Travel Agent Umrah, Penipuan Atau Korban Keadaan?

MEDANHEADLINES.COM – Akhir-akhir ini, permasalahan penipuan terhadap calon jemaah umrah di Indonesia kerap terjadi. Di berbagai media kerap memberitakan adanya ribuan calon jemaah umrah tidak jadi berangkat ke tanah suci, dikarenakan tertipu oleh travel agent.
Hampir di berbagai daerah di Indonesia, ada korban penipuan. Jakarta, Palembang, Bandung, Makassar, Medan dan beberapa kota lainnya. Hal ini tentu sangat disayangkan, dan menimbulkan kutukan. Bagaimana tidak, para korban bersusah payah untuk mengumpulkan uang, demi dapat beribadah di tanah suci.
Begitulah framing yang tercipta saat ini. Pemberitaan media juga mengarah ke arah itu. Yakni, ada pengusaha yang mendirikan travel agent umrah, dan telah menerima uang para calon jemaah umrah, dan akhirnya kabur. Sehingga, menelantarkan para calon jemaah umrah yang batal berangkat.
Saya pun tertarik untuk menelusuri hal ini. Apakah permasalahan ini benar-benar sebatas itu saja? Apakah si pengusaha memang menipu, lantas korbannya adalah calon jemaah umrah tersebut?
Lantas, bukankah nama-nama travel agent yang diduga melakukan penipuan itu, merupakan nama-nama travel agent yang besar, yang selama ini lancar-lancar saja memberangkatkan kliennya ke tanah suci.
Artinya, selama ini travel agent yang memiliki nama besar itu menjalankan prosedur usahanya dengan baik. Tentunya, perusahaan seperti itu memiliki perhitungan dan akuntabilitas yang jelas dan matang. Lantas, apa yang terjadi, sehingga mereka harus menipu, atau mereka sebenarnya tidak menipu, namun juga tertipu?
Sampai di sini, semua pasti akan bertanya-tanya, kenapa perusahaan travel agent yang diframing pemberitaan dikatakan penipu, malah saya duga menjadi korban penipuan juga. Lantas siapa menipu siapa?
Baik, mari kita ulas. Kenapa saya menduga pengusaha travel agent di Indonesia juga menjadi korban penipuan.
Setiap travel agent di Indonesia pastinya memiliki rekanan di Arab Saudi. Entah itu dengan hotel, restoran, transportasi, atau berbagai rekanan lainnya yang sudah biasa dipakai jasanya, saat jemaah umrah Indonesia tiba di Arab Saudi.
Tentu, para travel agent di Indonesia telah membuat kesepakatan dengan rekanan di Arab Saudi. Apa saja isi kesepakatannya, ya pasti terkait biaya yang harus dibayarkan para travel agent Indonesia ke rekanan yang di Arab Saudi.
Kesepakatan terkait biaya itu, tentu telah dilakukan jauh hari sebelum keberangkatan para calon jemaah umrah. Nominal biaya perorangan dengan fasilitas yang diberikan pun telah dihitung dan ditentukan. Sehingga, travel agent memberikan promo pada calon jemaah umrah, dapat mencicil uang keberangkatan umrah dengan berkala sampai diberangkatkan. Bahkan, ada yang mencicil hitungan bulan, bahkan hitungan tahun.
Namun, saat waktu keberangkatan tiba, para calon jemaah umrah gagal berangkat. Pengusaha travel agent pun susah ditemui. Apakah ini murni kesalahan pengusaha travel agent? Saya yakin tidak.
Saya melihat, kondisi perekonomian di Arab Saudi saat ini mengalami krisis. Sejak tahun 2014, harga minyak dunia mengalami kemerosotan. Hal ini tentu berdampak besar pada Arab Saudi. Sebab, 80 persen pendapatan pemerintah Arab Saudi dihasilkan dari industri minyak.
Di samping merosotnya harga minyak yang mempengaruhi kemerosotan ekonomi Arab Saudi, pemerintah Arab Saudi malah banyak melakukan pengeluaran negara, untuk militer dan sebagainya. Sehingga, kondisi ini memaksa Arab Saudi menambah utang negara.
Lantas, pertanyaannya, bukankah Arab Saudi baru saja memberi pinjaman utang ke negara-negara Asia. Kenapa mereka meminjamkan utang, sedangkan mereka berutang?
Ini yang menjadi kegaduhan di Arab Saudi sendiri, kerajaan Saudi dituding bersikap hedonis, dan suka menghambur-hamburkan harta kekayaan, sedangkan rakyatnya sendiri merasakan krisis ekonomi. Hal itu pernah menjadi kritikan besar, saat Raja Salman berkunjung ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Raja Salman membawa 1500 orang, dengan fasilitas yang super mewah, sampai berlibur di Pulau Dewata Bali. Berapa banyak uang yang dihabiskan? Besar bukan? Sementara rakyat di Arab Saudi sendiri terkungkung dengan permasalahan ekonomi.
Apa hubungannya dengan Travel Agent di Indonesia. Ada hubungannya, yakni dengan kondisi krisis ekonomi di Arab Saudi, harga-harga kebutuhan di sana melonjak tinggi, dan hampir merata usaha di Arab Saudi menaikkan harga. termasuk hotel, restoran, transportasi dan berbagai sektor lainnya. Hal itu pun berdampak pada kerja sama dengan travel agent di Indonesia.
Dengan kondisi itu, Travel Agent di Indonesia harus menanggung biaya kenaikan yang dikenakan rekanan di Arab Saudi. Sementara, travel agent itu sendiri telah memberikan promo pada calon jemaah umrahnya, dengan harga yang sudah lama disepakati dengan rekanan.
Sampai di sini, siapa yang jadi korban?
Lantas, apabila benar begitu kenyataan yang terjadi, bagaimana peran pemerintah Indonesia? Kenapa tidak mengambil alih para calon jemaah umrah tersebut dan memberangkatkan calon jemaah umrah untuk pergi ke tanah suci. Apakah khawatir akan banyak mengeluarkan dana untuk membayar biaya perjalanan umrah yang kurang?
Apabila begitu, apa langkah kepastian hukum dari pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan para travel agent? Apakah khawatir menempuh jalur hukum yang dapat mengganggu hubungan bilateral kedua negara? Atau tidak mau susah-susah mengurus langkah hukum? Apalagi terhadap negara yang sudah meminjamkan utang pada Indonesia?
Entahlah, semua masih perlu ditelusuri. Semua harus dilihat secara paripurna, dan tidak melihat secara parsial saja.
Ya silakan menilai sendiri. Saya hanya berpikir, bahwa hukum kausalitas itu ada, adanya sebab maka melahirkan akibat, akibat pun bisa menjadi sebab kembali. Tulisan ini hanya ingin membuka cakrawala berpikir semua yang membaca.

Penulis : Ryan Achdiral Juskal

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.