata secara nasional. Hal ini tragis dan harus menjadi perhatian yang serius,” tegasnya.

Ia juga mencontohkan, objek wisata Istana Maimun yang dinilainya masih membingungkan wisatawan

” kita kalau kesana tentu kita juga bingung mau ngapain. Mau lihat Istananya, bingung Istananya kok hanya begini, kita mau dengar cerita sejarahnya, kita juga bingung karena minimnya fasilitas sumber informasi, giliran kita mau lihat souvernir nya, kita juga bingung karena yang dijual disana terlalu umum,” Paparnya

Menurut Isa, potensi pariwisata Sumut cukup besar untuk itu perlu adanya pengelolaan pariwisata yang baik lagi, hanya saja kurang adanya pemahaman, kesadaran dan kemauan untuk melayani dan berubah dalam mengembangkan pariwisata

“Jika Sumut serius mau melihat potensi tren wisata halal dan peluang wisatawan Muslim, maka sumber perekonomian masyarakat akan meningkatkan dan kemajuan pariwisata meningkat,” katanya.

Sementara itu, Narasumber berikutnya yaitu ketua Kadin Sumut Ivan Batubara mengatakan, bahwa perkembangan wisata halal, saat ini terjadi lonjakan wisatawan Muslim hampir keseluruh dunia.

“Kesempatan ini harus ditangkap sebagai peluang ekonomi bagi Indonesia khususnya di Provinsi Sumut untuk dapat segera berbenah, demi menarik minat wisatawan Muslim tersebut,” Jelasnya

Ivan juga mengatakan, pasar wisata halal itu sangat besar sekali, bahkan sampai pada tahun 2026 kedepan, dana yang dikeluarkan oleh wisatawan Muslim itu bisa mencampai 300 Miliar dollar dari kunjungan industri wisata halal tersebut.

“Jadi berpikir nya harus jernih dan serius jika mau mengembangkan pariwisata,” Tegasnya.

Ia juga menegaskan, wisata halal itu bukan lah wisata religi sehingga jangan dikait-kaitkan seolah wisata halal itu merusak budaya masyarakat.

” Yang dicari wisatawan Muslim itu hanyalah soal tersedianya makanan halal dan ketersediaan fasilitas untuk beribadah,” Tegasnya.

Ivan mengatakan, Negara yang diluar dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) seperti Singapura, Thailand, Inggris, dan Jepang telah berhasil mengembangkan wisata halal di negara mereka. Hal ini menjadi sangat menarik, sebab negara yang mayoritas penduduknya non Muslim bisa menarik orang Muslim untuk berwisata ke negara mereka.

Untuk itu, Di Danau Toba sendiri, menurut Ivan perlu ada upaya serius dan pengetahuan khusus tentang apa itu konsep wisata halal, agar masyarakat paham dan wisatawan Muslim nyaman berwisata disana. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *