Zona Merah Lau Kawar Ramai Dikunjungi Orang, Siapa yang Pantas Disalahkan???

 Situasi Zona Merah Lau Kawar yang ramai didatangi wisatawan. 

MEDANHEADLINES.COM, KARO- Sejak 2013, objek wisata yang dikenal dengan nama Lau Kawar ditetapkan sebagai ‘Zona Merah’ pasca Gunung Sinabung memuntahkan lahar panasnya.

Guna mengantisipasi adanya korban jiwa, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo melarang wisatawan mengunjungi serta berkemah di sana. Tak cuma wisatawan, warga yang bermukim di sekitar danau diminta mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Sayangnya, peringatan Zona Merah yang dikeluarkan pemerintah tidak terlalu lama diindahkan. Informasi yang diperoleh, tak sampai setahun, warga kembali menempati rumahnya. Begitu juga Lau Kawar kembali didatangi wisatawan tanpa mengindahkan peringatan bahaya. Pihak tak bertanggungjawab pun turut mengambil keuntungan pribadi dengan melakukan pungutan liar (Pungli) terhadap wisatawan.

Menelusuri informasi itu, sejumlah awak media dan pecinta alam bergerak ke lokasi untuk melakukan peliputan mengenai kondisi terkini danau itu. Dengan mengendarai empat sepeda motor rombongan tiba di pintu masuk danau, Minggu (23/12/2018) dinihari.

Ternyata benar, sepanjang jalan menuju pintu masuk danau, rombongan tidak ada melihat petugas yang berjaga untuk mengawasi masuknya wisatawan. Rombongan malah dihentikan dua pria yang berboncengan sepeda motor Kawasaki Ninja warna hitam di pintu masuk danau.

Mereka lantas meminta uang retribusi masuk. Namun ketika diminta karcis pengutipannya mereka tidak bisa memberikan.

“Karcis resminya gak ada. Kami pemuda setempat yang jaga di sini. Kalau mau masuk harus bayar. Ya partisipasi klen aja-lah,” ketus pria berkemeja kota-kotak warna kuning dengan nada mengancam.

Merasa ada yang aneh dengan perilaku keduanya, rombongan menjelaskan datang ke sana untuk melakukan peliputan terkait kondisi terkini Gunung Sinabung dan Lau Kawar. Namun keduanya tetap memaksa dan rombongan akhirnya memberikan uang Rp20 ribu. Barulah rombongan bisa masuk ke dalam danau.

Belum lagi capek hilang, rombongan kembali didatangi dua pria yang mengaku penjaga keamanan di dalam danau. Sama dengan yang di pintu masuk, keduanya meminta uang keamanan dengan modus yang sama yaitu ‘uang partisipasi’. Malas ribut, rombongan memberikan uang sebesar Rp30 ribu kepada pria bernama Join Ginting.

“Kalau di depan itu bayarnya untuk uang masuk ke dalam aja. Di dalam ini aku yang jaga, jadi kalian harus bayar. Kalau gak bayar, aku tidak bertanggungjawab dengan keamanan klen di sini,” ucap Join yang mulutnya mengeluarkan bau minuman keras.

Lelah dengan praktek pungli di danau yang berada tepat di kaki Gunung Sinabung itu, rombongan mendirikan tenda menunggu pagi untuk melakukan peliputan. Namun, paginya rombongan dihadapi dengan musibah. Dua pasang sepatu jurnalis yang di letak di depan tenda hilang. Diduga, sepatu itu dicuri orang sekitar danau.

Atas kejadian itu, Join Ginting yang menjanjikan keamanan di areal danau dicari, tapi tidak berhasil dijumpai. Saat mencari Join Ginting, rombongan bertemu dengan penghuni tenda lain yang bernasib serupa.

“Sepatu kawan kami juga hilang bang, sial kali kan. Padahal kami sudah bayar Rp10 ribu per orang. Kami 8 orang kan lumayan, tapi sepatu hilang juga. Tadi udah kami cari juga, tapi gak jumpa yang minta uang jaga malam itu,” keluh anak remaja dari Pancur Batu itu.

Menanggapi masalah itu, Kepala Pos Pemantauan Gunung Sinabung, Armen Putra ketika dikonfirmasi sejumlah awak media mengatakan, bahwa pihaknya telah melakukan pengimbauan agar masyarakat tidak beraktifitas di wilayah danau.

“Kita sudah melakukan pengimbauan agar warga tidak melakukan aktifitas di dalam zona merah. Namun hal itu tidak diindahkan, berarti-kan melanggar rekomendasi kita. Nah, kalau sudah begitu, jika ada sesuatu yang terjadi maka itu tanggungjawab sendiri,” kata Armen Putra saat dihubungi awak media via seluler, Minggu (23/12/2018) siang.

Dirinya juga menjelaskan, bahwa tugas dari pos pemantauan hanya melakukan pengamatan terhadap aktifitas Gunung Sinabung. Sedangkan untuk hasilnya, akan dikoordinasikan kepada pihak-pihak terkait sebagai informasi.

“Tugas kita cuma pemantauan, untuk hasilnya kita serahkan ke instansi terkait baik BPBD maupun pemerintah setempat. Kalau masalah wisatawan yang semakin banyak datang ke Lau Kawar bukan wewenang kita, untuk penindakan masalah itu ada satgas dan pemerintah setempat,” ucapnya diseberang telepon.

Kepala Kepolisian Sektor Simpang Empat Iptu Dedi S Ginting kepada awak media mengatakan, bahwa pengutipan retribusi itu sudah ada sejak dulu. Tapi setelah Gunung Sinabung meletus tidak ada lagi pengutipan karena tidak ada lagi yang datang.

“Harusnya tidak ada lagi yang boleh masuk ke sana, itu masih Zona Merah. Tapi itulah, tidak ada juga yang melarang orang masuk ke sana,” kata Dedi.

Ketika disinggung masalah pungli di sana, Dedi menuturkan, bahwa pihaknya sudah pernah melarang warga melakukan pengutipan. Tapi tetap ada pengutipan yang dilakukan di sana. Perwira berpangkat dua balok emas dipundaknya itu mengaku bigung untuk melakukan penindakan.

“Situasi masyarakat di sini masih kacau, jangan-lah dibuat kacau lagi dengan pemberitaan. Karena kasihan juga, yang mengutip-kan anak karang taruna di sini. Kadang kita-kan bukan dari segi hukumnya saja, kita kasihan juga dengan masyarakat di sini,” ungkap Dedy mengakhiri pembicaraan.

Menanggapi kejadian itu, Mei Leandha wartawan Kompas.com yang ikut dalam rombongan sangat menyayangkan praktek pungli dan pencurian di objek wisata Danau Lau Kawar terjadi. Menurutnya, pungli dan pencurian adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan oleh alasan apapun. Apalagi hal ini sangat merugikan, meresahkan dan membuat malu banyak pihak.

“Alasan ekonomi dan kesulitan tidak bisa membenarkan pratek pungli dan pencurian terjadi, salah besar mereka yang coba mengangkat sisi itu. Kami juga paham sisi kemanusiaan, tapi banyak cara lain untuk menghasilkan uang yang tidak juga merugikan, meresahkan dan membuat malu. Ini karakter yang aneh..” ungkapnya.

Apalagi praktek itu terjadi di wilayah bencana yang statusnya masih zona merah, harusnya mereka melarang semua orang memasuki areal, bukan malah mengambil untung pribadi atau kelompok. Banyak pihak akhirnya kepanasan dan dianggap tidak kerja.

“Kenapa zona ini jadi ramai didatangi orang? Siapa yang salah dan siap disalahkan? Silahkan kaji dirilah..!” akhirnya. (afd).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *