Seberapa Berbahayanya Pilgubsu 2018

Pilgubsu

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Dalam hitungan jari, beberapa hari lagi masyarakat di 171 daerah yang ada di Indonesia akan melakukan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak, tepatnya 27 Juni 2018.

Termasuk masyarakat Sumatera Utara (Sumut) akan ikut Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu). Konon kata orang banyak , Pilgubsu di Sumut ini merupakan pemilihan pemimpin masyarakat Sumut untuk lima tahun kedepan.

Banyak juga yang mengatakan ini pesta demokrasi, sehingga wajarlah banyak mengeluarkan uang negara yang diambil dari masyarakat itu sendiri, untuk kepentingan yang mau berkuasa.

Pilgubsu telah di nanti-nantikan masyarakat yang katanya akan memilih pemimpin. Tapi, akankah dalam Pilgubsu nanti benar-benar memilih pemimpin atau mengais-ngais mencari pemimpin? Karena mengais-ngais pemimpin apa saja dan siapa saja pun akan di kais.

Konon katanya, Pilgubsu merupakan cara menunjukkan kecintaan pada demokrasi yang telah di anut negara Indonesia tercinta saat ini, Demokrasi yang banyak dipahami masyarakat Sumut hanya pada saat pemilahan umum saja, negeri demokrasi satu hari. Begitu menarik jika dijadikan suatu judul cerita sehingga seperti: “Indonesia: Kisah Negeri Demokrasi Satu Hari.”

Dalam negeri ini (Sumut) seluruh masyarakat berkicau, layaknya seperti burung-burung menyambut mentari pagi. Calon-calon pemimpin dengan segala lebel yang diberikan dan ditokoh-tokohkan mengumbar-umbar harapan, janji-janji manis, cahaya keselamatan, cahaya kesejahteraan, dan angin surga.

Para pendukung mengangguk-angguk kepalanya meng-iya-kan seluruh sabda yang ditokoh-tokoh kan itu. Mulutnya tersenyum tapi hati dan pikirannya kecut dan bingung. Masyarakat menganggap Pilgubsu seperti ajang pertandingan sepak bola PialaDunia 2018, ada yang menjagokan C. Ronaldo (Portugal), Neymar (Brazil), Messi (Argentina). Menjagokan dan memilih seseorang atau kelompok bukan pada program-program yang menyentuh permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat Sumut.

Tanah yang berpindah tuannya tidak tersentuh dan tidak ada yang berani menyuarakannya. Nasib masyarakat pedesaan jauh dari pembicaraan. Petani dan nelayan terus dirayu untuk libur kerja satu hari untuk memilih yang katanyapemimpin. Merekadirayu-rayu dengan janji-janji manis, seperti madu yang baru diperas dari sarang lebah. Padahal, sarangnya saja yang diperas, kemudian madunya diambil oleh si pembuat janji-janji manis itu.

Bercermin dari dua kali Pilgubsu belakangan hari, Dengan metode janji-janji manis muncul kembali di Pilgubsu tahun ini. Tak ubahnya seperti yang lalu,  Milyaran Rupiah dikeluarkan namun setelah menjadi pemimpin malah bersemedi di balik jeruji besi

Oleh karenanya, Pilgubsu bukannya menjadi ajang mencari pemimpin namun berubah menjadi suatu makhluk yang amat berbahaya karena dapat menyemburkan racun bernama KORUPSI, dari Ular-ular yang bernama KORUPTOR.

Dalam  Pilgubsu ini korban yang bernama rakyat itu terus dihipnotis untuk berpartisipasi memilih ular-ular yang kelakuannya akan terus menyemburkan racun yang membunuh ribuan makhluk dan generasinya.

Makhluk bernama rakyat  itu terus dirayu dan diimpi-impikian dengan indahnya demokrasi atau pemilihan umum agar keuntungan didapatkan oleh yang memberinya impian.

Siapakah yang diuntungkan dan dirugikan? Tidak lebih adalah mereka yang menjadi Ular-Ular sementara Madu rakyat terus diperas, Sumur terus di gali dan bukit semakin ditimbun.

Yang Miskin tetap miskin dan yang kaya semakin kaya. Pemilih tidak akan pernah berkuasa atas yang dipilihnya, akan tetapi malah terbalik, yang dipilih menguasai pemilih. Yang berkuasa tetap berkuasa, yang lemah tetap di bawah.

Akankah bahaya Pilgubsu 2018 pun akan terus menghantui dan berbahaya seperti Pilgubsu sebelumnya????

Penulis: IbnuArsib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.